
Pagi hari ini, disambut dengan pagi yang adem dan nyaman. Serasa kayak mau mandi aja, masih merem nempel jadi satu matanya. Karena begadang tadi malam, kini Aksa gelagapan sendiri lantaran istrinya membangunkannya dengan penuh kekuatan, sampai ia terkejut.
“Jangan marah lah, mas! Kan mau maaf-maaf ‘an nanti.” Goda istrinya dengan bergerak mengelus lengan suaminya, suaminya itu memang tidak kira-kira kalau mau gempor kemarin dia jadi telur gulung sekarang. Mungkin, tidak bisa melakukan sholat eid di masjid.
“Lah kamu sih, aku belum ke kumpul kok ... ya udah, aku mau mandi.”
Oke, sepertinya tidak berhasil. Nanti saja, mungkin moodnya masih kurang baik.
Anin tersenyum tipis, ia pun mengambil kerudung dan ia nanti akan mandi. Soalnya dia masih belum berberes rumah mertuanya ini, kali aja dapet pujian. Tapi, nggak mungkin.
Coba saja ini rumahnya sendiri dengan suaminya, pasti suaminya memuji tanpa henti.
Mau caper bahasanya, tapi Anin mengerti tempat kalau mau cari perhatian. Nggak papa kali, emang hukumnya apa kalau caper sama suami? Kali aja nggak boleh.
Anin mengelus dadanya karena suaminya berteriak, untung saja dia tidak punya riwayat penyakit jantung. Dan suaminya itu melongok, pintu kamar mandi memang sepenuhnya belum tertutup.
“Urgent! Ada sabun nggak?”
“Hah?” Anin tidak dengar, buktinya ia masih fokus dengan kerudungnya.
Suaminya menatap malas dari kamar mandi, untuk kali ini dia masih aman sebab maish memakai baju dan celana.
Aksa keluar, dengan pintu berderit membuat Anin tidak bisa menoleh ke arah belakang. Ia tahu kalau suaminya keluar tanpa menggunakan apa-apa.
Kalau Aksa dengar, mungkin ia sudah didepak dari KK menjadi istrinya nggak bisa seenaknya negatip thinking soalnya kebanyakan kepikiran hal-hal yang di luar praduga.
“Heh kalau suaminya ngomong itu dijawab, terus dilakukan!”
Suara Aksa membuat Anin seketika merinding, ia ketar-ketir sendiri. Dalam hati mau kabur, melangkah saja sepertinya sudah pupus sebab suaminya mendekati dirinya.
“Mau ngapain mas?”
“Mau kamu, eh salah .... kamu mau ke bawah, tolong ambilkan sabun! Dan aku mau ngambil handuk, tadi lupa bawa ...” Aksa membuka lemari, lantas istrinya menghela napas kasar.
Aksa pura-pura memerhatikan, dan ia menepuk bahu Anin.
“Heh kenapa?” Aksa menaikkan sudut alisnya.
Anin bergidik, ia pun menutup rapat matanya dan Aksa bingung serta heran.
Anin berjalan pelan-pelan sambil meraba, dan Aksa hanya memperhatikan.
Atensinya beralih ke Anin yang mau menabrak dinding, “Awas ada tembok di depan!” beo Aksa dengan skor sedikit ngakak dirinya, menahan tawanya agar tidak menggelegar kemana-mana.
“Hah depan tembok,” pelan-pelan Aksa berjalan tapi sepertinya Anin tidak kedengaran jika ia mendekati istrinya dan sekarang ada di hadapan Anin adalah Aksa sendiri.
Anin ingin berjalan tapi kayak ada yang aneh, anehnya ia memegang benda yang sepertinya lunak dan agak keras, benar salah satunya leher Aksa yang dipegang membuat Aksa panas dingin. Ia menelan ludah, ada sedikit pergerakan dari hembusan napas yang tercium berbau lavender.
__ADS_1
“Siapa?”
