SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 94 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Seminggu kemudian..


Pagi ini, Arvin terbangun lebih pagi. Dia menyiapkan pakaian nya sendiri, tanpa menunggu istri nya yang menyiapkan. Meskipun, seringkali Melisa merajuk karena kesal saat dirinya terlalu memanjakan nya. 


Bagaimana tidak di manjakan? Dari mulai pagi hari, siang, malam. Dia tidak mengerjakan apapun sama sekali, tidak memasak karena ada maid yang sudah di tugaskan. Meskipun seringkali Melisa kalau dia ingin memakan sesuatu, dia akan membuat nya sendiri karena dia tak mau menyusahkan maid yang lain.


Dia masuk ke kamar mandi dan langsung membersihkan tubuh nya, tentu nya sekalian keramas juga karena semalam dia habis menyatu bersama istri nya, bahkan Melisa belum berpakaian saat ini. Dia masih tertidur pulas, mungkin karena kelelahan karena semalam mereka melakukan itu tiga ronde. 


Ya, walaupun tidak melakukan hubungan suami istri, Arvin memang biasa keramas pagi-pagi karena bagi nya kegiatan itu sangat menyegarkan. 


Tak membutuhkan waktu lama, Arvin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di bagian sensitif nya. Air menetes-netes dari rambut nya hingga membuat basah dimana-mana.


"Kebiasaan, rambut nya tuh di gulung dulu pake handuk kecil kan bisa, sayang." Ucap Melisa, Arvin menoleh menatap sang istri yang ternyata sudah bangun. Pria itu nyengir tak berdosa, sedangkan Melisa mendelikan mata nya karena kesal. Dia baru tahu kebiasaan Arvin setelah dia resmi menikah dan menjadi istri nya.


"Ya maaf, Bby."


"Biasain dong, itu air nya kalo aku kepeleset terus jatuh gimana, hmm?" Tanya Melisa membuat Arvin membulatkan mata nya. Dia buru-buru mengambil alat pel dan mengepel lantai nya.


"Udah aku keringin, Bby. Maaf ya."


"Ya ampun, sayang. Gak usah segitu nya juga kali."


"Aku takut banget lho, Bby."


"Makanya, biasain kalo keluar dari kamar mandi, rambut nya di gulung pake handuk kecil ya?" Ucap Melisa dengan lembut.


"Iya, Bby. Maafin aku ya?"


"Aku maafin kok." Jawab Melisa, sambil mengusap kepala Arvin yang tersuru di perut nya yang sudah mulai membuncit. Sekarang, kandungan nya menginjak bulan ke lima. Cepat ya? Tentu saja cepat, karena saat menikah Melisa sudah hamil 4 bulan.


"Bby.."

__ADS_1


"Iya, kenapa?"


"Hari ini, aku kembali ke kantor. Kamu gapapa kan di rumah sama papa?"


"Ya enggak dong, kenapa memang nya?" Tanya Melisa, sambil mengusap lembut rahang tegas sang suami.


"Aku takut kalau papah gak sepenuh nya berubah dan menerima kamu, Bby. Aku tahu benar selicik apa papah, aku takut. Itu saja."


"Tak apa, sayang. Jangan berpikiran negatif tentang papah kamu sendiri, siapa tahu beliau memang benar berubah kan? Tak ada yang tahu seperti apa hati manusia, sayang." Ucap Melisa lagi. Arvin menatap wajah cantik sang istri, dengan ragu akhirnya dia pun menganggukan kepala nya.


"Ya sudah, aku mandi dulu. Kamu pake baju nya ya, nanti turun nya bareng-bareng."


"Oke, Bby." Jawab Arvin, kedua nya pun bubar. Melisa ke kamar mandi dan Arvin ke ruang ganti.


Selang beberapa menit, akhirnya pasangan suami istri itu turun juga dari kamar. Arvin langsung membawa istri nya ke ruang makan, disana sudah ada Darren yang sedang membaca koran dengan secangkir kopi hitam yang masih mengepul di depan nya.


"Pagi Arvin, Melisa." Sapa Darren dengan senyuman nya.


"Hmmm, pagi kembali pah." Jawab Arvin dengan datar. Sedangkan Melisa, wanita itu menebar senyuman manis nya.


"Bukankah itu keinginan mu?"


"Iya, memang itu keinginan ku." Jawab Darren pelan. 


"Lalu, kenapa harus bertanya?"


"Kau tidak mengenal basa-basi, nak?"


"Tidak sama sekali." Jawab Arvin datar, dia fokus makan. Sesekali akan menyuapi istri cantiknya dengan telaten.


"Apa kau akan membawa istrimu hari ini?"

__ADS_1


"Tidak, untuk apa aku membawa nya ke kantor?" 


"Tentu saja memperkenalkan nya secara langsung pada karyawan mu, Arvino."


"Hmm, iya tapi tidak hari ini. Karena Melisa sedang kelelahan seperti nya, lihat saja dia terlihat pucat." Jawab Arvin, benar memang kalau Melisa terlihat pucat pagi ini.


"Kau terlalu ganas, Vin."


"Ganas apaan? Aku tidak melakukan nya semalaman, aku hanya melakukan nya tiga ronde, biasa nya juga segitu." Jawab Arvin membuat wajah Melisa memerah karena malu, tapi tidak dengan Arvin dia hanya menunjukkan wajah datar nya, seolah tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Astaga, Arvin. Istri mu sedang hamil muda sekarang, jangan terlalu lama melakukan nya, kasian istri mu pasti kelelahan."


"Iya iya, sejak kapan kau jadi banyak omong begini?"


"Entahlah, mungkin sejak aku punya anak yang nakal." Jawab Darren, membuat Arvin mendelik. 


Setelah selesai sarapan, Arvin pun pergi ke kantor bersama Jo. Pria itu sangat bahagia saat mendengar kalau hari ini Arvin kembali ke kantor. 


Melisa mengantar suami nya hingga ke teras, pria itu mengecup kening nya lalu memeluk nya pelan.


"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku ya, Bby?"


"Iya, sayang. Lagian apa sih yang bakalan terjadi sama aku? Aku akan baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu, aku pergi dulu ya, Bby." Melisa mengangguk, dia pun pergi bersama Jo. Melisa melambaikan tangan nya saat mobil itu mulai menjauh dari rumah. 


"Nak, kemarilah.." Panggil Darren, tiba-tiba saja Melisa merasa gugup. Kira-kira, apa yang akan Darren lakukan hingga dia memanggil Melisa?


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


jangan lupa mampir ke karya temen author🌻



__ADS_2