Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 22


__ADS_3

Anin dengan bibi sudah pulang dari pasar, dari raut wajah Anin yang bercucuran keringat.


Mungkin ada sekitar satu ember jika dihitung, karena panasnya bangeud dan ia harus berjalan beberapa kali. Muterin pasar, sekarang baru saja terasa capeknya.


“Ini non,” Bibi meletakkan gelas bening itu dan sekarang berwarna oranye.


Pasti jus jeruk, segar sekali rasanya. Ah mantap diacungi jempol pokoknya. Anin menyesapnya dan menatap bibi yang sedang membereskan belanjaan tadi.


“Bi, nanti saja! Bibi capek ‘kan?” tanya Anin, dan bibi tersenyum.


Bibi menghentikan aktivitasnya, akhirnya ia ke belakang. Malu untuk berhadapan dengan majikannya. Tapi, apa dayanya ia dipanggil kembali dan bibi mengikut saja.


“Oke, bibi nanti jaga rumah. Saya mau ke kantornya mas Aksa,” ucap Anin dengan sela-sela minumnya yang terakhir, dan bibi mengangguk.


“Ya udah, saya berangkat bi.”


“Bentar ada yang tertinggal,” Anin pun ke kamarnya, ia mengambil dompet yang uang, uang tadi habis ia belanjakan baju.


Ia juga menenteng paper bag, dan diletakkan di atas ranjang. Nanti, ia suruh bibi atau dirinya akan yang membereskannya.


Setelah itu, ia pun berjalan keluar dan sampai di teras rumah, ia mengeryitkan keningnya. Kenapa nggak ada orang sama sekali, Anin berjalan ke gerbang dan membukanya.


“Baru nyadar sih, kalau biasanya pada di depan. Kenapa sekarang nggak ada orang sekali malahan. Naik taksi ajalah,” Anin berjalan ke depan gang perkomplekan itu, sampai di depan. Ia memberhentikan taksi, beruntung ada taksi yang masih berlalu lalang lewat di sana.


Sedangkan Aksa di kantor sudah disuguhi pemandangan yang tak mengenakan baginya, ayahnya sudah ada di kursinya. Entah apa yang akan dilakukan oleh ayahnya itu. Aksa membuka jasnya, dan menyampirkan ke kursinya.


“Hm, ada apa pah ke sini?” beonya dan ayahnya menatap dirinya.


Ayahnya menghela napas berat, sungguh tidak yakin jika anaknya itu menerima ajakannya karena ini menggantung pada pekerjaannya.


“Ayah ke sini mau bilang sama kamu, ini ayah diundang sama Rifa'i dan mengajak ayah kerja sama dengannya, tapi ini ayah ke sini mau ngajak kamu.” Aksa memandang jengah, kenapa sih ayahnya bisa berurusan dengan orang itu?


Apa nggak ada yang lain, partner kerjanya?


“Kenapa coba ayah kerja sama dengan orang itu?”


Ayah menatap anaknya baik-baik, ayahnya mendekati dirinya dan menepuk pelan pundak anaknya. Ingin sekali membuat hati anaknya terbuka, tapi sulit sepertinya mendengar nama dari laki-laki itu. Sama-sama emang sukses di kalangan pengusaha, tapi gimana pun Aksa tidak akan memilih partner yang nggak sesuai ekspetasinya.


“Ayah ingin, perusahaan ayah bisa berkembang pesat nakal. Dengar-dengar dari teman kerja ayah katanya mereka bisa menyatakan jika mereka sukses karena perusahaan mereka nak.” tatapan ayahnya dengan memohon.


“Yah, jangan bergantung dengan mereka! Dari skill emang, tapi belum tentu kualitas mereka bekerja itu jelek, apa nanti ayah akan memohon sama ku untuk membantu perusahaan ayah akan berkembang lagi? Hati-hati!” Ayahnya yang menginginkan ambisi yang diciptakan akan terwujud, tapi tidak nyatanya.


