
Setelah mendapatkan perhiasan yang sesuai, kedua insan itu pun pulang. Melisa memeluk pinggang Arvin seperti biasa nya, dia juga menyandarkan dagu nya di pundak Arvin dengan manja.
"Sayang, mau mampir dulu?" Tawar Arvin.
"Mampir kemana, yang?"
"Ya terserah kamu, sayang. Kali aja kamu mau mampir dulu kemana gitu."
"Enggak, yang. Tapi, aku laper." Jawab Melisa, Arvin juga merasakan hal yang sama. Dia pun menghentikan motor nya di depan kedai bakso dan mie ayam.
"Yuk, kita makan dulu." Melisa mengangguk, dia menggenggam tangan Arvin dan kedua nya pun masuk dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Mau pesen apa, sayang?" Tanya Arvin sambil memperlihatkan buku menu.
"Aku mau mie ayam nya, sayang."
"Oke, aku pesen bakso nya ya. Aku mau yang berkuah pedes."
"Iya, sayang. Mie ayam bakso aja, biar kenyang ya?" Saran Arvin, Melisa pun mengangguk. Itulah yang membuat Arvin semakin menyukai Melisa, karena dia sosok wanita yang penurut.
"Bang, pesen mie ayam bakso nya satu, bakso komplit nya satu. Minum nya es teh lemon." Ucap Arvin.
"Siap, tunggu sebentar ya."
"Oke." Jawab Arvin, dia pun kembali duduk di samping Melisa. Disini, bukan hanya ada Melisa dan Arvin, ada juga pasangan lain yang berhenti sejenak untuk ngebakso sejenak.
"Ngapain di liatin mulu cincin nya, sayang?" Tanya Arvin, dia pun meraih tangan Melisa dan memperhatikan kalau cincin itu sangat cantik saat di pakai oleh Melisa.
"Cincin nya bagus, yang."
"Hmm, iya kelihatan bagus karena kamu yang pake, sayang." Jawab Arvin lagi, membuat wajah Melisa bersemu kemerahan.
"Gak usah merona, sayang. Itu fakta nya kok, kamu cantik."
"Issh, ayang." Rengek Melisa sambil menepuk lengan besar Arvin.
"Apa sih, kan fakta nya gitu. Kamu cantik, aku gak bohong."
"Terserah kamu aja deh, yang." Pasrah Melisa, padahal dia merasa biasa saja tapi Arvin selalu mengatakan kalau dia cantik.
"Permisi, ini pesanan nya." Arvin pun mengangguk dan pria paruh baya penjual bakso itu meletakan bakso dan mie ayam nya di depan pasangan itu.
"Terimakasih." Ucap Melisa.
"Sama-sama, selamat menikmati."
Arvin pun menuang saus dan sambel, begitu juga Melisa. Tapi, begitu dia akan menambahkan sambel, tangan nya di cekal oleh Arvin.
"Jangan terlalu banyak cabe nya, sayang."
"Iya, dua sendok."
"Oke, gak boleh lebih dari dua sendok ya." Ucap Arvin, Melisa pun menurut dan hanya menambahkan dua sendok sambel di mie ayam milik nya.
Kedua nya pun makan dengan lahap, Arvin sesekali memperhatikan makanan di mangkuk Melisa, terlihat enak.
"Enak, yang?"
__ADS_1
"Enak dong, mau nyobain sayang?" Tanya Melisa.
"Boleh." Jawab Arvin, Melisa pun menyuapi Arvin dengan mie ayam milik nya.
"Enak kan?"
"Iya, enak sayang."
"Mau lagi?"
"Enggak, kamu aja makan yang banyak. Biar makin gemoy, sayang." Ucap Arvin, Melisa hanya terkekeh pelan. Kedua nya pun melanjutkan makan nya dengan lahap.
Setelah menghabiskan makanan masing-masing, kedua nya pun memutuskan untuk pulang. Melisa menempel di punggung Juan, kebiasaan kalo sudah kenyang pasti ngantuk.
