SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 88 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Mbak Mel, usia nya berapa?" Tanya Dara pada Melisa.


"Tahun ini dua tujuh." Jawab Melisa lirih. 


"Hmmm, mbak Mel lebih muda dari aku." Jawab Dara sambil terkekeh, membuat Melisa sedikit merasa tak percaya.


"Memang nya kamu usia nya berapa?" 


"Dua sembilan, seusia sama Arvin." Jawab Dara sambil tersenyum manis, hingga mata nya menyipit seperti bulan sabit. Cantik sekali, tapi dia harus ingat kata Arvin kalau dia tak boleh insecure. Karena, dia juga cantik. 


"Ohh begitu ya.."


"Jadi, kelanjutan perjodohan itu gimana, Dar?" Tanya Arvin membuat Dara mengubah ekspresi wajah nya.


"Ngapain nanya begituan? Bikin badmood aja."


"Aku cuma nanya, Dara."


"Ya kalau kamu udah punya pasangan, ngapain masih nanyain tentang perjodohan? Aku seneng banget lihat kamu udah ada pasangan kek gini." Celoteh Dara sambil terkekeh.


"Senang kenapa, kak?" Tanya Melisa.


"Dari awal, kami memang sudah saling mengenal karena aku dan Arvin kuliah di kampus yang sama. Tapi, tentu nya kami tidak setuju dengan perjodohan itu. Meskipun kami bisa di bilang dekat, tapi jika untuk menikah, kami sama-sama tidak menginginkan nya, mbak Mel." Jelas Dara panjang lebar.


"Kenapa, kak? Bukan nya Arvin tampan?"


"Ya, itu sih harus nya gak usah di tanyain lagi ya, karena mata aku juga masih berfungsi dengan baik. Tapi, aku tidak menyukai Arvin, begitu juga sebaliknya. Saat ini, aku sudah memiliki tambatan hati." Jawab Dara, membuat Melisa menghela nafas nya dengan lega. 


Awal nya, dia takut kalau Dara akan marah saat melihat dirinya dan Arvin makan bersama, karena dialah yang di jodohkan oleh kedua pihak orang tua, tapi ternyata tidak sama sekali. Bahkan, Melisa bisa menilai kalau Dara adalah sosok gadis yang baik dan ramah.


"Jadi, harus nya perjodohan ini resmi di batalkan, iya kan Dar?"


"Hmm, harus nya begitu. Tapi entahlah, karena papah gak setuju kalau aku membatalkan perjodohan ini."


"Kenapa, Dara?"


"Papah gak merestui aku sama pacar aku, tapi sekarang dia sedang berjuang agar papah yakin untuk memberikan restu nya." Jawab Dara. 


"Jadi?"


"Ya, kami sama-sama berjuang untuk restu. Karena aku tak mau menikah tanpa restu dari papah, aku wanita jadi menikah harus ada wali nya. Beda lagi kalau aku adalah laki-laki, kawin lari juga bisa." Jelas Dara yang membuat Arvin manggut-manggut.


"Kasus nya sama sih, aku juga begini. Tadi, aku habis berkunjung ke rumah papah. Tapi, respon nya sangat buruk, Dar."


"Jadi, Om Darren gak setuju sama Mbak Mel, Vin?" Tanya Dara, Arvin menggelengkan kepala nya.


"Ahhh masa? Orang mbak Mel sempurna gini kok."


"Ya itu kan menurut mu, beda lagi pendapat papah. Dia terlalu memandang kasta dan kedudukan, padahal itu semua kan gak di bawa mati gitu." 


Dara yang mendengar hal itu menggelengkan kepala nya, dari awal juga dia tahu kalau Darren adalah pria yang keras kepala, egois dan ambisius. Maka dari itu dia tidak pernah mengiyakan perjodohan itu. 


"Hmm, jadi langkah selanjut nya apa, Vin?" 


"Aku tetap akan menikahi Melisa, Dar. Aku sudah melakukan sesuatu pada dia dan aku tak mau di anggap sebagai pria yang tak bertanggung jawab, jadi aku akan menikahi Melisa meskipun tanpa restu dari papah." Jawab Arvin membuat Melisa mendongak menatap wajah pria tampan itu dengan sendu, tapi Arvin malah tersenyum manis ke arah nya seolah mengatakan kalau dia baik-baik saja.


"Wahh, ternyata kamu gentle juga ya, Vin. Bagus tuh, kalian harus sama-sama berjuang buat bisa bersama. Masalah restu, tak masalah lama kelamaan mungkin Om Darren juga bakalan luluh." 


"Ya, aku juga berpikir seperti itu, Dar."


"Terus pekerjaan disini gimana, Vin?" Tanya Dara lagi.


"Pekerjaan apa?"

__ADS_1


"Bukan nya kamu yang selama ini mengelola perusahaan?"


"Hmmm, ya. Tapi sekarang, aku sudah memundurkan diri. Aku tak mau di repotkan dengan hal-hal yang akan membuat aku ribet nanti nya. Papah juga sudah tidak menganggap aku sebagai putra nya, jadi apa lagi yang harus aku kerjakan disana? Tidak ada lagi." Jawab Arvin panjang lebar.