“Eehem, jangan sok nggak kenal! Emangnya kenapa sih kok ditutup segala,” Aksa membuka pelan-pelan mata istrinya dan meniup, angin yang berbau lavender itu menerpa seluruh wajah Anin dan sedikit basah.
“Kek ada kuah, tapi baunya wangi. Seger terusan,” puji istrinya dan Anin menatap malas.
Ia pun berjalan keluar dari kamar, dan Aksa hanya tersenyum lebar. Ia pun menutup kembali pintu kamarnya yang dibuka oleh istrinya tadi, Aksa berjalan ke kamar mandi sambil menunggu Anin di dalam ia menyetel musik tapi sepenuhnya ia belum masuk ke dalam baht-up.
Ia juga nggak bisa mengatur kondisi air yang bisa ia gunakan, sementara istrinya lagi ke bawah buat nanyain soal sabun, iya sabun di kamar mandi persediaannya sudah habis dan mau nggak mau ia menyuruh istrinya.
“Kemana lagi, ck... Lama amat,” kesalnya dengan bergumam.
Dan ia memainkan kran yang ada di atas baht-up, dengan ia mengaca di kaca. Ia memperhatikan badannya, sepertinya tidak ada yang dipermasalahkan sekarang alhasil ia pun mencukur bulu kumis yang ada di sekitaran mulutnya, mulai tumbuh kecil-kecil.
Ah, memangnya istrinya itu yang terbaik masa nggak protes sedikit pun. Aksa saja serasa risih kalau punya kumis, sementara istrinya bisa menerima apa adanya.
Setelah sekian abadi menunggu, akhirnya Anin ke kamar dan mengetuk pintu kamar mandi terlebih dahulu sebelum suaminya itu telanjang dada akhirnya ia membukanya dan suaminya itu masih memakai baju lengkap.
“Jangan mikir macem-macem! Masih suasana lebaran, kalau begitu. Awas aja! Aku lapor sama pakde apa nggak bude, biar nanti ldr-an satu minggu.” Sambil bersedekap dada dan ia keluar dari kamar mandi, sebelum itu ia memperingati untuk tidak terlalu lama mandinya.
Ia nanti akan pindah kamar mandi jika terlalu lama.
Menunggu itu pekerjaan yang tidak memuaskan, alangkah baiknya ia keluar dari kamar. Anin pergi dari kamar itu, dengan begitu ia membantu pekerjaan ibu mertuanya yang ada di bawah.
Ibu mertuanya memang belum mandi, tapi tidak terlihat kumal dan masih seger keliatan dari wajahnya yang berseri. Sementara dirinya, akh tidak bisa dijelaskan lagi.
Bisa saja anak menantunya itu terjatuh, karena di akhir tangga biasanya licin kalau nggak berhati-hati pasti menantunya ini telah menjadi keributan pagi di hari lebaran yang penuh suka gembira.
Eh, maaf kalau ngomong agak meleset.
Suka aja ngomong njeplak.
Ibu mertuanya itu mengerutkan sudut alisnya, “kenapa kok diam di situ?”
“Hah iya mah, maaf ... oh iya pada kemana kok masih sepi?”
“Masih pada pejem mata kali, ini juga masih jam berapa. Mamah juga mau masak opor dulu, ini masih mau manasin bakso, terus makanan yang lain juga. Bantu mamah ya, soalnya pembantu di rumah masih pada kerja yang lain. Mana mungkin juga mamah mau ngerjain mereka ke dapur kalau bukan hasil tangan mamah sendiri.” Ucap mamah panjang kali lebar, membuat Anin segera mengangguk dan menghampiri mamahnya.
Setelah semuanya sudah disajikan di atas meja, Anin memandang semuanya yang masih bersiap-siap untuk berangkat ke masjid sementara dirinya belum siap-siap.
“Kamu siap-siap dulu gih, biar tante yang bantu mamah mertua kamu.” Suara bariton itu membuat Anin menatap tantenya yang tersenyum ke arahnya.
