Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 18


__ADS_3

Seminggu sudah terlewati, Anin sudah boleh diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya dan sudah tidak pucet pasi lagi seperti hari kemarinnya.


“Mas...” Seru Anin, Bude menyumpalkan makanan ke dalam mulut Anin.


“Bisa nggak kalau jeritnya itu dikecilin suaranya!” Anin cengegesan dan Bude nya menoyor kepalanya, ia pun mengaduh.


“Iya, eh Bude duluan aja sama pakde ke parkiran. Aku mau ini ngobrol dulu,” Bude mengangguk.


“Oke, Bude pergi. Sa, jaga istri mu! Jangan ampe ilang!” Aksa lantas tersenyum tipis, dan Pakde membawakan koper serta tas, Bude membawakan plastik.


Anin kini menatap suaminya itu yang menyapanya dengan hangat dan senyuman. Bude pun menghilang sudah dari sana.


“Apa kabar, sayang?”


“Hm, udahlah. Aku nggak mau digombalin gitu, oh iya aku mau ke rumah mamah sama papah, mas. Kayaknya kita udah lama nggak ke sana,” Tangan Aksa meraih tangan Anin dan mengelus nya pelan.


“Kamu habis dari rumah sakit, sebaiknya istirahat. Ketimbang kamu cari gara-gara, aku nggak mau kalau kamu sakit.” Ucap suaminya itu, dan Anin pun akhirnya mengangguk pasrah.


“Maaf ya, aku nggak ingin kamu ada masalah. Tapi, aku harap kamu ngerti! Aku kasian sama kamunya.” Anin pun tersenyum kembali, ia menggandeng tangan suaminya.


“Oke, nggak papa. Aku juga ngerti,”


Sampailah mereka di parkiran, dan Anin lebih dulu masuk. Aksa ingin ke toilet sebentar, katanya begitu. Anin menurut saja, tanpa bertemuan secara langsung. Ternyata ada Putri yang masuk ke dalam rumah sakit.


“Loh, kenapa ya?”


Anin semakin penasaran, ia pun memilih untuk keluar dan membuntuti Putri dari belakang. Untung tidak terlalu jauh untuk mengejar Putri. Sampai di depan lift, Putri masuk dan Anin harus apa jika begini?


“Aduh, dia di lantai enam lagi. Jauh banget, kalau naik tangga.” Anin pun dengan cepat, naik tangga darurat untuk mengejar Putri agar keinginan taunya itu ada jawaban.


“Pak, boleh nebeng ke lantai enam?” untung saja lift samping ada bapak-bapak, dan bapak itu mengangguk.


“Baik, mbak...”


Anin pun masuk ke dalam tanpa berbicara apapun, sampailah di lantai enam. Dan Putri masih tidak terlalu jauh dari lift. Anin buru-buru mengikutinya, ke arah resepsionis dan bertanya. Samar-samar Anin mendengarnya.


“Hah, apa? Dokter obgyn? Buat apa coba,” Anin tetap membuntuti, sampailah di ruangan dokternya.


Eh, tapi ia tidak bisa masuk jika begini. Oke, sebentar namanya ia tidak asing dan benar. Ini dokter yang dulu pernah ia temui, tidak sengaja.


“Oke, aku tunggu.”

__ADS_1


Anin pun menunggu di luar, sempat ia berbincang dengan orang-orang yang menjenguk saudaranya.


Tapi, ia basa-basi biasalah.


“Astaga, ada telepon dari mas Aksa. Lupa, lagi kalau aku tadi ninggalin dia.” ucapnya, ia pun membalasnya lewat pesan whatsapp saja.


“Aduh, gimana lagi? Apa besok aja aku ke sini nya?” Anin pun memikirkan dengan segala cara. Dan sedikit lagi nanggung sih emangnya, tapi kalau ia tidak pergi dari sini. Ya, siap siap untuk mendapatkan berita yang nggak enak lagi.


Fine, Anin pun memasukkan handphonenya ke tas. Dan ia berjalan melewati ruangan dokter itu, dokter yang ia kenal itu keluar. Pas begitu saja, Anin terkejut. Sama-sama terkejutnya, untung tidak sampai jantungan.