“Mohon, tolonglah nak!”


Aksa berdecih, ini semua pasti mereka yang selalu mempromosikan dan pastinya ada hidung belang dibalik ini semua.


Sama saja ngomong sama ayahnya, pasti ayah akan selalu bilang.


Tolong!


Tapi, nanti jika ayahnya akan gulung tikar. Apa ayahnya akan memintanya untuk membangun lagi perusahaan itu akan berkembang. Apalagi sahamnya di sana sekitar 70%, pastinya ia yang memiliki saham terbesar atas perusahaan ayahnya.

__ADS_1


Nggak mungkin juga tiba-tiba ayahnya akan bekerja sama langsung, terus yang sisanya dari perusahaan itu, ayahnya yang mempunyai. Ia memegang atas hal perusahaan, Aksa pun membuka file yang ingin ia tanda tangani.


“Pekerjaan ku banyak!” pungkas Aksa.


Ayahnya tersenyum simpul, ayah keluar dengan tanpa pamit atau gimana. Aksa yang keterlaluan emang. Tapi, mau gimana lagi. Seharusnya itu emang sudah kewajiban Aksa untuk mengingatkan ayahnya. Tapi, selalu berambisi untuk bekerja sama dengan perusahaan itu. Bingung, sangatlah kentara.


Aksa menatap ayahnya yang sudah pergi.


“Orang tua dibilangin ngeyel, ya udah nanti kalau bangkrut bukan salahku juga.” Aksa beranjak berdiri, ia memindahkan laptopnya ke meja kerjanya. Menatap gundukan file, ia memijat keningnya.


Aksa menatap kaca bening di samping meja kerjanya.


Sungguh indah pemandangan bawah kantor jika dilihat di atas begini. Ia tersenyum, sesuatu itu jika dibayarkan dengan senyuman pasti akan bahagia. Membuatnya semangat untuk mengerjakan ini.


Ayahnya kembali lagi, dengan tampak yang begitu memohon dan Aksa mendiamkan ayahnya pasti capek sendiri. Ngomong sendiri, ia pasti akan ngakak sendiri melihat gurat ayahnya. Kasian juga sih, Aksa pun akhirnya mengangguk. Menyetujui permintaan ayahnya. Ini terakhir kalinya untuk beginian.


“Tapi, terakhir kalinya ya?” ucap Aksa.


Ayahnya mengangguk, dan Aksa memakai jasnya. Ia menghela napas, di keadaan seperti ini. Ia harus menemui sekretarisnya untuk menggantikan pekerjaannya.


“Tunggu aja di bawah, yah!”


“Oke, tapi jangan lama!” balas ayahnya.


Aksa menelepon sekretarisnya, untuk mengerjakan pekerjaannya. Setelah mendapatkan jawaban, Aksa pun keluar dan ia sedikit melupakan kejadian kemarin malam.


“Nanti saja.” Ucapnya dengan tersenyum mengerikan.


Ia, ingin melihat reaksi karyawannya karena membuat Aksa naik pitam.


Aksa memencet tombol lift, dan memasukinya. Ia menemukan wajah Anin di sana, kaget. Kenapa istrinya ada di sini? Anin terkejut bukan main, ia jatuh ke belakang.


Menimbulkan suara keras, dan Aksa mencondongkan badannya. Menarik tangan Anin dengan lembut. Aksa memiringkan tepi sudut bibirnya, “Hati-hati makanya!”


Anin tidak berani menatap suaminya, pasti tatapannya lebih mengerikan daripada setan, iya membayangkan pasti akan menerima konsekuensinya.


“Kok ke bawah lagi?” tanya Anin, Aksa melepaskan genggamannya.


Baru nyadar toh? Hahaha, ingin ia mencubit pipi suaminya itu. Anin mendengus, sudah sampai ke atas kok dibawa ke bawah lagi.


“Pulang dulu!” tatapan yang tidak mengenakan dan tatapan sinis dilemparkan dari karyawan yang ada di bawah, karena bosnya sudah bersama istrinya.


