
Malam harinya, setelah selesai semua pekerjaannya. Aksa pulang, dan itu sudah tepat pukul setengah dua belas malam. Aksa berkali-kali mengumpat di dalam mobil karena handphone istrinya tidak aktif, dan siang tadi tidak ada jawaban sama sekali.
“Apa ada sesuatu dengan Anin?” Praduga Aksa yang keluar dari mulutnya.
Aksa memukul pelan stir mobil, dan menambah kecepatannya. Sesampainya di rumah, para pengawal beraktivitas seperti biasa, tidak ada muncul prasangka buruk.
Aksa berjalan santai, ketika masuk ke dalam rumah.
Tidak ada sesuatu, mungkin istrinya sudah tidur.
Aksa pun melangkah ke arah tangga, tetapi ada suara sepatu pantofel yang mendekat ke arahnya dan tanpa basa-basi, sopir yang tadi berucap.
“Tuan...” Serunya, Aksa membalikkan badannya.
“Iya, ada apa? Apakah terjadi sesuatu?” Sopir itu mengangguk, lantas Aksa bingung.
“Oke, tunggu saya di ruang tamu. Dan saya akan menemui kamu, tapi saya mau berberes dulu. Nggak lama kok,” Ucap Aksa, buru-buru sopir tersebut memotong langkah kaki Aksa dengan perkataannya.
“Tuan ini lebih penting, jadi mohon waktunya sebentar Tuan.” Membuat Aksa naik darah ketika menyambar apa yang ada, waktunya untuk berberes ketika pulang dari kantor. Ia malas menanggapi orang seperti ini.
Aksa naik lagi, dan melangkah jauh membuat sopir tadi bergidik ngeri. Apakah yang terjadi selanjutnya? Sopir itu tidak bisa membayangkan.
“Siap-siap kena mental.” Salah satu temannya mengejek, dan sopir tadi menggerakkan bahunya. Temannya memberikan semangat, dengan menepuk bahunya.
“Sabar aja! Kalau kamu nggak sabar—” Tiba-tiba majikannya itu turun kembali, dengan amarah yang meledak-ledak. Mengumpat, sadis sekali.
“Kemana istri saya?” Tanyanya dengan mata tajam.
***
Di rumah Anin, Anin menonton TV. Acaranya lebih menantang jika sudah malam seperti ini. Anin sembari memegang snack kesukaannya, dan memindah-mindah chanel.
“Sepi sekali,” Ucap Anin.
Ia pun mematikan TV-nya dan berjalan ke kamarnya, ia pun menyibakkan selimutnya lalu ia pakai kembali. Sebelum tidur, Anin berdoa.
Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, Anin tertidur dalam mimpinya.
Tidak tau suaminya yang ada di rumah, bingung dan marah-marah kepada semua orang yang ada di rumah. Bikin jantung berlarian ke sana ke mari, karena semuanya bangun dan mendengarkan majikannya marah-marah.
***
“Pak...” Seru bude dengan memijit-mijit kepala Pakde. Mereka sekara6 ada di dalam kamar.
Tapi, mata Bude masih melek dan Pakde yang terpejam. Merasakan tangan Bude yang memijat kepalanya, membuat Pakde semakin larut dalam mimpinya.
Bude melototkan matanya, ketika mendapatkan pesan dari orang tetangga samping rumah Ibu Anin. Dia memberikan pesan kepada Bude, jika ponakannya ada di sana.
__ADS_1
“Pakk... Bapak bangun!” Seru Bude dengan menggoyang-goyangkan tubuh Pakde.
“Ngapa sih Bu? Ini udah malam, mending tidur!” Bude pun memakai jaket dan kerudungnya.
“Yuk, ayok! Cepetan, kasian ponakan kita di rumah ibunya.” Mata Pakde langsung membulat sempurna dan serius ini? Pakde tidak salah mendengar ‘kan?
Pakde masih menyangkut otaknya, stimulus otaknya masih berjalan walaupun dalam keadaan capek, lelah, dan sudah mengantuk berat. Pakde beranjak dari tempat tidur, dan memakai jaketnya.
“Pakai motor aja Pak!”
“Iya, ini...” Pakde mengikuti langkah Bude di belakang, sebelumnya mengunci kamarnya.
Dan Pakde bersama Bude berangkat, menuju ke rumah Ibunya Anin.
Mereka tidak tenang, apalagi dengan anak perempuan satu-satu nya dan sendirian di rumah. Mereka khawatir, jika terjadi apa-apa. Pikirannya sekarang Anin masih ada di situ apa nggak?
Bude sudah bawa kunci cadangan, dan mereka sampai di depan rumah Anin. Tapi, masih beberapa tetangganya yang belum tidur di sana. Masih membuka pintu rumah masing-masing, dan mengobrol.
Lampu yang menyala, terang benderang semuanya. Biasanya hanya beberapa saja yang dihidupkan.
Bude dengan langkah grusak-grusuk, membuka pintunya dan melihat kamar Anin yang masih terbuka.
Bude dan Pakde bernafas lega, akhirnya.
