SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 47 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Arvin masih memeluk Melisa di dapur, tangan nya dengan nakal meraba-rabaa tubuh wanita nya. Tapi, Melisa nampak tak terganggu sama sekali malah terlihat menikmati. Dia seperti wanita yang haus akan belaian, tapi hal semacam ini tak pernah dia dapatkan dari suami nya. 


Bahkan dulu, saat awal-awal menikah bukan nya di perlakukan dengan mesra dan romantis layak nya pasangan pengantin baru lain nya, justru tidak berlaku bagi Melisa. 


Tepat seminggu setelah menikah, dia mengalami pendarahan karena di tendang oleh Dion hingga tulang nya bergeser. Orang tua Dion yang mengetahui hal itu langsung membawa Melisa ke rumah sakit dan melakukan operasi. Melisa pikir semua nya sudah berakhir, tapi nyata nya tidak sama sekali. 


Dion malah semakin menjadi, bahkan pernah dia di pukul hingga tak bisa berjalan, belum lagi luka-luka lebam dan bekas sundutan rokok jika Melisa melakukan sedikit saja kesalahan. Tentu nya, itu membuat Melisa trauma psikis.


"Sayang.." Panggil Arvin dengan manja.


"Iya, kenapa sayang?"


"Permainan aku tadi, gimana?" Tanya Arvin berbisik.


"Hebat, seperti biasa nya. Tapi, agak terburu-buru jadi nya sakit." Jawab Melisa.


"Ya kan, nama nya juga main cepat, sayang." 


"Iya, kamu nya nekat sekali. Padahal kan bisa nanti malem kalo Mas Dion udah tidur, sayang." Ucap Melisa.


"Enggak tahan, sayang. Keburu kamu datang bulan."


"Hmm, ya sudahlah terserah kamu saja." 


"Main lagi yuk?" Ajak Arvin membuat Melisa terheran, tadi sudah satu ronde masa sekarang minta lagi?


"Sayang, kamu ini doyan apa gimana? Barusan kan udah, yang. Lagian, nanti Mas Dion pulang." 


"Kalo gitu, nanti malam aja ya?"


"Iya, masuk aja nanti biar pintu nya gak aku kunci, sayang." Jawab Melisa, Arvin pun mengangguk lalu menduselkan wajah nya di ceruk leher Melisa, mengendus aroma nya seperti biasa. 


Tak lama kemudian, suara motor milik Dion datang. Arvin langsung melerai pelukan nya, dan berpura-pura membantu Melisa untuk menyiapkan makan malam. 


"Mbak, ini di gimanain?" Tanya Arvin pada Melisa, membuat wanita itu terkekeh geli saat mendengar ucapan Arvin yang memanggil nya dengan sebutan mbak, padahal biasa nya dia memanggil nya sayang. 


"Tolong cuciin ya, Vin."


"Iya, mbak." Arvin pun mencuci sayuran di dalam wadah dengan air bersih di wastafel. 


"Vin.." Panggil Dion, membuat Arvin menoleh seketika.


"Iya, bang. Udah balik beli pulsa nya?"


"Udah nih, ngapain sih di dapur?" Tanya Dion datar.


"Bantuin mbak Mel masak lah, bang. Kenapa?"

__ADS_1


"Si Melisa udah biasa masak sendiri, gak usah di bantuin. Udah, kita nonton bola aja yuk. Gak usah di dapur, kayak cewek aja." Ucap Dion, membuat Arvin mengepalkan tangan nya menahan kesal. 


Dia saja yang tak pernah mau membantu meringankan pekerjaan istri nya, memasak itu bukan sepenuh nya tugas seorang wanita kan? Harus nya, ada turut andil tangan suami untuk membantu. Tapi, kalau suami nya pria semacam Dion ya susah. Sudah mah egois, tak mau peduli, ringan tangan lagi. 


