
Melisa berbaring di ranjang, entah kenapa tubuh nya berasa tak enak, perut nya terasa di aduk-aduk, benar-benar tidak nyaman. Dia berguling kesana kemari saking tak nyaman nya, hingga membuat Arvin terbangun dari tidur nya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Arvin dengan raut wajah khawatir nya.
"Perut aku gak enak gini, yang. Kenapa ya?"
"Kamu ada salah makan, sayang?" Tanya Arvin lagi, sambil mengusap perut Melisa dengan lembut.
"Gak ada, aku cuma makan dua porsi steak sama kamu tadi, terus barusan makan mie ayam. Itu pun gak pedes sama sekali, terus ini perut aku kenapa ya?" Tanya Melisa, dia menahan semua nya hingga akhirnya dia merasa tak tahan dan langsung berlari ke kamar mandi.
Arvin juga mengikuti di belakang Melisa, dia panik saat ini, benar-benar panik. Dia takut kalau terjadi sesuatu pada Melisa nya.
Hueekk.. huekk..
Sesampai nya di kamar mandi, Arvin melihat Melisa sedang muntah-muntah di wastafel. Arvin mendekat dan memijit lembut tengkuk leher Melisa, tapi wanita itu malah mendorong Arvin.
"Kenapa, sayang?"
"Minggir, jangan kesini, sayang."
"Lho memang nya kenapa, sayang?"
"Keluarlah, nanti kamu jijik."
"Tidak, aku tidak jijik sama sekali, sayang!" Akhirnya, Melisa pun pasrah. Entah kenapa, dia malah muntah-muntah, tenggorokan nya terasa sangat pahit saat ini. Tadi dia makan banyak, semua nya keluar sekarang.
Setelah selesai, Melisa luruh ke lantai karena merasa lemas, dengan sigap Arvin langsung menggendong sang wanita ke kamar dan membaringkan tubuh lemas wanita itu di atas ranjang.
Wajah nya pucat, benar-benar pucat membuat Arvin khawatir setengah mati. Dia tidak tahu ada apa dengan Melisa, kenapa bisa seperti ini padahal tadi dia baik-baik saja.
"Sebentar ya, Bby? Aku mau nelepon Jo dulu."
"Aku rasa tak perlu, sayang. Jangan merepotkan orang lain, kasian Om Jo dia pasti sedang beristirahat sekarang." Jawab Melisa lirih.
"Tidak, ini memang sudah pekerjaan nya." Ucap Arvin, Melisa pun terlihat pasrah saja karena di larang pun dia takkan menurut.
Arvin menghubungi nomor ponsel Jo, butuh beberapa menit hingga akhirnya pria itu mengangkat telepon dari nya dengan nafas tersengal nya. Entah sedang apa dia malam-malam begini.
'Hallo, tuan muda.'
"Dimana kau, Jo?"
'Saya? Ya, di rumah dong. Ada apa, tuan muda?' Tanya Jo, sudah bisa di tebak seperti apa wajah nya saat ini di seberang sana.
"Tolong bawa dokter Arman kesini, Jo." Ucap Arvin. Dokter Arman adalah dokter pribadi keluarga Sanjaya yang sudah bekerja bertahun-tahun pada sang papah, Darren Sanjaya.
'Dokter Arman? Siapa yang sakit, tuan muda?'
"Melisa, dia muntah-muntah parah, Jo. Cepatlah, aku khawatir terjadi sesuatu pada nya."
'Baiklah, tuan muda. Saya kesana sekarang, tolong jangan panik. Nona Melisa pasti akan baik-baik saja.' Ucap Jo yang justru malah membuat Arvin semakin panik saja.
"Ya, semoga saja begitu. Cepatlah, Jo. Aku mohon."
'Baik, tuan muda.' Jawab Jo, dia pun mematikan sambungan telepon nya. Jo bangkit dari atas ranjang dan memunguti pakaian nya lalu memakai nya dengan cepat.
"Lho Mas, mau kemana? Kita lagi main lho ini, belum selesai." Tanya istri Jo yang masih berbaring di ranjang dengan tubuh polos nya.
"Maafkan aku, sayang. Sungguh demi apapun aku meminta maaf, tapi Tuan Arvin menelpon katanya Nona Melisa sakit." Jelas Jo membuat raut wajah wanita itu berubah seketika.
