Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 63


__ADS_3

Semua keluarga sekarang sudah ada di masjid bersama-sama dan berjalan menuju ke masjid dengan penuh semangat.


Ternyata banyak anak kecil dan orang-orang dewasa yang berlalu lalang, sesekali bertegur sapa. Setelah semuanya selesai sholat eid, kini semua sudah terlaksana dengan lancar tanpa membebani pikiran, maksudnya bersih-bersih macam terus itu apa buat makanan. Tapi, Anin melakukan itu juga dibantu dengan tangan orang lain.


Saat ini Anin dan Aksa sedang berjalan sampai ke rumah, banyak orang yang lewat dan Anin serta Aksa saling mohon maaf lahir dan batin, bertegur sapa dengan obrolan yang sekiranya menusuk hati tolong dimaafkan.


“Yuk pulang!” Anin sampai memohon segala buat suaminya yang tadi kebanyakan nggak langsung ke inti, memang dirinya orang cuek kalau ke orang-orang sekitar kalau dah kenal lumayanlah.


“Sabar!” lirih Aksa agar tidak kedengaran oleh orang lain.


“Pak mampir ke rumah lho, ketupat masih banyak.” Oke, fine orang ini sekalian promosi ke orang lain.


Biarkan sekalian jajan di rumah dimakan habis.


Kasih lah buruan THR biar dapet banyak atau lebih bisa buat jajan.


Hahaha, kebanyakan ngelunjak emang.


Anin akhirnya mengatupkan bibirnya dan menunggu sambil orangnya pun berpamitan, awal hati sebel dan kesal, pada akhirnya ia menyunggingkan senyumnya di kala orang-orang berpamitan.


“Heh nggak sopan kek gitu!”


“Iy-yya tahu, kalau gitu aku pulang dulu. Ini bawa mukena soalnya,” Anin memberikan alasan supaya bisa diterima oleh suaminya dan Aksa menggandeng pundak istrinya, lalu mengangguk.


“Yuk pulang!” ucapnya lembut dan Anin tersenyum bahagia.


Ia dan Aksa melanjutkan langkahnya sampai mereka di rumah, Anin lebih dulu masuk ketimbang Aksa yang sedang menyempatkan waktu untuk mengobrol dengan pak satpam yang ada di depan.


“Nggak masuk, pak?” tanya Aksa, lantas pak satpam itu mengangguk.


“Nanti pak, karena tuan besar belum memulai acara halal bihalalnya. Kan sekali makan-makan sambil nyambi gitu,” Jawab pak satpam dengan tersenyum dan Aksa mengangguk.


“Ya sudah, saya masuk dulu. Terakhir nanti ketemu sampai akhir acara halal bihalalnya. Bapak jangan sungkan buat makan! Masalahnya mamah masak banyak, besar lagi. Bapak tahu sendiri ‘kan kemarin? Dah berat gotong wajan besar buat masak rendang sama opor. Ya udah, saya masuk dulu.” Pamit Aksa terakhirnya, ia berjalan dengan langkah lebar dan sarungnya sudah tidak berguna lagi. Sebenarnya tadi mau ia lepas dari masjid, tapi dilarang.


Alangkah baiknya menjaga aurat begitu, tapi Aksa memang benar-benar ia tidak terlalu suka untuk sarungan. Padahal mah anyem, terus itu lah adem.


Ia enaknya mau tidur, mau sarungan kek mau celanaan yang penting full happy.


Aksa masuk ke dalam, di sana para sanak saudara mamahnya belum sepenuhnya kumpul. Nanti ada kakak dari mamahnya Aksa sampai bejibun saudara pokoknya, cuman satu pamannya memang anak tunggal ya sebaiknya memilih untuk diam.


Sampai kadang bisa saja lebaran itu agendanya bukan halal bihalal melainkan body shaming terus tanya apa kenapa gitu kalau Aksa punya saudara pasti rame rumah ini.


Hahaha, hal biasa yang menjadi sarapan Aksa.


Aksa melihat Anin membantu mamahnya, ia berjalan ke meja makan.


“Nak, halal bihalal dulu sana sama papahmu! Terus ke mamah, mamah juga mau siap-siap buat ke rumah tetangga. Sudah diundang tadi, baiknya sibuk ngunjungin.” Seru mamah dan Aksa mengangguk setuju, ia juga maunya nanti setelah berkumpul mau ke rumah pakde serta bude Anin yang menunggu di sana pastinya.


Tidak mungkin jika ponakan dianggap sebagai orang asing, mau ke sana seterah mau nggak ya monggo karena nggak ada yang melarang.


