
Adanya tadi, membuat Aksa lebih berpikir secara dewasa lagi. Seharian ini memang capek mengurus kerjaan dan sepertinya ia butuh istirahat nanti malam.
Apalagi nanti malam ia menunggu sidang isbat, dan sebentar lagi menyambut bulan puasa yang satu tahun dikerjakan selama bulan Ramadhan dan itu dikerjakan selama 30 hari.
Mumpung lagi ada umur yang diberkahi buat melakukan ya, harus dikerjakan.
Ia menatap jam dinding, masih jam empat sore dan dari tadi adzan sudah berkumandang yang ada di dekat rumah Aksa. Memang jaraknya tidak jauh, tapi tetap saja terdengar dengan jelas.
Karena rumah ini tidak dilengkapi sistem peredam suara di ruang-ruang tertentu. Aksa yang memilih ruang-ruang yang lebih dijangkau untuk pendengaran yang cukup.
***
Aksa membuat teh hangat di dapur, ia mengaduk gula agar tercampur dengan air teh yang masih pahit.
Sementara waktu yang kosong, ia ke dapur melihat makanan. Maksudnya mengecek makanan sambil menanyakan soal harga-harga.
Aksa mendudukkan dirinya, sambil melamun panjang dengan begitu suara langkah Anin yang menggema di setiap sudut lantai alias Anin kek memakai hak tinggi.
"Mau kemana kamu?" pertanyaan itu membuat Anin berbalik tubuhnya, lantas menatap Aksa.
Anin hanya menggeleng sebagai jawaban. Anin menghela napasnya sebentar, ia memikirkan kejadian tadi dan Aksa hanya melirik tanpa bertanya, ada apakah gerangan? Kok sama-sama diam tanpa ingin membuka suaranya.
"Nggak ngapa-ngapa, oh iya nanti malam 'kan mau ini apa ... tarawih. Jadi, ehm ... aku mau belanja gitu lho," jelasnya dengan agak berbelit-belit.
"Ehm, mas ... nanti ke makamnya ibu ya," Anin spontan ingin melakukan ziarah ke makam ibunya, dan biasanya kalau mau mendekati puasa ramadhan pastinya banyak orang yang melakukan ziarah ke sanak saudara, ataupun ke makam orang tuanya.
“Hm, iya ... sekalian mampir ke rumah bude sama pakde, belanjain barang-barang yang buat puasa, stok ke depan..” ucap Aksa dan Anin mengangguk.
“Iya, kamu ganti baju dulu gih ...” perintah Anin dengan menyuruh Aksa untuk berganti baju dan celana.
Meskipun tadi sempat marah, tapi Anin tidak mempermasalahkan dan Aksa hanya terkejut saja. Toh, marahnya nggak lama karena besok sudah puasa.
Aksa mengeryit, “Ini juga masih jam berapa ...” herannya dan Anin melotot tajam.
“Kalau kesorean nanti malah ramai, nggak ada alesan sekarang atau nanti ... oke, kalau nggak mau juga nggak papa, nanti aku nggak bakal pulang ke sini lagi kalau kamu nggak ikut ke sana. Suami macam apa--,”
Aksa pun memotong ucapan istrinya, ia tidak mau bahasa kalbu istrinya langsung ditukik tajam, seperti menghantui pikirannya jika ia tidak bisa tarawih bersama-sama istrinya atau paginya tidak ada yang membangunkan dirinya.
__ADS_1
Aksa langsung memeluk istrinya dan mengecup pipi istrinya, “Iya maaf ... ngapain pula aku nggak ikut, nanti dinamai menantu kurang ajar lagi sama pakde dan bude, ditendang nanti baru tahu rasanya.” Ujar Aksa, ia tidak mau berurusan dengan istrinya. Malah tambah parah nantinya.
“Oke kalau gitu, ya nurutlah.” Sentak istrinya, membuat Aksa menatap tidak percaya jika istrinya yang berani menyentak dirinya.
Awas kalau nanti dia balas dendam, eh maksudnya kalau Aksa yang marah pasti Anin yang kelimpungan sendiri, karena melebihi anak kecil kalau marah.
“Iya-iya,”
Aksa pun berjalan ke kamarnya dan Anin tersenyum senang, bisa menyuruh suaminya hal yang menarik sekarang. Lantaran di dalam perut rasanya berbunga-bunga gitu, nggak tahu kenapa.
Apa mungkin efek calon bayinya yang menyuruh bapaknya supaya disiplin dalam waktu. Padahal Anin sendiri yang bisa molor beberapa jam, kalau suaminya emang kudu rada teratur.
Ya, namanya bos kalau nggak teratur hidupnya mana mungkin bisa sesukses sekarang.
“Heh, nak ... nanti kalau udah besar, suruh saja bapakmu itu gantung diri ya nanti ...” canda Anin dengan terkekeh, mengelus perutnya dengan pelan.
***
Setelah semuanya bersiap, Aksa sedang mencari kunci mobil. Entah terselip dimana, biasanya ia tidak memegang tapi karena kemarin lupa untuk mengasihkan kepada sopirnya terus sekarang hilang entah kemana.
“Cepetan mas, keburu habis semua dah lah ...” decak Anin, ia menunggu sambil mendumal tidak jelas, sudah beberapa menit menunggu tapi tidak ada hasil sampai menyusahkan pengawal Aksa yang mencarinya.
