
"Sa-yang, pelan-pelan saja.." Lirih Arvin, Melisa tengah berada di atas tubuh Arvin yang terlentang di atas ranjang.
"Enak?"
"Yahh, ini terlalu nikmat sayang. Aku ingin meledak, bagaimana?"
"Meledak saja, aku yang akan membuat mu meledak berkali-kali, seperti yang kamu lakukan sama aku, sayang." Melisa tersenyum kecil saat melihat wajah Arvin yang memerah, menahan rasa yang ingin meledak, sudah di ujung nya.
"Sayang, aargghh.."
Melisa menekan senjata milik Arvin yang ada di dalam inti miliknya, terasa hangat dan basah. Nafas Arvin terengah-engah, dia sudah meledak padahal baru beberapa menit bermain dengan Melisa yang memimpin permainan.
"Kamu hebat, sayang. Aku sampai meledak padahal baru beberapa menit kita bermain."
"Enak kan?"
"Sangat, kamu hebat sayang. Sekarang, bisakah aku yang memimpin?" Tanya Arvin. Melisa mengangguk dan Arvin pun membalikan posisi nya, Melisa berbaring miring dengan sebelah kaki yang Arvin angkat ke pundak nya.
Arvin mulai menggerakan pinggang nya maju mundur dengan perlahan, membuat Melisa memejamkan mata nya menikmati perbuatan Arvin di bawah tubuh nya, terasa sangat nikmat.
"Aaahh.. aahhhh.. Arvin.." Desaah Melisa, Arvin tersenyum puas melihat wanita nya menikmati permainan nya.
Arvin ingin mencoba sesuatu, dia mencabut senjata nya lalu memasukkan nya kembali secara langsung, membuat Melisa menjerit keenakan.
"Aaahhh, Arvin.."
"Yeahh, panggil nama ku terus, sayang.." Jawab Arvin sambil tersenyum, dia pun melakukan nya beberapa kali hingga membuat Melisa mendapatkan klimaaks.
"Aaahhhh.." tubuh Melisa menegang, dia berhasil mendapatkan klimaaks nya yang entah ke berapa kali nya dalam percintaan malam ini.
"Sayang, aduhh aku lemas sekali.."
"Iya lah, mau gak lemes gimana. Udah berapa kali kamu klimaaks hmm?" Tanya Arvin sambil memainkan alis nya naik turun.
"Ya, itu kamu nya nusuk terlalu dalam, sayang."
"Bagus dong, berarti punya aku ukuran nya super, kan?" Tanya Arvin sambil terus menggerakan pinggang nya dengan tempo sedang, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu pelan.
"Ini mah kayak terong ungu, yang. Gede, panjang, ada urat nya."
"Bagus kan? Ini bisa bikin kamu puas, sayang." Ucap Arvin sambil mengusap wajah Melisa yang sudah di penuhi keringat.
__ADS_1
"Ayo, bergerak lebih cepat. Ini aku gatel, pengen klimaaks lagi."
Arvin menggelengkan kepala nya, lalu bergerak semakin cepat, membuat tubuh Melisa terguncang. Kedua mata wanita cantik itu terpejam rapat, namun mulut nya tetap mengeluarkan desaahan nikmat.
Arvin menundukan kepala nya, lalu mencium bibir Melisa dengan mesra, tangan Melisa melingkar erat di leher kokoh Arvin.
"Aku ingin klimaaks lagi, sayang.." Lirih Melisa. Arvin paham, dan langsung mempercepat gerakan nya hingga membuat Melisa kembali klimaaks nya lagi. Tak lama kemudian, Arvin menyusul dia juga berhasil mendapatkan puncak pelepasan nya. Dia keluar sangat banyak, hingga merembes saking banyak nya.
"Isshhh.. Ngucur, sayang." Ucap Melisa, Arvin langsung mengambil tissu di atas nakas dan mengelap milik Melisa yang kebanjiran cairan Arvin yang bercampur dengan milik nya.
"Uhhh banjir begini, sayang." Ucap Arvin sambil terkekeh.
"Kamu keluar nya yang banyak, sampe bikin aku basah begini."
"Lho, bukan nya kamu yang keluar nya udah beberapa kali?" Tanya Arvin menggoda, dengan senyum smirk nya. Membuat Melisa merasa malu, dia mengambil bantal dan menutupi wajah nya karena malu.
