SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 58 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang juga, Arvin datang dengan sepeda motor milik nya. Namun, saat melihat penampilan nya, Melisa mengernyit. 


Penampilan Arvin terlihat berbeda dari biasa nya, dia nampak seperti eksekutif dengan jas berwarna hitam dan kemeja putih di dalam nya, celana bahan dan sepatu pentopel yang mengkilat, sungguh demi apapun Arvin nampak sangat gagah dengan pakaian itu. 


Pria itu membuka helm dan mengedarkan pandangan nya. Namun tak melihat keberadaan sang pujaan hati. 


"Aaahh, dia kan sedang sakit pasti berada di rumah nya." Gumam Arvin.


"Wahh, Arvin sudah pulang rupa nya?" Sapa Bu Amel dari seberang. Arvin hanya mengangguk lalu tersenyum, membuat Melisa yang mengintip dari jendela seketika bad mood. Dia tak suka saat melihat Arvin tersenyum pada orang lain, apalagi itu perempuan.


"Kok cepet, katanya semingguan." 


"Pekerjaan nya udah selesai, Bu. Jadi, ngapain saya disana kalo pekerjaan nya sudah selesai?" 


"Hmm, iya juga sih. Selamat beristirahat ya, Nak Arvin." 


"Iya, Bu. Terimakasih." Jawab Arvin, lagi-lagi dia tersenyum, membuat hati Melisa terasa kebakaran saking panas nya. 


Arvin pun membuka pintu rumah nya, lalu masuk dengan membawa barang-barang miliknya. Pria itu mengambil ponsel dan segera menghubungi Melisa. 


"Hallo, sayang.." 


'Iya, udah dimana?' Tanya Melisa lemas.


"Di rumah, kamu yang kesini atau aku yang kesana, yang?" 


'Kamu aja kesini, seperti biasa pintu nya gak aku kunci.' Jawab Melisa.


"Oke, sebentar ya." Panggilan pun selesai, Arvin berganti pakaian lebih dulu dengan pakaian andalan nya, kaos oblong dengan celana pendek selutut. Pria itu membawa beberapa paperbag berisi oleh-oleh untuk sang pujaan hati, meskipun Melisa mengatakan tak perlu membawa apa-apa, tapi tetap saja dia membeli beberapa barang untuk wanita itu.


Arvin membuka pintu belakang rumah Melisa, lalu masuk dan menutup nya kembali. 


"Sayang.."


"Di kamar depan.." Jawab Melisa sedikit keras, membuat Arvin langsung masuk ke kamar. Pria itu membuka pintu kamar dengan perlahan lalu menutup nya kembali.


"Sayang.." Melisa langsung menghambur memeluk Arvin, membuat pria itu hampir saja kehilangan keseimbangan.


"Astaga, sayang. Aku kaget tau, kamu ini." Ucap Arvin sambil terkekeh. Dia pun menyimpan barang yang dia pakai di atas kasur lalu membalas pelukan sang wanita tak kalah erat nya.


"Habis nya aku kangen.."


"Sama, aku juga kangen sama kamu, Ay." Jawab Arvin membuat pelukan Melisa semakin terasa erat di pinggang Arvin.


"Kamu gak nakal kan, ayang?" 


"Enggak tuh, nakal gimana sih, sayang? Aku cuma kerja disana. Kamu senang gak pas aku pulang cepet?" Tanya Arvin.


"Seneng dong, aku seneng banget." 


"Ohh ya? Kamu senang?"


"Iya, aku rindu dengan kehangatan ini. Aku juga rindu aroma tubuh kamu, sayang." Jawab Melisa, dia menghirup aroma tubuh Arvin yang terasa sangat menyegarkan bagi Melisa. 

__ADS_1


"Aku juga, sayang."


"Ayang, apa kamu tahu? Tadi Dion membawa Gia kesini lho." Ucap Melisa mengadu pada Arvin.


"Hah, benarkah? Dia mengenalkan nya sebagai apa?"


"Teman sepekerjaan." Jawab Melisa membuat Arvin melongo, lalu tertawa. Dion sangat konyol bagi Arvin, membawa selingkuhan ke rumah sendiri? Bukankah itu sama saja dengan membuka aib sendiri?


"Lawak banget suami kamu tuh, yang."


"Aku usir aja tadi." Jawab Melisa, dia tetap menduselkan wajah nya di dada bidang Arvin. Selain wangi, Melisa juga menyukai kehangatan pria itu.


"Bagus, usir aja, sayang."


"Hmmm, es jeruk pesanan aku mana, yang?" Tanya Melisa, dia ingat dengan es jeruk yang sedari tadi memenuhi pikiran nya.


"Itu.." Tunjuk Arvin, Melisa pun melerai pelukan nya lalu mengambil es jeruk dan meminum nya.


"Huhh, segar nya. Makasih sayang."


"Sama-sama, kamu suka?"


"Suka banget, ini nyegerin banget, yang." Jawab Melisa sambil tersenyum manis, membuat Arvin langsung mengacak rambut sang kekasih dengan gemas.


"Ini, aku juga beliin kamu dress." 


"Dress apa? Aku gak biasa pake dress, yang."


