
Keesokan hari nya, Melisa menatap punggung Arvin yang sedang mengenakan pakaian dengan sendu. Tadi malam adalah malam terakhir mereka bersama, karena hari ini Arvin akan pergi untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
Entah kenapa, hatinya merasa tak rela saat Arvin akan meninggalkan nya, meskipun hanya beberapa hari saja. Tapi, dia merasa berat untuk melepaskan kepergian pria itu.
"Sayang, bantuin ini dong.." Pinta Arvin sambil mengulurkan tangan nya, meminta Melisa untuk mengancingkan kancing di lengan nya. Dengan malas, Melisa pun melakukan nya.
"Kok lemes gitu sih, yang? Semangatin aku dong, biar aku semangat kerja nya, setelah itu aku bisa pulang cepat." Ucap Arvin sambil membelai mesra wajah Melisa yang nampak sendu.
"Hmmm, aku gak rela kamu pergi, yang." Jawab Melisa.
"Aku juga gak mau ninggalin kamu, sayang. Tapi, ini kan demi pekerjaan. Kalo aku gak kerja, dari mana aku ngasih ayang uang buat beli skincare?" Tanya Arvin sambil tersenyum. Dia juga berat harus meninggalkan sang pujaan hati disini, dia juga tak percaya dengan Dion dia khawatir kalau pria itu kembali menyakiti Melisa.
"Jangan lama-lama ya pergi nya, nanti aku kangen lho."
"Sama dong, aku juga bakalan kangen sama ayang." Jawab Arvin, dia memeluk Melisa dengan erat, begitu juga dengan Melisa. Dia harus memuaskan diri untuk memeluk dan menghirup aroma tubuh Arvin yang akan sangat dia rindukan nanti.
"Jangan nakal ya, sayang?" Ucap Melisa.
"Gak bakal, sayang. Kamu juga jangan nakal ya, kalau suami laknat mu menyakiti kamu, kamu harus bilang sama aku, sayang." Peringat Arvin, Melisa pun menganggukan kepala nya.
"Ini ponsel buat kamu, nanti kita telponan kalau aku sudah sampai ya?" Melisa menganggukan kepala nya.
"Gak usah di matiin data nya, ini paket internet nya unlimited gak bakalan habis meskipun kamu pake ngedrakor dua puluh empat jam nonstop."
"Beneran?" Tanya Melisa.
"Iya, sayangku." Jawab Arvin, Melisa pun menganggukan kepala nya lagi.
"Ini, uang buat jajan kamu selama aku pergi ya." Arvin memberikan sejumlah uang pada Melisa. Jumlah nya lima kali lipat dari yang di berikan oleh Dion kemarin lusa.
"Gak kebanyakan ini?"
"Enggak, sayang. Sehari habis satu juta juga gak masalah, yang. Nanti aku kasih lagi uang nya." Ucap Arvin. Melisa mendongak, karena tubuh Arvin jauh lebih tinggi dari Melisa.
"Aku bukan mau uang, aku mau nya kamu."
"Jadi perempuan, harus materialistis sayang. Jangan mementingkan cinta, karena cinta takkan membuat kamu kenyang. Jadi, aku tetap harus kerja biar aku bisa bahagiain kamu, sayang." Arvin mengatakan nya dengan lemah lembut.
"Iya, sayang."
"Ya sudah, kamu pulang ya. Sebentar lagi, ada temen aku yang jemput kesini."
__ADS_1
"Cium dulu, sebagai perpisahan." Pinta Melisa, dengan senang hati Arvin melakukan nya. Pria itu menundukan kepala nya, lalu mencium bibir Melisa dengan lembut. Melisa sedikit berjinjit, dia mengalungkan kedua tangan nya di leher Arvin.
Setelah beberapa menit kemudian, kedua nya pun melerai ciuman nya. Arvin menempelkan kening nya dengan Melisa, lalu mengecup kening wanita cantik itu dengan hangat.
"Aku mencintai kamu, Melisa."
"Aku juga, aku mencintai kamu, Arvin." Balas Melisa, membuat kedua mata Arvin membeliak saat mendengar balasan dari mulut Melisa.
"Sayang.."
"Iya, aku mencintai kamu Arvin. Maka dari itu, kamu harus cepat kembali."
"Pasti, pasti aku akan cepat kembali, sayang." Jawab Arvin, dia pun kembali memeluk Melisa dengan erat. Mengecupi puncak kepala Melisa berkali-kali dengan hangat.
"Pulang ya?" Melisa menganggukan kepala nya, dengan berat hati dia meninggalkan rumah Arvin. Pria itu juga mengikuti wanita nya ke belakang, lalu mengunci pintu belakang nya. Dia kembali masuk ke kamar dan bersiap, memakai sepatu yang biasa dia pakai agar tidak terlihat terlalu mencolok.
