
Anin dan Aksa sekarang sudah melakukan perjalanan ke rumah papah Rahmat, Anin sudah tidak sabar rasanya ingin bertemu mantan papah mertuanya walaupun mantan, tapi Anin menganggap seperti ayah kandung sendiri.
Aksa yang lagi fokus ke handphone mendadak berjengkit kaget ketika Anin menepuk bahunya, dan Aksa mematikan handphonenya.
“Ada apa? Jangan ngejutin gitu, nanti kalau jantungan siapa yang mau ngurus?” tegur Aksa dan Anin menatap suaminya malas, emang ia tadi mukul? Nggak ‘kan, lebay benar suaminya ini.
“Gak jadi, kamu udah begitu. Lagian sih, fokus terus sama ponsel. Ga liat istrinya lagi sepi senyap, hah?” tanya Anin dengan mata berkaca-kaca dan sontak Aksa terkejut ketika istrinya mulai terisak.
“Eh iya, iya tadi aku tuh dikabarin sama asisten ku yang jaga papah sama mamah katanya mereka siuman, terus ya aku fokus lah sama bertanya-tanya gitu.” Jujur Aksa dan benar Aksa pun menutup mulutnya rapat-rapat, ia menelan ludah sendiri.
“Oh gitu, terus kamu mau terbang ke Singapura?”
“Ya nggak lah, ‘kan mau puasa di sini .... kalau mau sih, apakah kamu bisa ditinggal di sini? Nanti kalau sewaktu-waktu butuh, gimana?”
Anin menggeleng, dan keyakinannya satu. Sekarang ingin menginginkan semuanya baik-baik saja tanpa ada ikatan apapun itu, nanti takutnya terpaksa menjadi suami pura-pura lagi. Beh, langsung dibuatkan surat perceraian dari pengadilan.
“Hhh, ya nggak papa ... nanti ada orang lain yang kamus suruh buat jaga aku ...”
“Terus kalau aku nggak percaya, nah mau kamu aku titipkan ke rumah pakde sama bude?”
“Ya nggak mau lah,” tolak secara mentah-mentah. Mungkin ada sebab di balik itu semua, karena nggak mungkin jika Anin menolak untuk menginap beberapa di rumah bude serta pakdenya jika tidak disertakan alasan.
“Noh gitu nggak mau, sok atuh kalau mau di rumah sendiri. Berarti aku mau pesan tiket sekarang ini,” ucap Aksa dengan tatapan mengerjai istrinya, apa reaksi selanjutnya.
Dan betul saja Anin menggeleng, Aksa lantas menghela napas. Menarik badan istrinya agar mendekat ke arahnya, Anin mengelenyot ke dada bidang Aksa dan melihat dari tatapan suaminya itu yang kini tajam nan bak elang. Rasanya mau copot, kalau melihat suaminya itu lagi mode marah.
“Ada apa?” tanya Aksa dengan dingin dan mata tajam, bertanya dengan sopir yang ada di depan dan sopir di depan yang ia perintahkan untuk menggantikan dirinya tadi.
“Itu lagi ada keributan sepertinya, pak ... ini mau diterobos gitu pak?” izinnya takut, dengan mata ketap-ketip, Anin yang melihatnya itu pun memegang dagu suaminya dan mata suaminya kini beralih ke hadapannya.
Senyum yang meneduhkan itu kembali terpatri, dan Aksa mengangguk datar.
Aksa mengelus sesekali mengecup kepala istrinya, istrinya sekarang kepalanya ada di paha dia dan Aksa sepertinya mengerti akan keadaan, Anin pastinya capek jika duduk terus-terusan.
Sementara dirinya memang terlalu peka oleh situasi dan kondisi. Aksa malah memainkan bibir istrinya, mata Anin lagi pejam berarti boleh dirinya bisa seleluasa gitu.
__ADS_1
Bebas, memang dia polos tapi bukan sembarangan orangnya.
Sopir itu menjalankan mobilnya kembali, karena melihat semuanya kondusif dan berjalan lancar lagi, tak terasa sudah sampai di depan gerbang tinggi itu. Sopirnya keluar dan bertanya apakah diizinkan masuk atau nggak.
Biasanya jika mengatasnamakan majikannya pasti akan diizinkan jika orang lain tidak mudah untuk keluar masuk di kawasan perumahan ini, semuanya harus melewati uji coba beberapa kali dan lolos juga akhirnya.
Mobil Aksa itu pun masuk ke area halaman rumah papah Rahmat, Anin memandang tak jemu-jemu. Ia tadi sempat memeluk kan matanya karena mobil berhenti.
Semuanya sudah berubah dengan penampilan yang lebih megah lagi, Aksa saja sampai beberapa kali kalah tanding dengan papah Rahmat. Padahal bersaing dengan bisnis yang sama, tapi mungkin papah Rahmat emang orangnya royal.
