Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 37


__ADS_3

Sampai malam harinya, Anin tidak bisa tidur karena Aksa dari siang katanya janji untuk pulang dan semuanya tak semudah itu, karena Aksa sedang mau mempersiapkan keberangkatan orang tuanya di Singapura, dan Anin sempat tidak percaya jika orang tua Aksa terserang penyakit jantung.


Katanya kecelakaan, tapi kok anehnya jika badannya biru semua.


Tak akan jika kecelakaan itu.


“Huh, bosen terus di sini. Kenapa ya, kagak boleh ke rumah bude sama pakde.” Ucapnya dengan lesu dan melihat para pengawal sudah lelah mungkin, penjagaan yang kurang disiplin akibatnya lengah sendiri-sendiri. Anin memang sedang dilanda kegundahan karena tak jarang jika ia bisa begini, kepingin makan cilok.


Mana ada di jam seginian, mungkin adanya di perempatan rumah bude serta pakdenya jika jam delapan malam begini biasanya di sana ramai banyak anak-anak muda, oke dia pun membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar, melancarkan aksinya hari ini.


Karena benar-benar pingin banget, apalagi dengan dicocol sambal kacang weuh tak terasa begitu nikmat pula, kenyang dan keinginan tercapai.


Anin mengambil uang recehan, dan ia memakai bajunya yang lengan panjang serta membawa dompet, modal nekat kalau nggak gini ya gimana-gimana.


“Ya demi anak ini jadilah aku superman hebat,”


Anin melangkah keluar dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi, dan ia membuka pintu kamar dengan begitu ia bisa bernapas lega, belum lagi lewati beberapa tantangan, biasanya satpam ada di depan rumah dan pengalaman yang berjaga di depan sepertinya sudah ada dengan jam segini.


Anin berjalan di anak tangga dengan pelan-pelan, serta dengan tatapannya yang menghasilkan setiap sudut ruangan karena takutnya pengawal yang diperintahkan suaminya itu memergokinya, dan mau kemana pasti pertanyaannya.


Hanya karena masalah cilok jadi begini, nggak aneh-aneh sih. Tapi, gimana nanti kalau nggak dituruti calon dedek utun bisa ngeces dia. Anin sudah sampai di lantai bawah, dan harinya ser-ser'an serta hawa dingin yang melingkup tubuhnya.


Semoga tidak terjadi apa-apa.


Dia nggak suka caranya begini, dengan membohongi karena itu cukup untuk kesekian kalinya akan berujung dengan permasalahan, Anin sukanya main to the point.


Anin langsung sekali ngegas pasti diturutinnya dan Anin tidak bisa beginian.


Sampai di depan pintu utama rumah, ia malah mau kepentok pintu gara-garanya ya ada seseorang yang membuka pintu utama, memastikan tentunya dan Anin bersembunyi dari belakang tembok, itu salah satunya jalan keamanannya.


“Hm, jangan sampai dah ketahuan!” gumamnya dengan mata menyipit dan Anin serasa memacu jantungnya dua kali lipat, Anin melihat lagi, tidak ada siapa-siapa dan Anin baru lah keluar.


Hah, tidak ada orang sama sekali. Berarti aman sekarang dia, berlari dengan kencang mendekati gerbang, dengan membuka otomatis tentunya dan untung aman tidak berbunyi, karena gerbang ini dilengkapi fasilitas fingerprint, jarang orang yang bisa menyentuhnya dengan tanpa daftar.


“Allhamdulilah,” ucapnya dengan bersyukur karena bisa bebas dari rumah itu, ia melayangkan tangannya di udara sebagai tanda perpisahan dengan rumahnya, lagaknya rada aneh dan apakah ia harus ke depan sana, untuk menemukan taksi.


Oke, ia pun berjalan dengan langkah lebar dan tak lupa senyumnya. Karena ini benar-benar komplek yang serasa sepi dan Anin bisa dikatakan tak baik-baik saja di dalam hatinya, tak terasa di jalan depan gang perkomplekan.


Ia memberhentikan taksi karena sudah di depan mata, mau gimana ia tolak.

__ADS_1


Taksi itu berhenti, “Mau kemana mbak?” tanya sopir taksi nya dengan begitu Anin masuk dan menaruhkan dompet di sampingnya.


Anin menghela napas lega, “Bang kagak ada minum napa? Panas banget nih,” dengan berkipat-kipat karena panas yang menyelimuti dirinya dengan berlari-lari.


“Lah mbak. Bukannya orang komplek, kok pakai acara jalan kaki segala apalagi ini malam. Kagak baik,” nasihat sopirnya, dan Anin hanya mengangguk dengan menerima uluran air minum yang sudah tersedia mungkin untuk jaga-jaga saja.


“Ya elah, emang orkay nggak boleh naik taksi?” cibir Anin, dan sopirnya menjalankan taksinya.


“Hahaha, iya mbak nggak papa kok.”


“Sekarang mau kemana ini mbak?” sambung sopir taksinya dengan bertanya. Karena jika tidak bertanya, sesat di jalan yang ada muter-muter kagak jelas.


“Mau ke perempatan jalan YXZ, dekat sana.”


