SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 98 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Sore harinya, Arvin pulang dari kantor dengan menenteng tas kerja. Melisa yang mendengar suara mobil sang suami, langsung menyambut kedatangan pria yang kini menjadi sosok kesukaan nya.


"Sayang.." Sapa Melisa, Arvin yang sedang berjalan pun langsung tersenyum semringah saat melihat sang istri sudah menyambut nya.


"Hai, sayang.." Jawab Arvin, dia langsung merentangkan kedua tangan nya, Melisa dengan senang hati menghambur ke pelukan pria tampan itu. 


"Gimana kerjaan nya, sayang?"


"Ya gitu deh, capek. Gak ada habis nya, yang." Jawab pria itu sambil merangkul pinggang istri cantiknya. 


"Haha, semangat ya?"


"Pasti dong, aku bakalan tetap semangat. Soalnya biaya persalinan kan gak murah, Bby." Jawab Arvin sambil terkekeh, begitu juga Melisa. 


Sedangkan Jo yang melihat kemesraan sepasang suami istri itu pun merasa iri, dia sangat ingin pulang tapi mobil yang kotor menghambat keinginan nya untuk langsung meluncur pulang ke rumah nya. Dia pun akhirnya harus menahan keinginan nya itu.


"Sabar ya Jo, sabar. Ayo semangat nyuci mobil nya, semakin cepat mobil nya bersih, semakin cepat juga kau bisa pulang dan memeluk istrimu." Gumam Jo, dia pun memilih mencuci mobil agar bisa segera cepat pulang. 


Di ruang tamu, Arvin duduk di sofa. Dia menyandarkan punggung nya di sandaran sofa. Tubuh nya terasa pegal-pegal, mungkin karena terlalu lama duduk di kantor.


"Pegel ya, sayang?"


"Heem, iya sayang. Pegel banget ini, pijitin dong. Hehe." 


"Boleh, tentu saja." Jawab Melisa, dia pun mulai memijat pundak sang suami. Sesekali dia menggoda suami nya dengan menoel-noel wajah nya, karena pria itu malah terlihat mengantuk. Mungkin karena efek kelelahan plus pijatan Melisa yang membuat nya keenakan.

__ADS_1


"Yang, kayak nya papah sakit deh."


"Sakit apa, Bby?"


"Katanya sih cuma masuk angin doang, tapi tadi wajah nya pucat banget lho. Kamu lihat dulu gih, takut nya bukan sekedar masuk angin." Ucap Melisa, dia merasa khawatir pada papa mertua nya karena sedari tadi siang beliau tidak keluar dari kamar nya sama sekali.


"Nanti saja."


"Isshh, sekarang dong Bby. Itu bapak kamu lho, jangan gitu dong. Mau bagaimana pun, sebenci apapun kamu sama papah, kamu gak sepantasnya bersikap acuh begini sama papah." Kesal Melisa. Dia kesal karena suami nya selalu saja acuh pada papah nya. 


Dia memang mengerti dan mengetahui alasan kenapa pria itu bersikap demikian, tapi tidak sepantasnya dia begini kan? Benar, mau bagaimana pun Darren adalah papah nya. Darah yang mengalir di tubuh Arvin ada campuran milik pria itu. 


"Aku mohon, sayang. Kamu harus mulai memperhatikan papah kamu, dia sudah tua. Kesehatan nya bisa saja memburuk kan? Jangan sepelekan, aku mohon."


"Sayang, bawa ini. Papah belum makan siang." Ucap Melisa, dia memberikan nampan berisi nasi dan sup ayam buatan nya, juga segelas air putih.


Arvin mengetuk ragu pintu kamar pria itu, sudah lama dia tidak masuk ke kamar sang papah, karena hubungan mereka yang mulai renggang. Selama beberapa tahun ini, dia juga membiarkan sang papah sendirian di rumah besar ini.


"Masuk.." Arvin menghela nafas nya, dia pun membuka pintu dengan perlahan. Lalu masuk, dia melihat sang papah sedang berbaring di atas ranjang. Pria itu tersenyum saat melihat Arvin datang dengan membawa nampan berisi makanan.


"Pah.."


"Iya, Arvin." Jawab Darren, dia memaksakan tubuh lemah nya untuk bangun dan duduk bersandar.


"Papah kenapa? Apa penyakit papah kambuh lagi?" Darren tersenyum, lalu menggeleng.

__ADS_1


"Tidak, penyakit papah sudah lama tidak kambuh karena papah tidak banyak memikirkan hal-hal yang aneh. Ini hanya masuk angin biasa saja." Jawab Darren membuat Arvin memicing, dia tidak mempercayai ucapan sang papah.


"Kata Melisa, papah belum makan siang bahkan tidak keluar dari kamar sejak siang, apa benar?"


"Istrimu terlalu khawatir, Arvin. Papah baik-baik saja, hanya ibumu kembali datang." Jawab Darren yang membuat Arvin terhenyak. 


"Mama?"


"Iya, mama mu datang kembali. Membuat papah kembali mengenang dia, papah merindukan nya, Arvin." Pria itu menatap sendu sang putra. Begitu juga dengan Arvin, dia juga merasakan hal yang sama dengan sang ayah. 


"Bagaimana kalau kita berkunjung ke makam Mama besok? Tapi, sekarang papah harus sembuh dulu, oke?"


"Iya, mungkin mama datang ke papah karena papah sudah jarang berkunjung ke rumah baru nya Mama." Ucap Melisa, dia tersenyum di ambang pintu. Terkesan tidak sopan, tapi dia juga penasaran dengan alasan sang papah nampak murung sedari tadi pagi dan inilah jawaban nya. Ternyata kedua pria itu merindukan sosok yang sama, ibu bagi Arvin dan istri bagi Darren. 


Sehebat apa wanita bernama Melati itu di masa lalu? Hingga setelah berpuluh-puluh tahun kepergian nya, Darren masih belum bisa melupakan nya. Bahkan masih sering berhalusinasi tentanh wanita itu. 


Melisa memang melihat wajah wanita itu sangat cantik, dari mata nya saja dia tahu kalau Melati adalah sosok wanita yang baik dan tulus. Senyuman nya sangat manis dengan lesung pipit di pipi kanan. Rambut nya panjang bergelombang, namun tubuh nya bisa di bilang mungil. Jika berdiri berdampingan, tinggi wanita itu hanya sebahu Darren.


Bagi Darren, Melati adalah wanita yang luar biasa. Dialah perempuan pertama yang mampu membuat nya jatuh cinta, bahkan jatuh sedalam-dalamnya. Dia melimpahi nya dengan kasih sayang yang tak berkesudahan, hingga sampai akhir hidupnya pun, Melati masih mengungkapkan rasa cinta nya pada Darren dan mengatakan dia harus bahagia. Tapi nyatanya, setelah kepergian nya dia tidak pernah bahagia. 


........


🌻🌻🌻🌻🌻


dua bab lagi tamat yaaw🥰

__ADS_1


__ADS_2