
Lebaran sudah berlalu, kini Aksa dan Anin sedang ada di rumah. Aksa sedang berlibur juga hari ini, menemani istrinya di rumah.
Emang tidak adil jika ia terus-menerus untuk bekerja, menatap layar komputer ataupun laptop, menatap data perkembangan perusahaan dan menandatangani surat kontrak kerja sama antar perusahaan.
“Kamu, nggak kerja mas?” tanya Anin mengambil buah di atas meja makan. Ia ingin makan buah sekarang, tapi sepertinya buah yang diinginkan tidak ada.
“Nggak, soalnya lagi nggak ada kerjaan di kantor. Kalau bisa dibawa ke rumah, kenapa nggak di rumah?” ujar Aksa enteng dan Anin mengerjapkan matanya, karena ia sebelumnya tidak pernah yang namanya menyiakan pekerjaannya.
Baginya pekerjaan itu penting, tapi kalau diduakan jadi cemburu dia.
“Lagi cari apa?” matanya dari tadi fokus ke laptop tapi tetap saja masih memerhatikan istrinya yang tangannya bergerak mencari buah, tidak ketemu.
Anin menghela napas ketika buahnya habis, “Buah jeruk. Seger kayaknya, kalau makan jeruk Bali.” Ucap Anin membayangkan jika jeruk Bali, ia makan sampai habis.
Aksa lantas mengetik sesuatu, dan ia juga hanya mendengar samar ketika Anin mengatakan hal itu. Membuat Aksa hanya diam, tanpa membalas.
Bukannya apa-apa jika Anin tidak dituruti maka sebentar lagi ia akan kena getahnya sendiri, turun tangan ke tempatnya bukan orang suruhannya.
“Lah? Kok nggak ditanggepi, kenapa? Udah overthinking dulu itu pasti!” Anin kini berbalik, ia membesengut kesal. Menaruh rasa kesal kepada suaminya, karena suaminya maish setia pandangannya ke layar laptop.
Menerima laporan dari sekretarisnya.
Oke, harap maklum!
Anin hampir saja menunggu terlalu lama, akhirnya ia duduk di samping Aksa yang sedang fokus sampai tidak menyadari jika istrinya ada di dekatnya.
Dihadapannya memang laptop tapi seenggaknya berikan tatapan mata itu, ke arah Anin yang sedang menatap dirinya dengan mata penuh marah dan kesal.
Ia ngomong nggak ditanggapi, apa yang terjadi.
Ayok baku hantam
“Mas, kalau mau nurutin katanya tadi mau apa? Iya ‘kan?” tanya Anin tepat di samping telinga Aksa dan Aksa merasa gelagat aneh, ia merasa ada hawa dingin menyapu di telinganya.
Ia baru sadar, Anin hanya menampilkan senyumnya tanpa harus baku hantam.
“Oh iya, mau apa hehehe?” tanya Aksa cengengesan dan Anin menyentil paha suaminya.
Anin menghirup udara dalam, pikiran Aksa pasti kemana-mana sebab hatinya saja sudah tidak enak rasanya kepingin ia geprek sama dengan ban mobil sekalian penyet.
“Jeruk Bali, boleh nggak?” matanya sudah memohon dan berkaca-kaca, kalau begini mau apa Aksa harus berangkat dengan sendirinya dan ia mengangguk cepat.
Aksa mengelus kepala istrinya, “Minta apa lagi?”
__ADS_1
“Borong satu toko juga boleh,” balasnya polos dan Aksa tercengang mendengarnya.
Siapa yang mau menghabiskan? Bukan menghabiskan uangnya, namun lagi-lagi Aksa hanya bisa di dalam hati mengumpat tapi mau gimanapun di depannya istri dan ibu dari calon anaknya.
Semuanya harus ikhlas nggak boleh nggak ikhlas.
“Mau ikut, nggak?”
“Oh ya saya nggak lah, jadi titipannya harus dapet kalau nggak dapet boleh kok jeruk lainnya!” saran Anin di akhir kata, Aksa saja sudah merem-melek.
Tahu gini ia berangkat kerja, tapi kalau kebanyakan ngeluh siap harus uji mental sama istrinya. Istrinya emang gampang menangis, dan hatinya gampang sensitif.
“Oke, ya aku berangkat. Kalau ada apa-apa, butuh sesuatu. Nanti bisa suruh pembantu di rumah ini, gunanya mereka digaji. Jangan sungkan!” ucap Aksa menyugarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
Anin menggedikan bahunya dan menatap punggung suaminya yang lama-kelamaan menghilang dari balik pintu.
Ia tersenyum senang, ah akhirnya bisa bebas.
Tapi, tetap saja pergerakan Anin tak jauh dari CCTV yang dipasang di sudut ruangan.
“Hm ngapa ya enaknya?” sambil mikir dan Anin ingin uji eksperimen biar tambah ketar-ketir suaminya supaya cepat mendapatkan, Anin pasti akan berdo'a sekaligus uji mental.
