Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 39


__ADS_3

Anin berharap jika budenya akan ke sini, pakde semestinya akan menjadi serangan mendadak karena pakde emang nggak biasa jika berpisah dengan bude, apalagi diamkan. Beuh serasa dingin dah hawanya.


“Pakde nggak papa?” Tanyanya membuat pakdenya berbalik badan, dan tersenyum. Karena melihat Anin yang masih sempat membuka matanya, dan itu semua yang dinantikan pakde Anin sekarang.


“Lah, iya nggak papa. Kamu mau apa?”


Pakde menghampiri Anin, dan Anin tersenyum tipis.


“Nggak papa, ehm badan ku agak sakit. Terus calon bayi di dalam, gimana?” tanya Anin dengan raut yang lebih panas dingin, karena ia tidak mau juga kejadian itu terulang kembali. Keguguran, benar-benar ia diuji waktu itu sampai suaminya menceraikan dirinya.


“Nanti dokternya akan ke sini, maaf pakde nggak bisa kasih kamu fasilitas yang lebih baik. Mau ngomong sama suami kamu, takutnya nanti malah khawatir,” ucap pakde dengan mengusap lembut tangan Anin.


Suara deritan pintu, tatapan mereka teralihkan dan dokter yang ditunggu akhirnya datang. Mana dokternya pula ganteng, wih pakde sampai lupa diri. Udah tua main embat wae, mana lagi sama-sama laki-laki lagi.


“Selamat pagi, pak ... bu,” sapa dokternya dan dengan tersenyum manis, Anin hanya panas dingin pikirannya, karena jika ia tidak bisa mengandalkan apa-apa ini. Mau alasan bagaimanapun, Anin bisa-bisa drop juga.


“Maaf Pak, bu ... mengganggu, saya ingin memeriksa lebih lanjut. Oke, bisa disetujui pak? Bapak suaminya ‘kah?” wah pertanyaan itu membuat pakde terkekeh di dalam hatinya, masa mau sih ponakannya dengan dirinya yang sudah umurnya lima puluh tahun lebih.


“Ya masa saya suaminya, dok ... kagak mungkin, saya pakdenya.” Jawab pakde dan dokter itu tersenyum, malu sekali ia. Dan dokter pun menyuruh suster yang sudah ada di belakangnya, dan Anin dibantu suster untuk berpindah ke kursi roda, dibawa ke ruangan yang bisa menangani Anin lebih lanjutnya. Pakde mengikuti di belakang, dengan rasa risau di dalam hatinya.


“Semangat nak, mudah-mudahan hasilnya baik ya?” pakde menyemangati sebelum masuk ke ruangan, dokter hanya menunggu dan menyaksikan antara keduanya.


***


Sementara Aksa yang sedang dilanda gulana, karena mendengarkan penuturan dokter jika orang tuanya semakin buruk keadaannya. Kenapa? Iya, Aksa memikirkan beberapa kali barusan. Membawa pulang, bukan jalan terbaiknya. Aksa menghela napas prustasi, ia mengacak rambutnya.


Dan bunyi deringan handphone, membuatnya tersadar dan mengambil handphonenya di atas nakas, melihat yang tertera nomer Si pengawalnya, maksudnya kepala pengawal yang ada di rumah.


“Ada apa?” tanyanya to the point. Ia tidak suka basa-basi sekarang, memikirkan orang tuanya saja belum kelar untuk ke tahap berikutnya. Permasalahan yang baru, Aksa hanya memilih jika boleh, ia memilih harta dan tahtanya jika disuruh untuk memilih. Bukan seperti ini, kehilangan orang tua bukan hal mudah untuk melupakannya.


Orang tua yang menggiring kita untuk jalur kesuksesan, atas do'anya yang selalu mengalir di sepanjang waktu dan Aksa hanya saja ingin yang terbaik.


“Maaf Tuan, ibu Anin tidak ada di rumah.” Jawab pengawal yang ada di seberang negara dan Aksa melebarkan pupil matanya.


“Kok bisa?”


“Iya Tuan, kami minta maaf atas kelalaian kami—”


“Kalian emang nggak becus, saya sudah berpesan untuk terakhir kalinya. Jaga baik-baik istri saya, bukan seperti itu caranya. Terus jejak terakhir tidak ada di rumah, kapan?” dengan nada prestasinya, ia menggusak rambutnya.

__ADS_1


“Dari pantauan CCTV sejak tadi malam,”


“Emang kalian nggak becus, sekarang cari! Saya akan pulang ke Indonesia sekarang,” ucapnya dengan keras, urat-urat di pelipisnya menyembul dan memang sudah, pengamanan di rumahnya begitu ketat sebenarnya, tapi kenapa istrinya sudah lolos begitu saja.


Tut...


Ia mematikan sambungan telepon dan mencari kontak nomor asisten pribadinya, untuk mengurus keperluannya dan segera pulang, jika masalah di sini biarkan asistennya yang turun tangan, ia akan pulang sendiri tanpa pengamanan siapa-siapa lagi pula ia juga jago untuk melihat gerak-gerik musuhnya.


Jangan salahkan dengan sabuk putihnya, dan Aksa mengambil jas serta beberapa barang yang akan ia bawa pulang, Aksa pun menelepon asisten pribadinya untuk memesankan penerbangan hari ini dan benar sekitar tiga puluh menit lagi ada penerbangan untuk jalur ke Indonesia.


