
Malam harinya menyapa kedinginan yang melanda, hujan rintik-rintik terasa dingin sekali di ruangan kamar Aksa dan Anin. Anin yang sudah terbangun, ia uring-uringan lagi.
Aksa pun menenangkannya, ia ingin bertanya tapi ia tahan dulu.
“Makan dulu ya ... Daripada lemes nanti, nggak mau sakit ‘kan?” Aksa mengambilkan makanan yang sudah diantar oleh pegawai apartemen yang selalu stay dalam segalanya.
Aksa menyuapi Anin, Anin hanya diam saja. Ia tidak ingin berbicara apapun hari ini, suaminya tetap saja setia menemaninya.
Setelah selesai makan, Anin tertidur di paha Aksa. Aksa yang mengecek beberapa dokumen di handphone dan Aksa memindahkan kepala Anin di bantal sebelahnya.
Ia mengecup bibir Anin yang pucat itu, dan mengusap kepala Anin.
“Selamat tidur sayang. Mudah-mudahan kita cepat diberi momongan, aamiin ... Kamu jangan cepat marah ya! Nggak baik, psikis kamu nggak kuat untuk menahan ini semua. Aku menerima pada kenyataan yang ada.” Ujarnya, ia pun memindahkan file yang ia bawa ke atas nakas dan mematikan lampu yang di atas, diganti di samping nakas.
Akhirnya dia sejoli itu pun tertidur.
***
Anin terbangun di pagi hari, ya dibilang masih buta sekali.
Anin melihat suaminya, ia merasa bersalah yang menyelimuti dirinya sejak kemarin. Melihat suaminya yang ia diamkan, ia marahi. Dan semuanya merasa ada yang dongkol di hati.
Anin memilih untuk bangun, dan mandi.
Supaya segar badannya, nggak kebawa efek marah-marah yang ada di diri tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Anin tersenyum, bugar kembali. Ia tidak ringkih seperti kemarin.
Kasian suaminya, ia mempunyai hati yang iba dan merasa kasihan kepada Aksa.
“Hm, mending aku belikan nasi padang kali ya. Yang dekat dari sini, ‘kan mas Aksa seneng tuh kalau makan nasi padang. Hehehe, sebagai tanda maaf.” Anin melihat jam di atas nakas, menunjukkan pukul enam pagi.
“Astagfirullahalazim aku lupa, ke sini nggak bawa baju lah terus ini aku harus pakai ginian gitu?” Ya, ia masih menggunakan kimono dan Anin menggigit bibirnya.
Gila apa? Jika ia nekat keluar, yang ada mempermalukan apartemen, serta suaminya dan yang parahnya dirinya sendiri. Aduh, Anin kenapa bisa jadi lupa seperti ini?
“Hm, jadi nggak jadi gini deh ...”
Anin menatap jendela dari atas terlihat, orang yang berlalu lalang. Ingin mendapatkan jatah makanan di pagi ini, udaranya begitu sejuk jika dilihat dari atas dan orang-orang yang berlari kecil sekitar lingkungan luar apartemen.
Ada orang yang sedang menyiapkan jualannya, Anin mengusap perutnya yang sudah keroncongan, meminta diisi oleh makanan. Andai saja ia di rumah Aksa, tidak akan kelaparan seperti ini. Tapi, ia boleh meminta salah satu pegawai untuk menyiapkan sarapannya di pagi ini. Tapi, ia berpikir dan beralih ke jam.
“Huh, kenapa nggak kepikiran atuh ... Dari dulu apartemen ‘kan kayak rumah. Pasti ada dapurnya, dan nggak mungkin juga itu kulkas kosong. Nggak ada isinya, masa iya sih?” Anin pun melangkah keluar kamar, dan menuju ke dapur.
Ia memindik-mindik, siapa tau nanti ketauan. Anin membuka kulkasnya, benar saja di sana sudah ada barang persediaan makanan. Anin mengecap lidahnya, ia pun memulai masaknya. Dan ia membuat nasi goreng, sepertinya enak.
