
"Kak Melisa.." Sapa Gia saat tak sengaja dia berpapasan dengan Melisa saat wanita itu akan keluar dari dapur dan Melisa akan pergi ke dapur untuk membereskan piring bekas Dion dan Gia makan.
"Iya, apa?" Jawab Melisa datar.
"Sebelum nya, aku minta maaf kak."
"Maaf untuk apa, Gi?" Tanya Melisa, kali ini dia menatap wajah Gia. Wanita itu nampak cantik dengan hidung bangir dan bulu mata yang lentik, bibir yang tipis kemerahan, nampak sempurna. Pantas saja Dion tergila-gila dengan sosok perempuan ini.
"Maaf karena sudah.."
"Merebut suami ku? Tidak apa-apa, Gi."
"Apa kakak serius?" Tanya nya lagi.
"Tentu, memang nya apa yang aku harapkan lagi? Suamiku tidak mencintai ku, bahkan tidak pernah menginginkan kehadiran ku, Gi." Jelas Melisa lirih, dia membereskan piring dan mencuci nya di wastafel.
"Kenapa? Padahal kakak terlihat cantik."
"Ckkk, mau secantik apapun aku, jika suami ku tidak bersyukur memiliki aku, maka hasilnya akan percuma, Gi." Jelas wanita itu lagi membuat Gia menatap wajah Melisa yang tak menatap nya sama sekali.
"Maksud kakak?"
"Aku dan Dion tak pernah saling mencintai, kami menikah karena perjodohan. Kami sama-sama tidak menerima pernikahan ini pada awalnya, tapi seiring berjalan nya waktu aku pikir Dion akan berubah, tapi nyatanya nol besar. Bahkan setelah kami menikah selama tiga tahun lebih, hasilnya tetap sama saja." Jelas Melisa panjang lebar, tapi mau bagaimana lagi ini memang kenyataan nya.
"Benarkah itu, kak?"
"Tentu, jadi aku rasa tak ada apapun yang aku rasakan saat ini semua terjadi, Gi."
"Mungkin kakak sudah mati rasa."
"Bisa di bilang seperti itu, karena aku merasa lelah berjuang sendirian. Karena Dion tidak pernah sekali pun menerima kehadiran ku, atau sedikit saja menghargai aku, tidak sama sekali. Jadi, aku rasa sudah waktu nya aku menyerah." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil.
"Kakak, maaf sudah membuat kakak menceritakan semua ini."
"Tak masalah, kita sama-sama wanita. Semoga saja Dion berubah dan memperlakukan mu dengan baik, karena dia mencintaimu." Ucap Melisa, dia hanya tersenyum kecut tanpa menoleh ke arah Gia yang berdiri di samping nya dengan tangan yang memegang piring kotor bekas dia makan.
'Sungguh, aku tidak berniat untuk merebut suami mu, Kak Melisa. Tapi aku perlu yang banyak untuk mengoperasi ibu ku, andai saja Tuan Arvin tidak menugaskan aku seperti ini, mungkin saja saat ini ibu ku sudah tiada. Tapi aku bersyukur, karena Tuan Arvin memberikan tugas ini. Meskipun aku harus menanggung malu karena di arak keliling desa demi uang.' Batin Gia.
Kalau saja dia punya pilihan lain, pasti dia akan memilih yang itu saja dari pada harus menghancurkan rumah tangga orang lain, bukan atas dasar cinta tapi uang. Tapi dengan begini, dia jadi tahu seperti apa wanita yang bisa membuat pria seperti Arvin jatuh cinta bahkan bisa menghalalkan segala cara hanya agar bisa bersama wanita itu, termasuk menghancurkan rumah tangga nya.
"Sini piring nya, biar aku cuci."
"Terimakasih ya, kak. Omong-omong, masakan kakak sangat enak." Puji Gia sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya, tentu saja. Nanti ajari aku ya kak?"
"Boleh, tapi mungkin tak bisa sekarang." Jawab Melisa.
"Gapapa kok, kak. Kapan-kapan aja, ohh iya ke depan nya kakak mau gimana?"
"Gimana apa nya, Gi?" Tanya Melisa, kali ini dia menatap wajah Gia.
"Hubungan rumah tangga kakak dan Mas Dion."
"Kalau kamu jadi aku, lalu suami kamu di arak keliling desa karena ketahuan berbuat tidak senonoh bersama wanita lain, apa yang akan kamu lakukan?" Balik tanya Melisa. Gia terlihat berpikir, lalu menggelengkan kepala nya.
"Aku akan meminta berpisah, kak."
"Ya, itu juga yang akan aku lakukan. Secepat nya, aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan, Gi."
"Kakak yakin?" Tanya Gia lagi.
"Sangat yakin, karena aku tak suka berbagi apapun milik ku dengan orang lain."
"Hmm, maafkan aku kak."
'Selamat Tuan Arvin, rencana anda untuk membuat wanita pujaan anda berpisah dengan suami nya berhasil.' Batin Gia lagi.
"Gia.." Panggil Dion membuat wanita itu harus pergi dari dapur ke ruang tamu, mau tak mau.
