
Anin dan Aksa sampai di mall, berbelanja keperluan rumah dan untuk dibawa ke rumah pakde sama bude, nanti takutnya maah buat yang tidak-tidak berguna lagi. Pastinya semuanya sudah habis.
“Papah sama mamah gimana mas?”
Anin menutup handphonenya sambil menatap suaminya yang sedang melihat harga di rak dan ia memang sudah dicap sebagai menantu kurang ajar, karena baru menanyakan keadaan mertuanya sekarang walaupun ini sudah ada di tempat umum, seenggaknya bisa menghargai keberadaan hati suaminya yang lagi terkoyak itu.
“Nanti aku ceritakan,” jawabnya dengan sorot mata yang masih menyimpan kenangan buruk yang menimpa orang tuanya sepertinya, ada dibalik hati yang terluka dalam.
“Iya, maaf tadi aku spontan menanyakan begitu ...”
“Hm ... kamu sudah belanjanya? Apa yang mau dibeli lagi?” tanya Aksa dengan mengalihkan pembicaraan dan dirinya sudah penuh keranjangnya, dengan berbagai macam barang sekarang.
Sontak membuat Anin kaget, ia menentralkan pandangannya. Lalu, ia menggeleng. Semuanya sudah ada di tangannya sekarang, sesuai daftar yang ia list tadi. Kalau tidak dilist biasanya mudah terlupakan.
“Oke kalau gitu, mau beli apa lagi? Mumpung masih di sini,”
“Nggak ada sepertinya, jugaan ini sudah sesuai kok.” Jawabnya dengan bersungguh-sungguh dan Aksa berjalan lebih dahulu, baru Anin menyusul dengan dua kotak keranjang full.
Aksa lantas mengambil alih dua keranjang itu, dan membawanya ke kasir. Tidak tega membiarkan istrinya membawa barang berat, apalagi ada barang yang satu barang tapi jumlah di dalamnya amat berat jadinya full sudah keranjangnya.
Anin menghela napas ketika melihat antrean yang cukup amat banyak orangnya yang lagi ngumpul berbaris di depan kasir.
Aksa yang ada di sana, ia menatap jam tangannya dan melihat istrinya setelah itu, ia menghampiri istrinya.
“Kamu mau makan apa setelah ini?”
“Nggak ada, kenyang sehabis makan banyak pagi tadi.” Tolak Anin dengan satu alasan, padahal Aksa menawarkan secara baik-baik.
Oke, nanti kalau menolak berarti tidak ada kata untuk membantah jika ada di restoran yang ia tuju untuk makan siang nanti.
“Masih lama, kamu ke mobil dulu saja! Ini kunci mobilnya,” Aksa memberikan kunci mobilnya dan berpindah tangan ke Anin sekarang.
Hah, Anin saja nggak bisa buka pintu mobil kalau disuruh ke mobil. Emangnya dia mau, tetaplah menggeleng dan membalikkan kunci mobilnya. Kening Aksa berkerut, ia menatap heran istrinya.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Nggak ada, aku mau nunggu kok. Emangnya di sini nggak ada restoran gitu? Biar sekalian,”
Tadi kemana saja, dan Aksa mengangguk. Ia tersenyum tipis, katanya menolak untuk makan siang tapi sekarang akhirnya mau juga, pasti perutnya ya tidak menahan aroma yang menyedapkan yang menusuk di hidungnya.
***
Sekian lama urusannya kelar, sekarang tinggal mengisi perut dan mereka masih ada di mall, meski Anin bergelanyut manja di pundak suami karena sudah lelah baginya, naik turun eskalator.
Sampai beberapa orang melihatnya dengan tatapan aneh, bagi mereka cukup wajar emang karena tidak ada yang bisa memperlihatkan keromantisan suami istri jika di tempat umum. Biasanya orang yang masa bodo kalau diliatin dengan mata sipit terus dighibahin.
Dah biasa.
Sayup-sayup terdengar suara adzan dhuhur, Anin mengusap dadanya. Ia melepaskan kepalanya, dan menatap suaminya yang kini tengah menatap dirinya.
“Mau sholat dulu apa makan?”
“Makan, keburu laper juga ... masalah sholat setelah makan juga bisa,”
Aksa dan Anin masuk ke dalam restoran yang masih satu tempat dengan mall, dan ternyata dekat sekali tempatnya dengan masjid. Banyak anak-anak muda yang tertawa, sepertinya sudah tidak memiliki adab sopan santun, sudah adzan tapi masih nongkrong. Mana banyak anak perempuan yang tidak memakai hijab.
