SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 74 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Mas, besok sidang pertama. Kalau bisa, kamu harus hadir." Ucap Melisa pada Dion. Pria itu pulang malam nya, entah untuk menginap atau hanya untuk mengambil pakaian ganti.


"Sidang apa, Mel?" Tanya Dion, tanpa mengalihkan pandangan nya dari ponsel. Entah sedang apa pria itu hingga terlihat sefokus itu, bahkan tak melihat Melisa sama sekali.


"Sidang perceraian kita." Jawab Melisa, sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Dion. 


"Maksud mu?"


"Tak mungkin rasa nya jika kamu tidak mengerti, Mas." 


"Tapi, aku tidak pernah menyetujui kita untuk bercerai, Melisa."


"Lalu, apa yang akan kita pertahankan, Mas? Aku rasa tidak ada lagi." Jawab Melisa. Dia mulai jengah menghadapi Dion yang egois dan keras kepala, selain itu dia juga ringan tangan.


"Melisa, aku berjanji akan bersikap adil padamu dan Gia."


"Tidak, keputusan ku sudah bulat. Aku takkan mencabut gugatan ku ke pengadilan, Mas." Jawab Melisa.


"Melisa!"


"Apalagi, Mas? Kamu pikir, setelah semua yang kamu lakukan terhadap ku, semua rasa sakit yang sudah kamu berikan, apa aku masih bisa memaafkan mu, Mas? Tidak, luka fisik bisa sembuh tapi bagaimana dengan hatiku?" 


"Mel.."


"Keputusan aku sudah bulat sekarang, kita akan bercerai secepatnya jika kamu tidak mempersulit sidang kita, Mas."


"Tapi, aku tak ingin berpisah!"


"Supaya apa, Mas? Bukankah aku tak pernah di harapkan? Kita menikah bukan atas dasar perasaan saling mencintai, tapi karena perjodohan dan aku hanya melunasi hutang ayah tiri ku. Itu saja bukan? Itu juga yang membuat kamu tak pernah memperlakukan aku dengan baik, bukan? Jadi, apa yang harus kita pertahankan lagi sekarang? Tidak ada, Mas." 


"Aku mohon, Mel. Kita mulai semua nya dari awal ya?" Tanya Dion mengiba, tapi sepertinya Melisa sudah tak berniat lagi untuk memperbaiki hubungan nya yang memang sudah hancur dari awal. Kalau ada niatan untuk memperbaiki hubungan ini, kenapa tidak dari dulu saja?


"Bukan kah itu sudah sangat terlambat, Mas? Maaf, tapi sekarang aku sudah tidak ada niatan lagi untuk bertahan apalagi harus berjuang sendirian. Aku lelah, Mas. Cukup selama tiga tahun ini, aku berjuang sendirian, namun tidak menghasilkan apa-apa. Maaf, aku sudah menyerah dengan hubungan ini." Jawab Melisa membuat Dion mendongak menatap wajah Melisa yang nampak sendu.


"Kau punya laki-laki lain, Melisa?"


"Iya, aku punya. Aku mencintai nya, bukankah kau juga mencintai istri muda mu, Mas?" 

__ADS_1


"Melisa, ayolah. Jangan bertindak egois."


"Egois? Ckkk, jangan bercanda, Mas. Dari awal, siapa yang egois disini? Kamu, Mas." 


"Melisa, tapi aku tak ingin bercerai." Ucap Dion lagi, dia berusaha menggenggam tangan Melisa, tapi dengan cepat dia menghempaskan nya dengan keras.


"Cukup, Mas. Jika kamu tidak ingin bercerai, terserah saja. Tapi aku mau bercerai dengan mu, jadi aku akan berusaha sendiri untuk kebebasan ku." Jawab Melisa. Dia pun beranjak dari duduk nya, lalu pergi ke kamar nya. Dia muak melihat wajah suami nya, dia bosan benar-benar bosan.


Kalau saja Dion bisa melihat sedikit saja perjuangan nya selama ini, mungkin Melisa takkan berbuat nekat seperti ini. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Bagaimana tidak lelah kalau perjuangan nya saja selama ini tidak di lirik sedikit pun, bahkan mungkin Dion tak pernah menganggap itu sebagai perjuangan.


Jadi, jangan salahkan Melisa memilih menyerah. Karena tak ada yang bisa di pertahankan lagi sekarang, hubungan mereka di awali dengan kesalahan dan berakhir juga dengan kesalahan.


Keesokan hari nya, Arvin benar-benar mengantar Melisa ke pengadilan. Tadi malam, sempat terjadi percekcokan bersama Dion. Melisa nampak sedikit sendu, membuat Arvin menghentikan kendaraan nya di sisi jalan yang sedikit sepi.


"Sayang.."


"Iya, sayang. Kenapa?"


"Justru aku yang harus nya nanya, sayang. Kamu kenapa? Keliatan gak semangat gitu, kamu ragu untuk bercerai dengan Dion? Kalau kamu ragu, batalkan saja." Ucap Arvin membuat Melisa menggeleng.


