
Hari ini, kini hari-hari ramadhan sudah terlaksana beberapa hari dan tak terasa sudah mendekati hari lebaran. Karena itu, mereka berbondong-bondong untuk membeli baju lebaran dan membuat kue.
Tapi, tidak untuk seorang perempuan yang lagi memainkan air di dekat kolam renang itu dan dirinya sedang merajuk karena suaminya tidak jadi pulang hari ini.
Tinggal hitungan hari untuk merayakan kemenangan, Anin kini hanya termenung tanpa mengetahui seseorang yang mendekati dirinya diam-diam dan menepuk bahu Anin.
Anin terhenyak, dan ia menengok ke arah belakang.
“Bude, kok bude ke sini?”
“Nak, apa kabar? Bude kangen sama kamu. Makanya ke sini,” jawab bude dan Anin memeluk budenya untuk menyalurkan rasa rindunya untuk suaminya.
Laki-laki itu katanya memang memenuhi janji untuk hari ini, tetapi masalah pekerjaan yang menunda laki-laki yang disebut suaminya itu pulang ke tanah air. Sampai Anin nangis beberapa kali untuk menyembunyikan rasa kerinduannya tiap malam, kadang ia melolong untuk memikirkan suaminya.
“Bude, mas Aksa nggak jadi pulang ...” ucapnya dengan mengadu.
“Hah kok bisa? Bukannya papah sama mamah Aksa udah sembuh nak? Baru saja bude dapat kabar kalau mereka sudah pulang ke Indonesia, tadi pakde bicara sama bude.” Ujar Bude dengan membenarkan, karena ia mendapatkan kabar memang jika besannya itu sudah pulang.
Anin dengan muka datarnya, ia memikirkan sesuatu.
“Nanti mas Aksa cari wanita lain, bude ...” isaknya dengan sendu dan bude bingung.
Langsung bude ambil tindakan untuk mengelus kepala ponakannya itu.
Kebetulan tadi bude sempat lewat di jalan sebelah, dan sekalian mampir ke sini. Eh, dapet aduan datang ke dirinya, dan ia sempat bingung jika ponakannya ini menangis. Mungkin efek kelelahan ditinggal suaminya beberapa minggu dan apalagi orang hamil bawaannya kepingin nggak mood buat apa-apa.
Dan Anin sampai beberapa kali mengeluh pusing, sebab dirinya menahan agar tidak menyebar kemana-mana lalu ia meminum obat untuk meredakan pusingnya agar tidak ketahuan siapa-siapa. Toh, Anin di sini emang diawasi oleh Aksa dari kejauhan.
Otak main dan tangan main, makanya cepat tangkap.
“Heh jangan bilang gitu nak!”
“Lah terus kalau papah sama mamah pulang, ya harusnya pulang dong!” jelasnya dengan muka bantal dan kusutnya, matanya sudah menghitam dan mempunyai kantung mata.
“Kamu pasti nggak tidur ini!” Bude mengalihkan perhatiannya, agar Anin tetap tidak satu perhatiannya saja kepada suaminya yang harusnya pulang. Kenapa ditunda jadwal pulangnya.
“Huh bude, aku itu kepingin mas Aksa bukan urusan ini ...”
“Nak, kalau Aksa tahu tentang ini ... apa yang terjadi? Bukannya suami mu suka cerewet ya kalau masalah kesehatan, dan gunanya buat memperkerjakan beberapa orang di rumah ini gunanya buat apa? Kalau kamu nggak diperhatiin,” ucap bude. Ia sudah geram, ya kalau terjadi apa-apa.
Bakalan gimana? Pasti laki-laki itu menyalahkan dan tidak semua laki-laki akan membenarkan jika perempuan selalu benar.
Bisa jadi dalam kondisi darurat, laki-laki bisa menyalahkan.
“Sudahlah bude, aku mau mandi dulu ... oh iya kita ke mall yuk bude! Udah lama nggak shoping, sekalian beli kue lebaran. Soalnya nggak sempet kalau buat,”
__ADS_1
“Iya itu buat kamu, bude sudah buat beberapa menu ...” balas Bude karena memang nggak suka dengan Anin yang hidupnya sekarang lebih praktis, apa-apa tinggal beli dan menyuruh.
Nggak enak lah kalau dipandang, seharusnya sih memang bude menyadari jika dirinya membutuhkan pembantu tapi selagi masih sehat bugar, kenapa nggak dikerjain sendiri.
Halah serba salah kalau dipandang kaya itu, mending hidup sederhana yang penting nyaman dan tenteram. Tidak ada sesuatu yang membuat rumah tangga seketika hancur berantakan, dan hidup bebas saja. Mau milih kaya, monggo tapi hisabnya di akhirat lebih banyak.
Menurut bude, kalau dalam hatinya.
“Bude tadi ngapain?” Anin menelisik karena ia sempat menunggu beberapa saat.
Bude menggeleng, “Nggak apa-apa. Kamu mandi dulu! Nanti bude temenin, oh iya udah beli baju couple nak?” tanya bude dan memberhentikan langkah Anin yang membawa handuk di pundaknya.
