SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 59 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Dion meremat rambut nya dengan kasar, bangun tidur bukan nya di sambut dengan makanan atau senyuman, ini malah di bangunkan oleh tukang paket dan Gia mengambil fitur bayar di tempat. Karena uang nya kurang, dia pun membangunkan nya.


Padahal, dia paling tak suka saat ada yang mengganggu tidur nya. Setelah membayar paket dengan harga empat ratus ribu itu, Gia dengan mudah nya mengatakan..


"Nanti uang nya aku ganti pake pelayanan di atas ranjang." 


Enteng sekali wanita itu mengatakan hal itu, padahal kemarin baru saja dia membeli dress yang sedang dia pakai itu dengan harga sembilan ratus ribu, karena pas harga nya masih diskon dia tak membeli nya karena Dion tak punya uang.


Sekarang entah membeli apa lagi dengan uang segitu, masih mending sih ya kalau dia pake uang nya sendiri bukan uang nya, akhirnya dia harus membongkar celengan nya untuk memenuhi gaya hidup wanita itu.


Padahal, Melisa saja tak pernah menuntut untuk di belikan ini atau di belikan itu, di beri uang untuk belanja saja dia sudah senang. Seperti nya memang inilah karma, Dion mencari yang lebih dari istri nya, tapi sial nya bukan yang lebih baik dari Melisa, malah dapat yang banyak minus nya.


"Terserahlah, aku mau pulang."


"Lho kok pulang sih, Mas? Gak mau tahu, kamu harus nginep disini malam ini."

__ADS_1


"Gak, aku mau pulang!" Tegas Dion, membuat Gia cemberut.


"Issshhh Mas, jangan pulang.." rengek Gia, biasa nya Dion akan luluh jika dia merengek seperti ini. Tapi, seperti nya sekarang cara itu tak ampuh sama sekali.


Dion langsung mengambil jaket dan memakai celana nya secepat kilat, lalu pergi dengan sepeda motor nya. Rasa nya dia kewalahan dengan Gia, padahal baru beberapa bulan saja dia berhubungan dengan nya, tapi sudah rugi banyak. 


Dia juga terlihat tak semenarik dulu sekarang, mungkin karena dia sudah mendapatkan dan merasakan tubuh nya, jadi pesona wanita itu mulai pudar di mata Dion.


Gia merasa kesal, dia menghentakkan kaki nya di lantai saking kesal nya. Cara itu ternyata tak mempan lagi untuk menahan Dion agar tak pergi dari rumah nya.


Dion membuka pintu rumah, sepi. Seperti tak berpenghuni, tak ada tanda-tanda keberadaan Melisa disini. 


"Mel.." Panggil Dion, namun nihil tak ada jawaban sama sekali. Dia membuka tudung saji di meja, makanan nya belum tersentuh sedikit pun, artinya istri nya itu belum makan?


"Aihh, kemana lah Melisa ini kebiasaan suka ngilang dari rumah tiba-tiba." Gumam Dion sambil celingukan, namun mata nya malah menangkap pintu dapur yang lagi-lagi dalam kondisi terbuka. Seperti nya, Arvin lupa menutup pintu belakang tadi. 

__ADS_1


"Kebiasaan ini pintu gak pernah di kunci, gimana kalo ada kucing atau ayam yang masuk, Melisa, Melisa.." Gerutu Dion sambil menggelengkan kepala nya. Dia pun mengunci pintu dapur itu lalu memilih untuk makan.


Setelah kenyang, dia pun masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, karena tadi tidur nya terganggu oleh Gia yang meminta uang untuk bayar paket. Peduli lah dengan Melisa, toh dia sudah besar pasti pulang sendiri nanti. Begitulah isi pikiran seorang Dion saat ini.


Sedangkan di kamar depan, Melisa masih tertidur lelap di pelukan Arvin. Saking nyenyak nya, dia sampai tak bangun saat suami nya memanggil-manggil nama nya. Mungkin karena dia terlalu merindukan kehangatan pelukan Arvin, jadi dia sangat menikmati pelukan pria itu saat ini.


Arvin sudah terbangun, dia menatap wajah cantik Melisa yang terlihat sangat teduh jika sedang tertidur. Demam nya juga sudah mulai reda. 


"Cantik, tapi kamu akan lebih cantik jika bersama orang yang tepat, sayang." Gumam Arvin sambil membelai lembut wajah sang pujaan hati.


Ya, wajah Melisa memang sudah cantik. Tapi, kalau di rawat dengan baik pasti akan jauh lebih cantik. Maka dari itu, Arvin memberikan segala jenis perawatan untuk Melisa, mulai dari skincare, lotion, bahkan untuk rambut saja dia memikirkan nya. Benar-benar definisi calon suami idaman memang kalau Arvin.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2