Aksa mengode Anin dengan tatapan matanya, dan mamah Aksa sejak tadi melihat gerak-gerik Aksa. Mamah menghela napas, lalu menatap mereka berdua.


“Kenapa sih nak? Kasian itu menantu mamah, nggak ngerti bahasa kode.” Awalnya ingin menyindir anaknya sendiri, ternyata sebaliknya suaminya begitu. Bikin ini pakai segala kode.


Aish bikin gagal buat merahasiakan.


Kini Aksa menyerah, akhir dari sekian kode yang dipahami anggukan Aksa.


“Oke, yuk kita minta maaf sama papah!” ajak Aksa dengan menyeret tangan Anin, Anin menatap tatapan tak terima di kala ia diseret.

__ADS_1


“Emang aku bakal ilang gitu, kok diseret segala?”


“Nggak, biar cepet aja jalannya.” Anin mendengkus pelan, di sana papah Aksa sedang duduk dan menyalakan televisi.


Sambil berdehem, Aksa menatap Anin yang tingginya berbeda jauh dengannya ya sekitar sepuluh centi saja, dan Anin diam-diam memerhatikan.


Pasti mau body shaming. Eh, jangan gitu!


Alah nggak usah bego lu, gue juga tahu lu pasti ngomongin ini badan yang pendek amat. Di dalam hati Anin mendumal karena tidak terima pastinya jika menjadi bahan olokan suaminya sendiri, dan Aksa mengangkat sudut alisnya.


“Kenapa?”


“Iya nggak, jadi nggak ini?”


Papah Aksa di sana membalas senyum ketika anak dan menantunya ini benar-benar akur jika seperti ini, meski awalnya sudah berkeliling untuk menghancurkan tetap saja semua berjalan dengan kekuatan penuh agar bisa memegang rumah tangganya sendiri.


“P-pah, Aksa mau halal bihalal.”


Ceilah pake segala ngomong, duduk aja napa! Malu kan kek gini. Anin diam, ia memang sudah mengode suaminya tapi tidak peka, memang keterlaluan.


Dan papah untung segera mengangguk, Aksa pun duduk bersimpuh layaknya orang yang sehabis nikah minta restu orang-tua.


Anin, perempuan itu memainkan bibirnya ketika suaminya fasih dengan kata bahasa Jawa halusnya. Sementara dirinya? Seperti biasa, ia tidak bisa karena sudah menjadi tradisi untuk cuman mengatakan ‘lahir batin' dah singkat katanya sih.


Nggak perlu segala nangis, dia mah sukanya nangis kalau ada orang tuanya ataupun orang yang paling dia sayang.


Ada suara langkah kaki, membuat atensi Anin teralihkan. Di sana ada mamah memegang toples, serta membawakan nampan yang berisi segelas teh hangat dari baunya tapi Anin tidak tahu.


“Ini p-pah, oh iya Anin kamu nanti sekalian mamah kenalin sama keluarga mamah. Katanya mereka semua mau kumpul di sini,” ujar mamah.


Mamah mendaratkan pinggulnya di samping tempat papah duduk.


Setelah selesai dengan halal bihalalnya Aksa sama papahnya giliran mamahnya, dan pake segala nangis jadinya auto merinding sendiri. Anin duduk lalu mengatakan secara singkat.


Anin menunggu begitu lama, ia duduk seperti itu.


Karena posisinya yang tidak pas, ya pinggul dicepit dengan kakinya.


Aish, jika tidak momen begini maka ia akan mengumpat sebab terlalu lama untuk mengucapkan kata-kata.


Anin saja sendiri tidak mendengar, tapi samarnya memang perkataannya begitu cepat.


Setelah sekian abad Anin menunggu, akhirnya kelar juga. Ia hampir kelepasan buat menghela napas, lalu ia berganti dan meminta maaf. Sama yang ia lakukan, singkat saja.


Dan setelah selesai ke mamah, baru sekarang ke suaminya.


Ia melihat suaminya yang tengah menghapus air matanya, dapat dilihat liquid bening merembes keluar begitu saja sampai mamah matanya berwarna merah juga.


Anin harus apa?


Oke, suaminya kini sudah duduk dan ia duduk di bawah suaminya.


Ia mendongakkan kepalanya ke atas, lalu menundukkan dengan cepat.


Sampai kejeduk ke paha suaminya, Aksa terkekeh di dalam hati.


“Aku minta maaf, jangan lupa tuh THR! Kagak nerima minta maaf kalau belum dikasih THr, awas ya elu!” Ancam istrinya dengan tersenyum kikuk, dan Aksa mengangguk.


“Cium dulu baru nanti aku kasih THR,”

__ADS_1


Hah? Apa tadi ia tak salah dengar? Memangnya ia mau kek begitu.