Tapi, sebentar.
Boleh nggak ia protes, jika suaminya itu melarangnya untuk masak nasi goreng jika pagi-pagi. Isilah dengan sayuran, ataupun lauk yang lain.
Karena nasi goreng tidak baik untuk di pagi hari.
Boleh makan, tapi jangan di waktu pagi hari!
Anin mengingat itu semua, ia pun beralih ke sayuran lainnya.
***
Setelah jadi, Aksa yang baru saja mengerjapkan matanya dan meraba-raba istrinya.
__ADS_1
Loh kok nggak ada?
“Anin ...” Serunya dengan berteriak.
Anin pun terbelalak, dan berlari ke kamar.
“Ada apa? Kok teriak,”
Aksa menghembuskan napas lega, dan mendekati istrinya.
“Kok bau acemm ginih,” Adanya keringat yang menempel, membuat Anin malu sendiri.
Padahal ia sudah mandi, kurang bagaimana sih sebenernya?
“Ya kamu juga.” Ia tak kalah terima begitu saja, Anin pun mencubit pipi suaminya.
“Yah, cepetan mandi terus makan!” Sambungnya dengan mendorong pelan bahu suaminya.
Aksa menurut, dan Anin membereskan tempat tidurnya.
“Huftt ... Anin kamu cerita, kuat nggak ada yang di dalam diri kamu takut untuk menceritakan.” Ucap Anin dengan menyemangati dirinya.
Ia beralih ke handphone Aksa, yang berbunyi berarti ada yang menelepon dirinya dan di layar tertera nama ‘papah'. Anin memalingkan wajahnya, agar tidak terbawa suasana oleh perkataan mamah Aksa yang membuat Anin bertengkar kepada suaminya.
“Aku nggak boleh begini!”
Pertahankan nin! Anin menggebu-gebu dan Aksa keluar dari kamar mandi, dengan bertelanjang dada hanya handuk yang melingkar di pinggangnya.
“Kamu nih ... Nggak malu sama istri sendiri?”
“Kamu lupa? ‘kan aku suami kamu, jadi berhak untuk kamu. Gini-gini—” Handphone kembali berbunyi, eh ternyata Anin ngelirik sekretarisnya.
“Hm, nggak diangkat mas?”
Loh bentar? Anin tadi nggak bawa baju, ia memakai baju kemarin. Lah kok ini? Aksa malah sibuk mencari baju, “Mas kamu bawa baju kemarin?”
Aksa terhenyak, dan membelakangi tubuhnya.
“Anu apa? Ini aku setiap saat balik ke sini kadang dan ini juga apartemen ku, jadi aku sudah lama tinggal. Nah, makanya kadang ada baju yang aku tinggal di sini. Nggak harus ambil ke rumah, apa nggak nyuruh bibi buat nganter.” Jelas Aksa, Anin mengambil handphone Aksa dan membukanya.
“Mas, katanya sekretaris kamu itu ada rapat ini sama perusahaan Johnson...” Anin pun melamun, dan apa perusahaan Johnson bukannya itu punyanya keluarganya Putri.
Dan ini? Katanya harus ngajak istrinya.
“Loh ada pesta kah?”
“Nggak, katanya sih itu ulang tahun perusahaan...” Balas Aksa yang memakai baju santai.
“Kapan?” tanya Anin, Aksa mengeryit heran.
Lalu, membalikkan badannya dan Anin masih menatap layar handphone.
“Nanti siang acaranya,” jawab Aksa dengan menggunakan jasnya dan ia memakai dasinya, melirik istrinya.
“Hm, kok nggak peka sih...” Batin Aksa, Aksa memilih memakainya sendiri dan Anin kembali ke dapur.
“Kamu mau berangkat ke kantor, mas?” dengan raut wajah masam, dan Aksa tidak mengerti juga itu sindiran ataupun pertanyaan yang membuat Anin menjadi marah kembali.
“Iya,”
__ADS_1
Anin mengambilkan nasi, serta lauknya dan ia hidangkan di depan Aksa.