__ADS_1
"Yaudah gapapa, Mas. Hati-hati di jalan, jangan pulang larut malam ya? Kita harus melanjutkan permainan ini, aku belum puas sama sekali." Ucap sang istri yang membuat Jo tersenyum. Inilah yang dia sukai dari sosok sang istri, dia wanita yang pengertian. Meskipun di tinggal di tengah-tengah permainan panas yang pasti nya akan membuat siapa saja kesal karena belum puas sama sekali.
Tapi, itu berlaku bagi istri nya. Itulah yang membuat Jo selalu jatuh cinta pada sosok wanita yang sudah di nikahi beberapa tahun silam sebagai seorang istri dan sekarang sudah menjadi ibu bagi kedua anak nya.
"Terimakasih sudah sangat mengerti aku, sayang."
"Tak apa, Mas. Itu sudah tugas ku, pergilah dan hati-hati."
"Aku mencintaimu, sayang." Jo mengecup mesra kening sang istri.
"Aku bahkan lebih mencintaimu, sayang." Balas wanita cantik itu, Jo tersenyum lalu dia pun pergi dari rumah untuk menjemput dokter Arman.
Jo mengendarai mobil sedan hitam itu dengan kecepatan yang sangat tinggi, jika Arvin menyuruh nya untuk datang cepat, maka itu sudah benar-benar dalam keadaan darurat. Maka dari itu, dia harus cepat. Dia seolah tak mempedulikan keselamatan nya sendiri saat ini.
Sedangkan di apartemen, Arvin beberapa kali mengumpat karena Jo tak kunjung datang juga. Dia khawatir, benar-benar khawatir saat melihat Melisa tak sadarkan diri sekarang. Mungkin saking lelah nya karena muntah-muntah tadi.
"Aaarrghh, sial. Kemana pria itu pergi? Kenapa dia tak datang juga. Aku mengutuk mu kalau sampai terjadi apa-apa pada Melisa!" Racau pria tampan itu sambil mondar mandir di ruang tamu dengan ponsel di tangan nya. Dia terus mencoba menghubungi nomor ponsel Jo, tapi karena pria itu sedang berada di perjalanan kesini, jadi dia tak mengangkat nya juga.
"Aisshh, kemana pria itu? Sialan!" Rutuk pria itu lagi, dia melempar ponsel nya dan memilih masuk kembali ke kamar. Dia melihat Melisa masih belum sadarkan diri juga.
Tadi, sebelum dia pingsan Melisa sempat mengatakan kalau kepala nya pusing, terasa berputar-putar hingga akhirnya dia terkulai lemas di atas ranjang. Dia bingung, harus melakukan apa sekarang. Dia menghubungi Jo, tapi pria itu tak kunjung mengangkat panggilan telpon nya juga, membuat Arvin merasa sedikit putus asa.
Hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara password pintu yang di tekan, tak lama kemudian pintu terbuka dan munculah Jo bersama dokter Arman.
"Tuan muda.."
"Cepatlah, periksa keadaan kekasih ku, dok." Ucap Arvin pada dokter Arman, dokter itu pun langsung memeriksa keadaan wanita yang berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat nya.
Kening dokter itu mengernyit, lalu dia menatap Arvin yang masih terlihat khawatir sambil terus menatap Melisa.
"Apa anda pernah melakukan sesuatu, eemm maksud saya hubungan badan?" Tanya dokter Arman pada Arvin membuat pria itu terkejut.
"Apa hubungan nya dengan keadaan Melisa sekarang? Cepatlah katakan, ada apa dengan Melisa ku?" Tanya Arvin dengan cepat.
Seketika, Arvin menganga begitu mendengar ucapan dokter Arman. Dia tak menyangka kalau wanita nya sedang mengandung saat ini, tapi bagaimana bisa?
Jangan tanya kenapa bisa, ya karena Arvin setiap bermain pasti mengeluarkan nya di dalam, dia juga tidak pernah memakai pengaman apapun. Melisa juga tidak menggunakan kontrasepsi atas perintah nya, lalu kenapa saat Arvin mendengar kalau wanita nya sedang hamil dia malah terkejut seperti ini?
"H-hamil, dok?"
"Benar, tuan muda."
"Periksa sekali lagi, pastikan kalau ini bukan kesalahan, dok." Dokter Arman pun mengangguk, dia pun kembali memeriksa denyut nadi di tangan Melisa dan dia bisa memastikan kalau Melisa benar-benar sedang mengandung saat ini.
