
Setelah selesai dengan modus cuci piring dan numpang makan, Arvin pun berpamitan untuk pulang. Sedangkan Melisa, dia langsung beres-beres rumah mumpung tak ada yang mengganggu. Sedangkan Dion, dia berada di kamar entah tidur atau bermain ponsel, dia tak tahu.
Melisa mengepel lantai dengan hati-hati, meskipun tubuh nya terasa lemas setelah bermain dua ronde bersama Arvin tadi, sedangkan Arvin sedang mengerjakan beberapa tugas lewat laptop seperti biasanya.
Pria itu nampak fokus mengerjakan file-file di dalam laptop nya, namun beberapa kali dia menggelengkan kepala nya. Seperti nya ada beberapa hal yang mengganjal hati nya.
"Sial, seperti nya aku harus turun tangan sendiri." Gumam nya sambil mengepalkan tangan nya. Ini harus dia tangani sendiri.
Arvin pun mengambil ponsel nya menelpon seseorang yang dia percayai.
'Hallo, tuan muda.'
"Dimana kau?" Tanya Arvin dengan suara datar nya.
'Saya sedang di kantor, Tuan.' Jawab nya, dari nada suara nya terdengar tak gentar sama sekali padahal nyawa nya sedang dalam bahaya.
"Besok lusa, saya akan melakukan peninjauan."
'Be-sok lusa, Tuan? Kenapa mendadak, apa tidak bisa di tunda beberapa hari lagi?' Tanya nya panik, membuat Arvin menyeringai.
"Persiapkan saja, besok aku akan kesana." Jawab Arvin lagi lalu mematikan telepon nya secara sepihak. Arvin juga menghubungi seorang pengacara kepercayaan keluarga nya untuk menyelesaikan kasus ini.
Ya, ada kecurangan di perusahaan milik nya dan sial nya lagi, orang yang melakukan nya adalah orang yang dia tunjuk sebagai kepala cabang. Inti nya, dia adalah orang yang Arvin percayai untuk memegang perusahaan selama dia berada dalam masa pelarian dari orang tua nya.
Tapi, serigala yang menyamar dengan kostum domba, pria itu memanfaatkan jabatan yang Arvin berikan dan membuat kerugian di perusahaan. Pantas saja, saham perusahaan turun drastis beberapa bulan ini, rupa nya dalang kejahatan nya masih berada di perusahaan, menyamar sebagai orang kepercayaan tau nya adalah musuh.
'Tuan muda..'
"Bereskan dia, pak. Tuntut dia seberat-berat nya, dengan semua bukti yang ada, dia bahkan bisa di penjara seumur hidup kan?" Tanya Arvin.
'Tentu saja bisa, Tuan muda. Kapan Tuan muda akan kembali ke perusahaan?' Tanya nya dengan suara yang nampak sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja, tak usah mengkhawatirkan aku, Pak. Besok, aku akan kesana paling lambat lusa." Jelas Arvin dia juga harus berpamitan lebih dulu kepada sang kekasih.
'Saya akan menunggu di perusahaan, Tuan muda.'
"Jangan bilang pada Papa, aku tak mau bertemu dengan nya." Ucap Arvin.
'Tapi kenapa, tuan muda?'
__ADS_1
"Jangan berlagak tak tahu biduk permasalahan antara aku dan papa." Ketus Arvin.
'Baiklah kalau Tuan Muda belum ingin bertemu dengan tuan besar.'
"Ya, selesai kan dengan cepat karena aku tak bisa berlama-lama berada disana." Tegas Arvin.
'Baik, Tuan muda sesuai perintah anda.'
"Ya, semoga kau bisa di andalkan." Jawab Arvin, lalu mematikan sambungan telepon nya secara sepihak. Dia menatap ke arah jendela, namun Melisa tak nampak berada di dapur. Mungkin saat ini, dia masih beres-beres di ruang tengah.
Arvino Sanjaya, dari nama nya saja pasti semua orang tahu kalau Arvin bukanlah orang biasa, namun beruntung nya tak ada yang mengenali nya di desa ini. Nama yang tersemat di belakang nama nya adalah nama salah satu pemilik perusahaan terbesar yang kini telah pensiun karena faktor usia dan kesehatan nya yang semakin memburuk.
Darren Sanjaya adalah ayah dari Arvin, pria paruh baya dengan sejuta pesona yang membuat para kaum hawa mengantri untuk bisa di persunting oleh Darren semasa muda. Namun, pilihan hati nya jatuh pada Melati, gadis sederhana yang tak sengaja Darren temui saat dirinya tengah dalam perjalanan bisnis.
Melati sendiri, dia adalah gadis sederhana dari desa yang merantau ke kota untuk uang, dengan cara berjualan kue basah. Pertemuan nya dengan Darren membuat hidup Melati berubah 180 derajat, dari hanya penjual kue, menjadi istri pengusaha.
Namun, hal itu tak membuat nya gelap mata, dia tetap menjadi pribadi yang sederhana. Hingga kesederhanaan itu membuat sosok nya begitu di kagumi banyak orang, termasuk suami nya sendiri yakni Darren. Pria itu sangat mencintai Melati, dari pernikahan itu Melati dan Darren di karuniai satu orang putra yang tampan, yakni Arvin.
Arvin adalah satu-satunya putra Darren, karena setelah melahirkan Arvin, Melati sakit-sakitan dan akhirnya meninggal saat usia Arvin masih sangat kecil, mungkin berusia lima atau enam tahunan.