"Bagus lho ini, aku beliin khusus buat ayang aku." Arvin membuka paperbag dan menunjukkan dress yang dia beli untuk Melisa. Pertama, dress berwarna hijau mint selutut dengan belahan dada yang cukup rapat. Yang kedua, dress berwarna pink pastel berbahan siffon yang tipis dan jatuh, namun tidak menerawang. 


"Masih ada lagi, sayang." Arvin membuka lagi paperbag nya, dia menunjukkan dress berwarna merah maroon yang sangat cantik dengan hiasan manik-manik di bagian dada. Terlihat sangat cantik, elegant namun tetap sederhana. Tapi, saat melihat bandrol yang ada di pakaian itu, membuat Melisa tersedak es jeruk yang sedang dia minum.


"Lho, sayang. Kamu kenapa?" Tanya Arvin, dia langsung menepuk-nepuk pundak Melisa dengan perlahan.


"Harga baju nya bikin aku tersedak, sayang."


"Apa? Ini?" Arvin langsung mencabut bandrol nya dari pakaian itu dan membuang nya setelah merobek nya menjadi serpihan.


"Kok di robek sih?"


"Biar kamu gak terkejut lagi, sayang." Jawab Arvin, dia juga melakukan hal yang sama pada bandrol di kedua baju yang lain nya.


"Sayang, tanpa melihat bandrol harga nya pun orang-orang pasti tahu ini baju mahal." Ucap Melisa pelan.


"Gapapa, sayang. Biar suami kamu malu."


"Hmmm, iya deh. Makasih ayang." 


"Aku juga beli ini, hehe." Arvin menunjukkan satu setel lingerie seksii berwarna merah terang, membuat Melisa melotot. 


"Sayang, kamu berani beli ginian?"


"Berani dong, emang nya kenapa gak berani?" 

__ADS_1


"Tapi itu kan.."


"Apa? Ini cuma pakaian dinas, kok."


"Iya deh iya, nanti malam aku pake." Ucap Melisa membuat wajah Arvin berbinar cerah, begitu mendengar kalau Melisa akan memakai pakaian haram itu nanti malam.


"Beneran?"


"Iya, beneran kok. Sekarang temenin aku tidur yuk?" Ajak Melisa. 


"Iya sayang, sebentar aku kunci pintu nya dulu." Arvin pun mengunci pintu nya, lalu berbaring di samping Melisa dan memeluk pinggang nya dengan mesra, seperti biasa nya. Pelukan yang sangat Melisa rindukan, kehangatan yang di berikan oleh Arvin membuat nya bisa tidur lebih nyenyak.


"Masih agak panas, yang."


"Aku udah minum jamu kok tadi." 


"Jamu apaan?" Tanya Arvin sambil mengusap-usap bulatan kenyal di belakang tubuh sang wanita. 


"Jamu biar rapet."


"Wahh, bagus tuh. Kita coba nanti, makin rapet gak ya?"


"Kalau manjur, aku beli lagi besok." 


"Siap, sayang." Jawab Arvin, dia mengecup kening Melisa dengan lembut, lalu kedua nya pun tertidur. Melisa tidur nyenyak karena kembali berada di dalam pelukan hangat Arvin, sedangkan Arvin langsung tertidur karena dia merasa kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.


Sedangkan di rumah Gia, wanita itu tengah merasakan ke kesalan karena sudah di usir oleh istri sah Dion, yaitu Melisa. 


"Sudahlah, gak usah kesel gitu lah, Gi." Ucap Dion, tapi Gia masih merasakan kesal di hatinya. Harga dirinya terasa terluka karena insiden pengusiran itu. 


"Sebel aku, Mas. Harus nya kamu bermain aku tadi, malah langsung pergi. Bahkan kita belum makan seperti apa yang kamu janjikan!"


"Ya terus, kamu mau kalau Melisa membongkar hubungan kita?"


"Lho kok, dia gak tau hubungan kita kan?" Tanya Gia dengan wajah terkejut nya.


"Dia tahu, Gi."


"Kok bisa?" Tanya Gia.


"Mana aku tahu, tapi di dapur dia mengatakan kalau kita ini bukan teman sepekerjaan tapi teman seranjang. Itu artinya dia tahu hubungan kita kan, Gi?" Tanya Dion, Gia menganggukan kepala. Tapi, dari mana wanita itu mengetahui hubungan mereka?


"Sudahlah, sebaiknya tak usah di pikirkan. Aku lelah, ingin tidur."


"Hmmm, duluan saja. Aku ingin menunggu tukang bakso lewat."


"Tadi kan udah jajan cilok sama siomay, sekarang mau jajan bakso lagi?" Tanya Dion. 


"Kenapa sih? Cuma jajan juga, perhitungan banget jadi orang."


"Gi, nyari duit itu gak gampang." Ucap Dion, dia kesal karena hari ini saja Gia sudah menghabiskan uang hampir seratus ribu hanya untuk jajanan saja. Padahal, dia sudah berjanji akan mengurangi jajan nya jika di belikan gaun yang waktu itu dia inginkan hingga memantik pertengkaran di antara kedua nya.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2