Tapi, Aksa juga royal. Ia memang tidak terlalu mementingkan isi rumah atau apaan itu, yang penting ia sehat sama istrinya sudah gitu. Keperluan rumah sudah ada yang mengatur tata letaknya, sampai ratusan kocek ia keluarkan dengan gampang.
“Mari pak, bu!” sopir tadi membukakan pintunya dan Aksa bersama Anin keluar dengan langkah hampir menyamai, Anin meringis ketika ia hampir lupa dengan kakinya yang tidak memakai alas kaki sama sekali.
Anin menoel punggung suaminya dan suaminya berbalik badan, menyipitkan matanya begitu sudah ia melihat bawah, ternyata ada kejanggalan. Pantas saja, Anin begitu imut ketika merucutkan bibirnya. Sekarang pipinya semakin gemouyy sekali sampai melebar seperti bakpao kepingin Aksa makan.
Jika sudah marah pasti abang hitam, kek mau nelen hidup-hidup.
“Oke, tunggu!”
Aksa mengambil sandal jepit yang biasa dibawa di mobil, untuk persiapan saja.
Memang ia tak salah pilih, tapi kalau sudah marah semua lupa.
“Assalamu’alaikum,” mereka mengetuk pintunya dengan begitu pintu itu secara terbuka otomatis dan mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah yang sekarang berwarna gelap mungkin di lain sisi papah Rahmat menginginkan kegelapan.
Dan itu pasti membuat tenang, adem di hati.
“Wa’alaikumsalam, eh nona ... tuan,” jawab asisten papah Rahmat yang duduk di soffa panjang itu dan Anin mengedarkan pandangannya ketika ia menemukan ada beberapa berkas di meja seperti hasil pemeriksaan dari dokter.
Anin mendekat, tapi terburu asisten papah Rahmat memasukkan ke amplop lagi dan Aksa duduk di soffa tanpa dipersilakan sudah menjadi kebiasaan dirinya ke rumah orang yang ia kenal. Tapi, mandang situasi dulu.
Anin duduk di samping suaminya, ia mendaratkan panggulnya.
“Oh iya, kemana papah?”
__ADS_1
“Ada kok tuan, masalah tuan Rahmat ada di kamar tadi. Saya panggilkan dulu kalau begitu,” jawab asisten papah Rahmat dengan meninggalkan ruangan itu dan bertujuan untuk memanggil yang punya rumah.
Anin dan Aksa saling tatap, mereka melihat seperti hasil pemeriksaan dari rumah sakit ternama dari logonya saja sudah terlihat.
Anin mengeryit, dan mengode suaminya untuk mengambil salah satunya.
Mereka sama-sama mengepo dari hati saja sudah rasanya kepingin buka tapi sabar.
“Eh anak papah, kok udah di sini? Kamu ini, papah kangen lho ...” ucap papah Rahmat dengan berjalan menggunakan tongkat dan papah Rahmat menghampiri Anin terlebih dahulu.
Anin mengerutkan keningnya heran, dan menatap kaki palah Rahmat yang sedikit agak diseret jika melangkah dan Anin mendekati juga, ia sudah kangen berbulan-bulan tidak menginjakkan kaki di sini.
Sampai beberapa kali menjadi bahan omongan para bacotan tetangga yang agak sedikit dikategorikan pemenangnya di dunia.
“Pah, ini kena apa?”
“Nggak ada, ini semalem jatoh dari kamar mandi ...” to the Poin, Anin menatap sorot mata papah yang sepertinya begitu melelahkan tapi tetap ada gelora untuk bekerja tiap hari walaupun dibantu tapi jiwa semangatnya masih membara.
“Oalah, pantes kok ada surat tadi ... oh iya pah, ini ada barang sedikit tadi. Kalau mau banyak nggak papa, tinggal minta lewat calling pah, kek zaman sekarang ...” ucap Anin dengan membagikan foto itu sangat benar-benar pingin nguras harta papah Rahmat.
Mumpung lagi ada di dekatnya, dan papah Rahmat mengangguk.
Hah, Aksa saja dibuat bingung berdua.
“Kamu mau apa yang?? Kok minta sama papah, nanti takutnya ngerepotin...” ucap Aksa dengan berbisik dan Anin mendesis, baru saja semenit minta masa iya nggak mau diturutin.
***
Sekarang ini mereka sudah pulang dari rumah papah Rahmat, dan mereka menuju ke rumah ibu Anin yaitu daerah pemakaman. Anin sampai beberapa kali mengeluh lantaran pundaknya ia jadikan sebagai banyak tadi tidur dan makan sore di rumah papah Rahmat.
Papah Rahmat dengan senang hati menerima mereka sebagai anak, tapi beberapa kali sudah Anin dan Aksa sempat berkunjung tapi tidak ada papah, katanya ada di luar negeri. Kenapa nggak ngajak Anin begitulah tadi, sempat ada perselisihan.
Antara iri dan dengki.
Bersambung...
__ADS_1
Makasih buat yang dah dukung terus jangan lupa follow IG din sekalian biar dapet info apa kagak kalau up ...
@dindafitriani0911