"Gak usah malu, sayang. Kamu cantik sekali dengan wajah kemerahan seperti ini." Puji Arvin sambil mengambil bantal yang berada di wajah Melisa.
"Kita mandi apa langsung tidur?"
"Aku lemes, tapi masih mau. Hehe."
"Terserah ayang aja, soalnya ini kan malam terakhir kita? Jadi harus puas-puasin dulu main nya."
"Ohh gitu ya? Yaudah, ayo. Aku masih siap kalo buat beberapa ronde lagi." Jawab Arvin, dia pun kembali menyerang Melisa setelah beristirahat beberapa menit kemudian.
Sedangkan di tempat lain, Dion baru saja selesai bermain dengan Gia. Dia sedang merokok di ruang tamu, Gia juga baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk pendek sepaha.
"Mas.."
"Iya, sayang. Ada apa?"
"Minta uang dong, aku mau beli baju baru." Ucap Gia, tanpa malu dia duduk di pangkuan Dion, bahkan belum berpakaian sama sekali di balik handuk nya.
"Yang kemarin udah habis?"
"Uang cuma sejuta, Mas. Di pake beli krim wajah sama skincare juga habis, Mas." Jawab Gia sambil menggelayut manja di leher kokoh Dion.
"Astaga, kamu hamburin uang aja. Aku gak ada uang lagi sekarang, sisa yang aku kasih ke kamu udah aku kasih sama Melisa." Jelas Dion membuat wajah Gia memberengut kesal.
"Aku gak mau tahu, Mas. Aku mau beli baju baru besok!" Rengek Gia.
__ADS_1
"Aku gak sanggup, Gia. Buat apa sih beli baju terus? Kemaren juga kan udah beli baju baru, di lemari udah numpuk tuh baju kamu belum di pake semua juga."
"Aaaa aku mau baju baru, Mas."
"Diemlah, kepala aku lagi pusing ini. Jangan bikin nambah pusing lah, Gi." Ucap Dion ketus, membuat Gia langsung beranjak dari pangkuan Dion dan masuk ke kamar nya dengan kaki yang menghentak-hentak karena kesal. Melihat hal itu, Dion mengusap wajah nya dengan kasar sambil menggelengkan kepala nya.
"Astaga, punya selingkuhan lebih matre dari istri sah." Gumam Dion sambil menggelengkan kepala nya.
"Alamat keluar banyak duit buat dia, padahal Melisa gak pernah nuntut banyak masalah duit."
Gia kembali keluar dari kamar nya dengan wajah cemberut nya, dia mengambil ponsel dan memperlihatkan pakaian model terbaru yang sedang dia inginkan.
"Aku mau ini."
"Nanti saja bulan depan." Jawab Dion sambil memutar rokok nya di asbak.
"Yahh, keburu habis dong, Mas."
"Berapa sih harga nya?" Tanya Dion ketus.
"Empat juta." Jawab Gia, membuat Dion melotot. Mata nya hampir meloncat keluar dari tempat nya.
"Buat apa beli baju semahal itu, Gia? Melisa aja gak pernah aku beliin baju semahal ini, paling mahal dia beli baju dua ratus ribu doang!"
"Ya kan itu Melisa, istri kampungan mu. Aku Gia, jelas aku berbeda dengan istri mu itu." Jawab Gia, bahkan dia dengan terang-terangan mengata-ngatai istri nya.
"Ckk, aku niatan kesini buat admin pikiran ya bukan buat debat."
"Ya terserah kamu, pokoknya aku mau baju ini, kalau enggak kita udahan aja." Ucap Gia membuat Dion langsung bangkit dari duduknya.
"Oke, aku juga gak butuh wanita matre seperti mu!" Ketus Dion, lalu memakai jaket dan keluar dari rumah milik Gia dengan membanting pintu nya sekuat tenaga, hingga menimbulkan bunyi berdebum yang cukup keras.
"Mas.." Teriak Gia, dia berlari menyusul Dion yang sudah pergi. Namun terlambat, karena Dion sudah mengendarai sepeda motor nya menjauhi rumah nya.
"Asshh sialan! Salah cari mangsa, dasar PNS kere." Umpat Gia, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
"Rugi gue, sialan. Udah di kasih jatah, malah pergi banting pintu. Rugi banget gue, harus nya gue nyari selingkuhan itu pengusaha bukan PNS kere kayak dia." Gumam Gia sambil melempar celana dalaam milik Dion yang tertinggal di kamar nya.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1