Arvin membuka pintu rumah nya, tak lama kemudian seseorang datang dengan sepeda motor besar nya. Ya, memang Arvin meminta salah satu anak buah nya untuk menjemput nya dengan motor, tak boleh menggunakan mobil yang mengkilat.
"Udah siap, bro?" Sapa nya seperti layak nya seorang teman.
"Bentar lagi, tinggal pake sepatu doang." Jawab Arvin, setelah mengenakan sepatu pemuda itu pun berpamitan pada ibu-ibu nya agar tak merasa kehilangan. Setelah itu, Arvin pun pergi.
Namun, saat melewati rumah Melisa dia melihat wanita itu melambaikan tangan ke arah nya, ingin sekali dia membalas lambaian tangan wanita nya, tapi apa itu akan memancing kecurigaan? Tentu saja. Jadi, dia hanya menyimpan keinginan nya itu dalam hati.
"Tuan muda, anda baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja, Jo." Jawab Arvin, dia buru-buru mengusap air mata yang sudah mengajak sungai di bawah mata nya. Andai saja, dia bisa membawa Melisa, pasti dia sudah melakukan nya. Tapi, saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Setelah beberapa menit berkendara, Jo pun menghentikan kendaraan nya, kedua nya turun lalu Arvin masuk ke dalam mobil sedan hitam mengkilat.
"Kita berangkat sekarang, Tuan muda?"
"Iya, Jo. Aku tak bisa membuang-buang waktu lagi."
"Baik, Tuan." Jawab nya, dia pun mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang. Arvin menatap lurus ke depan, sungguh demi apapun saat ini Arvin terlihat berbeda dengan Arvin yang biasa nya Melisa lihat.
Arvin kembali pada identitas nya sebagai pewaris perusahaan Sanjaya Group, perusahaan yang bergerak di bidang ritel itu ternyata adalah milik Darren Sanjaya, papa dari Arvin.
Dengan jas hitam nya, dia menumpukan salah satu kaki nya, dia juga melihat iPad di tangan nya memantau keadaan. Hingga satu panggilan terdengar di ponsel nya. Ya, Arvin punya dua ponsel. Satu nya dia berikan pada Melisa, satu nya lagi khusus bisnis. Tapi, akan dia gunakan untuk menghubungi wanita pujaan nya nanti.
'Hallo, tuan muda..'
__ADS_1
"Ya, ada apa?"
'Tuan muda sudah berangkat?' tanya nya, Arvin menghela nafas nya lebih dulu sebelum memberi jawaban.
"Ya, sedang di jalan bersama Jo. Ada apa?" Balik tanya Arvin.
'Saya mengendus pergerakan Tuan Ares, seperti nya dia merencanakan untuk kabur ke luar negeri.'
"Tahan dia, blokir semua penerbangan. Buat dia mengalami masalah agar tak bisa pergi sebelum aku sampai disana!" Tegas Arvin.
'Baik, Tuan muda.'
"Lakukan dengan benar." Perintah Arvin, setelah itu dia pun mengakhiri panggilan nya lebih dulu.
"Ares brengsek!" Umpaat Arvin sambil menendang kursi depan yang di duduki oleh Jo.
"Saya sudah memperingatkan anda akan hal itu, Tuan muda."
"Hmmm, harusnya aku percaya dengan mu, Jo."
"Tak apa, Tuan muda. Pria itu memang pandai menghasut." Jawab Jo, dia adalah pria yang sudah bertahun-tahun bekerja pada Darren dan setelah pria itu pensiun, dia bekerja di bawah nama Arvin.
Usia nya masih terbilang cukup muda, dia berusia 32 tahun dan sudah memiliki keluarga.
"Bagaimana kabar papa, Jo?"
"Kesehatan nya cukup membaik, hanya saja setiap hari minggu beliau akan berada di satu ruangan dari pagi hingga petang." Jelas Jo.
"Ruangan itu ya? Percuma saja, selama dia egois aku takkan pernah kembali."
"Saya rasa, dinding ke egoisan yang selama ini Tuan Darren bangun semakin melemah, Tuan Muda."
"Hmmm, pastikan lebih dulu. Jika dia sudah berpikir logis, baru aku pulang!" Jawab Arvin.
"Baik, Tuan Muda." Jawab Jo, dia pun kembali fokus mengemudikan mobil nya ke jalan raya yang cukup ramai hari ini. Masih butuh beberapa jam lagi untuk Arvin sampai di kota tempat dia di lahirkan.
Arvin terdiam, dia mengingat ekspresi saat dia meninggalkan Melisa tadi. Ekspresi nya sangat menyedihkan, bahkan mampu membuat hati nya ngilu. Sakit sekali melihat Melisa menunjukkan ekspresi seperti itu karena dirinya.
'Bersabarlah, sayang. Setelah semua nya selesai, aku akan langsung pulang.'
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