SANG PEBINOR

SANG PEBINOR
Bab 69 - SANG PEBINOR


__ADS_3

"Sayang, syarat nomor tiga apa harus ada?" Tanya Melisa sambil menunjuk syarat nomor tiga pada Arvin.


"Iya, harus ada. Seperti hasil visum, itu bisa di jadikan bukti kuat agar kamu bisa pisah sama suami kamu, sayang." Jawab Arvin.


"Tapi aku tak pernah melakukan visum, sayang." 


"Tak apa, biar aku yang mengurus nya. Kamu siapkan saja surat nikah, dan yang lain-lain nya seperti yang tertulis disitu." Jelas Arvin membuat Melisa menganggukan kepala nya.


"Kamu pasti perlu pengacara kan, sayang?" Tanya Arvin, Melisa mengangguk. Mau cerai saja harus menggunakan pengacara, ribet memang kalau ingin berpisah tapi dia pun tak mau lagi bertahan dengan Arvin. Dia sudah terlanjur sakit, malu sekaligus kecewa.


"Iya, aku gak punya uang lagi."


"Gapapa, aku yang akan mengurus itu semua, sayang."


"Kamu serius? Uang untuk menyewa seorang pengacara kan tidak sedikit." Ucap Melisa. Tentu nya dia tak enak jika harus bergantung pada Arvin, padahal status nya saat ini bukan siapa-siapa, hanya selingkuhan Melisa. Itu saja, tapi selama ini dia sudah banyak membantu nya dalam hal apapun.


"Tak apa, aku ada. Jangan di pikirkan, aku akan menyewa pengacara yang terbaik untuk menangani sidang perceraian mu ini." 


"Hmmm, terimakasih sayang. Maaf, aku sudah terlalu banyak merepotkan mu."


"Tidak, kamu tidak pernah merepotkan aku sama sekali." Jawab Arvin, dia tersenyum lalu kembali menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Melisa yang menguarkan aroma wangi yang khas. Bahkan saking wangi nya, mampu membuat junior Arvin bangun dari hibernasi. 


"Sayang geli.."


"Ayo, gak kuat.." Ajak Arvin terdengar merengek, membuat Melisa terkekeh pelan. 


"Iya, ayo sayang." Jawab Melisa, Arvin pun tersenyum penuh kepuasan. Dia pun mengikuti langkah Melisa ke dalam kamar depan, karena dia selalu tidur di kamar itu setelah kedua nya sering melewatkan malam disana. Sedangkan kamar belakang, sekarang kosong. Tadi hanya di pakai sebentar oleh Dion dan istri baru nya, mungkin saja keadaan nya masih berantakan sekarang. 


Arvin memeluk Melisa dari belakang, bibir nakal nya mengecup basah seluruh permukaan leher wanita nya dengan mesra, bahkan meninggalkan bekas kemerahan di leher wanita cantik itu. Melisa juga tak lagi menolak saat Arvin membuat tanda merah keunguan di leher nya.


Padahal, biasa nya Melisa paling anti jika Arvin ingin memberi nya tanda merah, karena mungkin takut suami nya curiga, tapi sekarang dia sudah tidak peduli lagi.


"Ssshhh.. Sayang, pelan-pelan.." Ucap Melisa lirih, dia mendesis kecil saat mulut Arvin tengah bermain di leher nya, tangan nya juga aktif meremaas dan memainkan puncak nya, membuat Melisa merasa kegelian sekalian nikmat dalam waktu yang bersamaan. 

__ADS_1


"Aahhh, sayang.." Satu desahaan pun akhirnya lolos dari mulut Melisa, membuat Arvin semakin bernafssu karena dia sudah cukup lama tidak mendapatkan jatah nya dari Melisa. Terhitung seminggu sudah setelah dia pulang dari luar kota saat itu, sampai saat ini dia belum mendapatkan kembali kenikmatan dari lubang milik Melisa yang terasa sempit itu. 


Arvin menggendong Melisa ala bridal style dan membaringkan nya di atas ranjang lalu mengungkung nya, Melisa melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh Arvin. Pria itu sedang mencium bibir Melisa dengan brutal, membuat Melisa sedikit kewalahan dengan permainan lidah yang di lakukan oleh Arvin, tapi meski begitu Melisa sangat menikmati setiap sentuhan yang di lakukan oleh pria tampan itu.


"Aaaahh, ayang pelan-pelan.." Melisa kembali mendesaah saat Arvin menguluum puncak buah kenyal miliknya dengan rakus, seperti bayi kehausan. 


Melisa mengusap kepala belakang Arvin dengan lembut, mata nya merem melek menikmati perlakuan Arvin. Hingga akhirnya, Arvin melucuti seluruh pakaian yang dia kenakan hingga tak tersisa satu benang pun yang menempel di tubuh nya, lalu beralih melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh wanita nya dengan cepat. Kedua nya sama-sama polos saat ini, bahkan Melisa sudah berkeringat padahal ini belum apa-apa. Junior milik Arvin belum tenggelam di lubang milik nya. 