Anin hanya memandang kecut, ia tidak bisa mengatakan apa-apa jika suaminya tidak bisa diajak kompromi. Anin memakan makanannya, dan bisa dikatakan ia marah sekarang.
“Aku berangkat dulu, kalau kamu mau keluar. Telepon aku ya,” Aksa mencium kening Anin dan Anin meraih tangan Aksa, ia menyalami suaminya itu.
“Nggak ada kah basa-basi nya, yang ada basi gue di sini ...” Ucapnya dengan ngedumel dan Anin membereskan sisa-sisa makanan tadi.
“Huft punya suami nggak ada pekanya sama sekali. Bikin auto jerit-jerit pokoknya,” Anin mengeluarkan unek-unek hatinya.
“Emangnya dia kurang duit apa? Yang ada sehidup semati, dia nggak bakal akan kekurangan suatu apapun malahan.” Ucap Anin, Anin ingin berniat untuk pulang ke rumah Bude nya hari ini. Tapi, ia akan ada acara kali ini. Meski Bude dan Pakde juga sudah di acara juga, ada acara pengajian di komplek sana.
Anin menghembuskan napas kasar, dan ia memilih untuk menyusul suaminya ke kantor.
“Kenapa nggak bareng aja sih tadi? Ih, bener-bener dah bikin pusing aja ...”
Anin segera ia mandi kembali dan berdandan, memoles bedak tipis. Ia pun berangkat ke kantor, Anin ingin segera menyelesaikan beberapa masalahnya dengan kantor. Ia ingin resign dari kantor secepatnya, agar tidak mengulur-ulur waktu.
Anin memesan taksi dan ia melakukan perjalanan ke kantor.
“Hm tapi aku nggak bawa datanya gimana? Secara itu ‘kan paling membuat aku resign nggak bisa diginiin juga kali ... Udah nggak usah ini, panik ...” Anin berusaha menghembuskan napas. Dan secara ia malu sekali jika tidak membawa apapun, apalagi dengan adanya Aksa sebagai suaminya.
***
Di Kantor.
Anin tiba di kantor, ia diperlihatkan seluruh orang kantor karena ia biasanya ke kantor cuman berurusan dengan pekerjaan selain itu mungkin ia akan selalu ke kantor dengan suaminya, bos mereka di kantor.
“Sabar ...” Gumam Anin, Anin menyelempangkan tasnya.
Anin berjalan ke arah lift, dan memencet-mencet tombol lift.
Nah, pas saja ia ingin menemui HRD kantor.
HRD kantor pas-pas'an ketemu Anin di lift.
“Pak ...”
“Iya, eh mbak Anin udah balik lagi. Gimana keadaannya? Kok dia hari nggak berangkat, ada apa ya mbak?” HRD itu menanyakan kehadiran Anin, yang dua hari tiba-tiba hilang tanpa kontak. Iya, Anin menjauh dari namanya sosmed.
Agar tidak diketahui oleh teman-temannya.
“Iya Pak, maaf ...” Sahut Anin dengan tersenyum tipis.
Anin sangat yakin kali ini dengan tekadnya, dan menghela napas berat.
“Ada apa Nin? Kalau begitu, ada apa ... Tolong temui saya saja!”
Anin mencegah HRD kantor tersebut.
“Pak kita ke kantin aja ya Pak, ada yang mau saya bicarakan dengan bapak.” HRD itu menilik satu-satu barang yang menempel di Anin dan tersemat cincin di tangan Anin.
“Astagfirullahalazim, gue lupa mau copot ini cincin ...” Batin Anin, ia menyembunyikan cincinnya dan HRD mengeryit.
“Maaf jika lancang—” Yang datang cuman beberapa orang di pernikahan Anin dan Aksa itu, dan HRD ini telah pulang dari Amerika karena ada keperluan dengan keluarganya.
“Iya Pak, saya sudah menikah.” Jujur Anin
... Bersambung... ...
__ADS_1
Jangan lupa kasih komen sama like-nya ya🌺
Makasih 🙏