SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 92 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling di nanti oleh Arvin dan Melisa. Dimana, hari ini kedua nya akan melangsungkan pernikahan mereka dengan tema yang di inginkan oleh Melisa, ala-ala putri Disney Cinderella. Darren benar-benar menepati janji nya, dia membuat tema ini dengan sangat mewah. 


Arvin berdiri tegap di karpet merah dengan balutan jas ala prince charming. Dia benar-benar mewujudkan keinginan Melisa untuk menikah seperti Cinderella. Di dukung pula oleh mertua nya, Darren.


Pria paruh baya itu tersenyum melihat putra nya berdiri gagah dengan balutan jas mahal yang dia beli secara langsung dari desainer terkenal, begitu juga dengan gaun besar nan mengembang yang di kenakan oleh Melisa. Wanita itu terlihat sangat cantik saat mengenakan gaun itu. 


Perlahan, dia berjalan sambil tersenyum ke arah Arvin. Tangan nya menggenggam sebuket bunga mawar berwarna merah kesukaan nya, di samping nya ada Dara dan Richard yang mendampingi Melisa. 


Melisa merasa tidak enak pada Dara saat Richard meminta dirinya untuk menggandeng lengan nya, mengingat dia hanya orang asing yang kebetulan bertemu dengan nya secara tidak sengaja. Tapi, mereka adalah orang yang sangat baik. Bahkan Dara saja tidak keberatan saat Melisa menggandeng tangan kekasih nya.


"Putra ku terlihat sangat gagah, akhirnya waktu ini pun tiba." Gumam Darren, tak terasa air mata nya menetes tanpa bisa di cegah. Namun, dengan cepat Darren segera mengusap air mata yang menggenang di pelupuk mata nya. Dia tak ingin terlihat lemah oleh putra nya, selama ini dia adalah pria yang keras kepala, tak di sangka ternyata pria sekeras Darren pun bisa menangis. 


Melisa sampai di depan Arvin, dengan lembut Richard menyatukan tangan Melisa dengan pria itu lalu tersenyum manis.


"Jaga dia dengan baik, bro. Dia wanita yang baik, jangan sakiti dia seperti yang di lakukan oleh mantan suami nya dulu."


"Tidak, aku tidak akan pernah menyakiti Melisa ku." Jawab Arvin. Kedua nya pun berbalik dan berjalan ke atas pelaminan. Sedangkan Richard dan Dara, mereka duduk di kursi kosong di samping Darren dan kedua orang tua nya. Orang tua Richard juga turut hadir di pesta besar-besaran yang bahkan mengundang stasiun tv karena ini adalah pernikahan putra tunggal Darren Sanjaya ini. 


Richard menggenggam tangan Dara, kedua nya saling menatap lalu melemparkan senyuman. Tentu nya, mereka ikut bahagia saat mendengar kabar baik yang di ucapkan oleh Arvin melalui panggilan telepon. Dengan senang hati, mereka datang sebagai tamu dan pendamping untuk pengantin wanita. 


Melisa dan Arvin berdiri dengan saling berhadapan, kedua nya saling menatap dalam satu sama lain. Arvin merasa sangat gugup, ini adalah pertama kali nya dia akan mengucap janji suci di depan Tuhan. Begitu juga hal nya dengan Melisa, ini memang bukan pernikahan pertama nya, tapi tetap saja rasa nya sangat gugup seperti saat pertama kali nya.


Pernikahan pertama kali nya tidak semewah ini, hanya pernikahan sederhana mengucap janji suci dan selesai. Melisa juga tidak merasa segugup ini karena dia menikah dengan pria yang tidak dia cintai, berbeda dengan sekarang. 

__ADS_1


Dia merasakan gugup sampai perut nya terasa mulas, dia benar-benar gugup hingga tangan nya terasa dingin. Kali ini, dia akan di persunting oleh pria yang mencintai dan dia cintai. Jadi, rasa nya benar-benar berbeda. 


Arvin mengucap janji suci itu dengan tegas, lantang. Tidak terlihat keraguan di mata nya, yang ada hanya tatapan hangat yang tertuju ke arahnya.


Hati Melisa terasa berdenyut nyeri saat mendengar kata-kata Arvin yang terdengar sangat tulus, tidak ada sorot keraguan dari pria itu, yang Melisa lihat hanya ada ketulusan dan rasa cinta pria yang begitu besar untuk nya. 


Pemuka agama itu pun kembali mengulang perkataan yang sama pada Melisa, dengan lantang juga Melisa mengucapkan janji suci itu dengan yakin tanpa keraguan sedikit pun. Karena dia sudah benar-benar yakin dengan Arvin, juga dengan perasaan nya. 


Hingga akhirnya, janji suci itu sudah selesai mereka ucapkan, kedua nya pun menyematkan cincin di jari manis masing-masing. Lalu Arvin mencium bibir Melisa dengan lembut, semua orang bersorak ikut dalam suasana romantis yang di ciptakan oleh pasangan suami istri yang baru saja resmi itu. 


