Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 32


__ADS_3

Sore harinya, Anin memakan makanan sambil memperagakan lagu yang ia setel dan suaminya kembali ke kantor lagi, ada urusan pekerjaan mendadak dan meeting yang tidak bisa diganggu gugat.


Anin diawasi oleh pergerakannya di kantor, dasarnya pak suami kudu rasanya dekat di mata dan hati, tapi jauh untuk pandangannya. Lucu, engga sih! Juga rada aneh untuk orang seperti itu, yang patut dicurigai.


“Capek hari ini, mau makan sate enak kali ya?” tanyanya sendiri dan Anin menstalk- instagramnya dengan begitu ia melihat makanan yang ia idamkan, yaitu mie gacoan yang ia pingin kan dari kapan itu.


Akh, sekali lagi ngerjain suami boleh ya. Tapi, kasian. Ia pun memikirkan, apalagi ini pedas makanannya kagak mungkin boleh untuk memakan beginian yang ada ultimatum keluar dari mulut suaminya.


“Ye ilah, gabut banget coy. Kepingin rendang, semua kepingin. Akh, bikin jadi--,” ucapnya dengan mengelus perutnya, si adek utun kepingin diturutin sementara maknya kepingin nanti jika ada yang nggak diturutin pasti dedek utun marah di dalam, hatinya dongkol mungkin.


“Apa-apa minta itu ya harus bilang lah, kagak mungkin mau ngedugem baru dikasih. Akh elah, hidup ribet amat coy! Selama ini saja nggak mungkin untuk diribetin hal yang nggak biasa.” Ucapnya ngelantur dan Anin memilih untuk beranjak dari kursi sofa itu, menuju ke dapur. Andalannya mencari makanan yang instan. Karena enak saja kalau mau makan tinggal makan kagak pakai ribet segala.


“Bi ini di mana jeruknya ateuh. Kurang satu,” ujarnya dengan menghitung. Iya benar ia malah teliti apa-apa sekarang, bukannya pelit sih tapi hormonnya ibu hamil mah kadang berubah-ubah kagak bisa dibantah kadang.


Begitu yang ia baca dari sebuah artikel.


“Lah saya nggak ambil bu, bukannya tadi ibu ambil deh.” Jawab bibi dengan memastikan, iya Anin lupa jika tadi main comot dulu engga menghitung jumlahnya berapa dan ia menyengirkan wajahnya, parasnya emang suka begitu, lagak lupa!


“Oke, makasih bu! Tapi buatin mie pedas ya bi!” perintah Anin, dan bibi itulah yang bisa menerima perintah sang majikan karena itu Anin lebih membutuhkan bibi ini ketimbang pembantu lainnya yang belum tentu memenuhi permintaannya.


“Jangan pedas! Ya, seenggaknya sedang lah!” seru Anin dengan menjelaskan, dan Anin ngedeprok di lantai, sepertinya enak. Ia pun tertidur terlentang, sambil merasakan hawa dingin yang menyusup di badannya.


“Hum enak pula aku di sini, ngerasain hawa dingin gitu.” Anin mengelus lantai itu yang berbahan granit itu, sampai tidak tahu menahu jika ada seseorang laki-laki yang mendekati ke arahnya dan mengetuk-ngetuk meja makan di atas.


Kaki laki-laki itu digoyang dan matanya yang sayur, terlihat dirinya kelelahan.

__ADS_1


Terlalu untuk memfosir pekerjaannya, Aksa pun menuangkan air di dalam gelas bening itu lantas ia menegaknya habis tanpa tersisa, ia mengedarkan pandangannya. Melihat jam dinding di atas dan istrinya kemana kok dari tadi nggak kelihatan. Apa di kamar.


Walaupun tiap jam dan detik, menit ini lantai dipel berkali-kali tetaplah wangi sampai ia tak menyadari ada sepatu pantofel yang mengkilap dan menundukkan kepalanya.


Aksa terkejut, ia pun mensejajarkan tubuhnya dan Anin mengelap wajahnya ke paha Aksa suaminya itu dengan begitu mata Aksa melebar ketika Anin mengendus keteknya dan ia jadi merasa geli sendiri, hawa merinding membuat bulu kuduk berdiri.


“Eh mas Aksa.” Sapa Anin dengan mengunyel lengan Aksa.


“Kamu kok duduk di lantai, lagi mau apa?” tanyanya lembut dan Anin menggaruk tengkuknya. Ia pun berdiri, dan menstabilkan napasnya.


“padahal banyak lho kursi, kok--,” heran sih jika istrinya keinginannya ingin ndeprok di lantai dan Aksa menggandeng tangan istrinya untuk duduk di atas meja, ia menggendong tubuh istrinya dan Anin mau menjerit saat itu momen yang tak pernah dilupakan dalam sejarah. Aksa memilih untuk mencium bibir ranum istrinya.