“Pak-pak ...” panggil pengawalnya, mungkin ‘kah menemukan kunci mobilnya. Aksa pun berjalan ke sumber dimana ia dipanggil, dan pengawal itu lantas memberikan kunci mobil yang telah ditemukan.
“Ini beneran?”
“Iya lah, masa nggak beneran pak ... sana cepetan keburu ibu marah lagi nanti,” ucap pengawalnya berkat Anin yang marah-marah, pastinya satu rumah kena semua.
“Oke, nanti kamu minta gaji dua kali lipat sama ketua pengawal ya, apa nggak asisten syaa nanti yang akan mengurusnya.” Kata Aksa, karena itu sebagai imbal balik makanya Aksa memberikan sedikit gaji tapi bermanfaat juga.
“Iya Pak makasih,”
Aksa mengangguk, dan Aksa buru-buru ia keluar dari rumah. Semuanya gara-gara istrinya ini, terlambat sudah untuk pergi ke pasar. Tapi, ia masih ada uang jika untuk belanja ke supermarket.
Masalah uang gampang, tapi mau nggaknya istrinya ini.
Aksa menghela napas ketika melihat Anin yang bergoler di atas tanah yang beralas sandal jepitnya, sukanya emang begitu. Sudah menjadi kebiasaan istrinya, Aksa menghampirinya dengan menyugarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
__ADS_1
***
Sementara di rumah keluarga Dalbert Johnson, sepertinya ada agenda berkumpul untuk malam ini. Ya, Revino dengan istrinya sekarang lagi ada di dapur dan anaknya sedang membantu bersih-bersih rumah.
Anaknya awalnya menolak mentah-mentah, sebab tidak pernah yang namanya disuruh bersih-bersih di rumah yang sebesar ini, semuanya dikerjakan oleh pembantu yang sudah direkomendasikan oleh pihak yang terkait.
“Pah, ini mau dipindah kemana?” anaknya bertanya dengan teriak, sedangkan menantunya hanya menahan tawanya karena istrinya ditempeli kecoa di punggungnya.
Memang istri lagi keringetan sebiji jagung itu lagi membasahi tanah eh malah suaminya cekikikan di dalam hatinya, lagi jahil arti kata.
Mereka sekarang lagi membersihkan kandang, entah kadang apaan. Kotor sekali, tidak pernah dibersihkan berapa tahun memangnya, begitu tadi ada sempat tolak menolak dari mamah anak Revino ini, tapi Revino tetap menyuruh.
Semuanya harus beres, walaupun dibantu tapi cuman beberapa bagian saja.
Suaminya hanya menatap heran, dan kecoa tadi sempat berpindah arahnya entah terbang kemana. Sekarang ia lega, dan mengerjakan pekerjaan semuanya yang belum dirampungkan.
“Hih, seharusnya tadi tidak jadi ke sini nggak apa-apa. Lah, giliran ke sini, kok malah suruh bersihkan ini lagi. Aduh, pusing aku tuh ... benar-benar papah nggak kayak dulu lagi, sekarang maunya nyuruh ... sementara aku ini anaknya bukan pembantu dong sini.” Sebenarnya masih diperintah hari ini, tapi nggak terimanya selama berhari-hari.
Katanya nanti kukunya lecet lah, kasar telapak tangannya harus membiayai dan mengeluarkan uang jutaan buat merawat tangan, kaki semuanya lah. Seluruh tubuhnya pasti dirawat dengan baik, setiap satu minggu harus absen spa ke klinik yang sudah menjadi bagian dari anak Revino ini.
Revino yang ada di dalam cuman mendiamkan istrinya yang membuat kue kesukaannya, sempat nya ia membantu dan ia masih terfokus kan dengan yang di layar, pencarian anaknya dan cara untuk bisa bertemu anaknya. Sebab, ia sudah membongkarnya dihadapan anak menantunya itu.
Sekarang sudah hancur semua yang ia pikirkan matang-matang, semuanya gagal dan harus bangun, bangkit kembali. Memikirkan cara, supaya bisa mengukuhkan hati anaknya untuk mempercayai dirinya sebagai ayah kandungnya.
Hebat sekali jika ia harus mengetuk hati anaknya, untuk menerima ia sebagai ayahnya.
Sedangkan dari kecil sampai dari perut, ia tidak pernah memandang perkembangan ataupun pertumbuhan anak kandungnya sendiri, ayah macam apa dirinya ini. Rasa salah tetap menyelimuti hatinya.
Ia lantas membuka handphonenya, dan menyuruh anak buahnya untuk mencari informasi dimana istrinya dikebumikan dulu. Ia ingin berziarah nanti sore mumpung lagi libur kerja, sebab nanti malam sudah memasuki bulan Ramadhan.
Kemarin, ia melihat simpang siur anatar bulan Ramadhan kali ini, katanya pemerintah mau mengadakan agenda sidang isbatnya kemarin malam dan hasil keputusan bulatnya, esok hari dilakukannya puasa ramadhan.
Makanya, ia tadi sempat rapat dengan petinggi yang ada di kantor, jika hari puasa akan jam kerja disingkat dan pulang jam sore, akhirnya semua sepakat.
Dan Revino pulang ke rumah dengan membawa berkas-berkas yang belum ia selesaikan.
Bersambung....
__ADS_1
Maaf kalau nggak up selama ini, dan ide buntu semua 🙂. Jadi, nggak bisa namatin cerita ini bulan ini mungkin bisa dibantu dukungannya ya biar lebih giat lagi buat up😄.
Hehehe sekian, see you next episode.