
Anin melihat mereka berdua, tidak ada yang bergeming sama sekali. Masing-masing memikirkan sesuatu tampak sekali dari raut wajah pakde atas tidak kesukaannya. Porsinya emang beda-beda, namun pakde menarik tangan Anin.
“Nin, kita pulang saja, yuk! Pakde mau ngambil obat,” ucap pakde dan Revino pun mengeryit, ia paham sekarang kakaknya itu mengatakan ‘pakde', berarti benar ini anaknya. Insting selalu kuat untuk ayah kepada anaknya.
“Hm, maaf saya tadi tidak sengaja--,” ucapan Revino dipotong pada pakde yang meminta Anin dengan tatapan matanya yang melebar.
“Kamu duluan saja, pakde mau ada urusan. Ini kunci mobilnya,” perintah pakde dan Anin bingung, ini ada apa? Ia memilih di sini atau kah memilih tuntutan pakde, untuk ke parkiran. Oke, ia memilih untuk ke parkiran saja.
“Iya, pakde.” Jawabnya dengan melangkah dan membawa kunci mobil.
Revino menatap datar kakaknya itu, “Mau apa kamu menemui saya?” tanya pakde tanpa mengindahkan tatapannya dan Revino lantas berdecak.
“Oke, saya tidak sengaja bertemu dengan anak saya. Emangnya tidak boleh? Benar ya insting seorang ayah itu terlalu kuat, sampai Tuhan saja memperbolehkan saya untuk bertemu dengan anak saya.” Papar Revino dengan senyum smirknya.
“Jangan ngimpi kamu! Saya nggak akan berikan ponakan sama laki-laki seperti kamu! Yang tak punya hati pada saat itu, oh iya ternyata sudah sukses ya sekarang! Sampai lupa balik sama istrinya dulu, ah emang takdir tidak akan memberikan kalian kesempatan untuk bersama.” Cibir pakde dengan menatap datar dan sengit, Revino nampak menahan tawanya.
Dibalik sorot mata mereka, di dalam hati mereka ingin rasanya menyatu jika bertemu seperti ini. Karena sudah lama, sejak beberapa puluhan tahun mereka tidak bertemu.
Tapi, pakde setiap kali menemui laki-laki yang dihadapannya sekarang ini, wara-wiri ke TV namun tidak ngeh jika itu adeknya sekarang. Tapi baru sadar bertemu langsung sekarang, tidak ada yang berbeda dari dulu hanya berperawakan tinggi dan kekar, wajahnya sama dan rambutnya yang agak beda sedikit.
“Hm, saya pada saat itu ingin menyampaikan maaf sebesar-besarnya. Tapi, tidak sempat untuk mengambil langkah saya menuju keadilan, hanya saja kesalahan kecil saya pada saat itu dibuat perbesar masalahnya.” Jelasnya, Revino bersedekap dada.
“Jelas pada saat itu memang kamu membuat kesalahan besar, saya nggak nyangka saja kamu bisa seperti itu, ternyata sekarang kamu milih perempuan itu ketimbang istri kamu yang sedang berjuang untuk melahirkan pada saat itu, tujuh bulan pada saat itu dan kamu membawa kabar buruk bagi istrimu yang sedang mengandung sembilan bulan pada saat kamu pulang, hah suami macam apa itu?” ucap pakde dengan meraup oksigen, dan pakde menyiratkan dendam kepada Revino tapi tidak bisa.
Ia mencoba untuk mencari keberadaan adeknya dahulu, tapi tidak pernah ketemu dan suatu kegagalan baginya untuk mendidik Revino kala itu.
“Iya saya ngaku salah, tapi maafkan saya pada saat itu, kak. Saya tidak membuat kesalahan hanya saja saya kecemplung ke dalam fitnah perempuan licik itu, saya tidak pernah melakukan itu.” Ya, Revino ingin membela dirinya tapi di saat itu semua orang tidak percaya dengannya. Kesalahan baginya, malah memilih untuk menikahi perempuan yang bernotabene istrinya sekarang.
__ADS_1
“Heleh, saya sudah nggak percaya ... biasanya ya kalau orang sukanya main harta apa kagak jabatan, mestinya bakalan menang buat ngeluarin peraturan. Dan mohon maaf ya, anda bisa jaga sebaik mungkin tuh istrinya sama anaknya. Kagak lama lagi bakalan ancur tuh mereka,” sindir pakde dengan mengejek.
“Ya, saya juga mengetahui itu.” Dan tatapan Revino sekarang luruh juga karena ia tidak menahan rasa kangennya ini kepada pakde Edi.
