Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 10


__ADS_3

“Bude mempunyai amanah yang begitu besar dan tidak bisa Bude tebus secara mandiri Aksa, Bude nggak bisa menyimpan banyak kenangan yang begitu terlalu besar buat Bude.” Bude merasa bersalah, bukan hanya dirinya saja. Yang terkena imbas dari semua orang.


Jika sudah disorot media, takut untuk mengumbar setiap pertanyaan para netizen, yang tiba-tiba keceplosan. Bisnis lebih kejam juga, karena banyak musuh yang mengintainya secara musuh tersebut, ingin mendapatkan untung yang lebih besar.


Aksa pun menyiapkan bahan mental untuk jaga-jaga jika budenya mengatakan sesuatu yang membuatnya terpuruk oleh keadaan.


" Emangnya kamu enggak lanjutin kerjaan kamu kamu di kantor? Apa jangan-jangan kamu berubah pikiran?" Tanya Bude.


Aksa menghela nafas, "enggak Bude. Kan istriku lagi sakit? Nggak mungkin aku ku tinggal." Ucapnya.


"Oh gitu, mau jadi suami baik kamu? Jangan sok pura-pura baik! Apalagi yang kamu harapkan?” Bude menatap tajam ke arah Aksa. Ia tidak terima karena ponakannya diperlakukan layaknya seorang teman hidup.


Bukan seorang istri.


"Kalau tidak bisa menjadi suami, sebaiknya kamu lepaskan keinginan kamu untuk menjadi seorang suami."


Ucapan perihal itu membuat Aksa sekarang terngiang-ngiang di kepalanya sampai sekarang di kantor, ia berfikir jika hal itu tidak mudah untuk diselesaikan.


“Hem, tolong segera kamu ke ruangan saya!” Ucap Aksa dari interchome telepon kantor.


“Baik Pak.”


Ada suara ketukan pintu, dan Aksa pun mengangguk.


“Silakan masuk!”


Orang yang disuruh Aksa, pun masuk ke dalam.

__ADS_1


“Em, ada apa Pak?”


“Tolong jadwalkan saya bertemu dengan papah saya,” sekretarisnya pun heran, kenapa tiba-tiba si bosnya itu memintanya untuk mengatur jadwal untuk bertemu dengan orang tuanya.


Kenapa tidak langsung ke rumah saja.


Toh, orang tuanya sendiri. Dan yang jelas mereka secara bertemu akan lebih lama dan bisa nyenyak untuk mendalami sebuah masalah.


“Kenapa diam?” Tanyanya, dan sekretarisnya pun mengangguk setuju.


“Baik, Pak. Saya akan mengatur jadwalnya,”


“Oh iya saya mau temuin HRD, dan HRD-nya ada?” Aksa beranjak, ingin menemui HRD kantor dan ingin menyegerakan untuk mencari sekretaris baru lagi, sekretaris pribadinya.


“Ada Pak, kalau mau saya antar? Boleh,” Aksa menggeleng dan berjalan lebih dulu.


“Sepi amat... Katanya ada, kok kayaknya nggak ada. Apa mungkin ke kamar mandi kali, ya udah tungguin di dalam. Apa jangan-jangan,” Aksa mendorong handle pintu dan melongok ke ruangannya.


Tidak ada siapa-siapa. Huft, percuma ke sini kalau nggak ada siapa-siapa. “Bohong kali dia, apa mungkin lupa?” Aksa pun keluar lagi.


Di sana ada sekretarisnya yang dengan nafas yang terengah-engah dan tersenyum lebar, Aksa hanya mendekatkan tangannya di atas dadanya.


“Maaf Pak, anu itu bapak sekarang ada jadwal untuk pergi nggak?” Ia garuk-garuk lehernya, dan Aksa hening. Ia menatap sekretarisnya, jawabannya adalah anggukan kepala.


“Eh, tapi Pak ada undangan dari HRD kantor. Ini Pak,” Sekretarisnya itu menyerahkan undangan tersebut.


“Bukannya sudah nikah, kok ini undangan lagi.” Mata Aksa tidak jeli untuk menatap undangannya dan sekretarisnya pun membuka lebar-lebar undangannya.

__ADS_1


“Apa ini? Rontgen?”


“Astagah bapak, jangan mulai emosi dah!” Sentak sekretarisnya.


Aksa terkekeh, dan mencermati isi dari undangannya.


“Kok kamu nggak ngomong?” Tanya Aksa dengan suara yang mengejutkan.


Sekretarisnya itu menghela napas berat, “Namanya lupa.”


“Pikun kali,” Jawab Aksa dan sekretarisnya melengos.


“Ya udah-udah, oke. Kapan acaranya?”


“Seabad lagi Pak, di situ ‘kan udah ada jamnya bapak! Nggak ngerti pula,” Kenapa bosnya membagongkan sekali dan ingin ia tabok dengan undangannya, disuruh baca dekat sampai hurufnya bisa terbaca dengan jelas.


“Hehhehe... Iya... Iya, baiklah nanti kalau nggak ada acara. InsyaAllah saya sempatkan,” Sekretarisnya mengangguk dan menatap bosnya dari belakang yang sedang berjalan pergi menjauhi dirinya.


Selama sepuluh tahun lebih ia bekerja di sini, dan ia lebih paham tentang seluk beluk keluarga Aksa yang sebenarnya. Benar, papahnya memungkinkan anaknya untuk bekerja keras dengan usahanya sendiri. Dan lihatlah sekarang, sudah sukses dan bisa membanggakan orang tua dengan karyanya sendiri. Bukan hasil dari jiplakan orang tuanya, meneruskan perusahaan orang tua.


Melainkan berdiri sendiri, mengokohkan bangunan ini menjadi tinggi dan bisa menjadi bahan untuk lapangan pekerjaan setiap orang-orang.


Akhirnya lamunannya ia buyarkan karena beberapa menit lagi menuju meeting dengan orang-orang kantor, dan membahas mengenai pemasaran produk terbaru.


...Bersambung... ...


Hehe maap dikit, tapi aku berusaha untuk up😌.

__ADS_1


Ya udah kasih like sama komennya ❤️


__ADS_2