"Sudah, sayang?"


"Belum, kenapa? Udah gak tahan ya?" Tanya Arvin dengan senyum menggoda nya, membuat Melisa tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya. Bukan nya sudah tidak pantas untuk merasa malu pada pria itu sekarang? Mengingat kalau ini bukanlah pertama kali nya mereka akan menyatu. 


"Gatel.."


"Iya, sebentar sayang. Aku masih ingin bermain-main." Jawab Arvin, Melisa pun hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu, Arvin menenggelamkan kepala nya di inti Melisa, membuat wanita itu menjerit tak karuan saking nikmat nya sensasi yang di berikan oleh Arvin di bawah sana. 


"Aaaassshhh.." Tubuh Melisa melengkung ke atas, dia mendapatkan klimaaks nya yang pertama kali hanya dengan bantuan lidah Arvin di milik nya yang memang sudah haus akan kepuasan.


"Enak gak?" Melisa hanya menjawab dengan anggukan kepala nya, dia terlalu lemas jika harus bicara. 


"Baru mulai ya? Tapi aku udah keluar satu kali, yang." Ucap Melisa pelan, membuat Arvin terkekeh.


"Ya, siapa suruh kamu cepet keluar nya, hmm?"


"Kamu nya hebat aja mainin nya, jadi nya aku bisa cepet keluar." Jawab Melisa sambil tersenyum, Arvin pun menundukan kepala nya dan kembali mencium Melisa dan berusaha memasukkan senjata miliknya yang sudah menegang sedari tadi.


"Apa ini?"


"Apa, sayang?" Balik tanya Melisa.


"Kenapa bisa begini, yang? Kamu apain milik kamu?" Tanya Arvin membuat kening Melisa mengernyit heran, memang nya ada apa dengan miliknya?


"Kenapa apa nya sih, yang? Jangan bikin aku bingung dong, ini aku gak kenapa-napa kan?" Tanya Melisa sambil menutupi miliknya dengan tangan.

__ADS_1


"Haha, sayang."


"Apa sih?" Tanya Melisa sedikit kesal, Arvin seolah mempermainkan nya, padahal dia sudah tak tahan. 


"Milik kamu terasa semakin sempit, sayang. Kamu apain?"


"Isshh, aku udah kaget tadi. Aku kira ada apa sama milik aku." Ucap Melisa kesal sambil menepuk lengan Arvin dengan manja. Arvin tergelak, lalu kembali mencium bibir Melisa dan dia mulai menggerakan pinggang nya maju mundur secara perlahan.


"Aaahh.." Melisa mulai mendesaah pelan, dia menikmati cara pria itu bermain. Mula nya perlahan, tapi kelamaan akan semakin cepat hingga mampu membuat tubuh nya terguncang karena gerakan Arvin yang semakin cepat, dia juga mengejar puncak klimaaks nya sendiri. Sedangkan Melisa sudah mendapatkan klimaaks nya berkali-kali, membuat tubuh nya lemas. Jadi, dia hanya pasrah saja saat Arvin terus mengerjai nya dengan gerakan menghentak yang semakin lama semakin kuat.


"Aaargghh.." Arvin mengerang panjang, akhirnya setelah satu jam bermain dia berhasil meraih pelepasan juga, terasa sangat nikmat dan melegakan, membuat sawah milik Melisa yang tadi nya gersang karena sudah lama tak di semprot vitamin, kini kembali basah. 


"Terimakasih, sayang." Bisik Arvin, dia mengecup kening Melisa lama dan dalam. Lalu berguling ke samping dan memeluk tubuh polos wanita itu dengan erat. 


"Sama-sama, sayang."


"Bersiaplah untuk besok, sayang." Bisik Arvin lagi.


"Iyaa aku akan bersiap besok, kamu anter aku kan?" Tanya Melisa lirih.


"Tentu saja, aku akan mengantar mu kemana pun." 


"Hmm, gombal nya kamu."


"Mana ada aku gombal, aku jujur lho, yang." 


"Yaudah, aku percaya kok."


"Kita tidur yuk?" Ajak Arvin, Melisa pun mengangguk dan bersiap untuk memeluk pria nya. 


"Sebentar.." Arvin bangkit dari rebahan nya dan mengunci pintu nya, meskipun Dion sudah menikah lagi, tapi tak menutup kemungkinan untuk pria itu pulang ke rumah ini. Saat itu, berbahaya kan kalau sampai dia masuk ke kamar ini dan menciduk nya? Bisa-bisa mereka juga jadi bulan-bulanan warga seperti Dion dan Gia.


"Yuk, bobo." Ajak Arvin, Melisa pun menduselkan wajah nya di dada bidang Arvin dan dalam sekejap mata saja dia pun terlelap nyenyak dalam dekapan hangat seorang Arvin, begitu juga pria itu yang langsung tertidur lelap karena kelelahan setelah membajak sepetak sawah milik Melisa.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2