SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 102 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Neng Meli, disini berapa hari?" Tanya Bu Amel.


"Sekitar tiga hari, Bu. Soalnya kan Arvin harus kerja, jadinya gak bisa libur lama-lama." Jawab Melisa yang membuat para ibu-ibu cukup terkejut.


"Ya sudah, Neng. Selama disini, kita harus banyak ngobrol deh ya biar gak terlalu kangen nanti." 


"Makasih ya, Bu. Udah pada baik sama saya."


"Sama-sama, Neng. Gak usah canggung, kita kan bertetangga." Jawab Bu Ratmi membuat Melisa tersenyum. Ternyata, mereka sangat baik. Mereka menyayangi nya seperti keluarga, bukan seperti tetangga. 


"Iya, Bu. Tapi sekarang kita sudah tidak bertetangga lagi."


"Gapapa, setidaknya kita pernah kenal dan kami senang bisa mengenal wanita sebaik Neng Meli." Ucap Bu Amel.


"Iya, benar. Kami senang bisa mengenal Neng Melisa." Bu Ratmi juga mengatakan hal yang sama dengan Bu Amel. Ibu-ibu lain yang mengenal Melisa juga menganggukan kepala nya, mereka setuju. Apalagi setelah sekarang mereka mengetahui siapa Arvin sebenarnya. 


"Sayang, Naren bangun.." Panggil Arvin dari dalam rumah. 


"Sebentar ya, Bu ibu. Saya mau nyusuin Naren dulu, dia gak suka kalo telat." 


"Iya, Neng. Kita juga mau pulang dulu, nanti siang kita ngobrol-ngobrol lagi." Ucap Bu Amel.


"Kita liwetan yuk?"


"Wah, boleh tuh. Aku kangen rasa nya liwetan." Jawab Melisa sambil tersenyum, dulu saat masih tinggal di desa ini, dia sering makan bareng bersama tetangga nya, istilah nya liwetan. 


"Oke, nanti pas makan siang kita siapin. Itung-itung, buat nyambut kedatangan Neng Meli." Jawab ibu-ibu itu.


"Terimakasih ya, Bu ibu." 


"Iya, neng. Cepetan pulang, kasian baby Naren nya laper."


"Iya, Bu." Melisa pun langsung berjalan pulang. Mereka pulang ke rumah yang biasa di tinggali oleh Arvin, sedangkan rumah di samping nya yang dulu adalah rumah Melisa dan Dion, kini kosong melompong. 


"Kenapa lama, Bby?"


"Tadi ngobrol-ngobrol sama ibu-ibu itu, Sayang. Mana Naren nya?"


"Udah tidur." 


"Hah, tadi katanya dia lapar." Ucap Melisa sambil mengintip ke kamar, benar saja bayi tampan itu sedang tertidur lelap.


"Hehe, sebenarnya bukan Naren yang lapar. Tapi aku, sayang."


"Astaga, sayangku. Kamu gak pernah berubah ya." Ucap Melisa sambil mencubit pelan lengan suami nya dengan gemas. 

__ADS_1


"Hehe.." Arvin tertawa sambil menggaruk kepala nya yang padahal tidak gatal sama sekali. 


"Yaudah, mau makan kan? Biar aku masak dulu."


"Enggak, aku lapar akan hal lain, Bby." 


"Hmmm, maksudnya?" Tanya Melisa dengan mengernyitkan kening nya. 


"Naren kan sudah sering nyusu, sekarang giliran aku." 


"Hah, sayang.." Arvin semakin mendekat dan akhirnya dia bisa menangkap Melisa lalu memeluknya. Pria itu membawa sang istri ke kamar lain, Melisa memberontak tapi dia tak bisa lepas dari suaminya.


"Aaaa, sayang.."


"Diamlah, sayangku. Ini takkan lama, aku hanya merindukan mu. Aku sudah berpuasa untuk tidak menyentuh mu, jadi biarkan aku menyusu saja." 


Benar juga, sampai sekarang Arvin masih berpuasa sampai saat ini. Dia cukup kuat untuk tidak menyentuh istrinya, padahal masa nifas nya sudah selesai. Hanya saja, dia tidak tega kalau harus melakukan nya karena dia tahu benar kalau milik sang istri di jahit, jadi mungkin rasanya akan lebih sakit dari pada saat pertama kali melakukan nya.


Sedangkan di sekolah, Dion masih mengajar. Meskipun beberapa bulan yang lalu, dia hampir saja di pecat karena bertengkar dengan sesama pengajar di sekolah ini. Masalah nya cukup sepele, karena dia merasa tersinggung atas ucapan rekan kerja nya itu.