Emangnya keluarganya Aksa ini terkenal cuek, tapi kalau ada humornya mungkin bisa dihitung jari jika mereka melakukan adegan hal lelucon.
Mereka menganggap aneh jika kita yang memulai dulu, tapi tidak bagi mereka.
Oke, fine Anin sekarang naik ke atas. Ia menuju ke kamarnya, saat sampai di kamar ia melihat suaminya lagi leyeh-leyeh naikkan kakinya di atas meja membuatnya mendelik tajam ke arah suaminya, Aksa tidak peduli.
__ADS_1
Ia mau istirahat dulu, semalam begadang soalnya itu alasannya sekarang.
“Kok belum siap-siap?” nada itu dilontarkan Anin dengan rendah.
Ia masih menahan emosinya yang memuncak, Oke sekarang baik dulu besok baru meneriakkan kata khas dan ceramah yang harusnya didengar oleh suaminya.
“Iya lagi kedinginan ini, tadi nggak ngerti caranya....”
“Hah gimana maksudnya! Kamu nggak bisa ngatur air, oh berarti sekarang bergantung sama istri dong. Kalau istrinya udah end, terus nanti siapa yang nyiapin ... heh jangan bergantung sama orang! Inget selagi masih dikerjain kenapa nggak kerjain sendiri!” omel istrinya dengan berjalan menuju kamar mandi, untuk melakukan aktivitas mandinya sementara dirinya menutup telinganya sambil bersiul.
Biarkan mau dikatain suami durhaka sama istri, bisa kena siraman kalbu nanti.
“Sekarang ganti! Udah aku siapin di ruang ganti!” teriak Anin dari dalam kamar mandi, membuat suaminya berjengkit kaget.
Sesuai perintah, sekarang ia melakukan dan berjalan ke ruang ganti.
Setelah semuanya sudah beres, Aksa kemudian berkaca diri dan mendandani dirinya dengan ala pria bukan wanita yang berdandan menor sepertinya menarik kalau ia dandan menor, apalagi dadanya agak sedikit dimajukan.
Beh, harga dirinya seketika anjlok nurun.
Bisa diketawain semuanya kalau tahu, sekedar info lewat jika dirinya itu kejam dan dingin.
Sebaiknya mikir dulu kali kalau mereka aku mengerjai Aksa dengan acara begitu. Harus melewati 7 samudra, 7 benua, terus 7 tanjakan, belokan, turunan.
Aksa diam-diam menerbitkan senyumnya, dan membenarkan posisi peci yang sudah bertengger di atas kepala.
Ia keluar dari kamar ganti, dan di sana istrinya sedang dandan dengan kerudung yang sudah menempel di kepalanya juga. Ah, serasa lebaran diulang lagi sama seperti tahun kemarin.
Ini lebaran kedua bagi mereka. Akhirnya, pernikahan mereka bisa diberikan kelancaran bagi mereka untuk menjalankan ibadah puasa dan Idul Fitri bersama-sama.
Aksa berucap syukur, lalu ia mendekati istrinya dan menepuk bahu istrinya dengan menduselkan kepalanya di ceruk bahu istrinya.
Anin menggeleng, ia menghela napas.
“Sebaiknya jangan dekat-dekat dulu!”
“Ah iya, yuk turun!” mereka pun turun dengan perlengkapan sholat dan Anin sudah cantik dengan dandanannya walaupun ia tidak memakai make-up, cantik natural itu yang bisa dipandangi Aksa terus.
Baiknya ia memilih jalan yang enak, karena kalau dandan pasti nggak cukup buat waktu pendek.
Bersambung...
Oke makasih buat yang dah mampir, Siap-siap menuju konflik agak berat sih tapi nggak papa akan selesai secara baik kok👀🤣...
Hilih, sepertinya tidak kalau bagi readers.
Yes, milih jalan yang kudunya baik dulu baru jahat bukannya kebalik🙂..
__ADS_1
Hehehe, ya sudah pye-pye sampai bertemu next episode lagi ya🤗