"Iya, bang." Jawab Arvin, dia pun meletakan sayuran dalam wadah yang sudah dia cuci itu di dekat Melisa.


"Aku ke depan dulu yaa, biar dia suami kamu gak curiga." Ucap Arvin lirih, Melisa mengerti dengan ucapan pria tampan itu, dia pun tak keberatan kalau Arvin tak membantu nya lagi. 


Dengan singkat, Arvin mengecup singkat pipi Melisa lalu pergi ke ruang tengah. Melisa menatap punggung pria itu dengan heran, bisa-bisa nya dia melakukan hal itu. Padahal, jelas-jelas di ruang tengah ada suami nya, tapi dia masih bisa mencuri kecupan di pipi nya. 


Arvin pun duduk di samping Dion, mereka menonton siaran sepak bola. Kedua nya nampak asing dengan apa yang mereka lihat, sedangkan Melisa asik menatap ketampanan Arvin dari dapur. 


Tentu nya, setelah masakan nya matang. Dia tersenyum saat melihat Arvin juga melirik ke arah nya dengan mengedipkan sebelah mata nya, membuat Melisa tersipu. Pipi nya merona karena ulah Arvin yang selalu bisa membuat hati nya menghangat.


"Bang, aku permisi ke toilet dulu. Kebelet." 


"Ya, kalau kesini bawain cemilan ya." Ucap Dion tanpa menatap Arvin yang langsung pergi begitu saja.


Sampai di dapur, Arvin menarik Melisa ke kamar mandi. Dia tak tahan saat melihat wajah Melisa yang memerah, hal itu terlalu menggemaskan bagi Arvin.


"Sa-yang.."


"Sshhttt, diam sayang. Kamu gak mau suami kamu tahu kan?" 


"Tapi, sayang.. Hmpphh.." Arvin langsung melumaat bibir Melisa, dia terkejut namun tak bisa melakukan apa-apa selain diam. Kalau dia berteriak, sama juga dia cari mati kan? Nanti, suami nya akan tahu perbuatan nya selama ini dengan Arvin.


"Kamu sangat menggemaskan, sayang." Bisik Arvin sambil tersenyum. Lagi-lagi, wajah Melisa merona karena ucapan Arvin.


"Aku pengen."


"Tapi, kita kan sudah main tadi." Ucap Melisa, dia mundur perlahan tapi ruangan kamar mandi ini tak seluas kamar nya jadi dengan mudah Arvin bisa menangkap nya. 


"Diamlah, atau mau aku perkosaa hmm?" Tanya Arvin dengan suara pelan namun terdengar sangat menusuk. Lagi-lagi, Melisa hanya bisa pasrah karena maju kena mundur pun kena nanti. 


Arvin membalik tubuh Melisa dan menyibak daster yang dia kenakan, lalu membasahi inti nya dengan ludah agar lebih memudahkan junior nya masuk. Setelah itu, dia mulai menggesekan senjata nya di bawah sana dengan perlahan.


"Ssshhhh.." Melisa mendesis pelan, membuat Arvin langsung menggigit pelan tengkuk leher Melisa.


"Asshhh, sayang.." 


"Sshhttt, diam. Kamu gak mau kan kalo suami kamu menciduk kita berdua sedang dalam posisi begini, sayang? Diam ya, cantik." 


"Ta-pi.." Arvin mulai menggerakan pinggang nya maju mundur dengan perlahan, membuat Melisa mendesaah tertahan. Melisa menutup mulut nya menahan desaahan, tapi tetap saja seperti nya Arvin tak bisa melihat Melisa diam saja saat dia bermain. Jadi, dia mempercepat gerakan nya hingga membuat Melisa mendesaah lagi.


"Aaahhh.." 


"Mel.." Panggil Dion dari luar kamar mandi.

__ADS_1


"Aneh, ini orang pada kemana ya?" Gumam Dion sambil celingukan, karena di dapur tak ada siapa-siapa. 