Anin memandang bingung, sudahlah urusan dia sama Tuhan buka urusan Anin sekarang. Masalah itu bisa dikelarkan dengan Tuhannya, mungkin memang nonis jadinya harap dimaklumi. Tapi, seenggaknya hormati yang lagi mengumandangkan suara adzan.
Anin menggeleng pelan, ia duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Aksa tadi supaya lebih leluasa untuk duduk dan Aksa meletakkan tas yang ia bawa. Setelah itu, ia memerankan makanan.
Anin menunggu, sambil menunggu. Ia menatap lilin-lilin yang hidup di meja dan sepertinya ada aroma yang menyeruak kembali, menenangkan mungkin.
Jiwanya kembali ditenangkan oleh lilin yang ada di meja, dan ia menatap suaminya yang berjalan mengarah menuju ke arahnya.
“Tadi pesan apa?”
“Nanti tahu sendiri, yang penting makan.” Ucap Aksa dengan begitu ia duduk dan menunggu. Tanpa ada pembicaraan sama sekali, sesekali Anin memandang suaminya karena sudah lama suaminya tidak menghangat walaupun sesekali menghangat hatinya Tapi itu sungguh berbeda.
__ADS_1
Ada apakah? Ia kemarin-kemarin memang tidak fokus, tapi semenjak tadi pagi membuatnya berkaca diri untuk memandang gerak-gerik suaminya dari pagi.
“Ada yang disembunyikan mas? Mulut bisa berbohong, tapi tidak untuk mata.” Anin berucap seperti itu, ia tidak mau untuk dibohongi jika bohong berarti tidak bisa menjalankan sepenuhnya dengan rasa tanggung jawab untuk menjawab sebuah pertanyaan.
Namun, Aksa lagi-lagi mengernyitkan keningnya.
Dibalik sorot mata tajam, datar plus dingin. Ada sesuatu yang mengganjal, bisa dilihat dari rautnya wajah plus gurat kesedihan memang nampak di muka suaminya itu.
“Ngga ada jugaan, mau cerita apa ... semuanya ‘kan sudah dibahas,” jawab Aksa tidak dengan matanya yang melalang buana kemana arahnya, Anin memang terlalu peka dan sensitif.
Ia menaikkan sudut bibirnya dan alisnya, “Iya juga ya, ya sudah lah kalau nggak mau jujur. Nanti mau cerita sendiri ujungnya,” samarnya dengan membisikkan sesuatu dan menukik tajam matanya.
Beuh, demage orang hamil terburu oleh keadaan sesungguhnya yang bisa saja membohongi tapi tidak untuk hati seorang perempuan yang lagi hamil ini.
Anin sudah beberapa kali terakhir pada waktu SMA, ia sudah dipelajari beberapa kode mata dan akhirnya tidak sia-sia yang awalnya suka dimarahi oleh gurunya, tapi nyangkut allhamdulilah-nya.
“Iya,”
“Oke, heh ... nanti kalau ada waktu kita berkunjung ke rumah papah Rahmat ya, kasihkan barang tadi. Aku sempet belanja untuk papah tadi,” ucap Anin sambil memperlihatkan belanjanya untuk papahnya. Oalah pantes tadi istrinya meminta kantong plastik tersendiri, makanya Aksa sempat bingung kelihatannya di kasir tadi.
Aksa mengangguk, ia beberapa kali memang amat cemburu jika istrinya mengalihkan dirinya untuk kembali ke masa lalunya, sempat Anin meminta izin untuk pergi tapi ia tidak mengizinkan istrinya untuk ke rumah mantan papah mertuanya. Padahal dia bisa menerima apa adanya kok, terus papah dengan mamahnya kok nggak dipikirkan.
Adanya tadi sempat menjadi perseturuan di rumah tangga mereka, tapi Aksa menyadari jika mantan papah mertua Anin, benar-benar menyayangi Anin dan akan berpisah itu tidak bisa rasanya. Hati mereka dekat, semenjak itu Aksa berubah pikirannya.
Anin bisa memahami dimana kondisi itu, Aksa benar-benar menolak jika disangkutkan dengan masa lalu dirinya. Dan sudah lama tidak berkunjung, setelah itu Anin berinisiatif dari kemarin malam sebelum tidur.
Bersambung...
Akhirnya bisa up lagi, bisa mampir ke ungu. Minta pencet love doang kali🤣, judulnya boleh tanya😂. Lanjut dikomen☑
Dan bisa ditanyakan melalui DM iG author boleh kok.
@dindafitriani0911
__ADS_1
See you next episode 👉🙌👈.