Dion yang terkenal sebagai guru yang tempramen merasa tidak terima karena disebut tidak tahu di untung, sudah punya istri secantik Melisa masih saja selingkuh dengan wanita yang jauh di bawah mantan istri nya. 


Memang nya, mata orang brengseek itu rabun. Sudah punya istri cantik, baik, pengertian. Eehh malah selingkuh dengan wanita yang standar nya di bawah istri sah. Sudah biasa terjadi dalam kehidupan nyata.


Dion turun dari sepeda motor nya, dia pun yakin kalau Melisa ada di rumah Arvin. Pria itu mengetuk pintu rumah Arvin dan tak lama kemudian, Melisa keluar. 


Kedua mata nya terbelalak saat melihat siapa yang sudah mengetuk pintu rumah nya, jantung nya seolah berhenti berdetak yang hingga membuat wajah nya memucat. 


"Sayang, siapa?" Tanya Arvin, dia berjalan keluar sambil memakai kaos nya. Dia menatap sinis ke arah pria yang kini berdiri di depan sang istri. 


Dengan langkah pasti, dia mendekat. Wajah nya terlihat datar, tatapan mata nya tajam menghunus ke arah Dion.


"M-as.."


"Apa kabar, Mel?" Tanya Dion pelan.


"Mata mu masih berfungsi normal kan? Kalau iya, kau pasti bisa melihat kalau istri ku baik-baik saja. Jauh lebih baik di bandingkan saat masih bersama dengan mu." Bukan Melisa yang menjawab, tapi Arvin dengan sinis. 


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Mel." Ucap Dion, tanpa menghiraukan jawaban Arvin yang terdengar sangat sinis. 


"Iya, aku baik-baik saja karena ada Arvin yang selalu melindungi ku." Jawab Melisa yang membuat suami nya itu tersenyum bangga. 


"Kau bahagia dengan pernikahan mu?"


"Tentu saja, aku sangat bahagia. Bagaimana dengan mu?" Tanya Melisa, dia berpura-pura tidak mengetahui kalau Dion dan Gia sudah bercerai.

__ADS_1


"Aku dan Gia sudah bercerai, pernikahan kami hanya bertahan beberapa bulan saja."


"Itulah, makanya hubungan hasil selingkuh itu gak bakalan bertahan lama, iya gak sih?" Celetuk Arvin. 


"Iya, karena aku dan Gia menikah karena bisnis. Dia butuh uang dan kau menginginkan Melisa, iya kan?" Tanya Dion, kali ini dia menatap wajah Arvin yang nampak datar. 


"Maksudnya, apa ini?"


"Melisa, dia membayar Gia untuk menggoda ku agar kita bisa bercerai dan dengan mudah nya dia akan mendapatkan mu, Melisa. Dia tidak sebaik yang kamu kira." 


"H-aahh? Apa semua ini?" Tanya Melisa, dia menatap wajah suami nya yang cukup terlihat panik. 


"Ya, suami mu itu membayar Gia untuk menjebak ku. Otomatis, kau pasti meminta cerai dengan ku, Mel." Jelas Dion yang membuat Melisa benar-benar terkejut. Apa iya Arvin selicik itu untuk bisa mendapatkan nya.


"Sayang.."


"Diamlah.." Ucap Melisa dengan kesal, membuat Dion tersenyum jahat. Dia berharap mereka bertengkar dan hubungan mereka akan renggang, dengan begitu dia akan kembali merebut Melisa. 


"Apa benar kamu melakukan hal selicik itu, sayang?" Tanya Melisa.


"Aku akan menjelaskan semua nya nanti, sayang."


"Orang yang kelihatan baik, belum tentu baik sepenuhnya." Ucap Dion yang membuat Arvin menatap pria itu tajam. 


"Iya, apalagi yang sudah terlihat dari cover nya, iya kan?" Celetuk Melisa, dia menatap Dion dengan tajam.


"Maksudnya?"


"Iya, orang yang kelihatan baik belum tentu sepenuhnya baik kan, itu katamu? Apalagi yang sudah terlihat dari wajah nya, iya kan?"


"Aaaa.."


"Inti nya, sekuat apapun wanita lain menggoda mu, kalau dirimu tidak lemah iman pasti akan kuat dan tidak tergoda." Ucap Melisa sinis.


"Tapi, Mel.."


"Sudahlah, jangan terlalu menyalahkan suami ku. Disini kau juga bersalah karena iman mu lemah!"


"Melisa.."


"Jangan pernah berani meninggikan suara mu di depan istriku! Kau takkan pernah bisa menyakiti istriku lagi sekarang!"


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2