"Vin.." Panggil Dion sambil mengetuk pintu kamar mandi. Arvin menutup mulut melisa dengan tangan nya, agar tak bersuara karena dia tetap tak mau menghentikan gerakan nya hanya karena mendengar suara Dion dari balik pintu kamar mandi. 


Sedangkan Melisa, dia sudah panik bukan main, dia takut kalau akan ketahuan. Tapi, berbeda jauh dengan Arvin yang nampak sangat tenang. Bahkan, dia masih bisa menggerakan pinggang nya maju mundur.


"Iya, bang."


"Lihat Melisa gak?"


"Enggak, bang."


"Ngapain sih di kamar mandi? Lama amat." Ucap Dion ketus.


"Hehe, maaf bang. Sebentar lagi ya."


"Cepetan, mau pipis juga." 


"Iya bang." Jawab Arvin, Dion pun mendengus lalu kembali duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Sedangkan di kamar mandi, istri nya tengah di hajar oleh rudal milik pria lain yang ternyata adalah tetangga nya sendiri. 


"Aahhh.." Melisa mendapatkan klimaaks nya, begitu pun Arvin. Dua ronde sudah mereka bermain secara sembunyi-sembunyi, jadi inti nya meskipun ada Dion di rumah, kalau Arvin sudah menginginkan jatah nya dia akan nekat melakukan nya, tak peduli meski pun ketahuan seperti nya.


Dion pasti nya tak terpikir kalau istri nya ada di kamar mandi bersama tetangga nya, yang dia tahu istri nya tak ada di dapur saja namun tak curiga ke arah sana. Saking tak peduli nya dengan sang istri, Dion hanya bersikap acuh saja padahal istri nya menghilang. 


Melisa keluar lebih dulu dari kamar mandi dan kembali melanjutkan acara memasak nya, dia sedang menggoreng tempe mendoan saat ini. Tak lama, Arvin juga keluar dari kamar mandi dan langsung pergi ke ruang tengah.


Waktu makan malam datang, Dion makan dengan lahap, begitu juga dengan Arvin. Sesekali dia akan menatap Melisa yang makan dengan tenang, menu di piring nya berbeda jauh dengan menu makanan yang ada di piring Dion. 


"Mbak, kok gak makan daging?" 


"Melisa alergi sama daging, jadi biarin aja dia makan sama sayur doang. Tempe juga bergizi." Jawab Dion membuat Melisa tersenyum kecil. Alergi kata nya? Bilang saja pelit, tak mau makanan nya di makan juga oleh istri nya, egois sekali. 


"Ini, makan sama ini mbak." Arvin memberikan potongan daging milik nya di piring Arvin, semua hal itu tak luput dari penglihatan Dion. 


"Gak usah, Vin. Bener kok kata Mas Dion, aku alergi." Jawab Melisa, padahal Arvin tahu benar kalau Melisa tidak alergi sama sekali. Toh dia sering makan dengan Melisa, bahkan beberapa kali dia di masakan oleh Melisa.


"Yaudah deh."


"Melisa emang aneh, dia alergi makanan enak." Celetuk Dion membuat Arvin nyaris saja kehilangan kendali. Ingin sekali dia menghajar wajah Dion dengan membabi buta. 


Melisa menyentuh kaki Arvin di bawah meja, agar emosi Arvin sedikit mereda. Dan berhasil, emosi nya perlahan membaik. Arvin menatap Melisa dan tersenyum kecil, begitu juga dengan Melisa.


"Kenapa gak di makan? Gak enak ya?" Tanya Melisa agar Arvin sadar kalau mereka tengah menjadi pusat perhatian dari Dion.


"Enak kok, mbak." Jawab Arvin sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


"Ayo makan yang banyak, Vin." Ucap Dion, Arvin pun menganggukan kepala nya dan melanjutkan makan nya dengan lahap.

__ADS_1


.....


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2