Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 61


__ADS_3

Malam hari ini, malam yang penuh suka dan gembira. Ada di kalanya untuk sedih karena sudah di penghujung Ramadhan, yang pasti bulan Ramadhan yang tiap tahun dinantikan telah pergi dan semoga semua orang bisa bertemu dengan Ramadhan berikutnya.


Anin, perempuan itu kini ada di rumah mertuanya. Di sana banyak orang yang melakukan mudik balik kampung, jadi keinget zaman dahulu semenjak ibunya meninggal serasa sepi sneyap kehidupannya tapi Anin berusaha bangkit untuk tidak sampai titik keterpurukan.


Kini semuanya berubah, ada suami di sampingnya yang saling menguatkan ataupun pakde sama budenya yang selalu ada untuk dirinya.


Aksa sejak tadi, laki-laki itu sama papahnya yang berkumpul di depan, memang sanak saudara dari mamah Aksa banyak sekali. Sampai beberapa keturunan, dan uti dari Aksa masih hidup. Tinggalnya di mansion satu kawasan dengan mertuanya.


Anin, perempuan itu sekarang lagi melamun dihadapannya sekarang ada banyak bintang dan langitnya cerah, secerah hidupnya mungkin kali ya. Karena setiap itu, pasti hidupnya penuh dengan kesaksian yang begitu tak indah.


Seharusnya dia sekarang ada di rumah bude dan pakdenya. Ia juga sudah kangen sekali, apabila ia tidak didekat budenya apakah mampu seorang hati Anin merelakan kejadian hari ini diganti oleh keluarga suaminya, semoga saja Anin betah.


“Nak! Kamu nggak papa? Kok ngelamun, ngelamunin apaan?” tanya Mamah dengan sedikit berseri wajahnya dan kumandang takbir membuat Anin sedikit terenyuh, sakit hatinya seperti Ramadhan kali ini benar-benar cepat.


Mungkin sudah dewasa, jadinya agak berbeda dengan anak kecil.


“Sini makan! Ketimbang di situ sendiri,” ajak Mamah dengan membawa banyak piring di atas meja yang ada di luar, memang sengaja makan malam kali ini dilakukan di taman semuanya acara yang buat ya mamah Aksa sendiri.


Padahal, baru saja hitungan hari pulang dari Singapura. Bisa-bisanya kepikiran sampai sini, Anin sampai heran. Terlalu hiperaktif dan mertuanya ini tidak tanggung-tanggung mengeluarkan biaya banyak sebab beberapa kali tertipu dengan arisan online.


Biasanya dijanjikan manis, ujungnya dalam arisan ada dalangnya.


“Iya mah, aku juga cari angin di sini.” Anin melangkah mendekati mamahnya dan mamahnya mengelus tangan Anin yang sudah memeluk mamahnya Aksa.


Yap, Aksa adalah anak tunggal memang tidak salah lagi jika Anin disayang oleh mertuanya. Cuman, dulu punya kejadian tapi Anin sudah tidak mempermasalahkan. Sebenarnya dari pihak mertua memang tidak mencari masalah, tapi hanya ingin menguji.


“Nak! Kamu sudah berapa bulan?” tanya papah sambil mendekati anak menantunya itu, ternyata suaminya ada di sana menyender di punggung mamahnya dan sambil mengunyel mamahnya.


Mungkin jika ia kembali ke seperti itu, paling akan bahagia.


Anin mengelus perutnya, dan papah diam-diam memerhatikan.


“Heh ngelamun baek, kenapa? Itu suami mu, kalau di rumah ya seperti ini. Sayang kalau ada tantenya pasti akan bahagia dia, ia juga punya tante yang menyayangi dia sampai mamah saja cemburu sama dia.” Ucap papah dengan menjelaskan, tampak dari wajahnya mengulang masa lalu Aksa suaminya itu.


Anin menatap papahnya, “Terus tantenya ke mana pah? Kok nggak keliatan,”

__ADS_1


“Iya lagi bangun rumah tangga di Australia sana,”


“Suami ‘an? Terus pisah gitu?”


“Nggak nak, ya cuman ada masalah terus langsung minta cerai sama saudara papah.”


Anin lalu mengangguk, ia mencoba memahami sampai di situ ia menatap suaminya yang duduk manis di sofa dengan kacamata bacanya dan memegang buku.


Anin tersenyum miring, “Pah ... papah nggak keluar?” tanya Anin dengan fokus ke Aksa yang duduk dan Aksa diperhatikan tidak menoleh, ngeh saja tidak sepertinya.


“Mau kemana? Papah mau bantu mamah buat ketupat, sama opor.” Jawab papah dengan mengeluarkan handphone dari dalam sakunya dan menatap notifikasi yang dikirim, entah itu apa.


Anin lantas menghampiri suaminya yang sedang menahan tawanya, Anin menepuk bahu Aksa, ketika Aksa ditepuk ia malah kena pukulan bantal dari suaminya.


“Aduh mas,” pekik Anin dan Aksa terlonjak kaget, sontak ia langsung meloncat dari soffa dan menolong istrinya yang sedang berpura-pura kesakitan.