***
Aksa sudah lelah, ini kesekian tujuh toko yang ia kunjungi sampai orang-orang bertanya kepadanya dan ia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul lima sore.
Bak dewa Yunani, alangkah baiknya sekarang Aksa meminta saja atau membayar mahal sekalipun sebab matanya melanglang buana ke arah jeruk Bali yang ada di tempat samping masjid dan pas tempatnya di tempat wudhu.
“Masa iya, aku mau ambil dari sini terus kalau, aduh...,” Aksa sudah berpikir macem-macem, jika dia menyolong bukan berarti dia tak mampu membeli, hanya saja ia sampai mencari dari sekarang pun tidak ketemu.
“Oke, sekarang keluar terus ketok-ketok, ashh...,” Bikin prustasi emang kalau mau izin pastinya ia mempunyai muka malu plus nggak mau kalau ia minta, yang penting beli dapet sudah. Oke, sekarang ia melepas sandalnya dan masuk ke dalam masjid.
Melakukan sholat sendiri, benar adanya jika sekarang sudah hampir mau perang.
Tapi, jika ia tidak membawa apa-apa. Pupus sudah harapannya untuk malam ini dan kedepannya.
Setelah beberapa menit kemudian, Aksa keluar dari masjid. Ia langsung bergegas menuju ke pusat perbelanjaan buah-buahan dan ia pasti akan mengeluarkan gocek beberapa lembar.
Sampai di pusat perbelanjaan, Aksa masuk.
Ia tak sengaja menangkap, melihat Revino dengan istrinya di sana.
Aksa mengangkat bibirnya, “Bagaimana kalau istrinya tahu? Jika tuan Revino yang terhormat mempunyai anak dari istri pertamanya! Sungguh menarik,” Aksa membatin seperti itu di dalam hatinya.
__ADS_1
Aksa sengaja berjalan di depan Revino bersama istrinya, istrinya ada di belakangnya.
Sungguh Revino tak mau jika dijadikan babu oleh istrinya sendiri, karena segala kekuasaan semua ada di tangannya, maka istrinya tidak bisa berkutik dan diam.
Tidak main-main dengan ancamannya, bisa saja dalam sepuluh detik Revino membunuh istrinya sendiri. Ia memainkan dengan cara cepat, tanpa harus banyak tak-tik.
“Hai, tuan Revino!” Sapa Aksa menyunggingkan senyumnya dan Revino yang merasa dipanggil pun menatap Aksa dengan senyum tipis hampir tak terlihat.
Tapi, menurut Aksa di matanya sudah terlihat jika Revino itu sudah siap untuk menerima keadaannya dan Aksa memberikan penghargaan, ia menyalami tangan mertuanya sambil bersedih di dalam hati.
Tangan bersihnya seenggaknya dinodai dulu sama tangan mertuanya, nggak papa demi Anin juga. Istrinya yang di rumah lagi menunggu jeruk Bali sesuai pesanan.
“Ehm, mau kemana tuan Revino dengan siapa namanya?” Pura-pura tak kenal dari namanya, tampangnya ia sudah gampang mendapatkan informasi detail tentang kehidupan Revino, laki-laki tua bangka ini tinggal mati, apa susahnya coba. Eh maaf, kalau ini sama-sama ciptaan Tuhan tapi nggak punya rasa malu dengan kesalahan masa lalunya.
“Sepertinya anda sudah tahu, nak! Gunakan akal dan tanganmu,” balas tuan Revino.
Aksa hanya tersenyum, lagi-lagi istri dari Revino itu hanya diam tanpa menjawab.
“Oh apakah bisu ibu mertua yang bukan sebenarnya istri sah dari tuan Revino, eh salah bukan ibu mertua tapi saya menghargai saja.” Celetuk Aksa dengan jelas dan lantang, seperti biasa Revino hanya menatap datar tanpa ada penolakan atau pembalasan kasar olehnya.
Ini seperti biasa mukanya.
“Maksudnya apa?”
“Eh, tanyakan saja sama suamimu ibu mertua yang gagal.” Seru Aksa dengan kekehan kecil, ia pun memilih pergi tanpa pamit terlebih dahulu.
Memang menantu lackhnat!
Tidak ada sopan santun, membuat istri Revino menatap suaminya yang hanya melanjutkan langkahnya tanpa menengok ke belakang.
Istrinya hanya diam, meresapi perkataan Aksa tadi.
Ia sempat kenal dengan lelaki yang menyebut dia mertua gagal.
Maksudnya bagaimana?
Sebuah pertanyaan, dan seharusnya dipecahkan sebagai jawaban.
Benar-benar, apakah menyangkut masa lalu dia dengan suaminya.
Bersambung...
Wkwk, yok jangan lupa follow IG Din!
__ADS_1
@dindafitriani0911
See yu! Jangan lupa komen plus like🤗.