SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 64 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Pagi hari nya, seperti tidak terjadi apa-apa Melisa pulang ke rumah nya dan memasak untuk sarapan di rumah nya, sedangkan Arvin pergi untuk lari pagi, sudah cukup lama dia tak melakukan kebiasaan nya itu lagi semenjak dia sering tidur bersama Melisa, karena dia akan bangun siang. Kenapa? Jawaban nya karena dia nyaman saat tidur sambil memeluk wanita cantik pujaan hati nya itu.


Tapi saat ini, Arvin sudah berangkat untuk lari pagi seperti rutinitas nya setiap hari. Pukul delapan pagi, barulah Arvin kembali ke rumah dengan keringat yang membanjiri tubuh nya. Pria itu duduk di kursi yang ada di teras, saat ada warga yang berbondong-bondong lewat di depan rumah nya. 


Pria itu mengernyitkan kening nya, lalu beranjak dari duduknya dan memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu warga yang lewat.


"Maaf pak, ada apa ya?" Tanya Arvin.


"Pasangan mesuum nih, kepergok warga." Jawab nya membuat Arvin melongo.


"Siapa?"


"Dion, guru bahasa Indonesia di SD ujung sama janda." Jawab nya, membuat Arvin terkejut setengah mati.


"Cewek nya siapa, pak?"


"Gia, ini mau di rundingkan dulu sama istri sah nya, mau bagaimana pun pasangan zina kan harus di nikahkan." 


"Ohh begitu ya, terimakasih atas informasi nya, pak." 


"Iya, sama-sama. Tinggal disini?"


"Hehe, iya pak."


"Aneh, kalian kan tetanggaan masa gak tau tetangga nya selingkuh."


"Ya mana saya tahu, pak. Saya gak nanya plus gak mau ikut campur urusan rumah tangga orang lain, barusan aja saya nanya ya karena penasaran aja kenapa ramai-ramai." Jelas Arvin membuat pria yang di tanyai oleh Arvin tadi tertawa.


"Ya sudah, saya kesana dulu."


"Iya, pak." Jawab Arvin. Pria itu pun pergi dari rumah Arvin, lalu masuk ke dalam rumah yang di tinggali oleh Dion.


Sedangkan di rumah nya, Melisa terkejut setengah mati saat melihat suami nya di gelandang oleh warga bersama wanita yang dia kenalkan sebagai teman sepekerjaan nya, siapa lagi kalau bukan Gia.


Kedua nya menunduk di ruang tengah, apalagi Dion yang tak berani menatap Melisa. Tadi, wanita itu baru saja selesai masak untuk sarapan, tapi tiba-tiba rumah nya di ketuk dengan cepat, Melisa kira siapa yang datang tapi saat melihat suami nya di arak oleh warga dia terkejut setengah mati, namun belum tahu ada apa ini.


"Ada apa ini? Sebenarnya ada apa?" Tanya Melisa, dia bertanya-tanya sebenarnya sudah terjadi apa hingga membuat suami nya di arak seperti ini, tanpa pakaian hanya celana panjang saja yang dia kenakan, sedangkan baju nya entah kemana.


"Begini, Neng. Suami neng dan Gia ketahuan mesuum di rumah nya tadi pagi, kami menggerebek nya." Jelas salah satu orang pria yang membuat Melisa menganga. Dia memang sudah mengetahui perselingkuhan suami nya dan Gia, tapi dia tak menyangka kalau suami nya akan di gerebek warga. Malu? Jelas saja dia merasa malu, sangat malu atas perbuatan suami nya.


"Ini benar, Mas?" Tanya Melisa pada Dion, pria itu hanya mendongak sekilas menatap wajah istri nya, lalu kembali menundukan kepala nya. Tanpa jawaban apapun, berarti semua ini benar-benar terjadi? 

__ADS_1


"Katakan semua ini gak bener, Mas!" Melisa meninggikan suara nya, membuat Dion hanya menatap istrinya itu. Baru kali ini dia mendengar Melisa meninggikan suara nya di depan nya.


"Kamu diam berarti semua ini bener, Mas?" Lirih Melisa. 


"Maaf, Neng. Tapi saya selaku ketua RT, warga pasti menginginkan.."


"Nikahkan saja mereka, pak. Kalau perlu hari ini juga, setelah itu saya akan meminta cerai dari suami saya, pak." Jelas Melisa, sontak saja membuat Dion langsung mendongakan kepala nya.


"Mel, jangan begitu.."


"Kenapa Mas? Aku tak mau menanggung malu lagi karena ulah mu ini. Cukup selama ini aku bertahan, sekarang aku sudah menyerah." 


"Tapi Mel, aku gak mau cerai sama kamu."


