SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 66 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Kayak nya ayang kesambet setan taman deh." Celetuk Melisa membuat Arvin langsung menoleh seketika.


"Maksud kamu?"


"Iya, sejak dari taman tadi kamu nya terus aja senyam senyum gak jelas, kenapa?" Tanya Melisa membuat Arvin terkekeh.


"Tuh kan, di tanya bukan nya jawab malah ketawa."


"Kamu kok bisa kepikiran kalo aku kesambet sih, yang?"


"Ya habis nya dari tadi senyam senyum gak jelas." Jawab Melisa lagi. 


"Aku cuman seneng aja, hehe."


"Seneng kenapa, Ay?" Tanya Melisa dengan kening yang berkerut heran melihat Arvin yang sedari tadi terus saja tersenyum manis. 


"Seneng aja, soalnya langkah aku buat miliki kamu seutuhnya akan segera terwujud, sayang." Jawab Arvin membuat Melisa menghela nafas nya. Tentu saja hal itu tak luput dari penglihatan Arvin.


"Kamu gak seneng, sayang?"


"Bukan gak seneng sih, yang. Tapi rasa nya kayak berat aja gitu, aku membersamai pria itu selama tiga tahun. Sekarang harus kandas karena kami sama-sama tidak bahagia." 


"Iya, kalian berdua mencari kebahagiaan masing-masing bukan? Dion dengan Gia, dan kamu denganku, sayang." Jawab Arvin.


"Ya, itu kenyataan nya. Kami sama-sama tidak pernah bahagia."


"Ya, lebih tepatnya kamu yang tidak pernah bahagia dengan pernikahan ini." Ucap Arvin, dia mengusap puncak kepala Melisa dengan lembut lalu mengecup kening nya.


"Jadi, sudah seharusnya aku menyerah bukan?"


"Iya, tentu saja, sayang. Pria semacam Dion tak pantas di pertahankan." Tegas Arvin membuat Melisa mendongak menatap wajah tampan pria itu. 


"Tapi, aku merasa jahat karena sudah menghakimi Dion seperti ini, padahal aku juga selingkuh."


"Sudahlah, tak perlu merasa seperti itu. Bukankah dia lebih jahat dari pada kamu, sayang? Dia sudah menyakiti fisik dan hati mu." Ucap Arvin lagi, Melisa menganggukan kepala nya. Pada kenyataan nya, Dion memang sudah terlalu sering menyakiti hati juga fisik nya. 


"Iya sih."


"Kita makan yuk?" Ajak Arvin, membuat wajah Melisa berbinar seketika. Entah kenapa, rasa nya dia sangat ingin makan mie ayam saat ini.


"Pengen mie ayam."


"Oke, kita nyari yuk." Ajak Arvin, tadi kedua nya sedang berhenti di rest area setelah mengisi bensin, begitu mendengar kalau wanita nya ingin makan mie ayam, Arvin pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. 


"Yuk, pengen mie ayam yang ada ceker nya. Kayak nya enak deh, yang."


"Iya, kita nyari sayang." Jawab Arvin sambil tersenyum, Melisa pun mengangguk dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, tentu nya sambil mencari mie ayam untuk wanita nya.


Hingga di perempatan, Arvin menghentikan laju kendaraan roda dua nya di sebuah kedai mie ayam. Melisa langsung turun, dia terlihat sangat bahagia saat Arvin menghentikan laju kendaraan nya. 


"Seseneng itu kamu, yang?" Tanya Arvin, Melisa mengangguk cepat dan antusias. Dia sangat bahagia saat dirinya mau makan sesuatu Arvin langsung mengiyakan.


Arvin hanya menggelengkan kepala nya saat melihat Melisa terlihat sangat antusias, padahal cuma akan makan mie ayam tapi dia terlihat sangat bahagia. 


"Yuk, masuk." Arvin menggandeng tangan Melisa masuk ke dalam kedai. Kedua nya duduk, Melisa langsung memesan mie ayam ceker dan baso. Sedangkan Arvin hanya makan mie ayam baso saja. 


Tak membutuhkan waktu lama, mie ayam pesanan mereka sudah datang, seorang pelayan meletakan dua mangkuk mie ayam di depan Arvin dan Melisa. Kedua mata Melisa berbinar melihat mie ayam yang terlihat sangat menggugah selera.


"Ayo di makan, sayang."


"Boleh pake sambel?" Tanya Melisa, Arvin mengambil mangkuk sambel dan menuang dua sendok sambel di mie ayam milik Melisa.


"Sudah, sayang. Jangan di tambah lagi ya? Kamu harus mengurangi makan pedes, biar langsung promil nanti." 


"Hmm, iya sayang." Jawab Melisa pasrah, dia pun mengaduk mie ayam miliknya dan memakan nya dengan lahap. Arvin tersenyum kecil saat melihat Melisa makan dengan lahap, bahkan hingga belepotan. 