"Aku kagum sama kamu, Vin."


"Ya, materi bisa di cari. Jika kita benar-benar berusaha, maka tidak ada yang mustahil."


"Benar, apa yang kamu katakan itu benar. Terus berjuang ya, semangat. Kalian pasti bisa, aku mendukung keputusan kalian." Jawab Dara sambil tersenyum, dia menggenggam tangan Melisa lalu tersenyum pada wanita itu. 


Jujur saja, ini begitu membuat nya terkejut karena ternyata Arvin jika sudah benar-benar mencintai, dia akan rela melepaskan semua yang sudah dia capai hanya agar bisa bersama wanita yang dia pilih, seperti saat ini. Dia benar-benar kagum pada keberanian pria itu, tapi meskipun begitu dia takkan jatuh cinta pada Arvin. Cukup di batas kagum saja, dia tak mau mengecewakan perjuangan kekasih nya juga.


Karena, kekasih nya juga sedang berjuang melakukan yang terbaik agar bisa bersama dengan nya. Inti nya, setiap pasangan pasti punya masalah. Begitu juga dengan pasangan Arvin dan Dara, mereka harus berjuang untuk restu. 


Beda nya, mungkin saja orang tua Dara masih memberikan kesempatan bagi kekasih Dara untuk menunjukkan keseriusan nya pada putri mereka, berbeda dengan Arvin yang justru keinginan nya di tolak mentah-mentah oleh sang papah, bahkan di sertai ancaman yang cukup mematikan.


Namun demikian, ancaman sang papah tidak membuat nya gentar. Kalau Darren mengira dengan mengancam akan mengambil semua yang Arvin punya, dia akan ketakutan ternyata itu salah besar. Karena pada kenyataan nya, Arvin rela melepaskan semua yang dia miliki demi Melisa. Artinya, cinta Arvin pada wanita cantik itu tidak main-main.


"Anggap saja, itu ujian untuk cinta kalian berdua agar terjalin lebih erat ya." Ucap Dara.


"Terimakasih. Bisakah kau menemani Melisa terlebih dulu? Aku ingin ke kamar mandi dulu."


"Ya, serahkan saja padaku. Melisa akan akan jika bersama ku, Arvin." Jawab Dara, Arvin pun beranjak dari duduk nya dan pergi ke arah belakang. 


"Mbak Mel.."


"Iya." Jawab Melisa lirih, suara nya bahkan nyaris tak terdengar.


"Kenapa kamu masih terlihat canggung, mbak?"


"T-idak kok, aku biasa saja."


"Kamu tidak pandai berbohong, mbak." Jawab Dara.


"Tak usah seperti itu, mbak." Jawab Dara sambil tersenyum.


"Aku akan mencoba nya." Melisa tersenyum ke arah Dara, di balas oleh senyuman juga oleh wanita itu. 


"Sebagai seorang perempuan, kita memang layak untuk di perjuangkan, mbak Mel." Ucap Dara pelan.


"Maksud nya?"


"Aku tahu, Mbak Mel merasa minder atau kurang merasa percaya diri mungkin?" Tanya Dara, jelas saja hal itu membuat Melisa terhenyak. Bagaimana bisa Dara mengetahui hal ini? Apa dari gerak-gerik nya, atau dari ekspresi wajah nya yang terlalu kentara?


"Kenapa kamu bisa tahu?"


"Aku tahu dari mata mu, Mbak." Jawab Dara, dia menoleh ke arah Melisa dan menatap wanita itu dengan dalam. 


"Ya, sejujur nya aku memang merasa seperti itu. Karena aku pikir Arvin itu pria biasa, bukan pewaris dari sebuah perusahaan. Sedangkan aku? Hanya upik abu, yang mungkin bermimpi untuk menjadi seorang putri. Aku orang miskin, Dara. Aku tak mau orang lain hanya menilai aku mau bersama Arvin karena melihat harta, padahal tidak sama sekali. Aku mencintai Arvin apa adanya, bahkan aku mencintai nya saat aku belum tahu apa-apa." 


"Aku mengerti, mbak. Jadi kalian harus berjuang bersama, lihatlah Arvin yang rela mengorbankan semua nya demi bisa bersama Mbak Mel, itu artinya Arvin benar-benar mencintai mbak dengan tulus." Jelas Dara.


"Tapi, bagaimana dengan restu orang tua nya?"


"Tak masalah, aku juga mengatakan kalau restu bisa di berikan seiring berjalan nya waktu. Om Darren juga akan luluh nanti, cukup percaya saja pada Arvin. Itu yang harus mbak lakukan saat ini, berjuang bersama jangan sampai Arvin merasa kalau dia berjuang sendiri ya mbak." 


"Iya, terimakasih Dara. Pria yang mendapatkan mu pasti pria yang sangat beruntung. Hati mu begitu baik." Ucap Melisa membuat Dara tersenyum kecil.


