
Anin mengetuk pintunya terlebih dahulu, sebelum was-was melihat tatapan mata elang bakal si buah naga yang memerah. Anin menggusar sebentar, dan ia merapikan kerudungnya.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya dengan lembut.
Tidak ada jawaban sama sekali, Anin menghela napas.
Kemana suaminya? Apa cuman tasnya doang yang ada di meja makan itu.
“Em, jangan berharap! Mending keluar aja, daripada begini. Nggak ada harapan, blass. Hih, ingin ku teriak sejauh mana aku kuat,” ucapnya dengan teriakan dan diakhir kalimat saja.
“Assalamu’alaikum, mas... Aku butuh kamu, i love you too...” lebay bukan, ia hanya humor untuk romantis saat.
Boleh untuk kali ini, lain kali kasihani untuk wahai para mblo.
Hahaha...
“Nona, hm... Masuk saja non!” dengan tangan dingin Anin menyentuh handle pintu dan ia mulai memasuki ruang kerja Aksa, dingin sekali. Apakah tangan kanannya denger perkataannya tadi? Aduh keceplosan mana, batin Anin.
“Keluar kamu!” dengan judes dan tangan kanannya disuruh keluar, manut akhirnya.
“Marahnya udahan ya, mas!” dengan mengeluarkan jurusan ampun, tanpa aba-aba Anin terjatuh ketika ada pulpen yang berserakan di sini.
“Auh,” rancau Anin, ia menatap suaminya itu yang hanya meladeni laptopnya tanpa mengalihkan pandangannya.
Sengaja emang melakukan begini, ingin ia tampol pake sendal swallow ini nanti.
“Sengaja emang?” sinis Anin, dibalas dengan tatapan menajam.
“Siapa suruh? Aku nggak nyuruh,” Anin siap-siap memukulkan pulpen tadi. Beuh, sakit amat nih pinggang dengan adanya tujepan lancip di ujung pulpen. Yah, terkena kaki Anin.
Yang sekarang keadaannya mungkin tidak baik-baik saja.
“kamu kenapa nin?”
Ya, rasa khawatir dari raut wajahnya sudah ketebak jika Aksa mengkhawatirkan dirinya.
Ada rasa bahagia, hahaha Anin sukanya gitu. Gemes aja liat mukanya, Aksa menggendongnya dan meletakkan tubuhnya di atas ranjang.
“Mana yang sakit? Biar aku obati,”
“Akhirnya,” balasnya dengan jelas dan menghela napas lega.
“Kenapa?”
“Hahaha, kamu itu lucu amat sih kalau gini!” kekeh Anin. Aksa merubah raut wajahnya menjadi datar, mungkin baginya tidak lucu.
“Iya dah, ini kaki ku ketujes sama pulpen, sakit tau.” Ketus Anin, dengan menatap suaminya itu bosan. Ia bisa gini, apa yang dikhawatirkan sih sebenernya?
“Hm, ya udah ini kotak obat. Bisa ngobatin sendiri ‘kan?”
“Oke.” Jawab Anin dengan ketus dan tajam.
“Kalau khawatir pura-pura gitu lah, giliran ini... Akh, berubah aja.” Prustasi, hahaha yang dirasakan Anin sekarang.
“Makanya, kalau pergi ya ngomong dulu sama suaminya. Jangan main pergi aja! Gimana didiemin? Nggak enak pastinya, aku juga kangen sama kamu.” Ucap Aksa dengan mengambil alih kotak obat dan tersenyum hangat.
“Iya deh, salah. Maaf,”
Anin tersenyum dengan kemenangan, berarti berhasil dong?
Oke, hahaha alhasil suaminya sudah menjadi hangat lagi.
Dengan telaten Aksa mengobatinya, sangatlah lembut.
“Mas, kamu nggak kerja ‘kan tadinya?”
Aksa mengeryit, kenapa istrinya bisa menebak jalan pikirannya.
