
Melisa terbangun tengah malam saat merasakan tubuh nya terasa sedikit sejuk, dia meraba ke tempat Arvin tidur, tapi ranjang nya kosong hanya ada dirinya saja.
Dengan mata setengah mengantuk, Melisa pun bangkit dari rebahan nya, dia mengeratkan selimut nya lalu celingukan mencari keberadaan Arvin.
"Yang.." panggil Melisa, namun tak ada jawaban. Hanya ada keheningan yang menyelimuti malam ini, hujan di luar sangat deras, beberapa kali kilat menyambar membuat tubuh Melisa menggigil. Dingin dan juga takut bercampur menjadi satu.
Lampu kamar dan lampu utama juga mati, membuat suasana kian mencekam karena keadaan nya gelap gulita.
"Sayang.." panggil Melisa lagi, namun keadaan nya masih sama, tak ada jawaban sama sekali, membuat Melisa ketakutan.
"Astaga, Arvin kemana ya malam-malam begini." Gumam Melisa.
Dengan segenap kekuatan, Melisa mencari keberadaan pintu dan membuka nya, dia melihat ada sedikit cahaya di area dapur. Melisa melangkah mendekat, benar ada ponsel yang tertelungkup disana, tapi Arvin masih belum kelihatan.
"Sayang.."
"Iya, sayang.." Jawab Arvin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Syukurlah."
"Kamu kebangun, sayang? Kenapa?" Tanya Arvin, dia mendekat dan membenarkan selimut yang Melisa gunakan untuk menutupi tubuh polos nya.
"Dingin, pas aku bangun kamu gak ada. Kemana aja? Ngapain disini malam-malam, yang?" Rajuk Melisa membuat Arvin terkekeh.
"Aku lapar, sayang. Tadi nya, mau bikin mie instan."
"Terus? Ninggalin aku sendirian di malam hari, dengan keadaan gelap gulita? Jahat kamu!"
"Aihhh, sayang. Aku gak kemana-mana kok, cuma di dapur. Habis nya aku lapar, maaf ya."
"Tau aahh, aku sebel." Melisa memalingkan wajah nya lalu bersiap pergi dari dapur. Tapi, tiba-tiba saja kilat menyambar dengan keras hingga membuat Melisa menjerit ketakutan.
"Aaaaaaaa…"
"Sayang.." Arvin langsung meraih Melisa ke dalam pelukan nya, lalu mengusap punggung Melisa. Tubuh wanita itu bergetar membuat Arvin mendekap nya semakin erat.
"Sayang, kamu takut petir?" Tanya Arvin, Melisa mengangguk pelan.
"Ya ampun, sayang. Maafin aku, aku gak tau kalau kamu takut petir." Arvin mengecupi kepala Melisa dengan penuh kasih sayang. Dia tak menyangka kalau wanita nya takut petir, bahkan hingga membuat tubuh nya bergetar seperti ini saking takut nya. Tapi, dia malah meninggalkan nya sendirian tadi.
"Aku takut banget tadi, kamu nya malah gak ada."
"Shttt, sudah ya gak perlu nangis. Sekarang aku disini, di samping kamu." Ucap Arvin sambil terus mengecupi kepala Melisa dengan lembut.
"Laper.." rengek Melisa, tadi setelah mereka bergulat, kedua nya langsung tidur dan melupakan makan malam.
"Iya, kita makan mie instan ya."
"Tapi, itu kan gak sehat yang?"
"Gapapa, kalo sekali-kali cantik." Jawab Arvin sambil tersenyum. Melisa pun menganggukan kepala nya, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Arvin. Masih mengenakan selimut yang sedari tadi menutup tubuh nya.
"Jangan membantu, biar aku saja yang masak." Ucap Arvin, dia pun menghidupkan kompor dan memasak dua bungkus mie instan pedas ala Korea.
Seperti nya Arvin juga belum menyadari nya, jadi dia hanya memasak dan setelah matang dia menyajikan nya di depan Melisa. Semangkuk mie instan dengan kaldu yang nampak menggoda, membuat perut Melisa semakin keroncongan. Belum lagi, dengan telur rebus setengah matang di atas nya, membuat Melisa semakin lapar.
"Tunggu apa lagi, sayang? Makan dong."
"Kamu?"
"Iya, ini aku juga makan, sayang. Tapi sebelum itu, aku akan mengambil sesuatu dulu."
"Sayang, kamu ninggalin aku lagi?"
"Sebentar kok, cuma ngambil barang setelah itu kesini lagi."
"Janji cuma sebentar?" Tanya Melisa, Arvin menganggukan kepala nya, dia pun mengacak rambut Melisa karena gemas lalu pergi dari dapur untuk mengambil sesuatu yang entah apa.
