Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 49


__ADS_3

Anin memutari rak-rak yang berjejer itu, lalu ia akan ambil barangnya, dan pastinya dibayar hal yang terakhir. Mau belanja sekitar dua jam mungkin, dari tadi Aksa mengikuti dari belakang. Cuman beberapa saja yang dapat Aksa, dan Anin? Ia sudah mendapatkan banyak barang.


Terakhir kali belanja memang cuman pas mamahnya menyuruhnya sebelum Aksa menikah sepertinya, bisa dihitung sebenarnya.


“Pulangnya kapan ini?” Aksa lama-lama tidak betah, ia berdiri dari tadi sampai beberapa orang yang lewat menatap mereka berdua heran. Belanja apaan, orang kok nggak pulang-pulang. Mau maling yang ada, dicurigai seperti itu sama orang-orang.


“Iya sebentar napa!”


Anin yang melihat-lihat satu persatu barangnya, dan pada akhirnya ia memilih bagian belakang. Entah istimewanya apa? Kok barang sama-sama dijual, apa expired barangnya. Yang penting tanggal sama tahunnya beda gitu udah, sama-sama belajar dari sana.


“Berat ini lho, sebaiknya kita pulang. Terus nanti bibi biar belanja,” saran yang tidak tepat yang diucapkan Aksa, Anin menatapnya sinis dan kebanyakan ngeluh ini orang.


Minta digantung apa dilempar? Dasar! Orang kalau kerjaannya cuman megang berkas dan nggak bisa megang barang beginian, pastinya ngeluh tanpa memikirkan orang-orang yang dia suruh.


“Kebanyakan ngeluh, nanti malah ketambahan banyak waktu.” Balas Anin, ia tidak suka orang yang menggumam tanpa ada keterangan, dan pastinya Anin mendengarkan dengan baik.


“Ya udah, aku mau ke kasir dulu. Nanti bilang aja!”


“Lah iya, dari kapan aku ngomong kalau kau suruh ngikutin aku dari tadi?”


Kening Aksa berkerut, dan memikirkan perkataan Anin yang tadi bukan baru sekarang. Seharusnya ia tadi di mobil saja, ketimbang di sini. Berat-berat bawakan belanja barang istrinya yang nggak bisa dihitung jumlahnya.


Paling bisa capai limit jutaan kalau belanja.


“Iya aku ngaku, tapi kasian aku itu kalau lihat kamu capek bawa barangnya.” Sanggah Aksa dengan mendorong kereta belanjanya, awalnya keranjang tapi lama-lama jadi bejibun dan akhirnya beralih ke kereta biar bawaannya bisa mudah dibawa.


“Hm, alasan saja ... mau bantu awalnya sebaiknya ikhlas, jangan ngedumel kagak jelas!”


“Iya sudah lah, males aku ribut.” Pungkas Aksa dengan cepat, ia malas berdebat kali ini. Benar-benar lelah jika berantem, apalagi tempatnya nggak bisa dikondisikan untuk sepi. Jadinya agak mengganggu, pastinya nanti mereka beranggapan jika berdua pernikahannya kagak langgeng bakalan, sampai setengah perjalanan saja.


Amit-amit dah.


***

__ADS_1


Setelah selesai berbelanja, sekarang Anin dan Aksa menuju ke warung jalanan yang biasanya Anin dan Aksa langganan. Dari raut wajahnya saja sudah keliatan amat puas dan capek, Aksa sampai mendengus kesal karena istrinya adu mulut dengan orang yang rebutan barang yang akan dibeli Anin tadi, kebetulan barangnya habis stok tinggal satu, itu pun yang memenangkan ya kaum emak-emak.


“Capek?”


“Hm, iya lah. Kagak dapet barangnya, kamu sih ujungnya membela ibu tadi.” Kesal Anin dengan membesengut, dan Aksa ingin menjelaskan tapi terlambat lantaran pak sopir sudah memberhentikan mobilnya membuat Aksa bingung.


Ingin menjelaskan, takut nanti istrinya marah kepadanya.


“Mau keluar apa nggak ini?” tanya Anin dengan menampakkan wajahnya yang amat menunggu Aksa membukakan pintu mobil yang ada di sampingnya dan Aksa buru-buru membuka. Tidak baik untuk melamun, segera Aksa membantu Anin untuk keluar.


“Dari pagi kamu nggak sakit ‘kan, kok perasaan semenjak tadi pagi marah-marah terus. Apakah ada yang salah? Mas juga sudah beberapa kali menjelaskan, kalau tadi mas itu maunya kamu chek-up sebaiknya. Tetapi, kamu kekeuh ya sudah mas turuti. Dan ini kenapa mas yang dimarahi?” ungkap Aksa dengan wajah ingin tahunya, Anin hanya menatap datar dan tidak ingin mengalihkan pandangannya dari ia keluar mobil.