“Eh, em ... Kayaknya kita pernah ketemu,” ucap dokter itu dengan senyuman tipis dan Anin tersenyum lebar.


“Iya dok, kita pernah ketemu. Nggak sengaja saya menabrak dokter,” balas Anin dengan menyunggingkan bibirnya, em dilihat nih orang ganteng juga dari dekat. Eh, angan lupa itu suami di rumah sakit yang lagi nungguin lu!


Mana bisa lu embat gitu aja!


Anin menggelengkan kepalanya, dan ia menatap dokter itu.


“Maaf dok, saya permisi dulu.”


“Eh, bentar. Kamu darimana emangnya? Atau saya akan antarkan kamu pulang jika begitu, saya mau ngobrol sama kamu dulu boleh, nanti saya anter pulang.” Ujar dokter itu yang bername-tag Bryan Rosario, dan Anin mengangguk saja.


Nggak enak pula, biarkan suaminya sampai garing di sana. Sekalian jadiin krupuk, enak dimakan. Hahaha, kulitin aja tu mah.


“Ini nggak papa dok?” ia memastikan lebih baiknya gimana? Jika dilihat nanti mereka disangka pacaran atau apapun lagi.


“Duduk aja nggak papa!”


“Masalahnya itu dok,--” Anin tidak enak hati pun menambah kursi dalam satu meja.


Bryan pun mengerti, “Yah saya yang akan tanggung jawab!” dengan penekanan di akhir kalimat. Ini orang juga galak yah, cuek lagi dan dingin cuy.


Anin sedikit menundukkan kepalanya.


“Maaf nama kamu sebenarnya siapa sih? Saya dari kemarin mau nanya eh, malah ada halangan lagi. Padahal kemarin nggak padet, ya jadinya nggak jadi ke rumah mu.” Ucap dokter Bryan itu, Anin hanya mengangguk.


“Hm, ya nama saya Anin---” dari kejauhan sudah ditebak jika Aksa menghampirinya kemari, karena handphonenya bisa saja dilacak keberadaannya.


“Ekhem,” tiba-tiba saja muncul, Anin hanya diam.


“Loh Bryan,” dengan wajah ceria dan bahagia. Aksa pun memeluk Bryan dengan erat, Anin yang awalnya diam, ia menganga dan apa ini?

__ADS_1


Sudah kenal kah, oke Anin menetralkan suasana saja.


“Apa kabar bro? Udah lama nggak ketemu,”


“Iya, baik.” balas Bryan dengan tatapan datarnya.


“Oy, lu mah nggak berubah. Nah, kamu jadi dokter di sini?”


“Seperti yang kamu lihat,”


Aksa terkekeh, ia duduk di samping istrinya itu, dan memegang tangan istrinya.


“Em, kamu kok nggak bilang kalau ada di sini,” ucapnya dengan dingin, Anin


yang memegang gelas, ia menatap suaminya kali ini.


Bryan menatap mereka berdua dengan rasa kepo, hanya ingin tanya ia merasa tidak pantas, karena ia tidak bisa menurunkan egonya sedikit saja.


“Iya, maaf diajak dokter...” jawab Anin dengan entengnya.


Bryan melotot, iya sih dia juga yang mengajak Anin ke sini.


“Namanya juga tadi lewat dari ruangan ku, ya udah aku ajaklah sekalian.” Bryan menjawab saja, daripada kena amukan sama Aksa. Tak biasanya Bryan menjawabnya dengan panjang, Aksa mendengus.


“Ok, kalau gitu kita pergi dulu ya bro... Anu apa ini istri gue habis sembuh, dan gue kasihan...” Bryan mengangguk, tapi keliatannya Anin sehat.


Lebay sekali.


Bryan mencermati kata-kata Aksa tadi.


Istri, berarti Anin istrinya Aksa.


Oke, ia tidak akan mempermasalahkannya.


...Bersambung...


Makasih yang udah mau tunggu! Maap kalau nggak bisa up setiap hari 🤗, tapi diusahain untuk up.


Kalau mau info, boleh follow instagram author yah!


@dindafitriani0911

__ADS_1


Jangan lupa like sama komennya ❤️


__ADS_2