
Melisa cemberut saat melihat Arvin malah mengajak nya untuk membeli baju, tadi setelah makan ramen, Melisa sudah mengajak Arvin untuk pulang, tapi pria itu malah masuk ke dalam salah satu toko pakaian.
"Sayang, ini bagus deh buat kamu." Ucap Arvin, dia menunjukkan dress selutut berwarna pink pastel. Belakangan ini, dia sangat suka melihat wanita nya memakai dress. Entah kenapa, tapi dia suka saja. Bagi nya, Melisa terlihat lebih anggun saat memakai dress seperti itu.
"Terserah." Jawab Melisa malas, yang di belikan waktu itu saja belum di pakai semua, sekarang sudah di belikan lagi.
"Kok bete gitu sih, Bby?"
"Aku gak suka kamu terus beliin aku baju, yang waktu itu aja belum di pake semua, sekarang udah mau beliin lagi." Ucap Melisa ketus.
"Aneh, biasa nya nih kalo cewek suka kalo cowok nya beliin baju atau perhiasan gitu, lah kamu kok sebaliknya sih?" Tanya Arvin membuat Melisa memutar mata nya jengah.
"Jangan samain aku sama cewek lain, aku beda."
"Iya, kamu beda sayang. Kalau barang, kamu tuh udah jadi barang langka. Tapi, aku gak suka kalau kamu pake baju itu-itu aja, sayang." Jawab Arvin.
"Yaudah, beliin yang banyak sekalian."
"Oke, kamu suka yang ini gak?" Tanya Arvin sambil menunjukkan dress berwarna pink pastel yang tadi, juga dress berwarna hijau mint dengan motif bunga-bunga.
"Aku suka yang oplosan aja, yang."
"Cobain yang bermotif kayak gini, biar kelihatan lebih seger. Tapi, jangan pake baju ini buat tebar pesona ya, sayang." Ucap Arvin memperingatkan wanita nya.
"Memang nya kenapa? Sebentar lagi aku akan menjanda." Jawab Melisa menggoda, membuat wajah Arvin tertekuk seketika.
"Sayang, aku gak suka ya kamu ngomong kek gitu. Kamu cuma milik aku, titik."
"Haha, iya iya sayangku." Jawab Melisa sambil menggelayut manja di lengan Arvin.
"Jadi nya beli ini aja ya, tiga?"
"Ya terserah kamu aja, aku gak punya duit buat beli baju." Jawab Melisa, membuat Arvin menoleh seketika.
"Gak punya duit? Udah habis ya? Nanti aku kasih." Jawab Arvin.
"Ee-eehh, bukan gitu maksud aku. Kalo cuma buat beli makan aku masih ada, gak ada tuh buat beli baju, sayang."
"No komen, ayo cepetan kita bayar." Ajak Arvin, dia pun menarik tangan wanita nya ke kasir dan membayar pakaian yang dia pilihkan untuk Melisa. Semua dress nya nampak cantik, selera pria itu sangat bagus sampai-sampai tak ada satu pun pakaian yang gagal jika di pakai oleh Melisa.
Setelah membayar nya, Arvin pun mengajak Melisa untuk pulang. Kali ini tidak turun di tempat yang agak jauh, tapi Arvin mengantarkan Melisa sampai ke rumah nya. Tak masalah jika pun ada yang curiga, toh sebentar lagi Melisa akan bebas dari suami nya, tapi ya itu pun kalau Dion tidak mempersulit jalan nya persidangan perceraian nanti.
"Sudah pulang, Neng." Sapa Bu Amel, sambil tersenyum ramah.
"Iya, Bu."
"Gimana, lancar?" Tanya nya lagi, sambil duduk di teras rumah Melisa.
__ADS_1
"Lancar kok, Bu. Gak tau deh kalau semisal Mas Dion yang nanti mempersulit persidangan nya." Jawab Melisa membuat Bu Amel mengusap pundak wanita itu dengan lembut.
"Kamu harus kuat ya, Neng. Kamu harus berjuang untuk kebahagiaan kamu sendiri."
"Tentu saja, Bu. Aku juga ingin bebas dari semua ini. Tapi mungkin, setelah aku bercerai dengan Mas Dion, aku harus pergi dari sini karena disini bukanlah tempat ku." Jawab Melisa lirih sambil tersenyum.
"Terus, kamu mau kemana, Neng?"
"Pulang ke tempat kelahiran ku, karena aku disini mengikuti Mas Dion, jika aku bercerai dengan nya, kenapa aku harus tetap disini?" Gumam Melisa.
"Tinggalah disini, kami sudah sangat nyaman dengan kehadiran kamu di desa ini."
"Entahlah, Bu. Ini adalah rumah dinas Mas Dion, kalau aku sudah bercerai dengan nya untuk apa aku tinggal disini lagi?"
"Hmm, kamu lanjutkan saja mengontrak disini, Neng."
"Akan aku pertimbangkan nanti." Jawab Melisa sambil tersenyum manis.
"Ya sudah, kalau begitu ibu pergi dulu. Uang arisan nya belum kumpul semua, nanti sore atau paling terlambat besok pagi ya?"
"Iya, Bu. Santai saja." Jawab Melisa lagi, Bu Amel tersenyum lalu pergi dari rumah Melisa. Begitu juga Melisa, dia memilih masuk ke dalam rumah nya dan duduk di kursi. Rumah nya terasa panas, tidak seperti di mall tadi yang terasa sangat sejuk, berbeda jauh dengan suasana di rumah nya.
