
Keesokan hari nya, semua berjalan seperti biasa. Setelah Dion pergi dari rumah untuk bekerja, Arvin akan masuk ke rumah Melisa dan bermanja-manja dengan nya. Saat ini juga, Arvin tengah berbaring di pangkuan Melisa. Tangan lembut wanita itu memijat pelan kepala Arvin, membuat pria itu merasa nyaman.
"Enak, sayang?"
"Iya, sedikit kuat di bagian ini, yang. Sakit banget."
"Kok bisa sakit sih, kenapa?" Tanya Melisa lirih, sambil terus memijat kepala Arvin.
"Gak tahu nih, kurang vitamin deh kayak nya."
"Beli dong, di dokter kan banyak vitamin nya. Jangan mikirin tentang skincare aku mulu, kesehatan kamu lebih penting, yang." Celoteh Melisa, membuat Arvin gemas dan mencapit bibir Melisa yang masih asik bicara kesana kemari. Padahal, yang Arvin maksud sebagai vitamin itu bukanlah vitamin berbentuk pil, obat atau yang lain nya.
"Bukan vitamin itu, sayang."
"Lalu, vitamin apa?" Tanya Melisa polos.
"Vitamin enak dari bawah sini." Jawab Arvin sambil menduselkan wajah nya di area sensitif Melisa, membuat wanita itu mendengus. Harus nya dia tahu kalau pria ini sangat mesuum. Bahkan tingkat kemesuuman pria ini sudah berada di tahap mengkhawatirkan.
"Isshh, mesuuum!" Rajuk Melisa.
"Ya kan aku mesuum cuma sama kamu doang, yang. Kayak kamu gak tau aja aku tuh mesuum udah bawaan dari lahir." Jawab Arvin membuat Melisa memutar mata nya jengah. Kok ada ya manusia semesum Arvin? Tapi sialnya, dia malah menyukai pria itu. Apapun yang di lakukan nya, selalu membuat hati nya menghangat.
"Modus kamu tuh, pake bilang ke kurangan vitamin segala. Ngomong aja pengen jatah, gitu aja kok ribet."
"Yaudah, aku mau jatah ku, sayang." Ucap Arvin sambil tersenyum misterius.
"Tapi aku nya capek, besok aja ya? Kamu mah kalo kesini pasti ujung-ujung nya minta jatah deh."
"Tapi, kamu kan suka, sayang."
"Iya, aku memang suka. Tapi, gak setiap hari juga dong. Aku merasa badan aku gak enak sekarang ini, mungkin sebentar lagi aku bakalan kedatangan tamu bulanan." Jawab Melisa membuat Arvin langsung bangkit dari rebahan nya.
"A-apa? Maksud kamu menstruasi?" Tanya Arvin. Melisa menganggukan kepala nya, sedangkan wajah Arvin berubah sendu.
"Berarti, kalo kamu datang bulan aku gak bakalan dapet jatah dong ya? Satu mingguan?" Tanya Arvin, lagi-lagi Melisa menganggukan kepala nya. Terlihat, Arvin langsung lemas seketika saat melihat anggukan kepala Melisa.
"Ihh sayang!" Rengek Arvin dengan manja, sambil memegang lengan Melisa.
__ADS_1
"Kenapa sih?"
"Harus nya, mumpung sebelum kamu kedatangan tamu, kita harus puas-puasin main nya. Setelah itu baru puasa nya anteng."
"Alah, modus kamu tuh ya. Setiap hari gak pernah absen minta jatah, nakal." Ucap Melisa sambil mencubit manja hidung mancung Arvin.
"Ayang.."
"Iya, ayo mau dimana?" Pasrah Melisa, membuat wajah Arvin berbinar.
"Di kamar depan lagi aja, yang."
"Gak ahh, berabe nanti kalo Mas Dion tiba-tiba pulang. Kemarin sih masih untung soalnya main nya udah selesai, nah kalo lagi nanggung gimana, hmmm? Aku gak mau ya, lagi enak-enak nya malah keciduk kan gak lucu." Ketus Melisa, membuat Arvin menyipitkan mata nya.
Entah kenapa, dia suka saat melihat wanita ini banyak omong seperti ini, ocehan nya terdengar indah bagi Arvin yang sedang di landa penyakit cinta.
"Yaudah, ayo di rumah aku aja."
"Hmm, iya deh. Kamu duluan aja, aku kunci pintu dulu." Arvin pun mengangguk dan pulang ke rumah nya lebih dulu. Namun, bertepatan saat Arvin sampai di rumah nya, Dion datang dengan wajah super duper kusut nya. Tentu saja hal itu membuat Melisa urung untuk pergi ke rumah selingkuhan nya karena keburu suami sah nya pulang.
Arvin juga mengetahui hal itu karena suara kenalpot motor Dion cukup bising, jadi dia juga tahu kalau pria itu pulang. Dia menggerutu kesal karena gagal untuk bermain dengan kekasih nya. Tapi, ada untung nya juga karena dia sudah berada di rumah. Coba saja kalau tadi dia masih berada di rumah Melisa, ketahuan sudah perselingkuhan mereka.
Sedangkan di rumah, Melisa keheranan melihat ekspresi wajah suami nya. Dengan hati yang di penuhi pertanyaan, dia pun mendekati suami nya.
"Kenapa pulang jam segini, Mas?"