"Kenapa, Mas?"
"Aku ingin jatah ku, sayang."
"Disini, Mas? Tapi ada kak Meli."
"Memang nya kenapa? Toh di rumah mu atau di rumah ku rasa nya sama saja kan?" Tanya Dion, ke egoisan nya mulai mengambil alih lagi. Sedangkan Gia merasa tak enak jika desaahan erotis nya terdengar oleh Melisa, ya meskipun dia cukup terpaksa melakukan nya karena uang, tapi bohong saja jika dia tidak menikmati permainan Dion yang jauh dari kata memuaskan.
"Kalian bermainlah, aku akan pergi." Ucap Melisa, dia pun keluar dengan membawa mangkuk berisi makan siang nya. Dia juga belum makan, tapi saat mendengar Dion ingin meminta jatah nya pada istri muda nya, dia pun memilih keluar dari rumah. Tentu nya, dia tak mau telinga nya panas hanya karena mendengar suara-suara erotis.
"Wah, Neng Meli makan bareng yuk, sini." Ajak Bu Ratmi pada Melisa, wanita itu pun menurut dan berjalan menyeberang jalan, karena rumah Melisa dan Bu Ratmi hanya berseberangan, hanya terhalang jalan raya saja.
"Neng, ada siapa?" Tanya Bu Amel, karena dia juga ada disana untuk makan bersama.
"Suami sama istri baru nya." Jawab Melisa.
__ADS_1
"Ngapain?"
"Berkunjung kata nya." Jawab Melisa sambil menyuap nasi dengan daging bumbu balado buatan nya.
"Numpang makan kali."
"Hehe, iya mungkin, Bu."
"Sekarang lagi ngapain tuh? Kenapa di tinggal?" Tanya mereka lagi membuat Melisa menghela nafas nya secara perlahan.
"Biasalah pengantin baru, masih anget-anget nya, Bu. Saya gak mau telinga saya rombeng, jadi mending keluar aja dari rumah."
"Yaudah, disini aja kita makan bareng."
"Iya, Bu. Kali aja mau nyoba lauk buatan saya." Tawar Melisa, dia pun menyodorkan mangkuk berisi ayam balado buatan nya, bumbu nya terlihat merah menggoda.
"Boleh?"
"Boleh dong, silahkan Bu." Ibu-ibu pun mengambil masing-masing mengambil satu potong ayam, lalu memakan nya. Mereka memuji masakan Melisa yang memang enak, bumbu nya pas dan ternyata tidak terlalu pedas juga.
Sedangkan di rumah, Gia tengah berbaring dengan Dion yang tengah bergerak maju mundur di atas tubuh nya.
"Aaahh, Mas pelan-pelan.." Pinta Gia, inilah yang tak dia suka pada Dion, dia bergerak terlalu kencang hingga membuat inti nya kadang terasa sakit. Meskipun dia bermain hanya sebentar, paling lama 15 menit, tapi tetap saja jika tanpa pemanasan apapun inti nya belum basah sempurna tapi Dion sudah memaksa batang miliknya masuk, itu akan membuat lubang nya terasa sakit dan perih.
"Aku ingin meledaak, sayang.." Racau Dion, dia pun menumpahkan bibit kecebong nya di dalam lubang milik Gia. Tanpa sepengetahuan Dion, Gia mengenakan kontrasepsi agar tidak terjadi kehamilan demi kelancaran tujuan nya.
Dia hanya akan bertahan selama tiga bulan bersama Dion setelah bercerai dengan Melisa, setelah selesai masa Iddah dia akan meminta cerai karena tugas nya sudah selesai.
Baper? Jangan sampai, dia harus teguh dengan pendirian nya, takkan jatuh cinta pada Dion. Karena dia adalah wanita yang membutuhkan banyak uang, sedangkan apa yang dia dapatkan dari Dion? Tidak ada, dia hanya pria kere yang tak tau diri.
Pantas saja Arvin merasa gemas sendiri dengan pria itu, karena tingkah nya cukup membuat gondok dan darah tinggi. Dia juga merasakan kalau pria itu memang egois, dalam hal apapun. Dia tipe pria yang cukup menyebalkan, selain egois dia juga pelit nya bukan main.
Bahkan, dia jajan bakso saja sampai di marahi saking pelit nya. Menyebalkan bukan? Sangat.
"Terimakasih, sayang." Ucap Dion, lalu mencabut senjata nya dan pergi meninggalkan Gia yang mencebik kesal karena dia belum mendapatkan klimaaks nya sama sekali.
"Nyebelin banget." Gumam Gia, lalu beranjak dari tiduran nya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan miliknya yang banjir oleh cairan milik Dion, karena dia tak mengeluarkan cairan apapun.
"Aku heran, bagaimana bisa Kak Melisa bertahan sampai tiga tahun bersama pria semacam Dion? Astaga, dia egois sekali." Gerutu Gia sambil mencuci milik nya dengan air dan sabun khusus yang ada di kamar mandi, seperti nya milik Melisa.
.....
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1