
Aksa, orang itu sekarang enak-enaknya lagi di kantor, padahal kerjaan numpuk di sampingnya. Menghindari kata-kata mutiara istrinya, karena istrinya sudah meneleponnya beberapa kali sejak tadi sampai capek sendiri. Handphonenya mati, dan Aksa melengkungkan senyumnya.
“Huh, jadi bebas begini ‘kan?” tanyanya dengan bangga, ia memutar kursi dan membelakangi pintu, dari tadi ada seseorang yang menahan handle pintu untuk masuk. Curiga saja, ada orang ‘kah di dalam?
Masa iya katanya bosnya mau libur hari ini apa balik ke kantor lagi, dan pintu itu terbuka menimbulkan suara, membuat Aksa mengalihkan kedua matanya yang menyeringai itu.
Tanpa ada rasa waspada jika istrinya ke kantor, “Loh pak bos, kok ada di kantor, pak?” tanya sekretarisnya dengan bingung dan Aksa menatap datar.
“Lah, emang kenapa?”
“Iya, nggak papa. Toh ini kantor bapak,” Bener sih nggak ada yang melarang, tapi kalau sudah izin untuk tidak berangkat, berarti absennya hari ini ia jadi berangkat. Memang bos sialan kalau begitu, sekretarisnya susah-susah menemui client untuk mengatakan jika bosnya itu tidak berangkat.
Sampai beberapa orang berontak untuk menemui Aksa, ingin meminta tanda tangan agar kontraknya diterima oleh perusahaan ini, nah sekarang buktinya di meja sudah ada tumpukan berkas, apakah bosnya ini tidak tahu.
Ah iya mengingatkan saja boleh ya.
“Pak itu ada berkas yang belum ditandatangani.” Ucap sekretarisnya dan Aksa menatap malas, ia ke sini butuh pelarian bukan mau kerja lagi, ya sudah lah kalau begitu. Aksa tampak berpikir, dan matanya mengalih kepada sekretarisnya.
“Ini tumpukan berkas, apa gacor ini?” tanya Aksa menatap heran kepada berkas itu, dan sekretarisnya menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
“Ya tumpukan berkas yang belum ditandatangani lah, pak.” Ucap sekretarisnya dengan nada agak tinggi, membuat Aksa menatap tajam dan sekretarisnya lalu membawakan berkasnya yang ada di tangannya.
Tak ingin ditatap lama-lama, sekretarisnya itu pergi dari ruangan Aksa serasa engap saja kalau di sini ditatap seperti itu.
***
Lalu Anin sekarang menatap kesal seisi rumah, rumah jadi santapannya sekarang. Dia kalau marah mengalahkan semuanya, untung saja orang-orang di rumah pada melakukan aktivitasnya sehingga tidak kena amukan majikan.
“Heh, emang kamu kurang ajar ya, mas ... awas nggak dapet jatah satu bulan,” ancamnya dengan berapi-api, sampai ia merobek majalah yang terpampang wajah suaminya dan ia cecerkan ke udara, sehingga tercecer kemana-mana.
Wajar ia marah, janjinya apa tadi. Emang busuk semua itu mulut, kagak peka banget.
“Hilih, sekali lagi aku dengar kamu janji, nggak akan pernah aku denger.”
Anin menghentak-hentak kakinya, dan ia berjalan pergi dari sana. Masalah kertas itu nanti, ia sudah nggak mood lagi buat pergi ke pasar, mengajak budenya lagi nanti pas libur.
“Huhuhu, alah masa bodo ah, jangan nangis! Lo cengeng amat sih,” ucapnya dengan lantang dan diam-diam air matanya luruh dan malah tambah deras, ia pun lari ke kamar. Bodoamat kalau nanti dimarah suaminya karena lari-lari, ia malas jugaan ketemu suaminya hari ini.
__ADS_1
Nanti kalau pulang tinggal dijadikan rendang di wajan terus dimakan bareng-bareng, tapi nggak mungkin, palingan dagingnya alot kagak empuk-empuk sampai seratus hari.
***
“Maaf Pak, ada tamu perusahaan D.J buat ketemu bapak.” Ucap sekretarisnya dengan melaporkan dan Aksa mengeryit keningnya, tak biasanya perusahaan D.J menemui dirinya kalau nggak ada janji.
“Siapa?”
“Pemilik perusahaannya,” balas sekretarisnya dan Aksa beranjak berdiri. Mendudukkan panggulnya di atas meja, “Bukannya masalah itu sudah kamu urus?” tanya Aksa dengan nada cemas.
Sampai-sampai pemilik perusahaannya turun tangan sendiri, biasanya emang ketemuannya sama Rifa'i mantan suami istrinya itu, yang tiap kali rapat dengannya.
“Sudah, pak. Tapi, ini katanya masalah pribadi.”
“Hah saya punya masalah pribadi apa dengannya?” beonya dan sekretarisnya menggedik, ya masalah lo bukan masalah gue sekarang. Ya, urus saja sendiri!
“Ya sudah saya menemui beliau, kalau ada apa-apa nanti saya panggil kamu!” tunjuk Aksa di akhir perkataannya dan sekretarisnya menodong tangannya ke hadapannya.
“Hah, gue?”
***
Aksa mengusap keringatnya, yang mencucur.