Tak lama, Arvin kembali dengan membawa daster milik Melisa yang sempat ketinggalan di rumah nya.
"Ini, pakai dulu. Sebelum aku menerkam mu lagi, sayang." Ucap Arvin sambil meletakan daster di dekat Melisa.
__ADS_1
"Hah?" Tanya Melisa, dia juga belum ngeuh kalau dia tidak mengenakan apapun di balik selimut itu.
"Tuh, dada mu mengalihkan dunia ku, sayang." Ucap Arvin sambil menunjuk dada Melisa yang sedikit terbuka. Melisa menundukan pandangan nya, lalu segera menutup nya.
"Gak usah di tutup, aku udah lihat semua milik kamu, bahkan merasakan nya. Jadi, ada baik nya segera pakai pakaian mu sebelum aku berubah pikiran, sayang."
Melisa pun segera memakai pakaian nya disana, tanpa malu pada Arvin. Toh, benar juga yang di katakan oleh pemuda itu, dia sudah melihat semua nya bahkan merasakan seluruh tubuh nya.
"Nah, gitu kan keliatan lebih bagus. Ayo makan, sayang."
Melisa pun makan dengan lahap, ternyata rasa mie instan cukup enak juga, apalagi kaldu nya yang terasa gurih dan hangat.
"Enak kan?"
"Iya, enak. Gak terlalu pedes juga, tapi kaldu nya gurih banget, yang." Jawab Melisa.
"Kalau enak, ayo makan lagi. Nanti, kalo kamu suka aku beliin satu dus ya?"
"Hah, serius? Satu dus?" Tanya Melisa sedikit tak percaya.
"Iya, satu dus."
"Satu dus itu isinya berapa, yang?" Tanya Melisa, dia merasa kalau satu dus mungkin terlalu banyak. Memang nya siapa yang akan memakan nya? Hanya dirinya sendiri, kalau Dion tak mungkin mau makan makanan tak sehat seperti ini.
"Empat puluh bungkus, yang."
"Kebanyakan, sayang. Yang makan nya cuma aku doang."
"Yaudah, kamu bawa dari sini aja sepuluh bungkus, buat stok di rumah kamu. Kalo habis, bilang sama aku. Nanti aku beliin lagi." Ucap Arvin.
"Iya, sayang." Jawab Melisa.
"Omong-omong, krim yang aku beliin udah habis?"
"Sedikit lagi, yang."
"Oke, besok sekalian kita beli lagi. Cocok gak, ada timbul jerawat atau beruntusan, sayang?" Tanya Arvin lagi. Melisa menggeleng, wajah nya tak timbul masalah apapun. Kalau pun ada jerawat, bukan kah itu normal. Lagi pun, dia sering jerawatan kalau sudah mendekati waktu menstruasi.
"Gapapa, sayang. Aku juga berkewajiban untuk menafkahi mu juga, sayang."
"Tapi, kamu kan.."
"Enggak, sayang. Menafkahi kamu adalah kewajiban ku juga." Jawab Arvin dengan tegas.
"Hmm, baiklah terserah kamu saja."
"Uang bulanan sudah habis, yang?" Tanya Arvin.
"Masih ada, mungkin beberapa ratus ribu lagi." Jawab Melisa.
"Astaga, aku hanya memberi mu 500 ribu, sayang. Kenapa awet sekali?" Tanya Arvin lagi, dia shock mendengar ucapan Melisa yang ternyata uang yang dia beri pada Melisa masih tersisa. Astaga, bagaimana cara Melisa menggunakan uang dari nya?
"Tapi ya memang masih ada, sayang." Jawab Melisa.
"Gak mau tahu, harus habis besok. Nanti aku kasih lagi, sayang."
"Astaga, baiklah. Mau aku beliin bakso nanti."
"Bagus, sayang." Jawab Arvin dengan senyum manis nya.
"Aku sudah habis, bobok lagi yuk?" Ajak Melisa pada Arvin.
"Ayo, sayang." Jawab Arvin, dia pun mengambil selimut dan membawa nya ke kamar. Lampu belum juga hidup, jadi suasana nya masih gelap gulita.
Arvin menyimpan ponsel nya di nakas dengan kondisi tertelungkup, jadi ruangan itu sedikit terang saat ini.
"Ayo tidur, sayang." Ucap Arvin sambil berbaring, tangan nya memeluk pinggang Melisa dengan erat.
"Jangan ninggalin aku lagi, sayang."
"Iya, gak bakalan kok, yang."
__ADS_1
"Beneran kan?"
"Astaga, iya sayangku." Jawab Arvin, Melisa pun percaya dan memilih kembali tidur di dalam pelukan Arvin.