“Ish, akh sial. Kenapa sih pak bos jadi begini,” Nasib srot, bikin mabuk kepayang dan pengawal yang menjadi asisten pribadi suaminya itu memilih memilin bajunya sampai rapat dan gigit jari, serta membalikkan badan.


”Jaga godaannya ya, jangan sekarang.” Lirih Anin dengan begitu Aksa melepaskan dan mereka pun memilih untuk kembali ke aktivitasnya, Aksa melangkah pergi dari sana. Ia masuk ke dalam kamar karena badannya sudah penuh keringat, dan Anin saja belum mandi dari tadi pagi. Masih wangi pastinya, sampai suaminya tidak menyadari.


Anin melangkah ke kamarnya, mengajak suaminya untuk ke salon.


“Mas.” Panggilannya ketika ia memasuki kamar, dan di sana suaminya masih dengan baju lengkapnya tanpa berniat untuk mandi.


“Loh kok belum mandi?” guratan heran yang diberikan oleh Anin, dan Aksa menatap lelah. Matanya tidak bisa dibohongi lagi, karena suaminya itu benar-benar lelah. Akhirnya, Anin pun menyiapkan air mandi yang hangat, dan menyiapkan pakaian untuk suaminya.


“Mandi dulu gih, udah aku siapkan.” Matanya lalu mengedip, dan Aksa yang menurutu permintaannya lantas beranjak dari ranjang. Anin menghela napas, tadi pagi ini kain yang menempel di ranjang sudah diganti dan dibersihkan, hah males pula mau ganti.


Sudah biarkan! Besok diganti, yang penting ‘kan sekarang ia sudah melakukan kewajibannya sebagai istri, Aksa yang sudah melakukan rutinitas mandinya di dalam kamar mandi. Anin kemudian melangkah keluar dari kamar, ia membuatkan jahe hangat mungkin menjadi jalan satu-satunya, baiklah itu yang kepikiran pertama karena dulu ibunya jika ia meriang pasti dibuatkan jahe hangat yang menghalau rasa meriangnya.

__ADS_1


“Ngapain aku buatin pakai ini lagi, aduh jadi gagal fokus.” Ia salah ngambil ramuannya, malah daun salam mau dicampurkan jadilah begini.


Pembantu yang ada di sebelah, yang membereskan beberapa barang karena tadi belanja bulanannya agak banyak, karena menyetol beberapa juga habis. Tidak bisa dipungkiri kembali, kebutuhan semakin banyak apalagi dengan adanya barang yang langka.


Sampai pusing sendiri, katanya sih alasannya gara-gara perang itu dua negara jadilah urusannya semua negara beralasan seperti itu.


Kejang-kejang pula orang yang nggak bisa ngapa-ngapa. Anin saja sempat berpikir mau, gimana dengan orang di luaran sana yang membutuhkan keperluan itu, sampai-sampai rela mengantri.


Ia saja bersyukur dan keberatan baginya karena jika orang yang sempurna hidupnya, belum tentu ke depannya akan berjalan mulus seperti panggul bayi yang masih beberapa jam di dunia.


Setelah selesai melamun, dan sudah selesai. Anin pun menuangkan aurat hangat, dan mengaduknya, ia mencampuri dengan madu. Tapi, ngomong-ngomong madunya ia dapatkan dari kulkas, itu madu bukan jika bukan ya, jangan salahkan dirinya jika suaminya nanti mabuk!


Berjalan ke sana kemari, Aksa yang melihatnya pingin ngarungin Anin sejak tadi, ia menatap istrinya dari anak tangga terakhir, padahal tinggal menghampiri saja istrinya yang sedang membuat ramuan alanya.


“Udah jadi?” tanyanya dan membuat Anin yang awalnya diam, terkejut dengan suara suaminya, untung nggak terjun bebas gelasnya yang ada di tangannya itu.


“Ini, cobain!” ucap Anin dengan menyuruh Aksa, Aksa yang memperhatikan teliti dan menatap tidak ada apa-apa. Ia pun meminumnya secara perlahan takut jika istrinya ngeracuni dirinya, dan bukannya ia menuduh tapi ia memastikan saja.


Bersambung...


Makasih buat yang udah mampir, Din akan selesaikan kok tenang saja🙏🙂.


Jan risau gitu yah, aku nggak bakalan pindah aplikasi karena maklumin saja ya.


Boleh mampir ke IG Din yah, follow saja dan DM juga Din kalau mau di folbek.

__ADS_1


@dindafitriani0911


__ADS_2