“Merah nanti, jangan di sini!” bisiknya di telinga suaminya, dan Aksa mendengar itu terkikik geli. Ia mengelus kepala istrinya, “Makanya jadi istri harus baik!” ucap Aksa membuat Anin menatap jengah.


“Lah emang selama ini jadi istri kurang baik gitu,”


“Iya buktinya tadi minta THR segala.” Bikin ketar-ketir sendiri kalau di depan mertua, Anin menepuk paha suaminya dan duduk dengan kasar, membuat Aksa melotot ke arahnya.


Anin mengaduh kesakitan, membuat dua orang tua itu menaruh tatapannya ke arah Anin.


“Ngapa nak?” nah sekarang bukan tepatnya untuk mencari gara-gara, Anin menggeleng sebagai jawaban membuat Aksa tersenyum mengerikan.


Tatapannya sekarang berbeda, auranya saja terlihat kental sekarang.


“Hati-hati!” datarnya, dan Anin menghela napas lega. Untung tidak jadi dimarah, bisa ke ancam pokoknya nyawa anaknya kalau begini.


“Ya sudah, jangan diributkan! Penting nggak papa, yuk kita makan dulu. Ditunggu bibi sama pamannya kalian di meja makan,” ucap mamah dengan menengahi dan Anin mengangguk setuju, ia berdiri dan mamah mertuanya menggandeng pundaknya.


“Hati-hati ya nak! Nanti kamu kenapa-kenapa gimana?” lembutnya dengan mengusap pundak Anin, ya beliau memang tingginya sama dengan Anin dan Anin hanya bisa tersenyum. Para lelaki akhirnya menyusul untuk melakukan kegiatan besar yaitu makan bersama, sambil menunggu para keluarga untuk berkumpul.


***


Setelah semuanya selesai acara halal bihalalnya, kini semua foto bareng dan diabadikan dalam satu album nantinya yang akan disimpan di meseum.


Anin saja terkagum oleh para saudara mamah Aksa yang begitu bersaing dalam dunia apapun itu, semuanya kaya sampai tujuh turunan pun kekayaan mereka mengalir begitu derasnya.


Sampai dirinya saja dikucilkan oleh semua para saudara mamahnya, sepertinya ia dipandang rendah. Ah, tidak apa yang penting ada suaminya yang selalu di sampingnya untuk menjawab semua pertanyaan dari saudara mamahnya sendiri.


Karena jangan pernah malu apapun itu kedudukanmu, dari keluarga yang berada atau bukannya. Yang penting bisa bahagia, dan makan. Satu lagi, dengan berhutang. Jangan pokoknya! Salah satu jalan caranya bukan berhutang melainkan kerja, inget itu!


Anin di sini sekarang, ia lagi berberes buat ke rumah budenya dan pakdenya.


Ia memikirkan cara supaya tidak nyemplung ke dalam keluarga itu yang sedang asyik mengobrol, memang mengobrol acara mereka hari ini.


Tapi sekali lagi, kalau ngomong beh langsung kena mental.


Anin melirik suaminya yang saat ini sedang berganti baju dan merapikan kopernya.


“Kamu ngapa kok dari tadi nggak senang?” tanya Anin, ia melihat dari sorot mata dan wajah suaminya memang tidak menyukai keberadaan para saudaranya yang sedang berkumpul ini.


Sebisa mungkin Aksa menahan, tapi sekarang diluapkan semuanya di kamar. Jadi, biasa Anin memerhatikan sejak tadi.


“Males ketemu mereka, yang nggak ada kiranya. Percuma dari tadi seharusnya kita ke rumah pakde sama bude saja,” sesalnya dengan mengangkat koper ke bawah.


“Ooh gitu, ya sudah jangan kesal! Ini juga saudara kamu, artinya para sepupuan biasa dimaklumi lah. Oke, kamu udah pesan tadi sama mamah?”


Pertanyaan itu membuat Aksa berkerut keningnya.


“Mau ke rumah pakde sama bude, apa dibolehin?”


“Iya boleh, toh mamah nggak ngelarang.”


“Ya sudah lah, yuk pamitan dulu!”


“Kenapa pakai segala pamitan, aku sudah pamitan tadi. Karena itu, kita harus lewat pintu belakang. Jadi, aman semuanya deh.” Ucap Aksa dengan meyakinkan istrinya dan Anin mengangguk saja, ia terlalu kesal juga sama keluarga mamahnya suaminya itu.


Bersambung..


Makasih buat yang dah mampir 😆.

__ADS_1


Oke jangan lupa follow IG Din yah, @dindafitriani0911


Bye-bye see you next episode 🙂


__ADS_2