
Pagi harinya, sinar matahari yang terbit dengan lancang masuk di ventilasi jendela kamar mereka. Sayup-sayup terdengar burung kicauan yang berbunyi. Sudah pagi, Anin membereskan ranjangnya dan melihat handphonenya malam tadi, ia simpan di atas nakas. Kok sekarang ada di samping handphone suaminya.
Apa suaminya melihat sosmednya?
Astaga, lupa. Anin lupa untuk memberikan kode sandi, tapi gimana ini?
Anin menggigit jarinya, resah dengan keadaan sekarang.
Bingung? Jelas, ia sudah kalut ini.
“Oke, jangan marah!”
Anin membuka gorden, dan sinar matahari pun tampak jelas terbit, menyilaukan mata dan Aksa mengerjapkan matanya.
“Bangun dulu mas ...” ya, Aksa tidur kembali setelah melakukan sholat subuh tadi, dan dingin begini membuatnya kembali tidur.
Dan Anin? Ia ikut juga tidur, karena Aksa mengajaknya tanpa ada penolakan.
“Mandi ya, mas.” Anin membersihkan ranjangnya, dan Aksa beranjak dari ranjang.
Anin termenung, dan Anin menatap jendela.
“Perasaan ku gak enak.” gumam Anin.
Beberapa menit, akhirnya Aksa mengakhiri rutinitas mandinya dan menatap istrinya. Ia jeda terlebih dahulu, Aksa menyunggingkan bibirnya.
“Ngapa ngelamun?” sentak Aksa, Anin menengok.
Astaga, ia lupa akan menyiapkan baju suaminya itu dan Anin pun ke ruang ganti.
“Maaf, mas ... lupa aku mau nyiapin bajunya,”
“Hm,” dengan mengangguk singkat.
Anin ingin getok kepalanya, karena kebanyakan ngelamun jadi begini.
“Aku mau ke dapur dulu, mas.” Pamitnya dan Aksa hanya mengangguk.
Ia pun berjalan keluar, menarik knop pintu dan menutupnya kembali.
“Aduh, gimana ya?” resah Anin, gurat rasa khawatir menyelimuti nya.
Ia harus ikut suaminya kali ini ke kantor, tapi nggak mungkin. Jika nanti ada meeting tiba-tiba dan ia nggak mengetahui itu. Padahal itu meeting untuk membahas masalah istrinya. Dan harus kebawa ke kantor pula.
“Astaga, gue lupa kalau hari ini ada janji sama orang.” ucapnya dengan mengaduh, karena ia kesandung meja di sana.
“SIAPA sih yang taruh meja di sini?” desis Anin.
Jelaslah, di sini emang menyenggol kakinya.
Anin menghentikan langkahnya sejenak.
“Hm, gimana ini?” gumamnya, percuma saja ia akan begini. Pastinya suaminya itu lebih mengerti dimana letak kesalahannya.
Balik badan, dan ia berjalan ke dapur. Melihat ada para pelayanan, maupun bibi sedang bekerja. Apakah boleh ia bantu? Percuma saja, ia tak munafik emang. Cuman menemukan letak kepolosannya, dan di belakang enath gimana?
“Bi, ada mie nggak?”
“Nggak ada non, adanya mie bihun. Nggak ada, namanya mie instan.” Anin menatap tak suka, kenapa sih dia itu mau mie instan yang praktis dan tidak ribet amat.
__ADS_1
“Bibi ada mie instan?”
“Nggak non, kami di sini dilarang untuk membeli mirip instan. Kalau mau, ya kota buat apa gitu dan tanpa mie itu baru enak, non.”
Hening, Anin menatap makanan yang sudah tertata rapi. Ia ingin sekali makan mie instan, apalagi keadaan pagi-pagi yang masih dingin. Dan bisa dikatakan ingin pedas sih, tapi suaminya itu mempermasalahkannya tentang level kepedasan yang digunakan Anin. Bikin getok kepalanya sih.
“Bi, ini kenapa nggak ada tempe?”
Ia menatap adanya ikan disambal, sayur tumis, serta lauknya.
“Anu non, itu tempenya kemarin habis.”
“Kan ada yang praktis bi, di supermarket ada kok.” elak Anin, Anin kalau tidak ada tempe maupun tahu sebagai makanan sampingannya mendingan ia makan di luar. Ketimbang makan di sini, tak ada makanan itu serasa hambar lidahnya.
Bibi pun tidak menjawab, malah diserobot Anin gitu saja.
“Ahh, seterah lah. Aku mau beli ke warteg, biar sekalian dapet bonus.” Anin baru saja mau melangkah dari pintu, Aksa berada tangga ujung bawah. Memanggilnya dengan cepat, hingga ia pun harus berbalik badan.
“Apa?” dengan menatap Aksa yang masih sibuk memasang arlojinya di tangan.
“Mau kemana?”
“Gantungan.” sungutnya, dan Aksa mengeryit.
Menatap istrinya, jelas ia mau keluar kok malah ditanya begitu.
“Nggak sekalian bawa tali.” kekeh suaminya itu, Anin tersenyum tipis.
“Udah, aku mau keluar ke warteg.” pamitnya.
Aksa menarik tangan Anin, “kenapa? Ini ‘kan udah banyak!”
“Nggak selera,” ketusnya.
