
"Sayang.."
"Iya, kenapa?" Tanya Melisa, saat ini dia tengah mencuci tangan nya sehabis makan malam, juga sekalian mencuci piring bekas nya makan bersama Arvin. Karena sudah di pastikan kalau Dion tak pulang ke rumah, dia berada di rumah istri baru nya.
"Setelah kamu resmi bercerai, kamu mau kemana?" Tanya Arvin lirih, pria itu memutar-mutar cangkir berisi kopi hitam yang di buatkan oleh Melisa beberapa menit yang lalu.
"Gak tau, tapi aku rasa tak mungkin jika aku pulang ke kota kelahiran aku, sayang."
"Kenapa?" Tanya Arvin lagi.
"Aku pernah bercerita kan? Bagaimana orang tua ku memperlakukan aku, aku seperti tidak di harapkan oleh mereka. Bahkan, saat aku mengadu kalau Mas Dion memperlakukan aku dengan buruk, mereka seakan tak peduli sama sekali." Jelas Melisa, membuat Arvin mengepalkan kedua tangan nya menahan amarah yang memuncak.
Bagaimana bisa orang tua abai pada keadaan anak nya sendiri? Orang tua macam apa yang memperlakukan anak nya sendiri seperti orang asing? Astaga, dia tak habis pikir dengan kedua orang tua Melisa.
"Papah aku udah meninggal belasan tahun lalu, sayang. Ibu ku menikah lagi dengan seorang pria yang menjadi selingkuhan nya selama ini, dia pria pecandu narkobaa, perokok dan pemabuk. Selain itu, dia juga sering judi."
"Lalu? Kenapa ibu mu bisa menikah dengan pria gila semacam itu, sayang?" Tanya Arvin keheranan, apa ibu nya Melisa buta? Kenapa bisa menikah dengan pria bejat seperti itu?
"Cinta itu buta, sayang. Seperti kamu yang mengejar aku, padahal kamu tahu kalau aku wanita bersuami."
"Hehe, itu kan beda kasus, sayang." Arvin nyengir mendengar ucapan Melisa yang menyindir nya.
"Ya, itu juga lah yang terjadi pada ibu ku. Kamu percaya kalau dia hampir saja melecehkan aku saat mabuk?"
"H-ahh, kenapa bisa?"
"Bisa, karena dia sedang mabuk dan di rumah hanya ada aku. Ibu ku ke pasar hari itu dan dia mencoba melakukan nya, tapi aku berteriak dan berlari ke luar rumah meminta pertolongan. Untung saja ada pasangan yang menolong ku, hingga dia tak jadi melakukan nya."
"Lalu, bagaimana dengan reaksi ibu mu, sayang?" Tanya Arvin.
"Dia gak percaya dong, karena pasangan itu bukan orang situ, mereka hanya kebetulan lewat dan melihat aku yang membutuhkan pertolongan, sayang." Jelas Melisa.
"Mata hati ibu mu benar-benar tertutup karena cinta, sayang. Aku gak habis pikir kenapa ibu mu memilih mempertahankan pria gila seperti itu dari pada anak nya sendiri."
"Kan aku dah bilang kalau cinta itu buta, sayang."
"Setelah itu gimana lagi, sayang?" Tanya Arvin lagi, dia penasaran dengan cerita hidup wanita nya.
"Hanya sekitar dua minggu sejak kejadian itu, aku seringkali mengurung diri di kamar, sayang. Setelah itu, papa tiri ku malah berhutang besar dan jaminan nya adalah aku. Aku di jadikan jaminan, dan akhirnya aku di paksa menikahi Dion."
"Hah, jadi.."
"Iya, aku di jadikan pelunas hutang oleh papa tiriku, sayang." Jawab Melisa, dia tersenyum kecut yang membuat hati Arvin terasa sakit begitu mendengar cerita pahit yang keluar dari mulut Melisa.
"Jadi, kamu tahu alasan kenapa aku bertahan dengan Dion sekarang kan?"
__ADS_1
"Karena kamu merasa tidak punya siapa-siapa lagi?" Tanya Arvin, Melisa menganggukan kepala nya. Memang begitu fakta nya, dia merasa sendirian. Jadi, kalau dia meminta lepas dari Dion, dia harus pergi kemana? Orang tua nya saja sudah tak menginginkan nya lagi.
"Kamu mengorbankan semua kebahagiaan mu, sayang."
"Hmmm, iya. Aku mengorbankan semua yang aku miliki, tapi apa hasil yang aku dapat? Tidak ada selain rasa sakit." Wanita itu tersenyum getir, membuat Arvin merasakan sesak di dada nya.
"Kenapa kamu tidak melawan, sayang?" Tanya Arvin.
"Aku bisa apa memang nya? Aku seorang wanita, lemah dan tak berdaya, sayang. Saat melihat ibu ku di siksa terus menerus, apa aku tega melihat nya? Tidak, maka dari itu aku setuju untuk menikah dengan Dion karena hutang." Jawab Melisa, kedua mata nya nampak berkaca-kaca. Namun sedetik kemudian, dia mengusap nya. Dia tak harus nya terlihat lemah di depan Arvin.
"Maaf, kalau semua pertanyaan ku membuat kamu sedih, sayang."
