
"Lho mas, mau kemana?" Tanya Gia, saat melihat Dion sudah rapih dengan pakaian nya.
"Mau pulang dulu, aku ada kelas hari ini." Jawab Dion.
"Ohh yaudah, nanti malem nginep lagi disini ya, Mas?" Bujuk Gia sambil menggelayut manja di lengan Dion.
"Aduh, sayang. Gak bisa, kalau Mas terlalu sering menginap disini, nanti Melisa curiga." Jawab Dion, dia tak mau Melisa tahu kalau dia sudah berhianat di belakang nya. Padahal kenyataan nya, Melisa sudah mengetahui hal ini berkat Arvin.
"Kok gitu sih, Mas? Aku butuh kamu lho."
"Iya, Mas ngerti. Tapi, Melisa juga istri Mas. Besok saja ya, Mas nginep lagi disini. Malam ini, Mas tidur di rumah dulu." Jawab Dion.
"Hmm, yaudahlah." Pasrah Gia, wajah nya di tekuk karena kesal bujukan nya tidak mempan pada Dion.
"Jangan ngambek gitu dong. Udah ya, Mas pergi dulu." Pamit Dion, Gia pun menganggukan kepala nya perlahan. Dion mengecup singkat kening Gia, lalu pergi dengan sepeda motor nya untuk pulang.
"Issshh sialan banget, harusnya gak usah di peduliin aja tuh istri buluk nya." Gumam Gia. Dia tak tahu saja bagaimana penampilan Melisa saat ini. Dirinya pasti kalah jauh, bahkan saat ini wajah nya saja lebih glowing wajah Melisa di bandingkan dengan Gia karena ada Arvin yang siap siaga membelikan semua kebutuhan Melisa.
Setelah kepergian Dion, Gia pun berleha-leha di rumah nya. Dia memang pemalas, bahkan tak bisa memasak sama sekali. Jadi kalau ingin makan, biasa nya dia akan beli saja agar mudah. Dia tak mau di repotkan dengan mengurus urusan perdapuran.
Dia lebih memilih pergi untuk manicure dari pada memasak, masalah uang? Pria simpanan nya bukan cuma Dion, tapi ada pria yang lain yang bisa memenuhi kebutuhan nya.
Di rumah, Melisa baru saja menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Dari mulai memasak untuk sarapan, mencuci piring, menyapu, mengepel, lanjut dengan mencuci pakaian. Saat ini, Melisa sedang duduk karena pinggang nya terasa sakit.
Dion masuk dengan wajah datar nya, rambut nya kelimis pertanda kalau dia habis keramas. Melihat itu, Melisa tersenyum smirk sambil menggelengkan kepala nya. Sudah dia duga, kalau suami nya pasti pergi ke rumah selingkuhan nya.
"Masak apa?" Tanya Dion datar.
"Ayam goreng sama acar ikan." Jawab Melisa sambil mengekor di belakang suami nya.
"Mau makan sekarang, Mas?"
"Iya, sebentar lagi ada kelas." Jawab Dion, lalu duduk di kursi sambil menggulung lengan kemeja yang dia kenakan hingga ke siku nya.
"Semalam, kamu kemana Mas? Kok gak pulang." Tanya Melisa sebagai basa-basi, meski pun dia mengetahui kalau suami nya itu pasti akan menjawab dengan kebohongan, tapi akan mencurigakan jika dia tidak bertanya sama sekali kan?
"Mas nginep di rumah temen."
"Ohh, temen ya." Jawab Melisa sambil manggut-manggut.
__ADS_1
'Temen mana yang mau tidur sekamar, Mas? Apalagi temen nya perempuan.' Batin Melisa.
"Iya." Jawab Dion dengan wajah datar nya, Melisa melayani suami nya seperti tak terjadi apa-apa, Dion juga makan dengan sangat lahap.
Setelah menghabiskan sarapan nya, Dion pun pergi ke sekolah untuk mengajar murid-murid nya. Sedangkan Melisa, dia bersiap untuk pergi karena uang arisan sudah di tangan. Sebentar lagi, dia akan pergi bersama Arvin untuk membelikan uang arisan itu perhiasan sesuaikan saran kekasih gelap nya.
Benar saja, tak lama Arvin keluar dari rumah nya juga memanaskan mesin motor nya dan mereka berakting seolah kebetulan lagi. Melisa akan pergi dan Arvin juga begitu. Modus nya, mengajak bareng agar tidak terlalu lelah berjalan.