"Sayang.."
"Iya, ada apa?" Tanya Melisa, dia berjalan dengan lemas ke arah dapur, mendekati Arvin yang sudah tersenyum manis menyambut kedatangan nya.
"Gak salah? Kita baru aja berpisah, sayang."
"Hehe, maklum lagi jatuh cinta jadi mau nya deket-deketan terus sama kamu." Jawab Arvin sambil memeluk Melisa dari belakang.
"Hmmm, bucin."
"Iya, aku bucin sama kamu, ayang." Jawab Arvin sambil mengecupi pipi Melisa yang terlihat lebih tembem dari biasa nya.
"Sayang, ini uang jajan buat kamu."
"Lho kok udah ngasih lagi aja, yang kemarin juga masih ada." Ucap Melisa, dia berusaha menolak uang dari Arvin, karena yang kemarin juga masih tersisa cukup banyak.
"Sisa nya di tabung, pokok nya aku seminggu ngasih uang segini ke kamu. Habis atau gak habis, aku gak bakalan minta, sayang." Jawab Arvin, sambil memberikan uang itu ke dalam tangan Melisa. Jatah nya selama seminggu sejuta, nominal yang cukup besar untuk waktu seminggu. Karena, dia mendapatkan uang segitu dari Dion harus cukup satu bulan. Terlihat benar perbedaan nya bukan?
Jika Dion memberikan uang sebesar itu sebulan sekali, maka Arvin memberikan nafkah untuk Melisa empat kali lipat dari yang Dion berikan pada nya.
"Tapi.."
"Kamu kan calon istri aku, sayang."
"Nanti sore juga, uang arisan udah kumpul kata Bu Amel. Itu juga uang, sayang."
__ADS_1
"Beliin perhiasan lagi, kali ini beli kalung ya kalau ada sisa nya beliin gelang, kalau kurang aku tambahin." Ucap Arvin membuat Melisa merasa tak enak, belum jadi suami saja Arvin sudah sebegini royal nya, bagaimana nanti jika sudah menjadi suami nya? Aaiihhh..
"Sayang, kamu terlalu berlebihan deh."
"Siapa yang berlebihan? Aku enggak tuh, aku ngasih kamu ya sesuai kemampuan aku." Jawab Arvin sambil tersenyum, lagi-lagi dia tersenyum manis sambil menatap wajah Melisa yang sudah memerah.
Hanya dengan di tatap sedemikian hangat dan penuh cinta saja sudah mampu membuat Melisa merona. Tatapan Arvin memang sangat luar biasa.
"Yaudah, makasih banget ya. Aku bakalan irit-irit uang nya."
"Gak usah irit-irit, kalau habis nanti aku kasih lagi, sayang. Jangan merasa sungkan, kalau memang sudah habis kamu tinggal minta sama aku."
"Aisshh, iya iya. Perasaan uang kamu gak habis-habis deh. Seberapa banyak sih uang kamu?" Tanya Melisa sedikit ketus, membuat Arvin terkekeh.
"Kan aku kerja, yang. Kalau kamu penasaran, besok kita ke ATM buat ngecek saldo aku."
"Hih, gak segitu nya juga kali, yang."
"Ya kan kamu nanya berapa banyak uang aku."
"Tabung, jangan di hambur-hamburin buat bekal nikah nanti. Aku mau nikah nya kayak Cinderella." Jawab Melisa, maksud nya hanya bercanda agar Arvin berhenti menghambur-hamburkan uang nya. Tapi siapa yang menyangka kalau pria itu akan menjawab jauh di luar ekspektasi nya.
"Kamu mau pernikahan nya tema Disney gitu, oke siap."
"H-ahh.." Melisa melotot, dia mengira Arvin akan melarang, atau bahkan marah tapi jawaban nya benar-benar di luar dugaan. Astaga, Arvin memang tidak terduga.
"Seperti nya putri Disney yang memakai gaun berwarna merah muda akan cocok dengan mu, sayang."
"Gaun merah muda? Siapa sih, ada ya putri Disney bergaun pink?" Tanya Melisa sambil memikirkan, memang nya ada ya? Yang dia tahu hanya Cinderella.
"Ada lho, itu yang putri tidur. Kalau di cium pangeran, baru dia bangun." Jawab Arvin sambil terkekeh.
"Ohh iya ya, yang putri tidur. Lupa aku, sayang."
"Kamu cuma tahu Cinderella doang ya?"
"Hehe, iya sayang." Jawab Melisa sambil cengengesan.
"Yaudah, kalau kamu mau tema pernikahan kita ala-ala Disney, aku akan mewujudkan nya." Ucap Arvin yang membuat Melisa menganga begitu mendengar jawaban pria itu.
"Tapi, aku cuma bercanda tadi, sayang."
"Kalau kamu menginginkan nya, jangan ragu-ragu. Aku akan bekerja keras untuk mewujudkan apapun yang kamu inginkan, sayang." Jawab Arvin sambil tersenyum, sedangkan Melisa hanya menghembuskan nafas nya dengan perlahan.
Pria ini terlalu serius dan tak bisa di ajak bercanda, hanya mengatakan dia ingin menikah seperti Cinderella, lalu Arvin akan mewujudkan nya. Huftt, beginilah ya kalau punya pacar terlalu peka. Jadi nya jangan sembarangan bicara.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