SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 99 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Setelah kejadian hari itu, akhirnya hubungan antara ayah dan anak itu membaik. Semua berkat Melisa, wanita itu menjadi jembatan penghubung. Setelah beberapa tahun hubungan mereka renggang, kini semua nya kembali. Bahkan Arvin selalu memperhatikan kesehatan sang ayah. Dia juga tak pernah lupa untuk mengantarkan sang ayah terapi di dokter spealis kejiwaan. 


Kenapa ke dokter spesialis kejiwaan? Karena sejak kepergian Melati, Darren sering berhalusinasi dan tak jarang dia menangis lalu menyakiti dirinya sendiri. Bukankah itu berbahaya? 


Tapi sekarang, keadaan nya sudah sangat baik. Darren tak pernah lagi berhalusinasi tentang Melati, hanya sesekali kadang dia mengatakan kalau istrinya itu datang berkunjung ke dalam mimpi nya. Bahkan tak jarang, Melati juga datang ke dalam mimpi Melisa dan mengucapkan terimakasih karena sudah membuat ayah dan anak itu akur. 


"Sayang, pelan-pelan jalan nya." Peringat Arvin, hari ini kehamilan Melisa sudah menginjak usia 9 bulan. Perut wanita itu sudah membuncit besar, hingga terkadang membuat wanita itu kesulitan hanya untuk sekedar berjalan saja. 


"Berat, yang."


"Mau di gendong aja?" Tanya Arvin, dia mengkhawatirkan kondisi sang istri. Tapi kata Darren maupun dokter, hal ini sudah biasa terjadi alias wajar. Melati juga mengalami nya saat dia mengandung Arvin.


"Gak usah, tapi aku jalan nya pelan-pelan saja." 


"Baiklah, sayang." Jawab Arvin, dia memapah sang istri. Sedangkan Darren menunggu di luar, sesekali dia tersenyum sambil menatap putra dan menantu nya. Dia senang saat melihat kedua nya selalu akur. Bahkan, setelah menikah selama hampir sembilan bulan, tak pernah dia mendengar kalau kedua nya bertengkar.


Karena apa? Arvin selalu mengalah, disaat istri nya berbuat hal yang tidak dia sukai, wanita itu akan meminta maaf dan Arvin akan selalu memaafkan nya. Kalau pun ada salah satu yang memancing keributan, pasti Arvin lah yang mengalah. 


Ya, memang rumah tangga itu harus seperti itu. Kalau salah satu ada yang berbuat kesalahan, selama itu tidak fatal maka maafkanlah. Jika ada yang memancing keributan, maka salah satu pihak harus mengalah. Agar rumah tangga pun adem ayem, tentram tanpa adanya pertengkaran apapun.


Hari ini, Arvin, Melisa dan Darren akan pergi ke makam Melati untuk berziarah. Mereka berangkat menggunakan mobil yang biasa Arvin gunakan untuk bekerja, tentu nya ada Jo yang selalu siap mengantarkan keluarga itu kemana pun dan kapanpun. 


"Sayang, kok perut aku agak kenceng gini ya?" Tanya Melisa pada suami nya. Arvin yang mendengar nya pun segera mengusap-usap perut sang istri, biasa nya ini adalah obat yang paling ampuh untuk menghilangkan rasa nyeri di perut nya.


"Gimana, mendingan?" Tanya Arvin, Melisa menganggukan kepala nya. 


Sekarang, setiap bulan mereka pasti rutin untuk berkunjung ke rumah Melati. Tentunya agar wanita itu tidak pernah merasa kesepian. 


"Sayang.."


"Iya, kenapa?" Tanya Arvin sambil tersenyum manis.


"Enggak kok."


"Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, sayang." 


"Tidak, aku tidak menyembunyikan apapun kok." Jawab Melisa lagi. 


Tak lama kemudian, hanya beberapa menit berselang. Akhirnya mobil yang di kendarai oleh Jo pun sampai di areal pemakaman. Disana terasa sepi, sunyi karena ya, namanya juga di makam ya kan. 

__ADS_1


Arvin memapah sang istri di ikuti oleh Darren dan Jo di belakang. Ketiga nya berjongkok di depan pusara yang sudah terlihat usang, karena sudah berusia puluhan tahun lama nya.


Darren mengusap pusara sang istri, tempat peristirahatan yang terakhir kali nya. Setiap datang ke tempat ini, air mata nya selalu menetes, Darren tak pernah bisa membendung air mata nya saat berkunjung kemari. Mengingat siapa orang yang berbaring di bawah sana adalah wanita yang paling dia cintai.


"Papah.." Panggil Melisa, membuat Darren menoleh. Wajah nya di penuhi air mata, hingga mata nya memerah.


"Jangan menangis ya? Melisa tahu perasaan papah, karena Melisa juga merasakan sakit nya kehilangan. Tapi kita harus kuat bukan? Coba papah pikir, apa Mama bakalan seneng saat papah begini terus? Tidak pah." Ucap Melisa dengan lembut sambil mengusap pundak pria paruh baya itu.


"I-iya, sayang. Terimakasih. Sekarang papah menyadari, kenapa Arvin memilih dirimu sebagai istrinya. Kamu memiliki hati sebaik malaikat." Darren tersenyum menatap sang menantu, begitu pun Melisa dia membalas senyuman sang papah.