"Tidak apa-apa, kamu berhak tahu sayang." Jawab Melisa, Arvin pun bangkit dari duduknya dan memeluk Melisa dengan erat. Tangan besar pria itu mengusap lembut puncak kepala Melisa dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang, kamu punya aku sebagai tempat mu bersandar, sayang."
Melisa mendongak menatap wajah tampan Arvin yang juga tengah menatap nya dengan senyuman manis nya.
"Jadikan aku tempat mu pulang, sayang."
"Kamu membuat aku baper, sayang." Ucap Melisa terdengar seperti rengekan yang membuat Arvin terkekeh.
"Aku serius, sayang."
"Tapi, aku gak mau bergantung sama kamu, yang."
"Sayang.."
"Hmmm, kenapa sayang?" Tanya Arvin sambil membingkai wajah Melisa yang terlihat sendu.
"Terimakasih, aku belum pernah merasakan di cintai sebesar ini."
"Kamu akan merasakan nya dariku, sayang. Tidak apa-apa kamu tidak merasakan kasih sayang sebesar ini dari orang tua mu atau suami mu, aku yang akan memberikan mu dengan kasih sayang yang melimpah hingga kamu tenggelam di dalam nya." Jawab Arvin membuat Melisa kembali memeluk tubuh pria itu dengan erat.
Begini kah rasa nya di cintai? Ternyata sangat mengharukan bagi nya, Arvin mampu memberikan apa yang tidak bisa orang tua dan suami nya berikan. Sungguh demi apapun, rasa nya dia sangat bahagia saat bersama Arvin. Apakah ini salah? Tidak, karena dia berhak bahagia seperti kata Arvin.
"Kenapa masih menangis? Jangan menangis terus, nanti mata kamu sembab lho, bengkak kayak di entup tawon." Goda Arvin yang membuat Melisa menepuk-nepuk dada bidang itu karena malu.
"Aaahh, sayang sakit.." Arvin meringis pelan, membuat Melisa langsung menghentikan kelakuan nya.
"Maaf, sayang."
"Tidak apa-apa, cantik." Jawab Arvin, dia pun mengecup kening Melisa dengan lembut, dalam dan lama.
"Aku mencintaimu, Arvin."
__ADS_1
"Aku bahkan lebih mencintaimu, sayangku." Jawab Arvin, kedua nya pun kembali berpelukan mesra. Melisa merasa nyaman dan aman saat berada dalam dekapan hangat pria tampan itu.
"Sayang, aku ngantuk.." Rengek Melisa.
"Ayo kita tidur, malam ini tidur di rumah ku saja ya?"
"Iya, sebentar aku mengunci pintu nya dulu." Jawab Melisa. Arvin pun mengangguk dan membiarkan wanita nya mengunci pintu, setelah nya mereka pun pergi ke rumah Arvin.
Arvin membawa Melisa ke kamar nya, kedua nya pun berbaring dengan saling memeluk.
"Udara nya terasa dingin ya?" Ucap Arvin sambil menarik selimut nya hingga ke dada.
"Gimana gak dingin, kamu tidur nya gak pake baju, cuma pake celana pendek doang." Ucap Melisa, kebiasaan Arvin memang kalau tidur pasti hanya mengenakan boxer saja. Selebihnya dia akan melempar nya, kalau pun dia tidur menggunakan pakaian, pasti tengah malam dia akan membuka nya secara tak sadar.
"Hehe, udah kebiasaan."
"Pake baju dulu bobo nya, sayang. Nanti masuk angin."
"Enggak mau, sia-sia pake baju tuh. Nanti malem juga aku buka secara gak sadar, jadi mendingan sekarang aja di buka nya." Jawab Arvin sambil cengengesan.
"Jadi, kenapa bilang dingin kalo udah kebiasaan?"
"Peka dikit dong, Bby." Ucap Arvin dengan tatapan nakal nya.
"Ohh, mau jatah ya?"
"Hehe, iya. Yuk, sekali aja."
"Enggak deh, aku capek." Melisa menolak, membuat Arvin cemberut.
"Haha, wajah mu itu terlalu jujur, sayang."
"Sebel aku, yang."
"Iya-iya, ayo main." Jawab Melisa, akhirnya dia pun tak bisa menolak keinginan pria nya. Arvin pun langsung bersorak kegirangan dan dia memulai permainan nya dengan bibir dan dada Melisa yang sedari tadi terlihat sangat menggoda bagi nya.
"Buka dong."
"Sebentar, kamu nya minggir dulu." Pinta Melisa, pria itu meminta nya membuka pakaian nya, tapi dia tetap menindih nya.
"Hehe, iya sayang." Arvin pun bangkit dari tubuh Melisa dan membiarkan wanita nya membuka seluruh pakaian nya, dia pun menikmati pemandangan itu dengan senyum mesuum nya. Tubuh Melisa selalu saja membuat nya candu, indah dan nikmat.
Mereka pun menghabiskan malam dengan bercintaa, nyata nya Arvin tak puas menikmati tubuh Melisa hanya satu kali, dia pun mengulang permainan nya hingga membuat Melisa terkulai lemas, bahkan dia sampai tertidur saat Arvin masih bermain di atas tubuh nya.
"Seperti nya dia kelelahan." Gumam Arvin, dia pun menarik diri dari tubuh Melisa dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan milik nya, dia juga mengelap milik Melisa dengan tissu, setelah itu dia pun tertidur di samping wanita nya, memeluk nya dengan erat juga menyelimuti nya agar tidak kedinginan.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