"Nanti, setelah pulang dari pengadilan aku usap-usap perut kamu nya ya? Sekarang bisa di tahan dulu?" Tanya Arvin.


"Bisa kok, nanti pulang nya mau jajan mie ayam lagi."


"Siap, ayang. Semangat dong, biar nanti kita bisa nikah."


"Oke, sayang." Jawab Melisa. Arvin pun kembali melajukan kendaraan nya ke arah pengadilan, sidang nya akan di mulai jam delapan pagi, masih ada waktu beberapa menit lagi untuk sampai. 


Hanya butuh beberapa menit saja untuk Arvin dan Melisa sampai lebih dulu di pengadilan, wanita itu masuk bersama pengacara yang di sewa khusus oleh Arvin untuk memperlancar jalan nya sidang perceraian Melisa dan Dion. 


Arvin memarkir motor nya, lalu masuk juga ke gedung pengadilan, namun mengenakan kacamata hitam juga masker hingga tak ada yang mengenali nya sama sekali. Arvin duduk di kursi yang tersedia cukup jauh, dia juga melihat kalau Dion sudah ada disana. Dengan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam. Begitu juga Melisa, dia mengenakan blouse berwarna putih dan rok span selutut hitam nya. Pakaian yang sederhana bagi orang lain, tapi tidak bagi Arvin. Karena Melisa jauh terlihat berkali-kali lipat cantik nya. Kalau sudah bucin ya begitu. 


Sidang pun di mulai, Melisa kekeuh ingin bercerai sedangkan Dion juga bersikukuh tak mau bercerai. Berkebalikan, tapi Melisa menunjukkan bukti kalau selama ini dia menjadi korban KDRT, membuat Dion bungkam seketika.


Dengan keluar nya bukti, maka proses mediasi pun gagal dan mereka akan di pertemukan di sidang kedua. Melisa sebenarnya merasa tak ingin lagi bertemu dengan pria itu. Rasa sakit nya terasa lebih menyakitkan saat dia memperlihatkan luka-luka di tubuh nya, apalagi mengingat saat pria itu dengan kejam nya menyiksa fisik nya. 


Jika mengingat itu semua, air mata Melisa selalu menetes tanpa bisa di cegah. Hal itu membuat Arvin mengepalkan kedua tangan nya di belakang, dia merasa kesal dan marah saat melihat air mata Melisa turun. Ini semua pasti karena ulah pria bejat yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami Melisa, wanita pujaan nya.

__ADS_1


Sidang pun selesai, Melisa pulang dengan wajah yang lebih segar. Dia celingukan mencari keberadaan Arvin, tapi pria itu tak kelihatan batang hidung nya sama sekali, tapi motor sport nya masih terparkir rapi di parkiran. Lalu, kemana orang nya?


Seperti nya Melisa melupakan kalau dia punya ponsel, lalu kenapa tidak di telepon saja ya? Dia kebiasaan karena tak pernah punya atau memegang ponsel sebelum nya.


"Sayang, nyariin aku apa ya?" Tanya Arvin sambil menepuk pundak Melisa pelan.


"Isshh, kamu ngagetin aja. Dari mana dulu? Bukan nya nungguin, malah keluyuran. Nyari apa? Nyari cewek baru ya?" Ketus Melisa membuat Arvin terkekeh.


"Cemburu nih cerita nya?" 


"Enggak, cuma gak suka doang." Jawab Melisa dengan sedikit ketus.


"Bilang aja cemburu, gak usah gengsi kali. Malah aku suka kalau kamu cemburu, tanda nya kan kamu beneran cinta sama aku."


"Diamlah, jangan bikin bete. Aku lagi menstruasi lho." Jawab Melisa membuat Arvin terkekeh.


"Iya iya, padahal aku kan pake masker jadi gak ada yang liat wajah ganteng aku ini."


"Isshh, iya syukurlah kalo gitu. Ayo jajan mie ayam." Ajak Melisa sambil menggandeng lengan Arvin dengan manja.


"Ayo, sayang." Jawab Arvin, kedua nya pun pergi dari gedung pengadilan dengan sepeda motor besar milik Arvin. 


Melisa memeluk erat pinggang Arvin sambil menyandarkan kepala nya di pundak lebar milik Arvin. Beberapa kali mereka bercanda ria di atas motor, seperti layaknya sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara.


Hingga akhirnya, kedua nya berhenti di sebuah kedai mie ayam yang cukup terkenal akan rasa nya yang enak.


"Sayang, aku mau makan dua mangkuk, bolehkah?"


"Boleh dong, mau dua atau tiga mangkuk juga boleh, sayangku." Jawab Arvin, membuat Melisa tersenyum bahagia. Dia pun memesan dua mangkuk mie ayam, begitu juga Arvin. Kedua nya pun memakan mie ayam dengan lahap, apalagi Melisa yang terlihat sangat menikmati makanan nya.


"Pelan-pelan makan nya, sayang."


"Iya, sayang. Maaf, aku lapar hehe." Jawab Melisa sambil tersenyum, Arvin mengusap sudut bibir Melisa yang belepotan. Ada-ada saja memang kelakuan wanita cantik itu.


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2