"Mbak tidak usah menyanjung ku seperti ini, aku malu. Mbak juga sosok yang sempurna."


"Tidak, aku masih punya banyak kekurangan." 


"Biarlah kekurangan itu di lengkapi oleh Arvin, mbak. Jadi kalian bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain." Ucap Dara lagi yang membuat hati Melisa menghangat. 

__ADS_1


Apa yang di katakan Dara sangat benar, dia harus nya berjuang bersama Arvin, mendukung setiap langkah nya karena itu semua demi kebahagiaan mereka berdua. Jangan membiarkan Arvin merasa kalau dia berjuang sendirian, karena berjuang sendirian itu sangatlah tidak mengenakan, karena dia sudah mengalami nya sendiri.


Melisa menganggukan kepala nya, kedua mata nya berkaca-kaca. Belum pernah dia mendapatkan kasih sayang sebesar yang di berikan oleh Arvin pada nya, bahkan dari orang tua nya sekali pun dia tak mendapatkan nya sama sekali. 


"Jangan menangis dong, nanti cantik nya luntur. Aku juga gak mau di omelin sama Arvin karena udah bikin wanita kesayangan nya menangis." Celoteh Dara yang membuat Melisa terkekeh. 


Seperti nya, Dara adalah tipe wanita yang banyak omong, cerewet tapi asik. Apalagi di ajak ghibah, hehe.


Tak lama kemudian, Arvin kembali dari toilet. Dia melihat ada yang aneh dengan senyuman Melisa, benar-benar manis. Bahkan manis nya gula saja kalah oleh senyuman wanita cantik itu.


"Kamu kenapa senyum gitu sih? Aku kan gak tahan."


"Heh, gak tahan apa? Inget, disini masih ada aku ya!" Ketus Dara yang membuat Arvin tergelak.


"Kamu disini ngapain, sama siapa?"


"Nungguin calon suami, dia ngajakin ketemu disini sekalian makan siang." Jawab Dara. Seperti kebetulan, tak lama kemudian datang lah seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan wajah tampan yang memikat. Meskipun di mata Melisa, Arvin adalah yang tertampan. 


"Sayang.." Panggil Dara, pria itu pun mendekat dengan wajah ramah nya.


"Sudah lama, sayang? Maaf ya, sumpah tadi macet nya parah banget. Katanya ada kecelakaan gitu." Jelas pria itu tanpa di minta, mungkin dia khawatir akan di curigai yang tidak-tidak oleh wanita nya.


"Iya, gapapa kok. Udah ada setengah jam sih aku disini, tapi gapapa kok aku sama Mbak Mel disini."


"Mbak Mel, siapa?" Tanya nya, Dara pun mengenalkan sosok wanita yang duduk di samping nya pada sang kekasih.


"Ini Mbak Melisa, itu Arvin."


"Arvin? Dia pria yang di jodohkan sama kamu kan, yang?"


"Iya, kenapa keliatan panik gitu sih? Sini duduk dulu." Ucap Dara, barulah pria itu duduk di samping Arvin. Sesekali dia melirik ke arah Arvin yang nampak santai sambil meminum jus alpukat milik nya.


"Sayang.."


"Iya, kenapa? Wajah kamu kok jadi kusut gini, nanti ganteng nya hilang lho."


"Aku lagi serius lho ini, yang." Jawab nya membuat Dara terkekeh geli melihat tingkah pria yang akan menjadi suami nya ini.


"Ya, siapa yang ngajakin bercanda sih."


"Kalian ketemuan gini mau bicarakan tentang perjodohan itu kan? Sayang, ayolah aku kan lagi berjuang buat restu." 


"H-ahh? Apaan sih kamu, yang. Ada-ada aja, kamu gak liat disini ada siapa aja hmm?" Tanya Dara yang membuat pria itu lupa akan sosok wanita yang tadi di kenalkan oleh sang kekasih.


"Mereka pacaran?"


"Iya, mereka pasangan, sayang." Jawab Dara yang membuat wajah pria itu berbinar.


"Ohh, syukurlah kalau begitu. Aku kira kalian kesini bicarakan tentang perjodohan itu." Ucap nya lagi yang membuat Dara tergelak. 


"Enggak kok, aku sama Arvin kan sama-sama punya pilihan masing-masing, sayang." 


"Baguslah, kalau begitu perjuangan ku gak bakalan sia-sia. Hehe."


"Hmmm, kenalkan ya ini Richard." 


"Salam kenal." Ucap Richard sambil tersenyum tulus. Mereka pun melanjutkan acara makan siang itu dengan di selingi oleh obrolan-obrolan hangat. 


Setelah selesai makan, Arvin dan Melisa pun pulang kembali ke apartemen. Besok, mereka akan pulang menaiki bus. Karena Arvin merasa kalau mobil yang biasa di pakai untuk mengantar jemput nya, kini bukan lagi hak nya. Biarlah, dia akan menjadi orang biasa saja sekarang. Tak masalah, asal dia bersama Melisa maka semua nya akan baik-baik saja.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2