"Aaasshh.." sedetik kemudian, Melisa meringis sambil memegangi perut nya.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Sa-kit, yang."


"Apa? Apa yang sakit?" Tanya Arvin, dia panik bukan main. Dan kalau sudah panik, di pastikan otak nya kadang tidak berfungsi normal. Sudah tahu istrinya sedang hamil dan mengatakan sakit sambil memegangi perut nya, tapi masih saja bertanya apa yang sakit.


"Perut aku sakit, Bby."


"Aduh-aduh, terus kita harus gimana?"


Melisa dan Arvin pun masuk, begitu pun dengan Darren. Mereka pun langsung meluncur ke rumah sakit yang biasa tempat Melisa melakukan pemeriksaan rutin setiap bulan nya dengan dokter wanita yang terkenal di kota ini. Untuk kesehatan istrinya, Arvin menginginkan yang terbaik meskipun harga nya mahal hanya untuk satu kali konsultasi. 


Setelah hampir satu jam melaju di jalanan, akhirnya Jo pun menghentikan mobil nya di depan rumah sakit. 


"Ambil kursi roda, tolong." Jo langsung mengangguk dan pergi mengambil kursi roda. Tak membutuhkan waktu lama, pria itu sudah kembali dengan membawa kursi roda. 


"Ini, Tuan muda." Arvin pun mendudukan sang istri disana, lalu membawa nya ke ruang IGD. 


"Sus, tolong periksa istri saya." 


"Baik, mari tuan." Melisa pun di bolong dan berbaring di atas brankar rumah sakit. 


"Silahkan tunggu sebentar, kami akan memeriksa nya terlebih dulu."


"Hati-hati, suster." Perawat itu pun membawa Melisa ke ruangan, terpaksa tautan tangan keduanya pun terlepas. Perawat itu menutup pintu dan menutup gordeng nya. 


Arvin pun menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Dia benar ketakutan saat ini, dia khawatir dengan keadaan Melisa. 

__ADS_1


"Arvin, duduklah. Tenangkan dirimu, jangan panik, Nak." Ucap Darren. Arvin pun menurut dan duduk di samping sang papah. Pria itu menutup wajah nya dengan kedua tangan, Darren mengerti bagaimana perasaan putra nya, dia pernah berada di posisi yang sama dengan Arvin. 


Rasa takut, khawatir, cemas bercampur menjadi satu. Belum lagi segala pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi kepala nya, tapi beruntunglah saat itu Melati bisa melewati masa-masa itu. 


Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan menampilkan dokter yang biasa nya memeriksa Melisa.


"Sus, persiapkan ruang bersalin. Pasien akan bersalin segera." Ucap dokter itu pada suster. Perawat itu pun langsung bergegas untuk menyiapkan ruang bersalin.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?"


"Istri anda akan melahirkan sekarang, pembukaan nya sudah hampir sempurna. Sebentar lagi, setelah ruang bersalin siap kita akan langsung kesana. Sekarang, temani istri anda terlebih dulu." Jelas dokter itu, Arvin mengangguk dan langsung berlari masuk ke ruangan. 


Satu jam kemudian..


Darren dan Jo masih berada di depan ruangan khusus ibu bersalin. Sudah satu jam berlalu, tapi mereka belum mendengar apapun, tak ada suara tangisan bayi di dalam sana, atau dokter yang keluar. Tak ada sama sekali, tentu saja hal itu membuat nya khawatir. 


"Jo, kenapa masih belum juga?"


"Bersabarlah, Tuan. Mungkin masih membutuhkan proses." 


"Tapi, ini sudah terlalu lama, Jo." Jawab Darren sambil menatap sendu ke arah Jo, dia benar-benar takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada menantu dan cucu nya.


Tapi tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi yang cukup nyaring. Seketika itu juga, Darren langsung mengusap dada nya, dia merasa lega. Cucu nya sudah lahir, sekarang dia tinggal menunggu kabar menantu nya yang kini jadi menantu kesayangan nya. 


"Maaf, ada yang memiliki golongan darah A+?"


"Ada apa, sus?" Tanya Darren sambil beranjak dari duduknya.


"Pasien atas nama Melisa, kehilangan banyak darah dan golongan darah A fositif sedang kosong, kami sudah menghubungi PMI terdekat tapi ternyata mereka juga tidak memiliki nya. Ini situasi darurat, tuan." Jawab Perawat itu.


"Saya memiliki golongan darah itu, sus. Saya akan mendonorkan darah untuk menantu saya."


"Baik, mari ikut saya." Jawab Perawat itu, Darren pun mengikuti di belakang perawat itu. 


Jo hanya menatap punggung tuan besar nya dengan senyum cerah, dia senang saat melihat pria paruh baya itu kini akur dengan putra nya, karena siapa? Tentu saja Melisa. Dia sudah menduga nya kalau wanita itu bisa membuat hubungan mereka lebih baik, dan tebakan nya benar saja. Wanita itu benar-benar bisa menyatukan kembali jarak di antara Ayah dan Anak itu dengan cara nya sendiri.


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2