Terlalu kasian sama suami, kagak beruntung namanya! Orang suaminya kelewat ngeselinnya soalnya, tapi Anin benar-benar lelah sejak tadi pagi. Kurang cairan bukan membuat caranya bangkit untuk bertahan, ia tidak mau diinfus lagi ujungnya tangannya kebas dan tidak boleh digerakkan kemana-mana.


Apalagi dengan tingkat posesif suami, kalau istrinya sakit nggak diperbolehkan kemana-mana. Ya, yang ada depresi sendiri Anin. Dan mana Aksa kalau melayangkan tatapan tajam tak main-main, seperti silet yang mengenai tangan dan kaki.


“Iya-iya, nanti juga bakalan ketemu sama dokternya.” Lirih Anin, ia tidak ingin suaminya akan meledak begitu saja amarahnya ketika ia membantah di rumah sakit.


“Makan bakso enak kali, hm seterah lah ...” jawab Anin, karena ia malas berdebat cuman gara-gara makanan.


Anin menatap sekelilingnya, Aksa sedang memesan makanan. Ia di sini menunggu, sambil menunggu. Ia menangkap pemandangan Putri dengan Rifa'i di sana sedang makan, tapi kok tidak ada romantisnya.


Hm, emang romantis terus? Kan kadang orang lebih memilih diam, ketimbang memublikasikan romantisannya, enaknya diam daripada memublikasikan.


Anin bosan sendiri, ia menatap Aksa sedang mengobrol banyak dengan begitu berjalan kembali. Aksa tersenyum hangat, “Ada apa?” ia melihat Anin tadi menatapnya bosan.


“Nggak apa-apa, laper soalnya.”


“Sabar!”


Anin mengangguk, ia memainkan handphonenya sementara Aksa menatap handphone. Sama-sama sibuk dengan dunianya sendiri, “Ini berita apaan?” tanya Anin dengan menggumam, tapi terdengar oleh suaminya.


“Kenapa?” Aksa ikutan kepo, ia pun mendekati sambil meletakkan handphonenya dan mengambil alih handphone Anin.

__ADS_1


“Kamu punya masalah mas dengan orang lain?”


“Kok bisa?” kata Aksa dengan mata tajam dan menghunus, ia tidak pernah membuat masalah dengan orang yang terpampang di berita itu, kok bisa-bisa nya orang tersebut mencari masalah dengannya.


Anin mengerutkan keningnya, “Kamu ada apa mas?” tanyanya polos.


“Orang itu tepatnya mencari masalah dengan orang yang nggak tepat.” Desisnya tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan istrinya, Anin menaikkan salah satu sudut alisnya.


“Aish, se---,”


“Kamu nanti pulang pakai taksi aja ya! Aku mau urus dulu kantor, sepertinya ada masalah di kantor.” Pesan Aksa dengan memotong ucapan Anin dan Anin terkejut, ia membelalakkan matanya. Lah, Anin dengan dirinya ‘kan mau makan nggak enak dipotong dengan kegiatan yang lain, apalagi makan sendiri. Rasanya hampa bener, kagak enak di mulut.


“Kamu lebih memilih pekerjaan daripada aku yang di sini sendirian.” Sentak Anin.


Ia rasanya naik turun dadanya, semakin menyempit di kala Aksa sudah menjauh dan Aksa lebih memilih tidak peduli, Anin mengusap dadanya.


Lama-kelamaan ia pun mengepalkan tangannya kuat-kuat, “Dasar dunia pekerjaan emang berarti daripada dunia makanan.” Marahnya dan luruh juga air matanya sebab ia tidak bisa menahannya.


“Lah anjir si Aksa mah, gue mau makan cok! Dasar suami nggak peka, no debat pokoknya. Heh gini terus siapa yang mau bayar?” ucapnya dengan terisak, walaupun rahangnya mengetat tapi ia masih bisa berbicara.


Makanan pun datang akhirnya, tanpa menunggu lama, ia untuk memakannya karena sudah tidak tahan menahan emosi yang bergejolak di tubuhnya.


“Masa bodo! Kalau mau bayar ya ngomong aja orang tadi yang mesen, bukan gue! Gue ‘kan disuruh makan.”


Anin mulai satu persatu menghabiskan makanannya dan ia kenyang sendiri, tak jadi marah. Marahnya sudah mereda, kalau nanti ketemu Aksa biarkan saja. Marahnya terbayarkan oleh makanan sekarang, yang penting perut kenyang kagak jadi marah.


“Bukannya orang yang kemarin, yang pernah aku tabrak itu ya, nggak sengaja tapi.” Anin menyipit tatkala ada seorang laki-laki paruh baya yang sedang berjalan dan menemui pasangan yang pertama Anin lihat tadi, yang nggak ada romantisan. Kek datar amat hidupnya.


Bersambung....


Jangan lupa follow IG Din biar nggak ketinggalan Info, kalau mau minta folbek boleh DM Din.


@dindafitriani0911

__ADS_1


__ADS_2