
"Papah.." panggil Arvin sambil menangis, terlihat jelas kalau mata nya sembab, pasti selama berada di ruangan bersalin menemani istrinya, Arvin terus menangis.
"Iya, Nak. Bagaimana keadaan Melisa?"
"Dia masih belum sadarkan diri, Pah." Jawab Arvin, air mata nya kembali luruh. Meskipun dokter menyatakan kalau wanita itu sudah melewati masa kritis nya, dan sekarang keadaan nya sudah cukup baik. Tapi, kata dokter efek obat nya belum sepenuhnya hilang, jadi dia belum bisa bangun.
"Tak apa, kalau dia sudah melewati masa kritis nya, berarti istrimu baik-baik saja Nak."
"Arvin takut, pah."
"Percayalah, Melisa akan baik-baik saja, sayang." Arvin memeluk Darren, dia menumpahkan tangis nya di pelukan sang papah. Darren mengusap punggung Arvin, melihat putra nya sedang rapuh membuat nya tak tega.
"Kuatlah, Arvin. Kamu laki-laki, seorang suami dan ayah. Pundak mu harus sekuat baja, karena mereka akan membutuhkan pundak mu untuk bersandar." Ucap Darren.
"Tapi, aku tak tega melihat Melisa begini." Jawab pria itu, dia masih menangis sesenggukan. Darren tersenyum lalu mengusap kepala putra nya dengan lembut.
Jo yang sedari tadi melihat interaksi antara ayah dan anak itu pun tersenyum, dia senang melihat kedua nya akhirnya bisa berdamai. Dalam hati, dia juga mendoakan agar Melisa baik-baik saja. Dia wanita berhati baik, hanya saja hidup nya kurang beruntung. Sudah punya orang tua yang egois, di tambah malah punya suami kayak penjajah. Tapi, untunglah sekarang dia memiliki Arvin. Pria yang akan menjaga nya seumur hidup.
"Tuan, anda ingin makan sesuatu? Saya lihat dari tadi siang anda belum makan." Tanya Jo, ini sudah hampir malam tapi Arvin belum makan apapun. Hanya sarapan buatan Melisa tadi pagi sebelum mereka berangkat ke makam Melati.
"Tidak, Jo. Aku tidak ingin makan sebelum istriku bangun."
"Jangan begitu, Arvin. Melisa pasti marah kalau kamu begini, ingat ada anak mu yang menunggu. Makan ya? Atau kamu mau di marahin sama istri kamu?" Tanya Darren.
"Ya sudah, aku mau makan sesuatu yang berkuah, Jo."
"Soto daging?" Tawar Jo, dia tahu benar kalau Arvin menyukai soto daging.
"Hmm, ya baiklah. Dua porsi, untuk jaga-jaga seandainya istriku bangun." Jawab pria itu, Jo tersenyum semringah lalu pergi dengan cepat untuk mencari soto daging.
Arvin duduk di ruang tunggu bersama sang ayah, terlihat jelas kalau Arvin tengah kelelahan saat ini. Mata nya yang sembab dan terdapat lingkaran hitam di bawah mata nya.
Beberapa hari ini, Arvin memang sering begadang karena pekerjaan. Belum lagi istrinya yang seringkali terbangun di malam hari, meskipun mengatakan tidak apa-apa, tapi tidak bohong kalau itu agak sedikit mengganggu, tapi tidak masalah karena dia lah yang sudah membuat Melisa hamil.
"Kamu lelah? Tidurlah, nanti papah bangunkan kalau Melisa sudah siuman."
"Hmmm iya, aku sangat lelah, pah." Jawab Arvin lirih. Dia pun bersandar di bahu sang ayah dan tak membutuhkan waktu lama, dia pun tertidur pulas sambil duduk.
Darren tersenyum kecil, Arvin benar-benar mirip seperti dirinya sewaktu masih muda dulu. Beda nya, Arvin masih memiliki dirinya sebagai tempat bersandar di kala lelah seperti ini, sedangkan dirinya hanya sendirian karena orang tua nya tidak mau memberikan nya restu atas pernikahan nya dengan Melati.
__ADS_1
Sama seperti dirinya yang awalnya tidak memberikan restu sama sekali saat Arvin mengatakan kalau dia akan menikahi Melisa yang berstatus janda tanpa anak. Tapi, cinta tidak menilai itu. Dia mencintai Melisa dan memperjuangkan apa yang membuat dirinya bahagia.
Tapi, saat mendengar ucapan Dara dan Richard, hati nya seketika luluh. Di usia nya yang tak lagi muda sekarang, dia pasti akan membutuhkan anak nya. Dan benar saja, saat dia sakit ada Melisa yang merawat nya, wanita itu juga membuat hubungan nya dengan sang putra membaik. Benar, jangan menilai orang berdasarkan status nya, tapi lihat dari hati nya. Mungkin kebaikan itulah yang di lihat Arvin.
