
Anin dan Aksa sedang berada di rumah sakit, dua-duanya limbung pingsan. Karena Aksa juga sudah tidak kuat melihat istrinya lemas, dan pingsan. Karena itu, kata dokter tidak ada kendala apa-apa dan Bude, Pakde serta kedua orang tua Aksa ada di sana. Mereka dikabari oleh pihak rumah sakit, mendarat ke sana langsung. Mereka juga masih satu wilayah, karena sejak itu Aksa mengajak mereka berempat untuk berlibur ke sana.
“Hm, bisa-bisanya ya pak ... bu, aduh. Jadi gini rasanya kalau kepingin punya cucu,” ucap bude dengan kesenangan dan mamahnya Aksa sama, bahagia melihat menantjnya sedang mengandung cucunya.
Ah, benar. Jika dirinya tidak salah memilih menantu, sudah lah sekarang waktunya memberikan hadiah itu. Mamah dan papahnya Aksa sampai bela-belain untuk membuat acara agar bisa berjalan dengan baik di setiap beberapa bulan ini, sampai mendiamkan anak dan menantunya.
Memfitnah sampai lewat batas, katanya Aksa sih.
“Gimana dok?” tanya papah Aksa dengan menghampiri dokternya.
“Semuanya baik-baik saja, mungkin pak Aksa lagi kaget. Makanya lanjut tidur beliau, mungkin efek kelelahan, pak. Kalau bu Anin, sedang dalam masa kesadarannya karena efek obat yang diberikannya lewat suntikan tadi.” Papar dokter, dokter itu melenggang pergi dan papah serta mamah saling berpelukan, sampai mengundang sempurna di mata Pakde sama Bude.
Sementara ada seseorang yang mengepalkan tangannya, menggunakan masker itu dan tidak dikenali.
“Tunggu saja pembalasanku, kak!” ucap laki-laki paruh baya itu, dan laki-laki itu melangkah menjauh. Ia tidak berani untuk mendekati anaknya serta kakaknya lagi sedang bahagia itu, ia ingin sekali jika anaknya hamil akan di dekat ayahnya.
***
Aksa terbangun dari tidurnya, ia menatap sekelilingnya. Baunya menyerbak obat-obatan, dan ini dinding rumah sakit. Dia di rumah sakit?
Benar, ada tanda dari lambang rumah sakit.
“Tapi, siapa yang bawa aku ke rumah sakit?” batinnya dengan menyibakkan selimut rumah sakit, dirinya sakit? Astaga dasar keterlaluan tuh rumah sakitnya.
Apa kebanyakan gaya? Dia juga nggak mau investasi ke rumah sakit.
“Gimana keadaannya pak?” suara yang mengejutkan bagi Aksa, ia berjengkit kaget, menatap horor kepada dokternya dan dokter itu cengengesan.
“Huh dasar, iya nggak papa. Hm, istri saya di mana, dok?”
“Istri bapak ada di ruang sebelah, pak. Hm, sama-sama tepar.”
Aksa memandang tajam ke arah dokternya, dokter itu memeriksa keadaan Aksa. Aksa beranjak bangun dari ranjang, dan ia berdiri. Berjalan ke kamar samping, ia melihat pakde serta orang tuanya ada di sana.
“Assalamua’alaikum mah, pah, pakde dan bude. Istriku sudah sadar?”
“Belum nak, sini duduk! Kamu nggak apa-apa ‘kan?”
Aksa mengggeleng dan menatap istrinya, mengecup kening istrinya.
“Cepat sembuh sayang, kamu tuh kalau sakit jangan bikin orang bingung.” Ucapnya dengan ngedusel ke dada istrinya. Anin yang tersadar degan apa yang dilakukan oleh suaminya itu pun tersadar, dan mengerjapkan matanya.
__ADS_1
“Hm, aduh ...”
“Kenapa sayang? Ada yang sakit ‘kah? Jangan duduk dulu!”
Anin menurut, dirinya tidak jadi duduk dan menatap satu persatu orang di sana. Dan tatapannya beralih kepada budenya, ia pun ingin memeluk bude dan bude mengerti kode tersebut. Aksa minggir dahulu, menepi dan memberikan jalan untuk bude.
“Sakit bude, ingin muntah lagi.”
“Aksa, kamu panggil dokter dulu!”
“Iya, bude. Aksa pergi dulu, jaga Anin dulu.” Aksa pun pergi dari ruangan Anin, memanggil dokter. Ia saja tidak tahu nama dari dokter itu, akhirnya ditemani oleh papahnya dan mamahnya ikut mendekat.
“Sayang, allhamdulillah mamah sebentar lagi punya cucu lho. Makasih ya, sayang ... mamah akan lebih sering ke sana nanti,” celetuk mamahnya dengan mengusap lembut perut rata dari Anin dan Anin terdiam, memasukkan kata-kata mamah mertua.
Beneran? Terus kalau dia belum siap, bagaimana?
“Beneran bude? Apa aku nanti akan jadi ibu?”
Bude menganggukkan kepala dan memastikan ponakannya itu bisa menegerti.
