
Anin dan Aksa sudah selesai makan, Aksa kembali ke ruangan ICU di mana tempat orang tuanya sekarang sedang kritis. Sementara Anin, ia malah enak-enak lagi ke taman, karena sumpek lama-lama di rumah sakit. Sebagai menantu bisa saja ia dicap sebagai menantu yang nggak tahu diri, mau orang nyindir dengan gayanya, toh Anin tidak keberatan.
“Haish, pingin pulang aku.” Cicitnya dengan berdiri, ia tak bawa apa-apa tadi. Ya, mana sempat jawabannya, tapi sejak hamil moodnya selalu tidak bisa diajak baikkan.
“Hm, gimana? Pulang saja lah, daripada di sini.”
Anin beranjak, dan ia pun berjalan ke lift yang berada tak jauh dari sana, capek jika turun dengan tangga, masalah ia pulang nanti dibicarakan dengan suaminya baik-baik di rumah dan masa iya Aksa akan memusuhinya, nggak lah!
Ya udah, ia juga akan begitu kalau dimarah, marah balik. Kagak ada yang harus kalah, tapi kasian pula suaminya jika tambah dibuat emosi olehnya, Anin menetralkan hawanya dan di dalam serasa kepingin makan apa-apa.
Ia tahan, sampai beberapa hari ke depan.
Anin sudah sampai di lantai bawah, eh ternyata ia melihat jika Aksa, suaminya itu memandang ke arahnya dan tertangkap habis sudah, ia hanya menyengirkan mimik wajahnya.
“Kamu mau pulang?” apa itu, suara beratnya mulai dikeluarkan. Bukan berarti mau marah-marah ya di umum begini, apalagi ini tempatnya di rumah sakit. Huh, dia sebenarnya lelah jika menunggu di rumah sakit bukan menyenangkan baginya tapi gimana sekarang, ia tertangkap basah malahan dengan suaminya.
“Iya, bosan di sini terus.” Spontan ia menjawab dengan kata itu, dan Anin reflek memukul bibirnya, ia mengeratkan tangannya karena ia takut jika kesalahan kata membuat Aksa yang memandangi dirinya dengan tatapan aneh.
Hm, kudunya dikurung saja ini suami di kandang ayam sekalian bobo di kandang ayam, ditemabi ayam yang lagi ngedog sampai netas, tapi kasian juga suaminya, pasti akan direbut oleh ayam-ayam betina yang ganjennya, MasyaAllah.
Perbanyaklah berdosa, eh salah istigfar.
“Hm, mending kamu pulang! Nanti aku pulang, daripada di sini kecapean. Nggak papa ‘kan pulang sendiri, sama sopir?” Emang lah the best suaminya ini.
“Eh iya, bener sih.” Jawabnya dan Aksa hanya memandang datar, tanpa ada untuk membalasnya dan Anin mencium tangan suaminya, dengan tersenyum lebar dan berjalan, melangkah pergi dari sana.
Aksa sejak tadi sudah gatal tangannya, kepingin mau meluk istrinya tapi ia masih kepikiran dengan orang tuanya di dalam, dan dokter hanya mengatakan, do’akan yang terbaik saja. Mudah-mudahan Allah bisa kasih jalan yang terbaiknya.
“Huft, kasian istri ku, jadi lelah gitu.” Lirihnya dengan pelan, dan tersenyum tipis.
Aksa bersedekap dan ia memerhatikan sekitar, “Hm, ada orang kah? Keknya nggak ada, tapi orang lewat pastinya ada.” Dari tadi mah orang lewat mulu, kagak lihat apa? Huh, maklumi orang lagi minus biasanya agak itu burem.
__ADS_1
“Mari, pak...” sapa orang-orang yang lewat dan Aksa hanya mengangguk.
***
Sementara Anin yang sedang menunggu di lift, ia tidak sengaja melihat jika Rifa'i bersama Putri di rumah sakit, oke dirinya teringat dengan dokter yang selalu dikonsultasikan dengan mereka berdua. Ada apakah? Kok sepertinya dari sorot mata Putri sehabis menangis, apakah mantan suaminya itu main tangan.
Ya, bisa jadi sih. Anin menghela napas gusar, dan memencet tombol lift. Logikanya kalau nangis, terus dari kelihatan muka Si suaminya tidak apa-apa dan apakah selalu berdosa begitu, orang yang nggak kelihatan salah mah banyak nggak mengakuinya, malah pura-pura melupakannya.
“Hm, lah gue pikirkan hidupnya orang lain, gue aja belum kelar masalahnya.” Gumamnya dengan menggerundel di dalam hati, karena belum ikhlas dimarah oleh Aksa tadi.
Masih sebelum penuh hatinya untuk melupakan tadi, Anin menunggu sampai bawah, ia pun keluar dari lift dan tidak sengaja bertabrakan dengan tubuh seseorang, sepertinya orangnya gagah perkasa dari bentuk perutnya, Anin itu tetap saja otaknya berputar, kagak mungkin macet di jalan kalau masalah yang ini.