Revino bersimpuh dan pakde Edi sebagai pakde Anin terkejut bukan main, rasanya hatinya ingin mengangkat adeknya, namun pikirannya satu karena adeknya semua harus hancur. Tidak bisa diselesaikan secara baik-baik pada saat itu, pakde sebagai kakak dari Revino semestinya harus membela. Tapi, salah jika pakde ikut membela akan merusak kebahagiannya pada saat itu.
Revino menatap berkaca-kaca, dan pakde hanya tidak peduli.
“Kak, aku minta maaf. Aku sepatutnya emang nggak salah, tapi aku terpaksa untuk mengikuti permainan mereka yang hampir membuat ku bingung kalau aku memilih untuk istri ku serta anakku, mereka akan mengancam untuk membunuh mereka. Kak, tolong! Berikan kesempatan kali ini saja,” matanya lelah sudah, karena butuh perjuangan tiap hari tidak bisa tidur, dan mempunyai istri baru bukannya nambah penenang malah tambah ringsek pikirannya.
“Kalau nggak salah, perjuangkan dong keadilannya. Bukan kek pengecut begitu,” sarkas pakde dan Revino melotot ketika ia disindir seperti itu, memang kesalahannya namun ia sudah berusaha untuk menjelaskan tetap saja kala itu belum pas waktunya.
“Oke, anda bisa ngerti di posisi istri anda dahulu kala, coba anda bayangkan! Bagaimana sorang ibu menjalani hidupnya penuh dengan tekanan orang-orang yang menghinanya secara terang tanpa ada sedikitpun yang bisa mengasihani,” sindir pakde dan Revino menatap mata kakaknya kali ini.
“Kak, maksudnya apa?”
“Jangan sok polos dah, ya udah saya mau pulang! Oh iya anda di sini ngapain?” tanya pakde yang sok-sok an tanya dan Revino mendengarnya tersenyum tipis tanpa terlihat.
“Oh jadi lebih itu ya, oke kejar keinginan kamu untuk membela kebenaran itu.” Ucap pakde dengan menyemangati, dan Revino tersenyum samar.
“Jadi ayah yang bisa tanggungjawab dan suami yang baik ya,” Pakde pun berjalan pergi, Revino lantas tersenyum licik dan misterius.
“Maaf kak, aku akan bertahan untuk memperjuangkan kebenaran ku selama ini.” Ucapnya dan Revino pergi, sementara Anin sedari tadi mendengarkan, hanya terdengar suara bisikan. Entahlah pakdenya ngomong paan, tapi yang jelas ia mendengar ‘kak', apa benar jika laki-laki itu mempunyai hubungan darah? Hah, yang penting sekarang Anin segera keluar sebelum pakdenya menemui dirinya tidak ada di dalam mobil.
“Jadi, ayahnya Putri ada hubungannya ‘kah sama pakde? Akh, sial terus-menerus kebayang-bayang deh. Dasar!” umpatnya dengan berjalan menuju ke parkiran yang ditunjuk atau diarahkan oleh pakde tadi.
“Sudah selesai pakde ‘kah? Cepat amat kalah ngurus,” Anin melihat pakdenya sudah berjalan menuju ke parkiran, dan ia masuk sebelum pakde menatap dirinya yang tidak masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Pakde masuk ke dalam mobil, Anin panas-dingin karena ya nggak tahu kenapa jika pikirannya campur aduk sekarang.
“Pakde tadi ngobrol sama siapa?” tanyanya dengan wajah tenang.
“Oh tadi orang yang punya perusahaan itu ternama, anu ada urusan.” Dengan jawaban yang agak tidak masuk akal yang penting diterima oleh Anin.
“Hm,”
Pakde sempat terdiam, dan Anin mengerutkan keningnya.
“Ada apa, pakde?”
“Nggak papa, ini langsung pulang ke rumah?” tanya pakde dan Anin mengangguk tanpa rasa beban yang menyangkut dalam benak pikirannya.
“Pakde nganu apa, mampir ke pempek Palembang yah ...”
“Hah ke Palembang?”
“Ya kayak lah, beli pempek Palembang yang enak itu lho.” Ujar Anin sambil membenarkan dan Pakde mengangguk lewat spion.
Anin melihat pemandangan gedung-gedung tinggi itu, kapan bisa punya kayak gitu? Anin mikirnya gituan dan Anin melihat orang-orang yang sedang mencari uang di jalanan. Anin miris saja melihatnya, kasian. Orangnya berjuang berjualan di jalanan, dan tidak mau cara mengemis jalan satu-satunya.
Anin mengusap dadanya, “Kamu kenapa nak?”
“Nggak apa-apa,” jawabnya singkat.
Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa mampir ke cerita Din yang lain ya, dan jangan lupa follow IG Din, boleh minta folbek kok, silakan DM Din wae. ...
@dindafitriani0911