"Capek, memang nya kenapa? Aku mau pulang atau enggak, itu kan hak aku!" Sewot Dion membuat Melisa cukup terhenyak dengan jawaban yang di berikan oleh suami nya.
"Oh." Jawab Melisa singkat, lalu pergi ke belakang untuk membuat kopi. Meskipun dia ngedumel, tapi dia tetap melayani suami nya sebaik mungkin agar dia tak merasa curiga kalau dirinya ada main di luar sana.
"Ckkk, nyebelin. Padahal, jawab nya biasa aja kali. Ngegas aja kayak motor, rem nya blong kecebur got baru tahu rasa." Omel Melisa sambil menghangatkan air. Lalu menyeduh kopi nya.
Melisa membawa nya ke ruang tamu, namun suami nya tak ada disana. Melisa pun keluar dan menemukan suami nya tengah duduk di kursi yang ada di teras sambil merokok. Di seberang rumah, dia juga melihat Arvin yang baru selesai mandi sedang menjemur handuk di rak khusus.
"Eehh, Vin. Kesini ngopi bareng." Ajak Dion, membuat tubuh Melisa menegang seketika. Dia berharap kalau Arvin menolak ajakan Dion, tapi nyata nya Arvin malah mengiyakan.
Melisa menggelengkan kepala nya, saat melihat Arvin malah duduk santai di depan suami nya. Suami versus selingkuhan sedang berkumpul, bagaimana kalau seandainya mereka tahu kalau mereka adalah saingan ya? Seperti nya akan seru.
__ADS_1
"Heh, buatin kopi buat Arvin."
"Iya, Mas." Jawab Melisa, wanita itu pun pergi dari teras ke dalam rumah. Dia kembali memanaskan air, namun tiba-tiba sepasang tangan melingkar ketat di perut nya.
Melisa menoleh, betapa terkejut nya dia saat melihat kalau Arvin lah yang tengah memeluk nya. Melisa meronta, dia berusaha melepaskan pelukan Arvin, namun tenaga nya jelas kalah jauh dari tenaga Arvin.
"Sayang, kamu ngapain sih? Nekat banget!"
"Ngapain? Aku nagih jatah aku, sayang." Jawab Arvin sedikit berbisik di telinga Melisa, bahkan dia mengecup basah leher wanita itu.
"Arvin, jangan gila. Di luar sana ada suami aku, kamu gak mungkin bakal ngelakuin itu kan? Jangan konyol."
"Siapa yang konyol hmm? Aku cuma mau jatah aku, itu saja sayang." Jawab Arvin, dengan cepat dia menyibak daster yang di kenakan oleh Melisa dan meraba-rabaa paha dalam wanita itu. Membuat Melisa memejamkan mata nya, namun dia tetap harus waspada kalau-kalau suami nya masuk ke dalam rumah.
"Aassshhh.." Melisa melenguuh pelan saat tangan kekar Arvin meraup gundukan kenyal milik nya.
Dengan perlahan, Arvin menurunkan segitiga yang di gunakan oleh Melisa, lalu dengan cepat mengapit Melisa ke tembok. Arvin membalikan posisi Melisa dan langsung mencium bibir nya, kedua nya berciuman dengan mesra.
Arvin langsung menyatukan milik nya, membuat Melisa memekik tertahan saat junior Arvin merangsek masuk sepenuh nya ke dalam miliknya yang belum terlalu basah.
"Maaf, kalau aku menyakiti nya, sayang. Aku sudah tak tahan ingin memasuki mu." Bisik Arvin.
"Tak apa-apa, tapi pelan-pelan saja. Milik ku belum sepenuh nya basah." Jawab Melisa lirih, Arvin mengangguk dan dia mulai menggerakan pinggang nya maju mundur. Tangan nya juga tak tinggal diam, dia menggapai buah ranum di dada Melisa dan memainkan nya hingga membuat wanita itu memejamkan mata nya menikmati setiap sentuhan yang di lakukan Arvin.
Tapi, belum ada lima belas menit kedua nya menyatu, mereka di kagetkan dengan suara Dion yang memanggil Arvin. Mendengar hal itu, Arvin mengumpaat dan langsung mempercepat gerakan nya hingga membuat tubuh Melisa terguncang.
"Vin.." panggil Dion, Melisa sudah panik namun Arvin masih ingin melanjutkan permainan nya. Melisa meronta meminta di lepaskan, namun Arvin tetap bergerak memacu tubuh nya.
"Arvin, ada mas Dion nanti ketahuan." Ucap Melisa dengan nafas tersengal, tapi Arvin tak peduli dan tetap menggerakan pinggang nya maju mundur. Hingga akhirnya, dia meledak dan langsung melepaskan penyatuan nya setelah cairan nya keluar semua.
Arvin langsung pergi ke kamar mandi, sedangkan Melisa kembali berkutat dengan masakan nya seolah tak terjadi apa-apa.
"Mel, lihat Arvin?" Tanya Dion.
"Di kamar mandi, Mas. Belum keluar dia tuh." Jawab Melisa setenang mungkin, dan untung saja Dion percaya dan memilih pergi dari dapur. Melisa mengusap dada nya, Arvin terlalu nekat jika sudah ada mau nya.
Tak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi dengan senyum manis nya, membuat Melisa mendelik kesal ke arah nya. Tapi, Arvin tak peduli dengan delikan maut itu, karena sekarang jatah nya sudah terpenuhi, jadi beban di kepala nya terasa sedikit ringan.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