"Lho, Mbak. Mau kemana udah rapi aja?" Tanya Arvin sambil tersenyum ramah, dia terlalu pandai berekspresi agar tidak memancing kecurigaan para ibu-ibu rempong.
"Mau ke pasar, Vin."
"Ohh, sekalian aja. Aku juga mau ketemu temen deket pasar kok, lumayan biar gak capek." Ucap Arvin.
"Boleh deh, kalo gak ngerepotin ya." Melisa berbasa-basi.
"Ya sudah, sebentar ya. Aku kunci pintu dulu, setelah itu kita berangkat."
"Eeh Neng Meli, mau kemana?" Tanya Bu Ratmi.
"Mau ke pasar, Bu. Eehh, ternyata Arvin juga mau pergi. Yaudah, sekalian ngikut sampe ke jalan raya biar hemat tenaga, hehe." Jawab Melisa sambil cengengesan.
"Iya atuh, kalau jalan itu capek kan lumayan jauh."
"Yaudah, hati-hati ya, Neng. Mau beliin uang arisan ya?"
"Hehe, iya Mas Dion bilang beliin sama perhiasan. Biar kepepet bisa di jual lagi katanya." Ucap Melisa, membuat wajah Arvin berubah seperti asam. Kan gak mungkin ya, kalau Melisa mengatakan Arvin lah yang menyarankan hal itu. Bisa-bisa terbongkar sudah perselingkuhan mereka.
"Ini helm nya, Mbak."
"Kok pakai helm, kan cuma sampe Deket jalan raya."
"Gapapa, Mbak. Biar aman aja." Jawab Arvin datar. Melisa pun mengendikan bahu nya acuh, lalu segera memakai helm itu dengan cepat dan naik ke boncengan belakang motor milik Arvin.
"Kok asem gitu sih, yang?" Tanya Melisa.
"Sebel, kata Mas Dion beliin perhiasan aja biar kalo kepepet bisa di jual lagi." Ucap Arvin dengan bibir yang di menye-menye, membuat Melisa terkekeh.
"Sayang ihh, kan gak mungkin aku bilang kata kamu dong. Gimana reaksi orang-orang nanti, kamu mau perselingkuhan kita kebongkar, iya?" Tanya Melisa membuat Arvin menggeleng.
__ADS_1
"Kamu mah ngambekan."
"Cemburu aku, beb." Jawab Arvin membuat Melisa terkekeh lagi.
"Maaf ya."
"Gapapa, sayang. Nanti pulang nya ngebakso dulu yuk?" Ajak Arvin, karena waktu itu dia belum sempat merasakan bakso yang viral itu karena ada keributan.
"Boleh, tapi jangan di tempat yang waktu itu ya?"
"Iya, sayang. Aku ada rekomendasi warung bakso yang enak dari temen aku." Jawab Arvin, Melisa pun menganggukan kepala nya.
Hingga kedua nya pun sampai di sebuah toko perhiasan yang besar. Melisa berjalan gugup di dampingi Arvin, uang satu juta setengah kira nya dapat perhiasan apa? Paling cuma cincin ya.
Arvin mulai bertanya-tanya, sedangkan Melisa hanya terdiam saja.
"Berapa harga mas nya disini, mbak?" Tanya Arvin.
"Delapan ratus ribu pergram."
"Yaudah, lihat cincin yang dua gram." Jawab Arvin, Melisa hanya mengikuti karena dia tak terbiasa membeli perhiasan. Ini adalah pertama kali nya dia datang ke toko seperti ini, itu pun bukan bersama suami nya, tapi bersama selingkuhan nya. Gapapa lah ya.
"Ini yang dua gram pas, kak." Pegawai toko mas itu memperlihatkan beberapa model cincin yang nampak sangat cantik.
"Pilih yang, kamu suka yang mana?"
"Tapi uang nya kurang seratus kalo beli nya dua gram, yang."
"Udah, gak usah mikirin itu."
Melisa pun memilih cincin emas dengan permata di atas nya, terlihat sangat simpel namun tetap cantik saat Melisa mencoba nya dan ternyata cincin itu sangat pas berada di jari manis nya.
"Ini aja bagus, yang."
"Yaudah, saya ambil yang ini aja, mbak." Ucap Arvin. Pegawai itu pun memberikan surat jaminan dan Arvin langsung membayar nya.
"Bagus cincin nya, sayang."
"Lebih cantik yang make nya sih menurut aku." Jawab Arvin membuat wajah Melisa memerah karena malu, apalagi gombalan Arvin pasti terdengar oleh pegawai wanita yang melayani pembelian cincin itu.
__ADS_1
........
🌻🌻🌻🌻🌻