"Saya bisa memastikan kalau Nona Melisa benar-benar sedang mengandung, tuan muda." Jawab dokter Arman yang membuat Arvin seketika bersorak kegirangan.
Jo yang sedari tadi berdiri tegap di ambang pintu juga ikut menyunggingkan senyum kecil nya, artinya penglihatan nya benar? Dia memang mencurigai kalau Melisa sedang hamil, terlihat jelas dari bentuk tubuh nya. Jangan tanyakan kenapa Jo bisa membedakan wanita yang sedang mengandung atau tidak, ya karena dia sudah berpengalaman dengan masalah ini.
"Yes, akhirnya kecebong ku berhasil jadi." Ucap Arvin sambil melompat-lompat, membuat Jo terkekeh pelan. Biasa nya, Arvin yang terlihat datar dan dingin, tapi apa ini? Pemandangan yang benar-benar langka. Harus nya, Jo mengabadikan nya dengan ponsel, tapi dia takkan berani melakukan itu. Kalau sampai dia melakukan nya, bisa-bisa gaji nya raib sudah.
"Astaga, Arvin.." ucap dokter Arman sambil menggelengkan kepala nya. Dia tersenyum saat melihat tingkah Arvin yang bagi nya terlihat sangat kekanak-kanakan. Pewaris Sanjaya's group ternyata punya sikap seperti ini di balik wajah datar nya.
"Hehe.." Arvin cengengesan saja sambil menggaruk tengkuk nya, yang terjadi tadi itu refleks, yaps benar-benar refleks tapi membuat nya malu. Apalagi saat melihat wajah jahil yang di tunjukkan oleh Jo, dia tersenyum seperti meledek Arvin yang saat ini tengah di landa rasa malu.
Harusnya, Arvin bisa menahan nya tadi. Kalau sudah begini kan malu? Kalau sudah malu ya tanggung sendiri.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu, Jo?"
"H-aahh? Tidak-tidak, tuan muda. Maafkan saya, tapi tingkah anda tadi sangat menggemaskan." Jawab Jo sejujurnya, membuat Arvin menendang pelan pantaat Jo hingga membuat senyuman pria itu surut seketika. Dia tak mau mengambil resiko membuat tuan muda nya itu marah.
__ADS_1
Meskipun dia mengatakan kalau dia sudah tidak berhak untuk di panggil seperti itu, karena sang papah yang secara langsung sudah tidak menganggap nya sebagai putra lagi sekarang, tapi tetap saja bagi Jo dia adalah tuan muda keluarga Sanjaya.
"Ini usia kehamilan nya sudah berapa minggu, dok?" Tanya Arvin.
"Untuk itu, silahkan di periksa ke dokter spealis kandungan, tuan muda. Saya takut meleset kalau semisal tebakan saya salah."
"Hmmm ya, status mu sebagai dokter akan di pertanyakan jika semisal tebakan mu itu salah, Arman." Ucap Arvin yang membuat dokter Arman terkekeh pelan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan muda."
"Hmm ya, terimakasih."
"Saya juga permisi, Tuan muda." Ucap Jo, dia yang membawa Dokter Arman kesini berarti dia juga yang harus mengantar nya kembali.
"Tuan muda.."
"Iya, Jo. Kenapa?"
"Apa saya harus kembali kesini setelah mengantarkan dokter Arman?" Tanya Jo, dia khawatir kalau Arvin membutuhkan sesuatu nanti.
"Tidak usah, Jo. Pulanglah ke rumah, beristirahat lah dan terimakasih karena kau selalu sigap saat aku membutuhkan."
"Sama-sama, tuan muda. Itu sudah tugas saya, kalau begitu saya pergi dulu." Arvin menganggukan kepala nya dan pergi bersama Dokter Arman dari unit apartemen itu.
Kini, tinggalah Melisa dan Arvin berdua di apartemen. Pria itu mendekat dan mengusap kepala Melisa yang masih belum sadarkan diri juga, dengan lembut dan dalam Arvin mengecup kening Melisa lalu membisikkan kata-kata yang menenangkan bagi wanita mana pun.