Apa sih yang mau dikatakan suaminya?
Ia merasa ragu, gugup, karena suaminya bisa membuat napasnya berhenti mendadak.
“Ada yang aneh ‘kah?” tanya suaminya baik-baik.
“Nggak. Aku mau aja ke warteg,”
Aksa mengangguk kecil, dan ia menuntun istrinya untuk duduk di kursi.
“Ada apa? Makanan nggak baik, kalau nggak dihabiskan dan kasian dong bibi yang udah capek masak. Kamu nggak ngehargai makanan yang sudah dimasak ini,” celetuk Aksa.
Anin menelan ludahnya dalam, ia kembali menatap suaminya.
Tapi, jika tidak ada lauk itu pasti Anin akan tidak selera makan dan membuat ia, tidak akan memakan secuil apapun itu.
“Tempe sama tahu nggak ada.”
“Oalah, kenapa nggak bilang. Kamu nih, bi ada tahu ‘kan kemarin?”
“Iya, ya Allah non. Kok nggak bilang, kalau tempe emang habis. Tapi, kemarin bibi sempet bawa gantinya ya, tahu. Ya udah, non tunggu dulu.” Ujar bibi dengan melangkah ke dapur, dan Aksa mengangkat dagu istrinya, mencium bibirnya dengan lembut.
“Kalau marah, jangan gini ya!” Anin membuang mukanya.
Malu sekali, ingin dia tampil muka suaminya itu tatkala mencuri bibirnya. Walaupun melakukan dengan lembut, tapi ia malah jadi senam pacu jantung gini.
__ADS_1
“Iya,”
Aksa duduk di samping Anin, dan Anin terkesima ketika suaminya itu sedang memakai blazer dilapisi jas kerjanya.
“Eum, mas ... Kamu nanti pulang jam berapa?”
“Kenapa emangnya?” tidak biasanya Anin menanyakan hal ini. Anin tersenyum, ia membenarkan posisi kerudungnya dan menatap suaminya.
“Ini nanti ada acara di rumah bude nanti malam, acara tahlilan buat ibu.”
“Loh, kok mendadak. Kenapa nggak dari kemarin,”
Anin mengkerutkan dahinya, ia terkejut ketika ada piring di sampingnya dengan asap mengepul. Masih panas, Anin kembali menatap suaminya.
“Permisi tuan, nona.”
“Iya, silakan pergi!” jawab Anin.
“Lah kamu mau meeting emangnya?” Aksa menghela napas pelan, jika masalh keluarga ia tidak bisa apa-apa, ayahnya selalu mengancamnya dimanapun itu atau kapanpun kamu harus menyediakan waktu atas keluargamu. Jadi, kamu letakkan waktu itu untuk keluarga mu.
Aksa menyerap sebentar omongan ayahnya kalau itu.
“Oke, nggak. Nanti aku suruh majuin aja,” ada helaan napas lega dari hidung sangat istri.
Anin mengambil nasi untuk suaminya dan dirinya.
“Segini, cukup?”
“Udah, makasih.” Aksa dengan senyuman tipis dan datar.
Tak sopan sekali anda! Anin bilang gitu, jawabnya dengan malas.
“Iya, aku boleh ke kantor kamu nggak mas? Nanti siang,” ia ragu awalnya untuk menjalankan misi selanjutnya.
“Boleh, dimanapun kamu mau. Aku bolehkan, dan pintu kantor selalu terbuka untuk kamu,” Aksa menegak air yang ada di gelas hingga tandas.
“Aku berangkat dulu, jangan kemana-mana! Harus izin pokoknya,” Anin mengangguk dan menyalami suaminya yang mengantungkan tangan padanya.
Aksa mengecup kening istrinya, “Assalamu’alaikum.” Dengan berjalan keluar dan Anin tersenyum kecil dan menjawabnya, ia pun senang bisa leluasa begini.
Piring yang habis digunakan tadi, ia bereskan. Serta lauk yang ada di meja makan, ia simpan kembali. Bibi juga membantunya, ia dipercayai untuk menjaga nona di rumah garis tidak terjadi apa-apa dan banyak sekali CCTV berjalan di rumah ini. Pastinya pengawal yang sudah dipercayai oleh Aksa.
“Ouh ya bi, boleh nanti bantu Anin ke pasar?”
“Dengan senang hati non,” balasnya dengan senyum hangat. Ini bibi bisa aku jadikan pacar kalau begini terus, dari tadi ngeliat Anin mulu. Apa nggak bosan gitu?
Astaga, Anin ingin segera menyelesaikan pekerjaan kali ini. Ia harus ke pasar, berbelanja dan menanyakan harga keperluan sehari-hari.
“Bi, aku mau mandi dulu. Bibi siap-siap aja.”
“Baik non, moon maap mau izin non.” Pamitnya dengan undur diri.
“Oke, aku mau apa ya? Kok ngebleng gini, ngelag mana.” umpatan kecil keluar dari mulutnya dan Anin menyadari.
“Diem napa!” jerit Anin, salah sendiri dan membenarkan dengan sendirinya.
Aneh, memang.
...Bersambung......
__ADS_1
Maap yah kalau nunggu 🙂, oh iya makasih buat yang ngeluangin waktu untuk berkomentar ❤️ dan memberikan dukungannya 😁.
Semangat terus yah☺