__ADS_1
“Cenayang kamu, mah. Bisa nebak gitu aja, ini udah. Masih sakit nggak? Kalau masih, ke rumah sakit aja.” Sarannya dengan kelembutan nadanya, seperti bantal berbulu itu.
“Benar dugaanku,”
Anin mendekat, beberapa centi saja jarak mereka. Dan Anin mengelap kening suaminya itu, yang basah terkena keringat. Gugup yang menyelimuti Aksa hari ini, entah kenapa? Kek ada kejutan gitu yang dibuat istrinya ini.
“Makasih,”
“Sama-sama, kamu mau apa?”
Ragu, Aksa ingin melihat siapa yang paling kuat di antara mereka.
“Nggak kok, aku mau benerin dasinya doang. Nggak usah mikir yang engga-engga!” Anin menyentil dahi suaminya.
Dan Aksa mencium kening istrinya.
“Nanti malam aja,”
“Oke, siap. Tapi, janji!”
“Nggak,” balas Anin dengan senyuman licik, suaminya memeluknya dari belakang dan mulai...
“Stop! Nggak usah, di sini banyak nyamuk!”
“Hah, siapa?” Aksa dibuat melongo oleh Anin.
“Ya, karyawan mu.” Jawabnya santai.
Mata Aksa pun seakan tertawa, dan akhirnya pecah juga tawanya.
“Privasi bisa dong!”
“Nggak ah, nggak mood...”
Anin beranjak dari kursi, dan menduduki kursi kebesaran suaminya itu yang tiap hari cuman diajak kerja nggak pernah digaji. Memungkinkan jika nanti sudah rusak, dibuang. Uh, kasian.
“Mas, ini apa?” melotot, iya ia melihat ada video yang benar-benar membuatnya ingin terjungkal ke belakang.
“Nggak, tadi gabut ajah. Kamu marah, ya udah, aku buka itu.”
“Ooh gitu. Ya udah, makan yuk sekarang!” Anin mengajaknya untuk makan siang kali ini, dan Aksa mengangguk setuju. Sudah lama tidak mampir ke restoran di mana biasanya di situ makan siang, pasti ada Aksa yang tengah berkutat dengan laptopnya.
“Di perempatan,” Aksa berhenti sejenak. Menetralkan emosinya untuk tidak meledak sekarang ini, dan ia kembali menatap Anin.
“Hm, mending makan di restoran.” Takut ia jika ngomong kalau nggak gini gimana lagi, ia mau makan enak nggak itu-itu aja pilihannya.
“Hemat!” jawab Anin, kasian sekali.
Anin mendahului Aksa yang sedang termenung, gimana caranya agar merubah keputusan istrinya itu. Dengan cara yang spesial khususnya, oke VIP.
Bisa saja, ia melangkah. Mengejar langkah istrinya itu,
“Mau makan enak ‘kan?”
“Hm,”
***
Sesampainya di restoran, sesuai janjinya Aksa. Anin hanya menurut saja, ia kebanyakan marah hari ini. Lebih ke sensi, dan Anin memandang kecut. Pupus sudah keinginannya untuk beli bakso yang ia impikan, cari dari dulu.
Baru sekarang, nongol lagi itu bakso.
Ada penerusnya ternyata.
Ingin mencoba cita rasanya, apakah berbeda dengan yang dahulu.
Tapi, ya sudahlah Anin mencoba untuk memahami keadaan yang sebenarnya.
__ADS_1
“Mau makan apa?”
“Bakso.” Balas Anin dengan melihat buku makanannya, Aksa menggeleng. Anin melirik suaminya.
“Jangan! Nggak ada bakso di sini, mending samaan aja.”
“Ya udah.”
Anin merengut, dan menatap restoran ini. Emang sih bagus, tapi kalau moodnya kepingin bakso nggak diturutin itu gimana gitu rasanya. Ingin pecah tangisannya sekarang juga, sungguh malang nasibmu.