“Hah, mau ketemu siapa saja? Harusnya kamu juga percaya diri,” ucapnya dengan nada sedikit bergetar. Dan Aksa memasuki ruangan itu, ia ketar-ketir sendirinya dengan orang yang berwajah dingin, dan Aksa menduduki kursi yang ada di depan.
“Selamat datang tuan D.J, maaf menunggu lama---.” Ucapnya, adanya ini membuat Aksa semakin was-was, Aksa tetap menampilkan senyumnya. Walaupun di dalam hatinya ketar-ketir sendiri, dadanya saja sekarang menyempit dan oksigen yang ia dapat menipis.
“Oke, saya tidak mau basa-basi kali ini, to the point. Saya ke sini ingin membicarakan istri kamu sekarang, maaf menyangkut urusan pribadi.” Ucapnya panjang, padahal orangnya nggak suka yang namanya ngomong panjang lebar, biasanya kalau panjang sukanya diwakilkan oleh asisten pribadinya.
Hah Aksa bingung sendiri pada awalnya, kode tatapan dari Revino membuat dunianya teralihkan untuk bengong. Aksa tersenyum, emang masalah apaan dah, sampai menyangkut segala istrinya yang ada di rumah, pasti istrinya di rumah dah ngamuuk-ngamuk.
Aksa menaikkan sudut bibirnya, “Ada apa tuan?”
“Iya saya ingin menyampaikan ke intinya saja, istri kamu adalah anak saya.” Celetuknya dengan nggak kira-kira, hampir saja jantung Aksa lepas dari organnya. Menatap nanar tak percaya, katanya ayah dari istrinya itu meninggalkan pada waktu belum lahir.
Kok tiba-tiba kembali saja, kan rada aneh ya?
__ADS_1
“Tuan, kok berspekulasi seperti itu?” tanyanya dengan tangan mengetuk-ngetuk meja, pria paruh baya itu yang bernama Revisi memberikan berkas yang terbungkus oleh map berwarna biru itu, menyerahkan kepada Aksa.
Matanya mengode untuk membuka, dasar tidak punya mulut apa untuk berbicara. Suka aneh, seaneh-anehnya Aksa kalau marah lebih ngeri orang ini yang ngaku-ngaku sebagai ayah istrinya itu.
Suka-suka dia lah, mau ngajak perang hayuk. Ia tantang kok, ia berani untuk membersihkan orang ini dengan tangannya sendiri, karena sudah lama ia berpegang janji untuk tidak melakukan aksi tembak-tembakan, karena membahayakan nyawa orang disekitarnya.
Mau babak belur, nyawa hilang! Ia lakukan, demi istrinya juga.
Aksa memulai membuka map itu, dan disana terpampang oleh foto Anin dari kecil sampai bayi semuanya ia buka, wah hebat amat orang ini. Apakah orang ini yang memata-matai Anin sejak kecil, ingin merebut hak atas nama ayah.
Heh, tapi kalau dilihat dari wajahnya yang amat bak ketampanan ini mirip sih tapi hanya samping. Heh, orang mah beda-beda, mau mirip bukan berarti mengklaim seenaknya saja.
“Pak jangan memanipulasi data ya, pak!” ucapnya dengan nada tinggi.
“Tidak ada yang dimanipulasi...” bentaknya dengan keras dan nada dingin, membuat Aksa menyeringai, Aksa membanting berkas itu.
“Tidak ada yang dimanipulasi, hahaha ... saya nggak butuh omong kosong saja pak, orang bapak punya jabatan tinggi dan orang ternama, bukan berarti bisa memainkan data seenaknya. Bukan begitu bapak?” dengan menaikkan sebelas sudut alisnya dan Revino mengepal, sehingga tercetak jelas urat-urat yang menyembul di sekitar pelipisnya.
Aksa menopang dagunya, semakin ia enak'an dan Revisi terpancing oleh alur yang dibuat Aksa. Aksa memainkan tangannya, sementara anak buah Resiko yang ada di sana menggerakkan revolver dan menodongkan ke arah Aksa.
“Saya tidak bermain-main dengan ucapan saya, saya akan buktikan!” terang orang itu dan menatap sengit Aksa, sementara Aksa di dalam hati terkekeh.
“Silakan! Saya juga nggak akan sudi mampu buat menerima bapak menjadi mertua saya, buktikan ke istri saya, pak! Kalau ANDA bapaknya.” Ucapnya dengan akhir penekanan dan Revino menyeringai tajam, “Iya. Cabut semua kerja sama kita, saya nggak akan pernah melakukan kerjasama lagi dengan anda.”
Revino keluar dengan langkah panjangnya, dan anak buahnya mengintil.
“Dasar sukanya semena-mena! Cih, jugaan kagak bakal kalau lo terbukti jika ayah dari Anin, apa emang bakalan lo diterima lagi sebagai ayahnya. Mungkin orang lain,” sungutnya dengan mata tajam dan dingin.
Ia membuang berkas itu ke kotak sampah dan ia bakar sampai habis, untung saja ia membawa korek jika tidak semuanya bakal terjadi trending topik pembicaraan hangat di berita, dan malasnya pakai segala nambahkan bumbu gosip lagi.
Ealah, bingung serba ribet lah pokoknya.
Bersambung...
Jangan lupa follow IG Din yah, dan kalau minta folbek silakan DM Din wae.
@dindafitriani0911
__ADS_1