SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 61 - SANG PEBINOR


__ADS_3

Setelah selesai makan, Arvin kembali duduk di sofa, sedangkan Melisa kini tengah duduk berhadapan dengan suami nya di ruang tamu.


Dion menatap istri nya, entah kenapa Melisa terlihat lebih cantik saat ini. Wajah nya cerah dengan bibir yang kemerahan, bulu mata nya lebih tebal dan lentik. Jangan lupakan, rambut nya lurus rapih dan terlihat sangat lembut. 


"Kenapa menatap aku seperti itu?" Tanya Melisa sambil menatap suami nya dengan tatapan keheranan.


"Tidak."


"Kamu pikir aku buta ya? Jelas-jelas kamu menatap aku sedari tadi, Mas. Ada yang aneh dengan penampilan ku?" Tanya Melisa pada suami nya.


"Tidak, hanya saja sekarang kamu terlihat lebih cantik."


"Aku cantik karena perawatan sekarang, dulu? Aku memang burik karena kurang skincare, karena kamu gak modalin aku, Mas." Jawab Melisa. 


"Lalu, memang nya sekarang siapa yang memodali mu kalau bukan aku, Mel?" Tanya Dion, membuat Melisa tertawa. 


"Yakin? Bukan nya kamu hanya memodali selingkuhan mu itu, Mas? Bahkan saat gajian pun kau membagi dua hak ku dengan nya." 


"M-aksud mu?" 


"Aku tak sebodooh itu, Mas. Aku punya mata, kaki dan telinga. Kamu pikir selama ini aku diam saja saat kamu jarang pulang ke rumah? Ckk.." 


"Jadi.."


"Iya, aku tahu semua nya. Bahkan aku sudah lama tahu perselingkuhan kalian, Mas." 


"Tapi, kenapa kamu tidak.."


"Marah? Apa aku berhak marah, Mas? Itu hanya akan memancing amarah kamu, dan aku tahu apa yang akan kamu lakukan jika aku marah. Jadi, aku membiarkan nya saja dan akhirnya kamu sendiri yang membongkar aib mu sendiri dengan membawa wanita itu kemari." Jawab Melisa panjang lebar, membuat Dion menganga. 


"Tenang saja, Mas. Aku tidak akan menyakiti selingkuhan mu itu selama dia tidak menyinggung ku duluan." 


Melisa beranjak dari duduknya, membuat Dion gelagapan. Niat nya, bukan ini yang ingin di bicarakan nya.

__ADS_1


"Mel, bagaimana kalau kita memulai semua nya dari awal?" Tanya Dion membuat Melisa berbalik, wanita itu tersenyum getir. 


"Sekarang sudah sangat terlambat, Mas. Aku sudah menyerah dengan pernikahan kita, lagipun hati ku bukan lagi untuk mu, Mas." 


"Maksud mu apa, Mel?" Tanya Dion dengan heran, jujur dia kebingungan ucapan Melisa.


"Kamu pasti bisa mengartikan nya sendiri, Mas." Jawab Melisa, dia pun masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu kamar nya cukup keras. 


"Apa arti dari ucapan Melisa? Apa dia punya laki-laki lain juga di belakang ku? Tidak mungkin kan, rasanya tidak mungkin." Gumam Dion, dia merasa tak percaya jika memang dia berani melakukan hal itu. Tapi, bukankah tidak ada yang tak mungkin? 


Dulu, dia bisa tenang karena Melisa burik ke kurangan perawatan. Tapi beda lagi dengan sekarang, Melisa sudah jauh berbeda. Wanita itu berubah menjadi cantik sekarang. Lagi-lagi, pertanyaan yang sama kembali terpikirkan oleh Dion, dari mana Melisa mendapatkan semua perawatan yang dia miliki? 


Skincare dengan harga yang cukup mahal, dia mengetahui hal itu karena Gia juga membeli skincare dengan merk yang sama, harga nya tembus delapan ratus ribu untuk satu paket nya. Lalu masker wajah, ada beberapa tas baru, bahkan pakaian nya juga banyak yang baru. 


Kalau di pikirkan lagi, dari mana Melisa mendapatkan itu semua? Mengingat ucapan Melisa tadi, artinya ada pria yang memberikan semua itu kan? Kalau Melisa sendiri yang membeli nya, rasa nya tak mungkin karena dia hanya memberikan uang untuk wanita itu seperlu nya, jangankan untuk membeli skincare, untuk membeli kebutuhan sehari-hari pun mungkin kurang. 