Pagi pun menyapa dengan cahaya cerah matahari yang mengintip dari celah gordeng, Melisa terbangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan, dia sendirian disini, tak ada siapapun.
"Arvin, kamu dimana?"
"Sayang? Kamu gak mungkin ninggalin aku sendirian kan, Arvin?"
"Aku disini, sayang. Aku tak meninggalkan mu, aku disini bersamamu." Ucap Arvin, dia tersenyum senang saat melihat istrinya sudah siuman. Pria tampan itu mendekat dan langsung mengecup singkat kening sang istri dengan lembut.
"Kamu dari mana aja?"
"Aku di luar sama papah, sayang. Soalnya, kata dokter kamu belum boleh di tengokin. Jadi aku sama papah, Jo juga, tidur di luar."
"Tidur diluar, sayang?" Tanya Melisa, Arvin mengangguk sambil mengusap puncak kepala sang istri.
"Iya, sayang."
"Papah juga, Om Jo?"
"Maafin aku, sayang."
"Lho kok minta maaf? Aku gapapa kok, papah juga."
"Tapi gara-gara aku, kalian harus tidur di luar, mana sambil duduk lagi."
"Tidak apa-apa, itu semua tidak sebanding dengan perjuangan kamu, sayang. Terimakasih sudah melahirkan anak kita dengan baik dan selamat, aku mencintaimu, Melisa ku."
"Tidak perlu berterimakasih, sayang. Aku juga lebih mencintaimu." Jawab Melisa, Arvin pun memeluk wanita kesayangan nya.
"Ehemm.." Suara deheman yang membuat pelukan kedua insan itu terlepas seketika.
"Papah.." Arvin cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.
"Sudah lebih membaik, sayang? Ada yang sakit?" Tanya Darren.
"Hanya itu saja, Pah. Ngilu, hehe." Jawab Melisa.
__ADS_1
"Iya, karena jahitan nya belum kering." Arvin mengelus kepala istrinya, dia tak bisa membayangkan bagaimana sakit nya di jahit hidup-hidup apalagi di bagian vital. Pasti sangat menyakitkan, meskipun memakai obat penahan rasa sakit, tetap saja rasanya sangat sakit setelah efek obat nya habis.
"Kamu harus banyak beristirahat, karena itu papah mau nyewa Nanny buat jagain cucu papah. Biar kamu gak kecapean." Ucap Darren.
"Tapi pah.."
"Papah benar, sayang. Kamu gak boleh kecapean, dulu kamu bisa mengurus semua nya, tapi sekarang tidak. Karena kamu adalah istriku, jadi sebisa mungkin aku akan memanjakan mu, sayang."
"Kalau terlalu di manjakan, nanti aku nya gak tau diri, sayang."
"Tidak apa-apa, aku suami mu. Apapun yang kamu mau, akan aku berikan." Jawab Arvin sambil tersenyum. Melisa menatap suami dan ayah mertua nya, dia sangat bersyukur karena sekarang dia memiliki orang-orang yang menyayangi nya.
Arvin adalah sosok pria yang penyayang, dia juga penyabar, selain tampan dia juga sangat baik hati dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan status nya. Darren pun seperti itu, meskipun awalnya dia takut dengan pria itu karena melihat wajah nya yang sedikit menyeramkan, tapi setelah mengenal nya lebih jauh, dia juga sosok pria yang sangat baik.
Dia benar-benar bersyukur karena bertemu dengan Arvin dan Darren, dia sangat bahagia berada di samping orang-orang yang menyayangi nya. Sungguh, demi apapun dia sangat bersyukur sekali.
"Permisi, Nona Melisa?" Seorang perawat datang dengan membawa troly bayi.
"Iya, saya sus."
"Ini, adek bayi nya ingin menyusu. Di berikan ASI atau susu formula?" Tanya perawat itu.
"ASI saja, sus." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Baiklah, Nona." Perawat itu pun membantu Melisa untuk mencoba menyusui bayi kecil nya. Bayi laki-laki dengan berat 3 kilogram itu nampak anteng menyusu di dada ibu nya.
Arvin mendelik ke arah Darren dan Jo, dia pun menghalangi istrinya yang tengah menyusui tanpa sadar kalau ada sosok pria lain di ruangan ini.
"Lho sayang?"
"Diamlah, takkan aku biarkan aset berharga ku di lihat orang lain." Jawab Arvin yang membuat kedua pria itu kompak menggaruk tengkuk mereka, lalu pergi dari ruangan dengan cepat.
- TAMAT-
......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Selamat, anda kena prank😂😂
__ADS_1