"Lalu, bagaimana dengan masa depan Gia? Mau bagaimana pun kalian ini sudah membuat malu kampung karena kelakuan kalian. Maaf Mas, keputusan aku sudah bulat. Secepatnya aku akan mengajukan perceraian kita." Jawab Melisa lagi. 


"Mel.."


"Apa lagi, Mas?"


"Aku akan bersikap adil jika kamu mau memberi aku kesempatan."


"Jangan bicara omong kosong, Mas. Aku muak dengan semua ucapan tanpa bukti mu." Jawab Melisa sarkas. 


"Mel.."


"Baik, neng. Kalau begitu kami akan menikahkan Dion dan Gia nanti malam."


"Iya, Pak." Jawab Melisa, air mata nya yang menggenang di pelupuk mata nya, kini tetap luruh meskipun dia sudah mengetahui hal ini pasti lambat laun akan terjadi, tapi dia tak menyangka akan terjadi secepat ini. 


"Melisa.."


"Pergilah, Mas. Jangan buat aku semakin malu, maaf kalau selama ini aku punya salah." Ucap Melisa lirih, dia pun masuk ke dalam kamar nya dengan menutup pintu nya dengan cepat. Sedangkan Dion, akhirnya dia pun di bawa kembali oleh warga sekitar. 


Di kamar, Melisa menangis sesenggukan. Bukan karena sakit hati yang dia rasakan, tapi karena rasa malu. Kenapa harus seperti ini? Sungguh, dia merasa di lempar kotoran saat ini. 


"Hufftt, kenapa aku harus menangis? Bukankah itu karma karena dia sudah melakukan hal itu?" Gumam Melisa, dia mengusap air mata nya lalu memilih membaringkan tubuh nya.


Sedangkan di rumah nya, Arvin tersenyum menyeringai saat melihat Dion kembali di gelandang oleh warga. Dia menang, apalagi saat mendengar Melisa akan mengajukan gugatan cerai secepatnya.


Ya, ini semua adalah skenario yang di buat oleh Arvin. Gia adalah wanita malam yang dia sewa untuk menggoda Dion dengan tawaran harga yang tinggi membuat Gia tergiur dan setuju. Siapa yang menyangka kalau Dion akan dengan mudah masuk perangkap. Bayaran yang di tawarkan oleh Arvin juga bukan main-main, makanya Gia langsung setuju saat Arvin mengajak nya bekerja sama. 

__ADS_1


Licik dan jahat, itulah Arvin saat ini. Dia gila jika sudah ingin memiliki, dia seperti nya sudah tergila-gila dengan wanita bernama Melisa. Itulah alasan dari dia melakukan hal yang cukup menjijikan ini. 


Merusak rumah tangga orang lain hanya karena obsesi bisa di bilang cukup jahat ya kan? Tapi, itulah yang di lakukan Arvin. Dia membuat drama ini agar Melisa mau bercerai dengan Dion, dengan begitu langkah nya untuk bisa memiliki Melisa tanpa harus berbagi dengan pria lain akan segera terlaksana. 


Melisa berlari keluar rumah lewat belakang, dia masuk ke dalam rumah Arvin yang memang tak di kunci.


"Sayang.."


"Iya, sayang?" Jawab Arvin sambil tersenyum kecil, dia merentangkan kedua tangan nya, Melisa yang paham pun langsung menghambur memeluk Arvin. Menduselkan wajah nya di dada bidang pria tampan itu.


"Kamu baik-baik saja, sayang?"


"Kamu tahu yang sudah terjadi?" Tanya Melisa, dia tidak mengetahui kalau dalang di balik semua ini adalah Arvin. Ya kali dia sampai tak tahu ya kan? Orang itu pekerjaan nya sendiri. Tadi, dia juga berdrama seolah-olah tak mengetahui apa yang terjadi pada Dion. 


"Iya, tadi aku nanya sama salah satu bapak-bapak yang lewat, yang."


"Hmmm, aku malu banget rasa nya, yang."


"Kok malu? Gapapa kali, kan dia yang keciduk lagi anu, bukan kamu."


"Iya sih, tapi mau bagaimana pun dia kan suami aku, yang."


"Calon mantan ya kan?"


"Kamu denger juga?"


"Ya karena telinga aku masih berfungsi dengan baik, jadi nya aku dengar, yang." Jawab Arvin sambil tersenyum kecil.


"Kamu seneng?"


"Seneng sih, tapi kasian kamu nya juga."


"Aku udah gak kuat sama pernikahan ini, sayang. Maka nya aku bakalan ngajuin gugatan cerai besok."


"Aku akan membantu kamu, sayang."


"Kamu yakin?"


"Sangat yakin, sayang." Jawab Arvin, Melisa menatap wajah Arvin yang terlihat sangat tulus. Dia pun kembali memeluk Melisa dengan erat, mengusap-usap punggung wanita nya dengan lembut.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2