Hal itu, membuat Arvin tumbuh menjadi anak yang cukup keras kepala dan mandiri, mungkin karena kekurangan kasih sayang seorang ibu. Darren bukan tak terpikir untuk menikah lagi, tapi Arvin menolak mentah-mentah usulan Darren untuk kembali menikah.
Sudah bertahun-tahun lama nya, Arvin tinggal sendirian, mandiri, berada jauh dari orang tua nya. Hidup sederhana di desa, namun dia tetap melakukan tugas nya sebagai seorang pewaris. Dia meneruskan perusahaan sang papa, meskipun dari jauh, memantau semua nya lewat anak buah nya yang selalu mengawasi gerak-gerik orang-orang di perusahaan dan saat ini, Arvin sudah mengetahui dalang dari semua kerugian yang dia alami di perusahaan.
"Ckkk, lihat saja. Aku akan membuat mu menyesal hingga memohon untuk kematian mu sendiri, Ares!" Gumam Arvin. Ares adalah orang yang Arvin percayai untuk memegang perusahaan secara langsung di bawah nama nya.
Tapi, bak serigala berbulu dongker eehh berbulu domba, Ares malah menghianati Arvin dengan menggelapkan sejumlah uang perusahaan untuk kepentingan nya sendiri. Dia berpikir mungkin karena Arvin tak ada, jadi dia bebas melakukan kecurangan dan takkan terendus. Tapi, dia lupa kalau Arvin memiliki anak buah yang menyamar sebagai karyawan di kantor itu agar tak terlihat mencurigakan.
Ares lengah dan masuk ke dalam jebakan, siapa yang di rugikan akan hal ini? Tentu saja Arvin, tapi Ares lebih rugi dari nya karena dia akan di blacklist dari semua perusahaan meskipun sudah menyelesaikan hukuman nya nanti. Itu pun kalau dia tak di jatuhi hukum penjara seumur hidup.
"Hufftt, harus bilang apa aku sama Melisa ya?" Gumam Arvin, dia bingung harus beralasan apa pada sang kekasih. Entah seperti apa juga reaksi yang akan di tunjukan wanita itu nanti. Biarlah, esok dia akan memikirkan hal itu. Sekarang, rasa nya dia lelah, lebih baik istirahat sebentar sebelum makan malam.
Sedangkan di rumah, Melisa merasa rindu pada Arvin. Padahal tadi pagi, dia bertemu bahkan bercintaa dengan pria tampan itu dua kali, tapi rasa nya dia merindukan pria itu, sentuhan dan aroma nya yang memabukkan membuat nya rindu.
"Mel.."
"Iya, Mas." Jawab Melisa, dia langsung menetralkan ekspresi nya saat Dion memanggil nya.
"Mas ada kerjaan, mungkin malam ini gak pulang. Kamu baik-baik di rumah." Ucap Dion. Gotcha, kabar yang sangat baik membuat wajah Melisa berbinar cerah. Artinya, dia bisa tidur bersama Arvin malam ini karena Dion juga takkan pulang ke rumah.
__ADS_1
"Lho, bukan nya Mas masih sakit?"
"Sudah mendingan kok, Mas pergi dulu." Pamit Dion, Melisa pun menganggukan kepala nya. Dia mengambil jaket kulit nya, lalu mengendarai sepeda motor nya menjauhi rumah. Melisa bersorak kegirangan, dia senang sekali saat ini.
Melisa buru-buru menutup pintu, menutup gordeng dan menyalakan lampu. Karena sebentar lagi mendekati waktu maghrib, jadi kelakuan nya takkan menimbulkan kecurigaan apapun karena biasa nya jam segini rumah-rumah di desa ini sudah menutup rapat-rapat jendela beserta gordeng nya.
Melisa membawa nasi dan lauk, lalu pergi ke rumah Arvin lewat pintu belakang. Wanita itu berjalan terburu-buru karena khawatir ada orang yang memergoki nya, Arvin memang tak pernah mengunci pintu belakang nya lagi sejak berhubungan dengan Melisa.
"Sayang.." panggil Melisa setelah meletakan nasi dan piring di meja makan.
"Arvin.."
Tak ada jawaban, jadi Melisa memilih masuk saja ke kamar Arvin. Biasa nya, kalau Arvin tak ada di ruang tamu pasti di kamar. Benar saja, pria itu tengah tertidur.
"Kalau di bangunin, sama aja bangunin singa tidur. Yang ada, aku di terkam sama dia nanti." Gumam Melisa. Tapi, menyaksikan orang tidur juga akan membuat nya bosan.
"Hmmm, gimana ya?"
"Sayang, kamu disini?" Tanya Arvin, dia membuka kedua mata nya. Aroma Melisa membuat nya terbangun.
"Hehe, kangen soalnya, yang."
"Suami kamu? Bukan nya dia sakit, yang?" Tanya Arvin, dia merangkul pundak Melisa dari samping.
"Dia pergi, katanya sih ada kerjaan tapi aku yakin dia pasti ke rumah Gia, selingkuhan nya."
"Hmm, baguslah. Malam ini kita tidur bersama kan, sayang?" Tanya Arvin sambil menduselkan wajah nya di leher Melisa.
"Iya, sayang. Kamu tumben tidur sore-sore gini, bukan nya mandi dari pagi baju nya belum ganti."
"Hehe, mandiin."
"Idihh, kamu udah gede juga masa harus aku mandiin sih."
"Kan biar romantis." Jawab Arvin, sedangkan Melisa hanya menggelengkan kepala nya. Tingkah pria ini selalu membuat nya heran, tapi dia menyukai nya.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1