“Ngapa, kamu?” Dengan menelisik, Aksa cepat-cepat ia pergi melangkah ke kamar mandi tanpa izin istrinya atau gimana.
“Huh dasar, giliran aku pergi. Dia tanya, apalah.” dengus Anin, ia menggenggam ponsel dan mengelilingi sosial medianya yang tak pernah ia kunjungi selama ini.
“Fiuh, siapa ini?” dengan terkejut, banyak juga postingan teman-teman kantornya yang menyebutkan caption yang membuat hatinya sedikit tergores.
“Astagfirullah, apa ini?” ujarnya sedikit keras, membuat meja yang di sebelahnya pun ikut terkejut. Anin ingin meluapkan tangisannya, dan ia mengambil tasnya. Mencangklongkannya ke pundaknya, ia melangkah ke kamar mandi perempuan.
“Ya Allah, kenapa jadi begini?” gumamnya dengan menangis terisak.
Sakit hatinya, baru sekarang ia mengetahui teman-teman kantornya yang sesama mengejeknya dan barusan apa yang terjadi.
Ulfa temannya mengejeknya dengan cara dm dia, dan mengatakan pelakor tetap pelakor. Muka nggak jelas, dan jelas-jelas menikah dengan pak Aksa. Pakai pelet apa sebenarnya sih?
Dengan caption tertawa dan menangis.
Anin mengepalkan tangannya, matanya tajam menatap kaca.
Sembab, terasa ada yang mengganjal di mata.
Dunianya semakin terjerumus kemana-mana. Siapa sih sebenernya pelakunya? Padahal ia sudah jujur jelaslah Aksa dan Anin sudah mengenalkan kepada karyawan maupun karyawati di kantornya Aksa.
“Apa salahnya aku coba?”
Sementara Aksa yang balik ke mejanya, cuman menatap hidangan makanan yang sudah di atas mejanya dan kemana istrinya itu?
Apa menyusul dirinya?
“Maaf mbak, mau tanya hm ... Mbak, liat perempuan yang sama saya tadi?” tanyanya.
“Kayaknya ke toilet tadi arahnya,” jawab mbak yang ada di meja samping.
“Makasih mbak,” dengan gesit. Ia mencari istrinya, dan sebuah kamar mandi yang masih terkunci, apakah ini istrinya?
Takut salah, dan ia mencoba mdngetuk pintunya.
“Ini Anin?”
Tak ada sahutan di dalam.
Salah orang kah? Nggak aman ini.
Anin yang mengelap ingusnya dan air matanya menggunakan tisu, dan menatap kaca. Ada suara ketukan pintu dan membuatnya melangkah, membukakan pintu. Sebelumnya, Aksa sudah membayar makanan yang belum tersentuh sama sekali, tapi ia titip nanti jika ada orang yang tidak mampu lewat di jalanan sekitar sini. Tolong bungkus kan buat mereka, dan pastinya Aksa membayarnya lebih dari pembayaran semula.
“Iya, siapa? Mas ...” dengan cepat, ia pun memeluk suaminya.
“Loh, kenapa?” raut wajah bingung.
Menangis dengan dekapan yang paling ternyaman, sekarang posisi Anin dan Aksa ada di dalam perjalanan pulang ke rumah. Anin tak bisa melepaskan tangan suaminya, ia masih ragu ingin membicarakan hal ini.
Kasian merdeka yang nantinya akan terkena imbasnya, secara Aksa CEO dari perusahaan mereka kerja. Mau tidak mau pasti dipecat, dan mana mungkin bisa akan mendapatkan jabatan yang unggul sepertinya.
“Kamu nggak papa ‘kan?” Anin menggeleng lemah, ia bersandar di pundak suaminya. Walupun menggunakan satu tangan untuk menyetur, satunya untuk memegang tangan istrinya itu. Berat sih, bahaya juga buat mereka.
Tapi, ia membawanya pelan agar sampai selamat di rumah mereka.
...Bersambung......
__ADS_1
Komen sama likenya ya🤗
Makasih ❤️