Aksa yang baru saja masuk ke dalam ruangan terbeku, papahnya menyentuh bahunya dan dia agak kaget dengan berita ini. Apakah Tuhan memberikan kepercayaan dirinya untuk menjadi seorang ayah, mimpinya telah dikabulkan oleh Allah. Setiap malam jika pulang ia ingin melihat kebahagian yang menyelimuti Aksa yaitu dengan melihat anaknya dan istrinya lelahnya capek dan reda, jika weakend bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya yang ia bangun.
“Selamat pak, bu ...” lirih dokter itu dengan menahan tangisannya agar tidak keluar, benar-benar menyiksa batinnya jika sedang di ruang operasi kadang, mendengarkan suara tangisan bayi, dia harus profesional karena pekerjaannya.
“Silakan dok, periksa dulu!” pinta bude, dokter itu pun memeriksa keadaan Anin.
“Allhamdulilah, keadaannya ke depan sudah membaik. Jika nanti ada perubahan, sore ini akan dibawa pulang juga boleh.” Jelas dokter dan dokter itu membenarkan selang infus, dokter mengucapkan permisi, lalu pergi dari ruangan Anin dirawat.
“Eum, kita keluar dulu ya. Cari angin, mau makan di kantin.” Ucap mamah dengan mengode orang tiga itu, dan mereka berempat keluar. Aksa menatap Anin, ia masalah beginian emang rada gimana gitu? Kagak enakkan.
“Mas, apa kita sudah dipercayakan untuk menjadi orang tua?” tanya Anin tanpa mengidakan pandangannya, dan menatap dinding langit rumah sakit.
“Bukan begitu, kita sudah dipercayakan untuk menjadi orang tua, Nin.”
“Iya, tapi aku belum siap saja.”
“Bayang-bayang di masa lalu, cukup menjadi pelajaran saja nin! Kita percayakan semuanya pada Allah, nggak baik kita menolak rezeki. Cukup kita terima, dan kita rawat anak tersebut.” Beber Aksa dengan memberikan ilmu, dan Anin menganggap semua itu tidak baik-baik saja, ia masih ada dalam fase bayangan itu.
“Nikah ya salah satunya kita memperbaiki keturunan dan menjalankan hidup untuk membimbing anak dan cucu kita nanti, nggak papa ... kita harus buktikan kalau punya anak banyak. Biar nambah rezeki kita,” Anin melotot. Emangnya enak gitu hamil? Coba saja dibalik ke para kaum adam. Biar ngerasain gimana sih rasanya hamil? Sanggup nggak, enak-enaknya ngomong punya anak banyak nambah rezeki.
Palingan ujungnya nanti ngeluh, ah sudah menjadi kodratnya seorang perempuan untuk menghasilkan dan laki-laki yang buat.
__ADS_1
“Eh, kamu mau makan?”
“Enggak usah, nggak enak ujung-ujungnya. Aku mau tidur saja dulu, nanti bangunin ya.” Ucap Anin dengan membalikkan badannya, dan Aksa ikut terbaring di sana.
Melingkarkan tubuhnya, dan mengecup kening Anin.
“Makasih,” Aksa mengelus perut Anin, dan mengecup perut yang sudah dilapisi oleh lain baju itu, mengusap-usapnya.
Mungkin yang ada di dalam perut ikut bahagia, Anin masih matanya terbuka lebar.
“Kangen mas,”
Apa maksudnya?
Aksa tersenyum smirk, “Ngunjungin boleh kali ya?” pikirnya.
Ia pun beranjak dari ranjang, dan mengunci pintu ruangan Anin dengan rapat tanpa ada celah. Si yang di dalam pun kangen belaian dan kemarin juga tertunda untuk menyalurkan hasratnya, gara-gara pekerjaannya yang menumpuk jadi sekretarisnya itu menyuruhnya untuk ke perusahaan cabang, dirinya saja sekarang belum pulang ke rumah.
Aksa menunggu itu dari kemarin, ya sudah sekarang mulai gempur.
“Heh, mau ngapain? Aku bilangnya cuman kangen wangi kamu, sama dekat sama kamu. Bukan itu, malu lah mas. Ada banyak orang, jangan ngelakuin di sini!” larang Anin, Anin sungguh malu jika ada di sini. Kebanyakan emang si suami nonton film-film sih, pingin ia potong tuh daripada si suami rasanya tersiksa.
“Lah? Kok--.” ucapan Aksa terpotong.
“Nanti malam!” jawabnya dengan senyum menggoda kepada suaminya, Aksa melipat bibirnya dan menghela napas, sial emang.
Ia pikir, mau begituan.
Pening rasanya dari kemarin, eh malah ditunda nanti malam.
Nanti malam ada halangan lagi, bener-bener ke siksa dirinya sekarang.
Bersambung...
Bikin kesiksa ya mas:)
Ulu-ulu, maafkan aku bikin pikiran kalian ngelayang kemana-mana 😅😜... Hahaha iya, jangan lupa!
LIKEMEN
Oke, thanks.
__ADS_1