"Ngantuk ya?" Tanya Arvin, Melisa menganggukan kepala nya dengan manja.
"Heem, aku ngantuk banget ini yang."
"Sebentar lagi sampe kok, setelah itu langsung tidur ya, sayang." Ucap Arvin, Melisa pun mengangguk.
Setelah sampai di rumah, Melisa pun turun dari motor milik Arvin dan mengucapkan terimakasih, agar orang tidak ada yang curiga.
"Ehh, neng Meli udah pulang?" Sapa Bu Ratmi dengan ramah.
"Iya, Bu." Jawab Melisa.
"Beli apa?" Tanya nya kepo.
"Beli cincin aja, Bu. Sudah dulu ya, saya mau masuk."
"Iya, Neng." Jawab Bu Ratmi, lalu membiarkan Melisa masuk.
Sedangkan di rumah, Arvin sedang memasak lagi. Setelah tadi sarapan dengan tomyum buatan Melisa yang sangat enak, tapi untuk makan malam dia ingin makan yang pedas. Jadi, dia memutuskan untuk memasak sambal goreng ati ampela. Beruntung saja, tadi dia juga membeli itu dari pasar.
Melisa juga membeli beberapa bahan masakan tadi, tapi hanya untuk nya saja karena untuk Dion masih ada stok di kulkas. Jadi besok, dia tak perlu ke tukang sayur lagi karena sudah ada.
"Hmm, enak juga." Arvin memuji masakan nya sendiri, dia pun mengambil piring dan memindahkan sambal itu ke dalam piring dan menyimpan nya. Pria itu menghidupkan kompor dan menghangatkan tomyum buatan Melisa. Iseng, dia menambahkan mie instan agar lebih kenyang ternyata rasa nya enak juga.
Padahal, baru saja dia makan semangkuk bakso bersama Melisa, tapi yang nama nya perut laki-laki, berbeda dengan perempuan. Harus nya, jika makan bakso itu Arvin makan dua porsi langsung.
"Enak juga." Gumam Arvin sambil makan dengan lahap.
Sore hari nya, Melisa terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Dia merentangkan otot-otot nya yang terasa pegal, lalu beranjak dari kasur dan mencuci muka nya. Dia melirik jam yang menempel di dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tapi heran, suami nya masih belum pulang juga.
"Ckkk, terlalu asik di rumah selingkuhan seperti nya. Sampai sekarang belum pulang juga, lama-lama dia melupakan kalau punya istri di rumah." Gumam wanita itu, dia pun memilih untuk memasak mie instan yang di berikan oleh Arvin dan memakan nya dengan lahap. Tak peduli lah itu makanan sehat atau tidak, yang jelas mood nya sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Bukan karena masalah suami nya yang tak pulang, tapi ada hal lain yang membuat mood wanita itu berantakan.
Krekk..
Arvin celingukan, lalu masuk ke dalam rumah Melisa.
"Sayang.." panggil Arvin pada Melisa yang sedang asik memakan mie instan nya.
"Eehh, ayang. Kok kesini?"
"Emang kenapa, gak boleh yang?" Balik tanya Arvin.
__ADS_1
"Ya, bukan begitu, sayang. Tapi kamu tahu sendiri, Mas Dion belum pulang. Berabe kalau ketahuan nanti."
"Tenang aja, sayang. Gak bakalan ketahuan kok." Jawab Arvin, dia duduk di samping Melisa, tangan nya nakal menyusup ke balik pakaian yang di kenakan oleh Melisa, memainkan buah ceri di puncak gunung milik wanita itu.
"Udah tegang aja, yang."
"Kamu terlalu ahli mainin nya, yang." Jawab Melisa datar, dia seperti tidak terganggu dengan tangan Arvin yang nakal itu. Toh, dia juga menikmati nya meskipun merasa sedikit geli. Yang di mainkan puncak gunung nya, tapi yang bawah kebanjiran.