Pagi hari nya, ternyata masih mati lampu. Ibu-ibu sudah ramai membicarakan tak bisa memasak nasi karena mati lampu. Rata-rata, disini memasak nasi kan menggunakan magic com, otomatis menggunakan listrik.
"Sayang, bangun.." Ucap Arvin lirih, dia membangunkan Melisa yang masih tertidur nyenyak.
"Hmmm, apa sih?"
"Bangun, udah siang." Ucap Arvin, Melisa pun membuka kedua mata nya dengan perlahan. Benar saja, sinar matahari saja sudah mengintip dari balik celah gorden kamar Arvin.
"Aku tidur nya nyenyak banget deh." Jawab Melisa, dia melepaskan pelukan nya di pinggang Arvin lalu membenarkan daster yang di kenakan nya.
"Iya, tapi sekarang masih mati lampu. Jadi gak bisa masak nasi, yang."
"Wahh, kalo gitu aku masak nasi nya di kompor aja." Jawab Melisa.
"Hmm, yaudah hati-hati ya. Mau belanja gak? Biar aku aja yang belanjain buat kamu."
"Aku pengen masak tomyum deh, kamu beli seafood ya? Nanti aku masak nya disini aja." Ucap Melisa.
"Siap cantik, sekarang kamu siap-siap aja. Siapa tahu suami kamu balik kan?"
"Iya, sayang." Jawab Melisa, dia mencari celana dalaam nya dan setelah menemukan nya dia memakai nya dan bergegas pulang dengan membawa pakaian yang semalam.
Melisa pun memasak nasi di kompor, dia juga menggoreng ikan dan daging ayam untuk berjaga-jaga kalau suami nya pulang dari rumah selingkuhan nya. Sedangkan Arvin, dia keluar dari rumah dengan rambut kelimis nya, yakin kalau dia habis mandi.
"Pagi, Bu ibu." Sapa Arvin dengan ramah, seperti biasa nya.
"Pagi, Nak Arvin. Mau beli apa?" Tanya Bu Ratmi.
"Beli seafood, mau bikin tomyum." Jawab Arvin.
"Emang bisa?" Tanya Bu Amel dengan nada menggoda. Pasalnya, semua orang juga tahu kalau Arvin itu masih bujangan, ya masa bisa masak menu makanan yang cukup rumit seperti itu.
"Bisa lah, lagi pengen aja." Jawab Arvin sambil tersenyum. Dia pun mengambil udang dan cumi-cumi basah, lalu perbumbuan sesuai perintah Melisa tadi sebelum pulang.
"Ini bang, udah selesai belanja nya."
"Total nya jadi 75 ribu."
"Ini uang nya, kembalian nya ambil aja buat Abang. Makasih ya." Ucap Arvin, dia pun segera masuk ke dalam rumah nya dengan membawa belanjaan yang dia beli tadi.
"Wahh, nak Arvin baik sekali ya."
"Iya, pasti beruntung sekali kalau yang jadi istri nya nanti. Sudah mah ganteng, bisa masak, kayak nya dia hebat juga di ranjang." Celetuk salah satu ibu-ibu yang membuat yang lain terkekeh.
Ucapan ibu-ibu itu tak luput dari telinga Melisa, dia akhirnya harus pergi ke tukang sayur karena lupa kalau bawang merah di rumah nya habis.
"Bang, ada bawang merah?" Tanya Melisa datar, membuat ibu-ibu saling menatap satu sama lain. Pasalnya, biasa nya Melisa selalu menebar senyuman dimana pun dan kapan pun.
"Ada Neng."
"Seperempat aja, Bang. Berapa?" Tanya Melisa, sambil membuka resleting dompet kecil milik nya.
"Sepuluh ribu aja, Neng."
"Makasih ya, bang." Jawab Melisa, dia pun langsung pulang tanpa peduli akan ekspresi ibu-ibu.
"Neng Meli, kenapa ya?"
"Gak tau, mungkin lagi ada masalah atau lagi datang bulan." Jawab yang lain dengan sangat pelan, tujuan nya ya agar tidak terdengar oleh Melisa.
Sesampai nya di rumah, Melisa masih merasa kesal, kenapa mereka harus bilang kalau Arvin hebat di ranjang juga sih? Memang benar, itu fakta nya. Arvin memang jauh lebih hebat dalam urusan ranjang dari para suami nya, tapi entahlah hati nya merasa tak suka saat mendengar orang membicarakan Arvin seperti itu.
"Sebel deh, harus nya udah tua gak usah genit sama berondong." Gumam Melisa, sambil membuka plastik kecil berisi bawang merah yang dia beli.
.....
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1