SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 93 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Setelah hari pernikahan yang cukup melelahkan itu, akhirnya di malam hari nya Melisa dan Arvin bisa beristirahat juga. Pria itu mengusap-usap kepala Melisa, wanita itu langsung demam, mungkin karena terlalu lelah. Dan tahu kan gimana manja nya bumil kalo lagi sakit?


"Ayang, kepala aku sakit.." Ucap Melisa, bibir nya mengerucut lucu, membuat Arvin gemas.


"Sakit ya? Sini aku pijitin." Arvin pun memijit kepala sang istri, beberapa kali juga dia mengecup kening wanita cantik itu dengan mesra nya.


"Agak keras dikit disini, Bby." Pinta Melisa, Arvin menurut dan memijit kepala Melisa lebih keras sedikit. Dia tak masalah melakukan hal ini, toh istrinya kelelahan pun itu karena ulah nya juga. Karena Melisa hamil, jadi nya dia lebih cepat lelah dari biasa nya. 


Beberapa menit kemudian, Melisa tertidur pulas. Arvin tersenyum lalu menggelengkan kepala nya. Dia senang karena istri nya tidak terlalu rewel malam ini, tapi entahlah jika esok hari, semoga saja bumil yang satu ini tidak rewel. 


Tak ada malam pertama, karena baik Arvin maupun Melisa kedua nya sama-sama kelelahan. Terlebih lagi, Melisa malah demam. 


Akhirnya, kedua nya pun tertidur dengan lelap dengan saling memeluk satu sama lain. Berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama. 


Keesokan pagi nya, Melisa terbangun namun dia sudah tidak mendapati keberadaan sang suami. Melisa bangkit dari tidur nya, dia celingukan mencari suami nya, tapi nihil tak ada tanda-tanda kalau pria itu berada di ruangan ini.


"Sayang.." Panggil Melisa, dia mencari suami nya ke kamar mandi, tak ada juga. Lalu suami nya kemana? Tapi, saat dia melihat jam kecil di nakas, seketika dia menepuk pelan kepala nya, lalu beringsut masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka nya.


Lalu keluar dari kamar dengan terburu-buru, dia menuruni tangga rumah dengan hati-hati. 


"Astaga, apa lah aku ini? Bisa-bisa nya kesiangan di hari pertama setelah menjadi menantu, malu sekali." Gumam Melisa, dia langsung pergi ke arah dapur. Benar saja, ada Arvin dan juga Darren disana. Arvin sedang memasak sesuatu, sedangkan Darren sedang menikmati kopi pagi nya.

__ADS_1


"Sayang, sudah bangun?" Tanya Arvin sambil tersenyum, penampilan pria itu sangat tampan dengan menggunakan celemek di bagian depan tubuh nya. Seperti ibu-ibu yang memasak agar pakaian nya tidak kotor.


"Hmmm, kenapa gak bangunin aku, yang? Kan aku malu, baru sehari kita nikah aku udah kesiangan aja." Bisik Melisa yang membuat Arvin tertawa.


"Kenapa harus bangun pagi sih? Gapapa kali, Bby. Semua orang juga tahu kalau kamu kelelahan setelah pesta kemarin, lagian bangun pagi itu bukan kewajiban kamu, Bby." Jawab Arvin, membuat wajah Melisa memerah.


"Tapi…"


"Sudahlah, duduk sana. Aku masakin spaghetti bolognese kesukaan kamu, sayang." Jawab Arvin, mau tak mau pun akhirnya Melisa duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan papa mertua nya.


"Pagi, Mel.." 


"P-agi, Pah."


"Tak apa, Mel. Tidak usah terbebani dengan bangun pagi, kamu bisa bangun kapan pun yang kamu mau. Papah tidak mewajibkan kamu untuk bangun pagi lalu memasak, itu tidak perlu karena di rumah ini banyak maid yang bekerja. Jadi, semua itu bukan suatu keharusan." Ucap Darren sambil tersenyum, Melisa menggaruk tengkuk belakang nya lalu tersenyum canggung.


"Kamu datang kesini sebagai menantu, Nak. Tugas kamu hanya melayani suami kamu dengan baik, jangan hiraukan papah karena papah bukanlah prioritas yang harus kamu utamakan."


"B-baik pah."


"Kamu ingin makan sesuatu, nak?"

__ADS_1


"Hehe, pengen yang lagi di masak sama Arvin."


"Iya, dia udah minta ini dari kemarin." Jawab Arvin sambil tersenyum, dia membawakan piring berisi spaghetti dengan saus berwarna merah. Terlihat sangat menggugah selera, membuat perut Melisa seketika keroncongan.


"Silahkan, sayang." 


"Terimakasih, sayang." Jawab Melisa, dia pun memakan nya dengan lahap. Darren dan Arvin sama-sama tersenyum manis saat melihat wanita itu makan dengan lahap. 


"Enak gak, Bby?"


"Enak pake banget, terimakasih sayang."


"Iya, sama-sama. Makan yang banyak, di teflon masih ada kok."


"Yee, nanti aku tambah deh."


"Iya, sayang. Makan yang banyak biar adek bayi nya sehat." Ucap Arvin. Dia mengusap kepala Melisa, di sela makan nya. Dia bahkan sempat mengikat rambut wanita itu ke belakang, agar tidak menghalangi acara nya makan.


Darren yang melihat hal itu lagi-lagi menyunggingkan senyuman nya, melihat putra nya mengingatkan dirinya dulu. Dia juga sebucin ini pada istri nya. 


.....

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2