“Oke, tenang dulu! Sekarang kamu pulang, jaraknya juga lumayan ‘kan?” tanyanya dengan dirinya sendiri, dan berjalan keluar dari kawasan hotel.


Lumayan hari ini benar-benar penat rasanya, pingin ia menyemplungkan diri saja ke laut ketimbang seperti ini.


***


“Dari hasil pemeriksaan, memang jika ibu Anin mengalami pendarahan namun masih bisa diselamatkan untuk bayinya, dan jika nanti ada apa-apa, bisa dilaporkan dan bisa konsultasikan untuk jarak beberapa minggu nantinya.” Ucap dokter itu dengan menurunkan kacamatanya dan Anin dibantu untuk duduk, pakde tersenyum.


Sekarang mereka sudah badan di ruangan yang tadi, karena sudah selelah untuk pemeriksaannya, dan sekarang tinggal dokter menjelaskan secara jelasnya.


“Oke, hm suaminya ada pak?” tanya dokter itu dan pakde mimiknya bingung.


Anin hanya mengangguk, ia sekarang jadi pingin ketemu suaminya dan perasaannya mengarah kepada suaminya, takut terjadi apa-apa.


“Ya nanti bisa pulang, silakan urus administrasinya pak!” ucap suster yang ada di dekat dokter itu dengan mencopot infus Anin, dan Anin hanya diam, ia merasakan emang sakit sih ditempeli infus beginian. Tapi, apa boleh buat. Ia bolak-balik ke sini, dari zaman sma sampai teman-temannya hafal jika ia sakit pasti dibawa ke rumah sakit.


Karena daya tahan tubuh Anin memang tidak begitu kuat selama ia sekolah.


Tapi semenjak ia lulus SMA, masuk ke jenjang perkuliahan beberapa waktu itu. Ia bukan wanita lemah lagi, tapi dipupuskan sudah harapannya untuk kuliah jurusan kedokteran waktu itu, padahal mau jadi dokter spesialis kandungan.


Tapi, sudahlah masa lalu memang begitu harus dijadikan kenangan saja. Tanpa untuk membayangkan kembali, karena rasa sakitnya yang luar biasa untuk menjalani kehidupan ini. Harus ada yang namanya untuk diberikan kekuatan dan ketabahan untuk menjalani hidup, karena orang nggak ada yang hidupnya sempurna.


Pakde melalang buana pikirannya sekarang, ini bisa berape juti? Karena fasilitasnya pun nggak main-main mana, heh uang bumi cari malah dibuang.


“Hm, bisa pulang sekarang dok?”


“Boleh, ini silakan tebus vitaminnya di apotek ya!”


“Oke dok, makasih atas rekomendasinya.” Ucap pakde dengan menggandeng Anin dan Anin hanya nemplok begitu saja, pakde pun keluar dari ruangan itu dengan Anin.

__ADS_1


“Pakde lemes mah,” keluh Anin.


Anin belum makan apa-apaan. Karena ini masih pagi, ia tetap mengeluh untuk pulang. Ia sudah kangen sama suaminya sekarang, apa yang terjadi jika ia kabur dari rumah dan membawa kabar kecemasan.


“Iya sabar! Pakde tebus vitaminnya dan administrasinya dulu, kamu di sini!”


Anin duduk dibantu oleh pakdenya, Anin menurut saja toh ini juga demi kebaikannya.


“Jangan lama-lama!” pakde mengangguk dan melangkah pergi, sekarang Anin sedang menatap sekitarnya, banyak orang yang menjenguk saudaranya namun dibatasi juga jumlah pengunjungnya, tidak boleh terlalu banyak.


Anin memegang perutnya, dan ia tak sengaja menyenggol dompetnya yang jatuh.


Anin mengambilnya namun tak salah jika ada tangan kekar yang mengambilnya.


Kepala Anin lantas ia mendongak, dan orang yang kemarin yang tak sengaja bertubrukan dengan laki-laki paruh baya itu.


“Maaf mbak, saya tadi melihat mbak menundukkan kepala. Jadinya saya hampiri saja,” ucapnya dengan begitu Anin tersenyum manis, merasakan ada getaran dalam hatinya smaa dengan hati laki-laki paruh baya itu.


“Kenapa rasanya begitu hangat ketika ketemu dengan mbak ini?” batin laki-laki itu dengan bengong dan laki-laki itu membalas dengan senyum hangat.


Pakde yang balik lagi pun terkejut ketika ada sosok pria yang tak begitu ia kenal karena menghadap ke belakang, ia mengambil kertas resepnya yang tertinggal, eh keponakannya malah didekati oleh sosok pria yang tidak ia kenal.


Pakde berjalan dengan langkah gontainya, “Anin.”


Dan membuat orang itu menghadap ke depan, menggeser tubuhnya agar Anin bisa melihatnya, kedua orang itu saling tatap.


Bersambung...


Gimana...Gimana?


Gantung🥰🤣


Ya, makasih yang sudah nunggu ya sayang. Wkwk, oke jangan lupa mampir ke cerita Din yang lain.


Satu lagi mau follow akun Din, dan minta folbek boleh DM Din yah😌🙏.


@dindafitriani0911


See you, next episode 🤗

__ADS_1


__ADS_2