"Astaga, sayang. Kamu sudah besar, tapi makan nya belepotan gini." Ucap Arvin sambil mengusap sudut bibir Melisa dengan tissu. 


"Hehe, maafin."

__ADS_1


"Pelan-pelan aja makan nya, gak ada yang bakalan minta kok, sayang." 


"Iya, sayang." Jawab Melisa sambil cengengesan. 


"Setelah ini kita langsung pulang ya?" Ucap Arvin, Melisa mengangguk mengiyakan. 


Singkat nya, setelah menyelesaikan makan nya, kedua nya pun pulang. Seperti biasa Melisa meminta turun di tempat yang agak jauh agar tak memancing kecurigaan warga terhadap nya atau pun Arvin. Kalau sampai warga yang curiga, bisa fatal akibat nya. 


Melisa masuk ke dalam rumah, melakukan aktivitas seperti biasa nya. Dia membersihkan tubuh nya di kamar mandi selama beberapa menit, lalu berpakaian dan memasak seperti biasa nya. Saat malam tiba pun, dia tak pergi ke rumah Arvin dan memilih tidur di rumah sendirian karena Dion tak ada. Mungkin saja dia baru selesai melakukan pernikahan nya dengan Gia saat ini. 


Keesokan pagi nya, Melisa bangun pagi-pagi sekali untuk membeli sayur. Dia masih punya uang pemberian Arvin, uang yang di berikan oleh Dion juga masih tersisa jadi dia bisa belanja sayur hari ini. 


"Pagi, Neng." Sapa Bu Ratmi, seperti biasa nya. Melisa hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala, lalu duduk di samping Bu Amel. 


"Neng, arisan minggu ini dapet yang terakhir." Ucap Bu Amel. 


"Iya, Bu. Jadi minggu depan saya mulai bayar lagi." 


"Iya, neng." Jawab Bu Amel pelan. Melisa memang menang tiga kali lagi, tapi karena dia merasa cukup mengherankan jika setiap Minggu menerima uang arisan, jadi dia simpan di Bu Amel hingga nomor terakhir nya. Jadi, saat nanti menang dia akan menerima uang yang cukup banyak sekaligus. Dia juga sudah meminta persetujuan Arvin, dan pria itu setuju-setuju saja. 


"Rencana mau masak apa, Neng?" Tanya Bu Ratmi. 


"Bingung, Bu. Lihat nanti saja, saya suka kepikiran kalo udah lihat Abang sayur nya."


"Neng, gimana suami kamu?" Tanya Bu Amel memberanikan diri.


"Gimana lagi, Bu. Ya dia harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia perbuat." Jawab Melisa membuat yang lain nya menatap Melisa dengan tatapan sendu.


"Kamu baik-baik saja, neng?"


"Baik kok, Bu. Sangat baik malah, tak apa-apa." 


"Apa suami kamu menikahi selingkuhan nya itu?" Tanya Bu Amel lagi.


"Iya, mereka menikah tadi malam, Bu. Cuman, saya gak kuat kalo harus liat. Jadi nya saya memilih tidur saja di rumah." Jawab Melisa samb tersenyum kecil.


"Entahlah, Bu. Saya sudah mati rasa seperti nya, rasa sakit yang saya dapat membuat hati saya terasa biasa saja." Jelas Melisa. 


"Semangat ya, Neng. Jadi, ke depan nya kamu mau gimana?" 


"Pasti, Bu. Saya pasti semangat, dunia saya bukan cuma ada bersama Mas Dion, tapi ada juga yang bersama orang lain. Buat ke depan nya, saya akan mengajukan gugatan cerai." Jawab Melisa membuat semua ibu-ibu yang sedang berkumpul itu menatap Melisa. 


"Cerai?"


"Iya, Bu. Saya gak mau di poligami, saya juga gak suka berbagi apa yang sudah jadi milik saya." Jawab Melisa lagi.


"Bijak sekali kamu, Neng. Semangat terus ya."


"Iya, Bu." Jawab Melisa, dia tersenyum manis membuat yang lain merasa kalah Melisa begitu dewasa menyikapi masalah ini. Padahal, ini semua bisa dia lakukan berkat Arvin, dia takkan bisa sekuat ini tanpa dukungan pria tampan itu. 


Tak lama kemudian, Arvin keluar dari rumah nya dengan pakaian kebangsaan nya, apalagi kalau bukan kaos lengan pendek dan celana kolor selutut kesukaan nya. 


"Pagi, Bu ibu." Sapa nya, sudah cukup lama dia tak duduk dan mengobrol bersama ibu-ibu yang akan membeli sayur di dekat rumah nya.


"Pagi, Nak Arvin." 


Arvin pun duduk di samping Melisa, agak berdekatan karena tempat yang kosong agak sempit, tapi hal itu tidak membuat ibu-ibu curiga karena interaksi mereka terlihat biasa saja, natural tanpa dibuat-buat. 


"Jadi, gimana kelanjutan kasus bang Dion, mbak?" Tanya Arvin membuka pembicaraan, meskipun cukup terkejut tapi Melisa mencoba menjawab seadanya, dengan tenang. 