Karena itu Anin merubah wajahnya dengan sorot muka sedih, padahal aslinya mah ngerjain calon bapak di dalam perutnya itu yang kepingin ngerjain bukan dia.


Aksa menggendong tubuh Anin dan hampir saja berlari, tapi keburu Anin menggigit pundaknya.


Memang istrinya ini terlalu agresif dan Aksa menatap horor ke arah istrinya, istrinya hanya cengegesan sambil mengusap dagunya sendiri.


“Ngerjain lagi ini?” imitidasi suaminya dengan mata menyipit.


Lalu, Anin mengangguk dan Aksa menghela napas panjang. Ia lantas duduk, dan meletakkan kacamatanya di atas meja. Sembari Aksa meletakkan, Anin mengunyel kerudungnya karena takut, waspada saja suaminya itu kalau marah kadang nggak suka ada batasannya.


“Kamu ini kalau mau ngerjain besok-besok aja ya, sebab besok sudah lebaran. Harusnya maaf-maaf, bukan mencari kesalahan.” Nasihat suaminya dan Anin menggigit bibirnya serasa ada yang mengganjal akibat terlalu hiperaktif jadi begini.


“Nggak usah takut gitu,” Aksa menyentuh wajahnya Anin yang makin memerah.


“Besok!” tolak Anin mentah dan Aksa yang menggoda istrinya terkejut, ia merubah mimiknya ke seperti semula.


“Hah, bukan itu .... maksudnya gini, kamu mau THR nggak?”


“Halah sok-sok an kalau gini, ya mau lah ...” dengan begitu Aksa menggeleng dan mengacak kerudung istrinya, matanya sudah melalak kemana-mana jadi nggak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


“Keluar yuk mas! Liat pawai keknya seru,” ucap Anin dengan mengajak suaminya yang mengurut tangannya dan mengelus pelan pergelangan tangan.


Anin melihat tadi beberapa orang memang berlalu lalang turut memeriahkan acara kemenangan dan takbiran hari ini, pantas jika orang tua suaminya ini sukanya di tempat keramaian sampai-sampai ada di tengah-tengah kota sementara dirinya seperti rasanya sepi sekali hidupnya.


Pokoknya berbanding balik sampai seterusnya, alangkah baiknya bener juga kalau mengajak keluar dari anak introvert pastinya anak itu selalu dikucilkan dan rasanya terasa pusing kalau di tengah-tengah keramaian.


Ternyata nggak kembali, semoga cepat sembuh.


Ya, mamah Aksa pernah berkata jika Aksa dahulu benar-benar salah didikan dari orang tuanya plus negatipnya orang tuanya tidak selalu memantau kondisi anaknya.


Maka dari itu ia besar sudah salah didikan, untungnya jika terlambat sedikit saja bisa memutus antara tali silaturahmi dunia dan akhirat.


“Yuk daripada di sini ngedugem kek gini ... nggak enak,” jawab Aksa meletakkan bukunya dan ia menutup kacamatanya, dimasukkan ke dalam kotak.


Setelah itu, Aksa berjalan ke arah istrinya yang sedang membawa dompet yang tidak berisi sepertinya. Aksa jadi terpikir, kalau pun nanti ia jadi seorang perempuan mungkin’kah ia akan kuat untuk ngejalaninnya.


Aksa termenung, ia melamun jika seperti ini bisa untuk menjadikannya lebih baik ke depannya, buat berhati-hati untuk menjalankan rumah tangga.


Aksa meraih tangan istrinya, lalu Anin tersenyum dan menggenggam tangan Aksa.


“Mau kemana ceritanya kalian ini?” tanya pamannya Aksa pas saja lewat dihadapan mereka.


“Mau keluar cari angin paman,” Anin menyalami lantas disusul oleh suaminya dengan muka datarnya plus dingin, memang niatnya mau kesehatan ini cuman kalau ada sogokan dan Aksa malas untuk meladeni pamannya.


Aksa menarik tangan Anin, karena ia tidak suka berdekatan lama-lama. Bisa saja pamannya kalau ngomong dari dekatnya pasti ujungnya mau bahas perusahaan padahal perusahaan punya mamahnya bukan punya pamannya, lantas adik dari mamah itu bukan dia. Dia hanya sebagai adik ipar, adik mamah ya bibi (istri dari paman).


Anin cukup terkejut, ia menatap suaminya dengan tatapan menyipit dan Aksa hanya tidak peduli. Mau pukul kek, silakan. Mau dibicarain kurang soalnya santun, ia mah nggak papa tapi sehabis itu perang dingin terjadi.


Bersambung...


Maaf kalo nggak up, Din lagi ngumpulin ide karena dah lama nggak up...


Oh iya masih suasana lebaran, mau ke rumah Din biar Din sherlock 🙂. Nanti tak kaseh duit THR😁...


Wkwk, oh iya makasih buat kalian yang dah nyempetin mampir sebentar 🤗...

__ADS_1


Oke saya selaku author, Din minta maaf lahir batin yah😙....


__ADS_2