"Astaga, harusnya aku berpikir logis. Melisa pasti mendapatkan semua itu dari pria lain." Gumam Dion, dia meremaas rambut nya dengan kasar. 


"Mel.." Panggil Dion, dia membuka pintu kamar dan melihat kalau Melisa sedang memakai lotion. Dia memakai dress berwarna merah maroon, terlihat sangat kontras dengan kulit nya yang putih bersih, sangat cantik. 


"Tidak kemana-mana, aku hanya ingin memanjakan diriku sendiri dengan memakai baju baru."


"Baju baru? Dari siapa?"


"Kamu tak perlu tahu dari siapa, itu rahasia. Lambat laun, kamu akan tahu sendiri." Jawab Melisa dengan senyum sinis nya. 


"Mel, kamu benar-benar punya laki-laki lain di belakang ku?"


"Kalau kamu saja bisa, lalu kenapa aku tidak, Mas?" Tanya Melisa. Lagi-lagi dengan senyum sinis nya. 


"Tidak mungkin."


"Kenapa tidak, Mas?" 

__ADS_1


"Kau.."


"Jangan terlalu percaya diri, Mas. Aku hanya membalas mu saja, tidak lebih. Jadi, kita satu sama kan? Kamu selingkuh, aku juga selingkuh. Adil bukan?" 


"Melisa!"


"Jangan berani meninggikan suara mu di depan ku, Mas! Aku tak takut lagi dengan mu, karena kau sudah kehilangan rasa hormat ku sebagai istri." Jawab Melisa, dia beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi. Tapi tangan nya di cekal oleh Dion, hingga membuat langkah wanita itu terhenti.


Pria itu memeluk Melisa secara paksa, lalu menggigit leher nya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Melisa meronta, dia tak rela saat tubuh nya di sentuh oleh Dion. Rasa sakit nya kini berubah menjadi benci, dia membenci suami nya sendiri karena perlakuan pria itu selama ini. 


"Lepaskan aku, Mas!" 


"Kenapa harus? Aku suami mu, dan kau istriku, Melisa." 


"Tidak, aku bukan istri mu lagi." Jawab Melisa, dia terus meronta dalam pelukan Dion. Merasa kewalahan dengan tenaga pria itu yang cukup besar, Melisa menggigit tangan Dion dan berbalik lalu menampar pipi kanan pria itu dengan sekuat tenaga, hingga membuat Dion terhuyung ke samping saking kuat nya tamparan yang di layangkan oleh Melisa.


"Apa yang sudah kau lakukan, Mas? Jangan memaksa ku."


"Melisa, berani sekali kau melakukan ini padaku hah?"


"Memang nya kenapa aku tak berani, kita sama-sama manusia yang masih makan nasi." Jawab Melisa, keberanian nya tiba-tiba saja muncul. Harus nya, dia melakukan ini dari dulu. Mungkin saja dia takkan banyak terluka jika mau melawan, tapi dulu dia terlalu takut dengan amarah Dion, berbeda dengan sekarang.


"Kau jadi wanita pembangkang, Melisa."


"Iya, kalau dulu aku hanya belum sadar saja. Sekarang, aku sudah menyadari nya, kalau pria semacam kau harus di lawan!" Tegas Melisa, dia pun keluar dari kamar dan masuk ke kamar depan dan mengunci pintu nya. Dia tak peduli meskipun Dion menggedor-gedor pintu kamar nya, juga berteriak seperti waktu itu. 


Melisa menatap tangan nya memerah setelah menampar pipi suami nya, namun dia heran kenapa dia tidak merasa bersalah sama sekali? Apa hati nya telah mati untuk pria itu? Dia tidak mengerti, sejak bertemu Arvin, hati nya selalu tertuju pada pria tampan itu.


"Aisshh, aku pasti sudah gila." Gumam Melisa sambil menggelengkan kepala nya. Jangan kan orang lain, dia juga heran dengan diri nya sendiri. Karena dia sama sekali tidak merasa bersalah setelah menampar Dion. Anggap saja ini adalah balasan atas apa yang sudah pria itu perbuat padanya selama tiga tahun ini. 


Belum lagi luka batin yang dia dapatkan dari pria itu sungguh terlalu banyak, luka fisik juga dia dapatkan hingga Arvin heran sendiri kenapa dia bisa bertahan dengan pria semacam Dion selama bertahun-tahun. 


Benar, kenapa dia baru sadar ya? Selama ini dia diam saja kan saat Dion menyakiti nya, palingan hanya menangis saja. Setelah itu, Arvin datang memberi nya motivasi untuk berubah, dan inilah dirinya yang sekarang. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2