"Gimana apa nya? Ya dia harus menikahi wanita itu." Jawab Melisa.


"Lalu mbak sendiri gimana?" Tanya Arvin lagi.


"Gimana apanya?"


"Mau cerai apa lanjut?"


"Cerai aja, di lanjut juga gak bakalan bener kayak nya." Jawab Melisa.

__ADS_1


"Iya, mendingan cerai aja Neng. Laki-laki yang sudah sekali selingkuh, gak bakalan menutup kemungkinan kalau dia bakalan selingkuh lagi di kemudian hari." Celetuk Bu Ratmi.


"Hmm, iya bener itu. Gak usahlah di pertahanin pria kayak gitu, kayak gak ada laki-laki lain aja." Ucap Bu Amel sambil terkekeh pelan.


"Nah, saya juga laki-laki tuh." Cetus Arvin membuat pandangan ibu-ibu itu tertuju ke arah nya.


"Mau sama janda?" 


"Mau, kalo janda nya kayak mbak Melisa sih siapa yang gak mau gitu. Udah cantik, baik, pinter masak lagi. Ini udah sempurna, dasar bang Dion nya aja yang gak bersyukur." Celetuk Arvin membuat wajah Melisa memerah. Dia merona malu karena ucapan Arvin yang seolah membanggakan dirinya di depan ibu-ibu disana. 


"Tapi harus nunggu masa Iddah dulu." 


"Gapapa kalau harus nunggu, asal mbak Mel nya mau pasti aku tunggu." Jawab Arvin lagi membuat ibu-ibu disana tergelak.


"Belum juga jadi janda, udah ada yang ngantri aja nih." Goda Bu Ratmi sambil menyenggol pelan lengan Melisa.


"Apaan sih, Bu." 


Tak lama kemudian, Abang sayur pun datang. Melisa dan yang lain langsung beranjak dari duduk nya, wanita itu terlihat kebingungan menentukan menu apa yang akan dia masak.


"Bingung ya, Neng?" Tanya Bu Amel pada Melisa, wanita itu menganggukan kepala nya. Dia memang kebingungan harus memasak apa hari ini. 


Akhirnya, Melisa pun hanya membeli sayur asem dan daging ayam saja. Setelah selesai, dia pun pulang lalu memasak dan sarapan. Lalu melanjutkan aktivitas nya dengan beres-beres, mencuci piring, mencuci baju, menyapu dan mengepel. Setelah semua nya bersih, baru lah Melisa bisa duduk santai di kursi ruang tamu nya. 


Tapi, saat siang hari nya Dion datang bersama Gia, istri baru nya. Tentu saja kedatangan pria itu memancing tatapan sinis warga, apalagi saat melihat tangan wanita itu yang melingkar erat di pinggang Dion, membuat muak saja. 


Dion menghentikan laju sepeda motor nya di depan rumah Melisa, pria itu menggandeng tangan Gia dan membawa nya masuk ke dalam rumah yang kebetulan tidak di kunci sama sekali. 


Melisa yang sedang memasak makan siang pun cukup terkejut dengan kedatangan kedua nya. 


"Mel.." Panggil Dion, sedangkan Gia menggelayut manja di lengan suami nya.


"Iya, ada apa lagi, Mas?"


"Tentu aku datang berkunjung."


"Untuk apa? Jika tidak penting dan hanya membuat hatiku sakit, sebaiknya kalian pergi saja." Jawab Melisa sinis.


"Apa hak mu mengusir ku, Mel? Ini rumah dinas ku!" Tegas Dion.


"Baik, aku akan pindah nanti."


"Ckk, memang nya kau punya uang?" Tanya Dion mencibir.


"Punya, tentu saja aku punya." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil.


"Uang dari mana memang nya?"


"Rasa nya kamu gak perlu tahu, Mas. Itu bukan urusan mu."


"Kau menjajakan tubuh mu, Mel?" Tanya Dion yang terdengar sangat menyakitkan bagi Melisa. 


"Iya, aku menjajakan tubuh ku." Jawab Melisa datar, tanpa menoleh ke arah sang suami.


"Melisa.."


"Apa?" Tanya Melisa sinis. 


"Kau benar-benar melakukan hal itu?"


"Kenapa memang nya? Apa peduli mu, Mas? Apa pernah sekali saja kamu memikirkan aku? Tentang perasaan aku? Enggak kan? Lalu kenapa sekarang kamu bertanya seolah-olah kamu peduli?" Tanya Melisa dengan senyum getir nya membuat Dion menatap wajah istri pertama nya dengan sendu.


"Kalian ingin makan? Biar aku siapkan sebentar." Ucap Melisa. Dia pun mematikan kompor dan menyajikan makanan di meja.


"Silahkan makan, aku keluar dulu." Ucap Melisa, dia pun meninggalkan dapur tanpa menoleh ke belakang lagi.


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2