"Terimakasih karena sudah mewujudkan keinginan ku, sayang. Aku sangat mencintai mu, setelah ini aku jamin takkan ada seseorang pun yang bisa memisahkan kita kecuali maut. Aku yang akan melindungi mu, sayang. Terimakasih, terimakasih banyak karena sudah mau mengandung anak ku." Bisik Arvin sambil terus mengusap kepala Melisa dengan lembut.
Entah bisikkan penuh cinta itu bisa di dengar oleh Melisa atau tidak, yang jelas dia sudah benar-benar bersyukur karena Melisa saat ini tengah mengandung darah daging nya. Bahagia? Tak usah di tanya. Ini adalah keinginan nya sejak lama, punya anak dari rahim seorang wanita yang benar-benar dia cintai adalah cita-cita seorang Arvin dan kini di wujudkan oleh Melisa.
Sedangkan di lain tempat, seseorang tengah menatap tajam pasangan yang sengaja datang ke rumah besar itu.
"Apa yang ingin kamu katakan?"
"Maaf, om. Aku kesini hanya ingin mengatakan kalau aku menolak perjodohan ini dengan keras, aku sudah mempunyai pria yang aku cintai dan kami akan berjuang untuk bisa bersama. Maka dari itu, aku mohon batalkan perjodohan antara aku dan Arvin."
"Kenapa kau mengatakan hal seperti ini, Dara? Apa kurang nya putra ku bagi mu?" Tanya Darren. Ya, Dara dan Richard datang ke rumah Darren untuk bicara secara baik-baik. Jujur, Dara merasa tak tega saat melihat wajah sendu Melisa tadi.
"Tidak ada, Arvin adalah sosok pria yang sempurna. Tapi dia bukan untuk ku, Om. Arvin mencintai wanita lain, aku juga begitu. Jika kami bersama, akan yang akan terjadi? Mungkin, tubuh kami memang bersama tapi tidak dengan hati kami. Jadi, aku mohon jangan mengorbankan kebahagiaan putra mu sendiri hanya karena sifat egois anda, Om." Ucap Dara panjang lebar.
"Apa maksud mu mengatakan hal seperti ini, Dara? Aku melakukan hal ini karena aku ingin yang terbaik untuk putraku!" Tegas Darren, tangan nya bersedekap di dada.
"Maaf om, terbaik seperti apa? Mungkin saja, terbaik versi Om dan terbaik versi Arvin berbeda. Arvin sudah dewasa, dia sudah bisa menilai sendiri mana yang terbaik untuk dirinya sendiri, Om." Akhirnya Richard juga angkat bicara.
"Siapa yang memberi mu hak untuk bicara hah?"
"Bukankah mengutarakan pendapat adalah suatu kebebesan, Om?" Tanya Richard yang membuat Darren terdiam namun menatap pemuda itu dengan tajam.
"Aku bertemu dengan Arvin dan Melisa tadi, apa Om tahu seperti apa rasa cinta Arvin pada wanita itu? Abaikan saja status nya sebagai janda, terlepas dari status nya dia juga wanita yang berhak di hargai dan di bahagia kan, Om. Menjadi janda juga bukan keinginan nya, Om."
"Ya, dia memang janda. Kalau janda, artinya dia pernah gagal bukan? Seseorang pasti membuang nya karena dia punya kekurangan bukan?" Tanya Darren membuat Dara tersenyum kecil lalu menggelengkan kepala nya.
"Bukankah Arvin bisa menutupi kekurangan nya, Om? Mereka bisa saling melengkapi satu sama lain. Dan perlu om ketahui, yang bermasalah disini bukanlah Melisa tapi ada pada pria nya. Aku benar-benar tak tega saat melihat wajah sendu wanita itu tadi, dia benar-benar terlihat sangat tulus pada Arvin, Om. Apa tidak ada kesempatan untuk memberikan mereka kesempatan?"
"Tidak." Tegas Darren. Pria yang keras kepala dan egois.
"Baiklah, terserah anda saja kalau begitu. Tapi, tolong pikirkan lagi. Karena siapa yang akan di rugikan? Anda sendiri, dengan melakukan hal ini anda tidak terlihat seperti ayah yang baik sama sekali. Kami permisi, Om."
Dara dan Richard pun pergi dari rumah besar itu, meninggalkan Darren seorang diri dengan pikiran yang di penuhi oleh perkataan Dara tadi. Dia benar-benar harus memikirkan semua nya lagi.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