"Kok kamu diem aja, mendesaah dong."
"Isshh, ayang.."
"Hehe, main yuk?" Ajak Arvin, entahlah kenapa dia sangat menginginkan nya sekarang.
"Sekarang?"
"Iya, sekarang sayang."
"Duh, aku khawatir kalau Mas Dion keburu pulang, sayang. Nanti ketahuan gimana?" Tanya Melisa. Dia mengkhawatirkan hal itu, bagaimana kalau terciduk? Dia belum siap jika harus terciduk sekarang.
"Kita main cepet aja, yang. Ayo? Gak tahan nih." Jawab Arvin.
"Yaudah, kita main di kamar aja." Melisa pun membawa Arvin ke kamar belakang, yang jarang di gunakan. Tak lupa, Melisa mengunci pintu nya agar tak ada orang yang sembarangan masuk.
Arvin langsung memeluk Melisa dari belakang, bibir nya mulai mengecupi leher jenjang Melisa yang putih bersih, dia menyesaap nya hingga meninggalkan satu bekas kemerahan yang membuat Melisa sedikit melenguuh.
"Uuhhhh.."
"Kenapa, sayang?"
"Jangan sampe merah, sayang." Jawab Melisa lirih.
"Aku menginginkan nya, sayang. Jadi kamu gak bisa larang aku buat bikin tanda merah." Jawab Arvin dengan suara serak nya, membuat Melisa merinding seketika.
"Assshhh, sayang pelan-pelan." Lirih Melisa saat Arvin beralih memainkan dada nya, dia menguluum putting nya dengan brutal, bahkan tak ragu menggigit nya karena gemas mungkin.
Melisa duduk di atas pangkuan Arvin, karena rasa geli jadi dia bergerak-gerak dan tentu nya hal itu membuat junior Arvin langsung bereaksi.
Kedua nya pun bermain dengan panas, sedangkan di tempat lain Dion merasa tubuh nya sedikit lelah. Dia pun memutuskan untuk pulang, sepanjang perjalanan dia merasa tak enak hati. Seperti nya ada yang tak beres sedang terjadi, tapi apa? Entahlah, dia juga tak mengetahui apa itu.
Sesampai nya di rumah, Dion merasakan suasana rumah nya sangat sepi. Dia menutup pintu nya kembali, tapi dia tak melihat keberadaan Melisa di dalam rumah ini.
"Sepi sekali, kemana wanita itu? Apa belum pulang? Tapi ini sudah sore, masa iya belum pulang?" Gumam Dion, pria itu celingukan mencari keberadaan Melisa.
"Mel.." Panggil Dion. Melisa dan Arvin sambil berpandangan, lalu pria itu mencabut senjata nya yang sudah mulai keriput dari dalam lubang milik Melisa. Dia juga mengelap milik wanita itu hingga bersih, lalu kedua nya langsung berpakaian.
"Aku keluar apa ya?" Tanya Melisa lirih.
"Tidak perlu, biarkan saja. Sebaiknya, kita tidur saja." Jawab Arvin, dia memeluk Melisa dan tanpa perlawanan, wanita itu menurut. Arvin mencium kening Melisa lalu memeluk nya dengan erat.
Kedua nya pun tertidur tanpa mendengarkan panggilan Dion. Pria itu pun memutuskan untuk mandi saja, dari pada mencari Melisa. Toh, dia memang egois kan? Meskipun hatinya sudah merasakan hal yang tak enak. Tapi, dia masih bisa bersikap bodo amat dengan apapun yang kira nya akan terjadi, menurut nya itu terlalu membuang waktu dan dia yakin hal itu juga tak penting.
Namun, kedua mata Dion memicing tatkala melihat pintu belakang rumah nya yang berada di dekat dapur terbuka sedikit.
"Melisa, kenapa gak di kunci sih ini pintu nya? Gimana kalo ada kucing atau anjing yang masuk." Gerutu nya, dia pun mengunci nya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa sangat lelah dan lengket.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