“Eh, maaf-maaf. Soalnya saya buru-buru,” ucapnya dengan mau masuk ke dalam lift, dan Anin mencegahnya tapi tidak terburu, padahal mau minta foto ealah dikejar apaan sih kok lari-lari gitu bapak!
Matamu bapak, bukan bapak gue.
Hm, tadi bukan orang terkenal itu ya. Dan selalu bersanding dengan suaminya tiap saat di saat berbisnis, Anin nampak sekilas. Ia selalu mengenali dari ciri-cirinya, afaibble amat orangnya.
“Bu,” sapa sopirnya dan membukakan pintu untuk majikannya, namun tangan Anin sudah di handle pintu mobil, soalnya ia tak mau merepotkan orang lain. Sedikit demi sedikit, ia akan coba untuk mengobrolkan soal kasus!
“Jalan saja, pak.” Perintah Anin dan sopirnya menurut, menjalankan mobilnya dan Anin masih memikirkan orang tadi, seperti orang yang selalu terbayang-bayang oleh masa lalunya, yang pernah diceritakan ibunya dalam kehidupan dia selama ini. Tapi, tidak mungkin.
Katanya bisa saja orang itu sudah menjauh dan bisa saja mendekat, kita nggak ada yang tahu dengan takdir, mungkin bisa saja menemukan dan bisa saja di dunia tidak pernah bertemu, namun bertemu nanti di akhiratnya.
Tapi, ia benar-benar tidak sudi jika orang itu kembali kehidupannya, dan bukannya apa-apa. Ia malu jika mempunyai laki-laki, cinta pertamanya di dunia namun malah meninggalkannya sejauh mungkin, tanpa pernah mengunjunginya sejak ibunya mengandung sekitar tujuh bulan. Di dalam perut, ia tak tahu apa-apa dengan dunianya, hanya dunia kandungan yang ia tahu pada saat itu.
Tak terasa tetesan air bening itu meluruh, dan sopir pun gelagapan sendiri karena mobil ini sudah difasilitasi dengan CCTV yang tersambung di rumah, dan bisa saja dia yang menjadi sopir kali ini nggak selamat.
“Bu, ada apa? Kok ibu nangis,” dan Anin pun segera menghapus air matanya.
“Nggak, saya nggak papa.” Jawabnya dengan tersenyum, dan sebisa mungkin sopir itu menetralkan mimik wajahnya serta sorot wajah khawatir, orang mah punya perasaan ya mana mungkin bisa menjadi orang yang kejam saja masih punya hati kecilnya, yaitu kelemahan yang hanya bisa dilihat dari mata maupun hatinya.
__ADS_1
Sedemikian rupa, Anin mengembalikan wajahnya seperti semula. Hawa orang yang lagi badmood ya seperti ini, sayang lah sama tenaganya jika untuk menangis hanya menangisi kejadian yang nggak akan kembali lagi, hanya masa lalu yang telah mengisi pikiran kita.
***
Sementara laki-laki yang bertabrakan dengan Anin tadi, orangnya sekarang ada di ruangan VVIP dan mengejutkan ternyata, laki-laki itu bernama Revino, Revino hanya cuek tadi dan tidak menanggapi orang yang telah menabraknya, biasanya memberikan pelajaran yang kejam, orang yang berurusan dengannya.
Namun, ia terlalu buru-buru dan tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang tadinya sih ia salah juga. Orang itu masuk dengan langkah tegas dan berwibawanya.
Dengan style yang masih lengkap seperti bos CEO, memang CEO yang terkenal dan Revino masuk dengan mengamati sekitarnya, istrinya kemana?
Bingung dan heran, Revino mendapatkan kabar jika istrinya ambruk lagi, ya karena terlalu kelelahan menjadi seorang model, di usia yang kurang lebihnya bisa dikatakan mau umur, tapi tidak untuk badan dan wajahnya, yang masih seperti orang muda. Jelas saja, banyak yang mengincar istrinya, tak sangka juga model ternama itu istri dari CEO yang terkenal di jajaran papan atas dunia.
Katanya ada di sini, “Mas...”
“Ekhem ya, kamu nggak papa?”
Revino melangkah mendekati istrinya, istrinya pun tersenyum.
“Ya, makasih sudah mau ketemu.”
“Hm, hanya sebatas suami istri tidak lebih.” Ucapnya dengan tajam dan membantu istrinya ke naik ke ranjang, dan membopongnya.
Tidak bisa dibohongi lagi jika istrinya itu sedang dilanda kegelisahan selama ini, di benaknya emang sakit tapi mau gimana lagi, ia tidak bisa memaafkan apapun itu kejadian masa lalu itu.
Bersambung...
Makasih buat kalian yang sudah mampir, dan boleh follow IG Din yah, minta folbek sama Din lewat DM saja, temenan yah kita besti, biar tambah banyak😌🙏😎.
@dindafitriani0911
Boleh dishare ke teman-temannya ya besti, dan boleh kok di share dalam bentuk apapun ya😙😆
__ADS_1