Hanya beberapa detik saja, setelah itu Arvin melepaskan pagutaan bibir nya. Setelah itu, kedua nya saling melempar senyuman hangat. Pernikahan itu benar-benar berlangsung dengan meriah, di hadiri ratusan tamu penting klien Darren dan Arvin. Bahkan ada beberapa stasiun televisi yang meliput pernikahan putra pengusaha itu secara langsung. 


Di tempat lain, seseorang melihat televisi yang menayangkan siaran langsung pernikahan Melisa dengan Arvin itu dengan tatapan sendu. Dia benar-benar tidak menyangka, kalau saat ini Melisa sudah menjadi milik orang lain. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun mewah berwarna biru yang bisa di tebak pasti berharga fantastis untuk gaun pernikahan saja. 


"Mel, kita benar-benar sudah selesai?" Gumam Dion, kedua mata nya berkaca-kaca. Dia memejamkan mata nya, jujur saja dia merasakan sesak yang teramat sangat di dada nya. Melihat mantan istri menikah dengan pria yang berkali-kali lipat lebih dari segalanya dari dirinya, sedangkan dia? 


"Aku menyesal telah membuang Melisa demi wanita seperti dirimu." Jawab Dion.


"Haha, nyesel kan ya? Udah jelas, mbak Mel itu udah cantik, baik hati, dia sosok istri yang sempurna. Kamu nya aja yang bodooh hingga menyia-nyiakan wanita sebaik mbak Melisa." 


Dion mendongak menatap wajah istri nya, sudah beberapa minggu ini sikap Gia berubah drastis. Tentu saja hal itu membuat Dion merasa heran karena biasa nya semarah apapun Gia, dia tidak pernah mengumpati dirinya. Tapi, kali ini dia benar-benar berubah menjadi lebih berani. 


Kenapa? Ya, alasan nya adalah karena tugas nya sudah selesai dan kini waktu nya untuk meninggalkan Dion sudah tiba karena Melisa sudah resmi menikah dengan Arvin. Jadi, apalagi yang harus dia pertahankan dari pernikahan bisnis ini? Tidak ada lagi, dia juga tidak tahan terus terusan bersama Dion, dia terlalu egois sebagai laki-laki.

__ADS_1


"Kenapa kamu berubah, Gi?"


"Hmm, aku berubah ya? Aku begini karena tugas ku sudah selesai."


"Tugas? Apa maksud mu, Gi?" Tanya Dion, dia beranjak dari duduk nya. Gia memberikan selembar kertas dan pena pada Dion. 


"Ini surat cerai dari pengadilan, tandatangani dan setelah itu bercerai." Jawab Gia tanpa keraguan sedikit pun.


"A-apa maksud semua ini, Gi?"


"Aku menikah dengan mu demi uang, karena sekarang tugas ku sudah selesai, jadi aku meminta bercerai. Memang nya siapa yang mau bertahan dengan pria seegois dirimu? Aku rasa tidak ada. Harus nya, kamu tuh Mbak Melisa bisa bertahan selama tiga tahun sama kamu. Tapi, apa yang kamu lakukan? Sungguh bodooh." Cibir Gia panjang lebar.


"Siapa yang sudah menyuruh mu melakukan hal ini, Gia?"


"Kau tahu sendiri orang nya, Dion."


"Arvin?"


"Ya, dia orang nya. Dia membayar ku dengan harga yang luar biasa untuk menghancurkan rumah tangga mu dengan Mbak Melisa. Ohh tidak, Nyonya Melisa." Jawab Gia, dia tersenyum jahat saat melihat wajah Dion yang terlihat terkejut.


Dion benar-benar tidak percaya, ternyata Arvin bisa selicik itu. Berarti pertemuan nya dengan Gia, penggerebekan itu sudah di rencanakan? Rencana yang benar-benar sangat sempurna, hingga Dion tidak curiga dan menyadari ini sama sekali.


"Selamat, kau sudah membuang berlian, Dion. Jadi, selamat menikmati penyesalan mu. Aku pergi, Babay." Gia pun pergi meninggalkan Dion sendirian di rumah itu, tugas nya sudah selesai, buat apa dia masih tinggal disini? Lebih baik dia pulang ke kota nya, mengurus sang ibu yang sakit disana. Uang yang di berikan Arvin sudah lebih dari cukup untuk biaya pengobatan juga biaya kehidupan nya selama beberapa tahun ke depan. 

__ADS_1


Sedangkan Dion, dia meremat rambut nya dengan frustasi. Dia benar-benar menyesal karena sudah terbuai dengan Gia, pada akhirnya dia di tinggalkan oleh wanita itu, Melisa juga meninggalkan dirinya. Dia benar-benar kehilangan segala nya sekarang, bahkan orang tua nya pun tak menginginkan kehadiran nya.


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2