“Hah jauh amat mbak, yakin ini?” tanyanya dengan nada agak menawar, dan Anin mengangguk. Nanti juga ia akan menambahkan uang perjalanannya, kagak usah khawatir.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya sampai dan di sana ternyata banyak orang, Anin membayarnya karena nanti di sini ia akan jalan saja ketimbang nanti pakai segala taksi, ada sih lewat tapi kebanyakan jika sudah malam, waktunya untuk beristirahat.


Nah, orang yang mengantarkan Anin sekarang sudah ada, tinggal ia merepotkan lagi.


“Oi bang,”


“Coba lo tengok dah di belakang lo, ada siapa!” jawab temannya dengan malas dan orang itu terkejut, karena orang itu tetangga pakde maupun budenya di sini. Ya, lumayan lah kagak buang-buang ongkos juga.


“Lah dek kamu ke sini?” canggungnya karena tak percaya saja jika Anin ke sini, dan ia menatap sekitarnya, tidak ada siapa-siapa yang mengantarkan.


“Dek, sendiri kamu?”


Anin mengangguk sekilas, dan melihat abang cilok masih di sana. Ia pun berjalan ke sana, dan membeli cilok yang ia inginkan, sesuai harapannya sekarang. Masih ada untuk ciloknya, dan Anin menunggu dengan wajah raut tenang sementara orang yang tadi terkejut dan menghampiri Anin.


“Dek, kok suami kamu nggak kamu ajak?”


“Tanya terus bang, gue lagi males mau ngomong!” bantahnya dengan begitu yang disebut abang tadi pun gemas, menoel pipi Anin, sudah diduga dan Anin memang sudah berteman sejak kecil jika ia di rumah bude maupun pakdenya, jika main selalu dengan orang ini. Ya, tetangga pakdenya dan bude sudah lama sekali. Palingan pakde dan bude orang baru jika menurut zamannya orang tuanya.


“Oh iya nanti kamu pulangnya gimana?”


“Mau ke rumah pakde sama bude saja lah,”


“Oke nanti abang antarkan.”

__ADS_1


“Ya iyalah, gunanya abang di sini ngapain coba, adek ‘kan di sini mau merepotkan abang.” Celetuknya dan abang pun meringis, menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


“Tapi kalau masalah cilok, adek bisa bayar.” Ya, benar karena Anin sudah tahu jika abangnya ini selalu mengeluh kepadanya, karena tidak bisa membayar tunggakan kos-kos ‘an pakdenya, ya abang ini sudah berkeluarga, namun anaknya masih satu.


Walau satu, pusingnya setengah mati.


Megap-megap di tengah jalan rasanya, dan Abang ini selalu mengeluh tanpa bersyukur gitu aja. Karena masih diberi kesehatan, orang tua lengkap dan kenikmatannya sungguh tak terbatas, dan nggak bisa dihitung jika di dunia ini kita bersyukur.


Selesai makan cilok, Anin pun menguap beberapa kali dan abangnya pun mengerti.


“Yuk pulang! Mata kamu sudah kedip-kedip begitu,”


“Ya, yuk!”


“Kamu tunggu aja di parkiran sana! Abang mau bayar dulu, kopi abang tadi belum dibayar.” Ucapnya dengan melangkah menuju gerobak kopi yang sudah mau tutup juga, karena ini sudah malam. Dan taman ini juga mulai sudah sepi, karena orang-orang juga sudah mau pulang dan pastinya batasan itu tidak boleh dilanggar, biasanya ada polisi atau apa lah itu yang mengecek jika di luar batas jam yang sudah ditentukan bisa kena denda, semuanya diangkut.


Anin berjalan ke parkiran, namun tidak disangka keributan yang terjadi di sana karena ricuh soal motor dan Anin mengeryit bingung, ia pun menjauh tapi malah orang-orang mendekati dan ia jatuh di tempat, ia ndeprok dengan perut yang agak mules.


Anin terkejut ketika ada darah yang keluar, dan tembus itu.


Sampai ia mengerang kesakitan, ada apa ini? Ia ingin berdiri namun susah, apakah kepentok batu mungkin dan benar dugaannya jika ada benda yang mengganjal sejak tadi. Masya Allah jika kejadian ini sudah terjadi, dan abangnya itu menghampirinya dengan cepat.


“Dek kmu nggak papa?”


“Nggak bang, tapi sakit.”


“Ya sudah kota ke rumah sakit sekarang!”


“Tapi jauh bang,” sendunya dan abangnya itu menggeleng, dengan kesanggupannya. Ia harus bertanggung jawab di sini, kasian juga Anin jika tidak cepat-cepat dibawa ke rumah sakit dan ia memanggil temannya yang perempuan, biasa perempuan juga satu genk dengannya namanya hal biasa.


“Kamu pegangin! Biar saya yang nyetir,”


“Woke bang! Pelan-pelan saja bang! Yang penting selamat.” Ucap temannya dan abang itu berdecak, menjalankan motornya dengan kecepatan sedang akhirnya.


Bersambung....


Makasih buat kalian yang dah mampir, jangan lupa mampir ke IG Din yah, follow aja kalau minta folbek boleh, DM aja!


@dindafitriani0911

__ADS_1


__ADS_2