Anin melirik nya, enggan untuk membalas tatapan karyawan maupun karyawati yang bekerja di sini.


Aksa diam-diam ia menatap istrinya, dengan cepat ia menarik tangan istrinya.


Aksa melihat ayahnya masih mengobrol, ia akan memberikan tahu kepada ayahnya. Jika nanti, ia akan menyusulnya lewat whatsapp. Anin bingung, mau dibawa kemana?


“Dasar muka nggak tau diri!” cemoohan apa lagi ini?


Ulu hati, Anin serasa cekat dan ia mendengar samar-samar mestinya terdengar yah. Anin menatap miris, sebentar lagi mungkin. Tapi, gimana dengan teman kerjanya dulu? Apakah akan dibalas setimpal oleh Aksa. Aksa membukakan pintu mobil untuk Anin.

__ADS_1


“Mau kemana?”


“Sudah masuk saja! Nggak usah banyak protes,” tatapan datar sekali dan ucapannya barusan membuatnya sedikit tersinggung. Anin masuk tanpa banyak berbicara, ia sesekali mendecak karena sandalnya begitu kotor dan benar tercetak di alas kaki di mobil itu. Anin menggigit bibirnya, huh padahal sudah ia bersihkan tadi. Berarti tadi, taksinya kotor dong. Waduh, Anin bergumam sendiri.


Aksa melihat mata Anin, yang takut dengan apa yang terjadi. Apa memangnya yang ia pikirkan sejak tadi? Aksa tersenyum tipis. Ia menjalankan mobilnya, memacu dengan kecepatan sedang.


Anin hanya diam, ia sesekali melirik suaminya itu.


Loh ini jalanan ke rumah, kenapa ia dipulangkan lagi? Huft, ia menghela napas. Sudah buang-buang uang saja tadi. Bayar taksi emangnya murah gitu, mehong tau. Ujungnya dibalikin lagi. Udah, ah ia pun menatap kesal.


“Dasarnya emang buang duit ‘kan?” sela Anin di keheningan ini, ia mulai.


Jangan mancing deh!


“Emangnya kamu tadi naik apa?”


Anin ingin sekali menjitak kepala suaminya, heh nggak sopan tau!


Anin mendengus kesal, orang itu duit lumayan ‘kan kalau buat jajan atau sedekah. Ini malah kebuang gitu aja.


“Taksi, capek-capek carinya. Eh, ujungnya pulang.”


Anin segera membuka pintu mobil, dan menutupnya dengan kasar.


Aksa terkekeh pelan, ia ingin membuka pintu mobil dan menutupnya. Ketika melihat, ada jejak sandal membuatnya menajamkan tatapannya.


“Astaga, ini mobil pagi udah dicuci kok ...” ia mengacak rambutnya, dan frustasi.


Semua gara-gara istrinya ini. Masalahnya, istrinya sedang marah semestinya ia mengalah demi kebaikan rumah tangga yang tidak seharusnya berjalan mulus setiap hari.


“Cuci mobil lagi, pak!” ia melempar kunci mobil dan menutupnya.


Pak satpam menerimanya, dengan raut wajah bingung.


Perasaan sudah dicuci bersih tadi pagi, apakah si bosnya itu sudah-sudah ingin ganti mobil apa gimana? Karena sudah kotor lagi, apa sekali makai langsung cuci.


“Gimana ot?” panggilnya dengan nama samaran.


“Ya cucilah!” jawab temannya satu itu.


“Beneran emang, kotor ni ot!” Akhirnya mobilnya pun dicuci kembali, sampai bersih dan kinclong lagi. Dengan perasaan kesal, tapi cuan ngalir terus. Setiap gajian emang ada tambahannya yang begitu besar.


Demi hidup mereka sih. Hahaha, semuanya kena imbas.


...Bersambung... ...


.


.


.

__ADS_1


Yuk like sama komennya yah😽


makasih ❤️


__ADS_2