“Huft, ‘kan jadinya capek bu... Sampai sini anaknya nggak papa ‘kan?” Bude menjitak kepala Pakde.
“Iya, bapak sih... Udahlah kita tidur yuk!” Pakde menggeleng cepat.
Sepertinya Pakde masih ada rasa sedikit phobia.
“Ummm, sini bu! Biar nggak kedinginan.” Mereka pun tidur satu selimut dan berpelukan.
***
Di rumah Aksa, Aksa bingung dan khawatir dengan keadaan Anin. Untung saja, ia bisa mengendalikan emosinya agar tidak marah-marah, gunanya apa untuk marah-marah ketika malam hari? Ia bisa sedikit terkontrol, dan hampir saja melukai salah satu pengawal.
Kejujuran yang paling utama sekarang!
Sopir tadi kena bogeman di perutnya, dan tulang keras bagian kaki ditendang oleh Aksa. Ia terkejut, dengan salah satu penuturan yang ia tekankan untuk melakukan jujur, jujur penting dalam hidupnya.
Sampailah mereka melihat sopir itu memarahi ataupun mengatakan tidak sopan terhadap Anin.
Anin pergi, entah dari dugaan mereka yang pasti Anin tidak akan jauh dari negara ini. Ataupun wilayah ini, Aksa pun berfikir jika Anin ada di rumah Bude dan Pakde nya.
Jika ia menjemput istrinya sekarang, tidak... Nanti, ada kesalahan paham di antara mereka.
Aksa memilih untuk urung niat ke sana, dan besok dia akan ke sana. Menyelesaikan urusannya, sekarang ia masih tetap terjaga matanya dengan layar handphone yang masih menyala.
__ADS_1
Apakah yang diinginkan Anin?
Aksa mencium bantal yang dipakai Anin selama seminggu ini, dan memeluknya. Setelah benar-benar terlelap, dan handphone ia matikan sebelumnya.
“Sudah, ngga usah macam-macam pikirannya!” Aksa meminta perlindungan kepada yang Maha Kuasa dan akhirnya ia pun tidur dengan mimpi yang aneh-aneh. Karena hatinya belum sejalan mulus, jadinya agak ada tikungan begitulah.
***
Pagi-pagi, sebelum matahari muncul Bude sudah bangun. Ia belanja ke warung depan, untuk membuat sarapan pagi ini. Dan untung saja Pakde membawa uang, dompet yang selalu ia bawa.
Pakde masih ngorok di tempat tidurnya, padahal di tikar.
Bude sampai heran, ia saja tidak bisa tidur semalaman karena ngilu sekali lehernya dan badannya semua nyeri datang. Bude sampai mengeluh tadi shubuh dan Anin belum bangun juga, saking nyenyak nya di dalam kamar.
Setelah pulang dari warung, Bude akhirnya membangunkan Anin.
“Anak ini sampai nggak nyadar kalau ada Pakde sama Budenya di sini.” Ucapnya dengan pelan.
Bude membuka hordeng di kamar, dan mematikan lampunya.
“Nak bangun!” Seru Bude, samar-samar Anin mendengar.
Siapakah itu? Ibunya kah? Ia masih mimpi sepertinya.
“Eh ini Bude, bangun! Nanti keburu Imsak, eh salah.. Terbit maksudnya Bude,” Akhirnya Anin membuka matanya, berat sekali. Dan ia pun bangkit dari tempat tidur.
“Bude...” Anin menyalaminya dan Bude mengangguk-angguk.
“Iya, kamu cepetan gih subuhan. Jangan ampe ditinggal!”
“Anu bude, aku... Aku halangan,” Sahutnya sambil menggaruk tengkuk lehernya.
“Masya Allah, kamu ini pantesan aja molor... Biasanya sudah bangun jam segini, ya udah bantuin Bude masak. Cuci wajahmu dulu, baru seger dikit.” Anin mengangguk dan melakukan sesuai perintah Bude.
Bude dan Anin masak di dapur.
“Oh iya Bude, kok Bude tau aku ada di sini?” tanya Anin dengan wajah bingung.
“Iya, tadi malam Bude dikasih tau sama ibu itu... Ya udah, Bude khawatir sama keadaan kamu kalau sendirian, oh iya Bude mau tanya suami kamu kok nggak ikut?” Tanya Bude balik, dan Anin hanya menggelengkan kepala.
“Iya, aku kan ke sini mau mampir doang. Eh malah, aku betah di sini... Ya udah, aku nggak pulang sekalian.” Jawabnya dengan bohong, paling di hatinya menyerbu setiap perkataan tadi harus dinyatakan dengan sejujurnya mungkin.
... Bersambung... ...
Wkwkwk nggak berat kok itunya masalahnya, tapi ada teka-teki yang bisa membuat napas berenti mendadak, siap-siap yang kena krama 🌚.
Ini novel hanya semata, bukan fisik.
__ADS_1
Ya udah jangan lupa kasih komentar, like, dan rating ya. Biar semangat, jaga kesehatan dan jangan lupa berdo'a agar diberi kesehatan 😇.
Makasih