“Lah belum, terus gimana?”
“Iya itu, bude belum tahu soalnya pakde ngikut saja.”
“Huh kalau lebaran ya gini agak ribet,”
“Hm, iya ... oh iya bude lihat tadi di depan nggak ada siapa-siapa nak ... terus kemana orang-orang di rumah ini, biasanya ada muka datar plus dingin yang jaga.”
“Lagi siap-siap buat mudik, karena mas Aksa belikan mereka tiket buat pulang kampung gratis. Enak kan bude? Mending jadi pembantu aja kali ya, dapet tiket. Karena belum pernah yang namanya ngerasain mudik,” ucap Anin dengan bersedih.
Hahaha, benar juga lantaran beberapa kali ia mengalami kendala jika mau pergi liburan jauh.
Pasti harus pilih salah satunya, nggak ada yang nyempil satu.
Tap
Tap
Tap
Suara sepatu bergesekan dengan lantai dan deritan pintu membuat pandangan mereka teralihkan oleh seseorang yang memakai jas dengan langkah tegasnya.
Anin menampilkan senyumnya dengan berseri-seri, ia pun menghampiri laki-laki yang menggunakan jas itu dan laki-laki itu bingung. Harus bagaimana, jika istrinya ngambek bisa mode salah terus.
Senggol bacok tenan.
Anin memeluk suaminya, yang kini memenuhi janjinya memang niatnya tadi mau ngejutin tapi sepertinya gagal, ya sudah mending cari aman saja.
Aksa, laki-laki itu mengecup dahi istrinya dan Anin menjadi bersemu merah muda.
“Kenapa kok merah?”
“Lagi mau bahagia aja,” jawabnya singkat dan berlalu dari hadapan Aksa.
__ADS_1
Aksa menatap istrinya, kini ia meratapi nasib.
Hah, sebenarnya tadi memang nggak ada niatan buat bohong tapi lain kali jangan begitu ya mas! Siapa tahu nanti malam dapat hadiah, kan nggak ngerti kalau pulang memberi kabar dulu.
“Hahaha biasa nak! Kalau mode senggol bacok, kamu mending mandi sana! Nanti kamu ajak ke mall, tadi minta sama bude buat nemenin. Tapi, kebetulan kamu sudah pulang. Ya sudah, kamu sekalian saja ...” kata bude dengan menyentuh punggung ponakannya dan Aksa menyalami tangan budenya.
“Sabar kalau Anin begitu! Lagi hamil,”
“Hahaha iya bude, kalau gitu aku ke kamar. Nggak papa bude di sini?”
“Iya, nggak apa-apa. Bude juga mau ngecek makanan di kulkas, siapa tahu kosong. Nanti sekali belanja langsung jadi, nggak kebanyakan hari buat belanja.”
Aksa mengangguk, ia melangkah menuju ke kamarnya. Masalah membujuk, ia serahkan kepada yang terpandang saja. Ia tak tahu apa-apa setelah kejadian, jika membujuk keterusan.
Bude berjalan ke dapur, ia baru saja melangkah sudah ada suara bel dari depan rumah dan pembantu satunya yang masih stay di rumah itu membukakan pintu.
Setelah di luar berbincang, bude menunggu dan mengeryit ketika ada sebuah bingkisan parcel buat lebaran kali ini. Banyak amat sampai beberapa kardus itu, dan beberapa bunga dijadikan bingkisan.
“Wow, beneran ini? Weh, harus diabadikan buat ibu-ibu arisan ini mah,” Jiwa untuk memamerkan barang pun terlaksana. Bude sempat beberapa kali memotret beberapa gambar agar dijadikan bahan perhibahan para ibu-ibu.
Siaap kena mental terus pokoknya.
Bibi sempat tertawa di dalam hatinya Tapi cepat-cepat menaturalkan wajahnya kembali.
Ia tidak mau di pecat gara-gara jarang tersenyum, sekali senyum dicerca pertanyaan yang aneh lagi. Apalagi keluarga ini yang terkenal akan semuanya, memang sempurna.
Padahal nggak ada yang mau mecat dia, terlalu keheningan. Bude membuka satu parcel dan membola kalau matanya melihat banyak kue-kue lebaran yang harganya fantastik.
Ujungnya jadi tai, bukan jadi uang dan emas.
Jiwa emaknya kini meronta untuk mengambil, namun suara Anin mengingatkan untuk tidak mengambil bukan berhak dirinya.
Akh, jadi gimana. Bude mengode bibi agar bisa membereskan barang-barang parcel ini.
^^^Bersambung... ^^^
...Makasih buat kalian yang udah nunggu 🤣... ...
Ya udah see you next episode ya🤗...
Oke, selamat buat yang mudik dan bisa balek kampung, Hati-hati ya buat kalian. Semoga selamat sampai tujuan dan melihat senyum orang tua kalian ketika anaknya pulang ke kampung.
Hehehe, jaga kesehatan bentar lagi lebaran buat yang sakit, see semoga sembuh dan diberikan keberkahan buat umurnya.
Thanks buat kalian yang udah dukung sampai sini🤣!
__ADS_1